Perempuan Banjar Mengayuh Rezeki di Atas Sungai Martapura

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB
Deretan perahu jukung pedagang perempuan (Acil) yang memadati kawasan perairan Pasar Terapung Lok Baintan saat fajar. (BTV/Ai)
Deretan perahu jukung pedagang perempuan (Acil) yang memadati kawasan perairan Pasar Terapung Lok Baintan saat fajar. (BTV/Ai)

Durasi: 4 Menit

Topik: Potret Perjuangan Ekonomi Perempuan dan Konservasi Budaya Pasar Terapung Lok Baintan Kalimantan Selatan

Ikhtisar: Artikel ini mengulas ketangguhan para pedagang perempuan di Pasar Terapung Lok Baintan yang menjaga tradisi ratusan tahun sekaligus menopang ekonomi keluarga sejak fajar.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ribuan denyut nadi ekonomi warga pesisir Sungai Martapura di Kalimantan Selatan sudah bergetar sejak fajar belum sepenuhnya terbit. Tradisi bertransaksi dari atas perahu jukung ini menjadi pilar utama penghidupan masyarakat lokal. Penasaran bagaimana gigihnya para ibu rumah tangga mengarungi derasnya sungai demi keluarga? Penjelajahannya sungguh luar biasa, Ces!

Mangarungi lanskap perairan Kalimantan Selatan selalu menyajikan narasi kebudayaan yang autentik. Pasar Terapung Lok Baintan yang berlokasi di Kabupaten Banjar menjadi salah satu benteng pertahanan tradisi bahari Nusantara yang masih bertahan hingga hari ini. Menariknya, panggung utama penggerak roda ekonomi perairan ini didominasi oleh kaum perempuan lokal.

Bagaimana Tradisi Abad ke-14 Ini Bertahan di Atas Air?

Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar destinasi wisata alam biasa. Keberadaannya diperkirakan telah mengakar sejak abad ke-14, mencerminkan adaptasi sempurna masyarakat Banjar terhadap ekosistem sungai. Transaksi komoditas pertanian, buah-buahan, hingga kebutuhan harian berlangsung di atas perahu kayu tanpa mesin yang disebut jukung.

Keunikan pasar ini terletak pada waktu operasionalnya yang sangat singkat. Aktivitas niaga dimulai persis setelah salat subuh, sekitar pukul 06.00 WITA, dan perlahan berakhir saat matahari mulai meninggi pada pukul 08.00 hingga 09.00 WITA. Efisiensi waktu ini menjadi penanda ritme kerja harian warga lokal.

Bagi para pedagang perempuan yang akrab disapa Acil, sungai adalah rumah kedua. Mereka mengayuh jukung dari berbagai anak sungai Martapura demi menjajakan hasil kebun sendiri maupun hasil barter sesama pedagang.

Baca Juga: Rahasia Desa Adat Gunung Halimun Sukabumi Simpan Padi 95 Tahun Tanpa Bahan Kimia

Siapa Penggerak Utama Roda Ekonomi Perairan Banjar?

Peran perempuan Banjar dalam struktur ekonomi keluarga pesisir sangatlah vital. Ketika hari masih gelap, para Acil sudah memacu perahunya menembus dinginnya udara pagi. Pembagian peran domestik dan ekonomi di wilayah ini terbentuk secara alami berdasarkan kearifan lokal.

"Kami ibu-ibu pasar terapung habis salat subuh berangkat dari rumah mencari nafkah buat keluarga... bapak-bapaknya pagi ngopi dulu, nanti agak siang baru ke sawah." — Paman, Ketua Pedagang Lokal Pasar Terapung Lok Baintan

Kerja keras tersebut menunjukkan bagaimana perempuan mengambil tanggung jawab besar dalam pemenuhan dapur rumah tangga. Kegigihan mereka berinteraksi dengan pembeli, menawarkan barang dengan pantun, hingga melakukan teknik diplomasi dagang yang ramah menjadi daya tarik yang sulit tertandingi.

Mengapa Kegigihan para Acil Menyimpan Pesan Humanis?

Semangat juang para pedagang perempuan ini memberikan kesan mendalam bagi siapa saja yang menyaksikan langsung perjuangan mereka. Melintasi gelombang sungai yang tidak menentu bukan halangan untuk mengais rezeki demi mencukupi kebutuhan harian.

"Wanita pejuang sejati, bertarung mendayung di arus Sungai Martapura. Hidup wanita Indonesia, hidup acil-acil Banjarmasin! Mereka jualannya luar biasa gigih banget, karena mereka bilang jualan itu untuk dapur keluarga. Kalau kita membeli dagangan mereka, itu sangat membantu dan doanya panjang sekali." — Kak Beda, Kreator Konten & Petualang Roadtrip Indonesia

Eksistensi mereka membuktikan bahwa pasar tradisional berbasis perairan bukan sekadar komoditas pariwisata, melainkan denyut penghidupan nyata. Daya tahan ekonomi mikro yang digerakkan para perempuan ini menjadi modal sosial yang menjaga ketahanan keluarga di pedalaman perairan Kalimantan.

Baca Juga: Mengintip Tradisi Lumbung Padi Desa Malaris Loksado Suku Dayak Meratus yang Bertahan Hingga Puluhan Tahun

Tips Berkunjung ke Pasar Terapung Lok Baintan:

  1. Datang Sebelum Subuh: Gunakan kelotok atau perahu sewaan dari pusat kota Banjarmasin sejak pukul 05.00 WITA agar tidak ketinggalan momen puncak aktivitas pasar.

  2. Siapkan Uang Tunai Pecahan Kecil: Sebagian besar transaksi menggunakan uang tunai pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000 untuk mempermudah kembalian.

  3. Beli Hasil Kebun Lokal: Sempatkan membeli buah-buahan segar seperti jeruk madang langsung dari perahu pedagang sebagai bentuk dukungan ekonomi lokal.

  4. Jaga Keseimbangan saat Berfoto: Selalu patuhi petunjuk pengemudi perahu dan utamakan keselamatan saat hendak berpindah atau berfoto di perahu pedagang.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Fenomena Pasar Terapung Lok Baintan ini Kada cuma soal wisata estetis di atas air, Ces. Ini bukti konkret betapa tangguhnya ekonomi berbasis komunitas lokal. Di Balikpapan kita paham betul pentingnya kemandirian usaha mikro. Pembagian peran kerja warga pesisir Banjar ini tertata rapi. Kada usah gengsi mengayuh perahu demi keluarga. Pelajaran berharga buat bubuhan kita: kerja keras dan kebersamaan itu kunci utama bertahan hidup!

Rekomendasi terbaik buat ikam yang mau wisata budaya: sempatkan menyeberang ke Kalimantan Selatan dan rasakan langsung kehangatan para Acil. Jangan lupa bagikan artikel ini ke kawalan ikam supaya semakin banyak yang paham betapa kaya warisan budaya Borneo. Pantau terus perkembangan berita unik dan edukatif lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Jam berapa operasional Pasar Terapung Lok Baintan dimulai?

Aktivitas pasar dimulai tepat setelah salat subuh sekitar pukul 06.00 WITA dan berangsur sepi pada pukul 08.00 hingga 09.00 WITA.

2. Apa saja barang yang dijual di Pasar Terapung Lok Baintan?

Barang yang dijual dominan berupa hasil pertanian segar seperti sayur-mayur, buah-buahan lokal seperti jeruk madang, kue tradisional, hingga kerajinan tangan.

3. Mengapa pedagang di Pasar Terapung dominan perempuan?

Perempuan lokal atau "Acil" bertugas menjalankan roda niaga pagi hari untuk kebutuhan dapur, sementara kaum pria melakukan persiapan sebelum menggarap sawah pada siang harinya.

Baca Juga: Menyusuri Tepian Sungai Segah dan Jejak Kerajaan Berau yang Masih Terjaga Modern ini

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Roadtrip Indonesia, dengan judul "PASAR TERAPUNG SUNGAI MARTAPURA II BANJARMASIN". Di-publikasikan kembali berupa artikel dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Acil Perahu jukung Pasar Terapung Lok Baintan