Rahasia Desa Adat Gunung Halimun Sukabumi Simpan Padi 95 Tahun Tanpa Bahan Kimia

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 12:27 WIB
Suasana tenang desa tersembunyi di Gunung Halimun menyajikan keasrian alam yang sungguh menyejukkan jiwa. (BTV/Ai)
Suasana tenang desa tersembunyi di Gunung Halimun menyajikan keasrian alam yang sungguh menyejukkan jiwa. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 7 Menit

Topik: Sistem Ketahanan Pangan Dan Filosofi Kehidupan Masyrakat Adat Kasepuhan Gelar Alam

Ikhtisar: Kasepuhan Gelar Alam menjaga tradisi leluhur melalui sistem ketahanan pangan ribuan lumbung padi serta arsitektur rumah adat yang menyatu dengan alam tanpa komersialisasi pariwisata.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Komunitas adat Kasepuhan Gelar Alam di Sukabumi mempertahankan sistem ketahanan pangan mandiri yang mampu menyimpan cadangan padi hingga 95 tahun tanpa menggunakan teknologi modern maupun bahan kimia. Penasaran bagaimana warga di kaki Gunung Halimun ini menjaga tradisi leluhur mereka tetap hidup di tengah arus modernisasi? Simak ulasan lengkapnya sampai habis Ces!

Mengapa Kasepuhan Gelar Alam Menolak Komersialisasi Pariwisata?

Masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut memegang teguh ajaran leluhur. Wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai Kasepuhan Ciptagelar ini berpindah tempat pada tahun 2022 melalui proses gotong royong ribuan warga. Kehidupan sehari-hari dijalankan berlandaskan kalender adat dan prinsip pertanian organik yang menjaga keseimbangan alam sekitar.

Setiap pendatang yang berkunjung ke Imah Gede selalu diterima secara terbuka tanpa dikenakan biaya tarif penginapan maupun makanan. Pusat kegiatan pemangku adat ini berfungsi sebagai ruang musyawarah dan ritual sakral seperti Seren Tahun. Konsep penerimaan tamu didasarkan pada nilai persaudaraan, bukan transaksi ekonomi bisnis wisata.

Juru Bicar Kasepuhan Gelar Alam, Kang Yoyo menegaskan tatanan etika kehidupan di wilayah adat tersebut. "Kasepuhan bukan tempat pariwisata, melainkan masyarakat yang sedang menjalankan tugas tradisi dari leluhur. Siapapun welcome untuk datang dengan catatan mengikuti tatanan yang ada. Bicara makanan atau penginapan, tidak ada konotasi jual beli atau tarif harga. Namun, pemberian dari tamu dianggap sebagai bentuk proses berterima kasih untuk mengganti lauk pauk, yang besarnya disesuaikan dengan keikhlasan masing-masing," ujarnya.

Pemberian dari pengunjung diposisikan sebagai tanda terima kasih atas keramahan warga. Seluruh aturan pakaian seperti penggunaan ikat kepala bagi pria wajib dihormati demi menjaga keselarasan tatanan adat.

Baca Juga: Menyusuri Tepian Sungai Segah dan Jejak Kerajaan Berau yang Masih Terjaga Modern ini

Bagaimana Arsitektur Rumah Adat Mencerminkan Filosofi Tubuh Manusia?

Konstruksi bangunan tradisional di Kasepuhan Gelar Alam dirancang mengandalkan bahan alam alami seperti bambu, kayu, dan daun salak. Rumah panggung dibuat memiliki kolong untuk memberi jarak dengan permukaan tanah serta menjaga kestabilan tempat tinggal. Atap dari susunan daun salak terbalik difungsikan menahan resapan air sekaligus menjadi pelindung fisik.

Desain tempat tinggal ini tidak hanya berfokus pada fungsi perlindungan dari cuaca dan bahaya luar semata. Struktur fisik bangunan dipandang sebagai refleksi langsung dari keberadaan fisik manusia itu sendiri.

Mengenai konsep arsitektur tradisional tersebut, Kang Yoyo memberikan penjelasan mendalam. "Rumah adat itu dinamakan tiang hang cagak hateup salak. Tiangnya menggunakan kayu atau bambu bercagak. Atapnya (hateup) menggunakan daun salak yang dibalik posisinya agar menolak air layaknya atap. Konsep membangun rumah adalah untuk perlindungan. Duri daun salak di atas mengamankan serangan dari atas, kolong di bawah memberi jarak dengan tanah, dan dinding bilik bambu mengamankan bagian samping. Tubuh kita adalah uma. Mendirikan imah (rumah) harus melihat uma yang berdiri, artinya mencerminkan tubuh kita yang berdiri," jelasnya.

Suasana di dalam Imah Gede dirancang lapang guna menampung banyak warga maupun tamu. Dinding berbalut bilik bambu dihiasi dokumentasi kegiatan adat bersama pimpinan kasepuhan, Abah Ugi.

Baca Juga: Bukan Cuma Mal, Ini 20 Tempat Wisata Samarinda Terhits yang Bikin Liburan Makin Seru

Bagaimana Rahasia Ribuan Leuit Menjamin Pangan Hingga Decades?

Sistem penyimpanan hasil panen di Kasepuhan Gelar Alam mengandalkan lumbung padi tradisional yang dinamakan Leuit. Sekitar 12.000 leuit tersebar di seluruh area permukiman untuk mengamankan persediaan beras masyarakat. Padi diperlakukan secara terhormat melalui proses pengeringan alami tanpa campuran obat kimia pemelihara.

Keberadaan ribuan lumbung tersebut menjamin ketersediaan pangan seluruh warga hingga puluhan tahun mendatang. Padi hasil panen raya disimpan dengan teknik khusus sehingga daya simpan dan kualitas beras tetap terjaga.

Di antara puluhan ribu lumbung warga, terdapat satu lumbung khusus yang disakralkan secara komunal. Lumbung utama yang diberi nama Leuit Si Jimat ditempatkan berdekatan dengan kediaman Abah Ugi. Cadangan padi di Leuit Si Jimat dialokasikan khusus untuk kebutuhan ritual adat, masa paceklik, serta konsumsi tamu yang berkunjung.

Kekuatan tradisi terbukti saat pemindahan pusat kasepuhan dari Ciptagelar ke Gelar Alam. Sekitar 3.000 warga bergotong royong memindahkan bangunan tanpa menggunakan alat berat modern, menegaskan solidnya ikatan komunal masyarakat adat.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Menyimak tatanan hidup masyarakat Kasepuhan Gelar Alam memberi pelajaran berharga soal ketahanan pangan mandiri. Di tengah ancaman krisis iklim global, bubuhan kita di Kalimantan Timur patut mencontoh konsistensi mereka menjaga kelestarian alam tanpa ketergantungan teknologi luar. Kada perlu muluk-muluk, pengelolaan pangan yang terencana dan semangat gotong royong adalah kunci keberlanjutan. Kepemimpinan Abah Ugi membuktikan bahwa kearifan lokal sanggup menjawab tantangan zaman secara bermartabat.

Gaya hidup bersahaja ini membuahkan hasil nyata yang patut diapresiasi tinggi. Bagikan jua artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang paham pentingnya menjaga tradisi! Penasaran dengan kisah inspiratif dari pelosok Nusantara lainnya? Biar kada ketinggalan berita terbaru, ikuti terus sajian informasi terdepan dan terpercaya. Selalu update info hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

Baca Juga: Rute Touring Samarinda-Biduk Biduk: Panduan Menembus Jalur Eksotis Danau Dua Rasa

FAQ

  1. Di mana lokasi Kasepuhan Gelar Alam berada? Desa adat ini terletak di ketinggian 1.200 MDPL di kaki Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat.

  2. Mengapa Kasepuhan Gelar Alam tidak memungut biaya dari pengunjung? Kasepuhan bukan tempat pariwisata, melainkan komunitas yang menjalankan tugas tradisi sehingga penerimaan tamu dilakukan secara sukarela.

  3. Berapa lama cadangan padi di leuit Kasepuhan Gelar Alam mampu bertahan? Cadangan padi yang disimpan dalam sekitar 12.000 leuit diperkirakan mampu bertahan hingga 95 tahun.

  4. Apa fungsi utama dari Leuit Si Jimat? Leuit Si Jimat merupakan lumbung komunal sakral dekat kediaman Abah Ugi untuk persediaan paceklik, ritual adat, dan konsumsi tamu Imah Gede.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Roadtrip Indonesia, dengan judul “DESA TERSEMBUNYI GUNUNG HALIMUN”. Di-publikasikan kembali berupa artikel dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Kasepuhan Gelar Alam Abah Ugi Leuit Si Jimat