Mengintip Tradisi Lumbung Padi Desa Malaris Loksado Suku Dayak Meratus yang Bertahan Hingga Puluhan Tahun

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 10:29 WIB
Aliran sungai berbatu dengan deretan pohon bambu alami di wilayah permukiman Desa Malaris. (BTV/Ai)
Aliran sungai berbatu dengan deretan pohon bambu alami di wilayah permukiman Desa Malaris. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 4 menit

Topik: Kearifan lokal masyarakat Suku Dayak Meratus Loksado menjaga ketahanan pangan dan kelestarian hutan

Ikhtisar: Kunjungan ke Desa Malaris Loksado mengungkap filosofi hidup Suku Dayak Meratus yang menjaga ketahanan pangan puluhan tahun lewat lumbung padat karya dan menghormati hutan sebagai ibu kehidupan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Tim Roadtrip Indonesia menelusuri kawasan Pegunungan Meratus di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, guna mempelajari kearifan lokal masyarakat Suku Dayak Meratus dalam mengelola alam serta ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Penasaran bagaimana warga lokal menyimpan cadangan pangan hingga puluhan tahun tanpa pernah kehabisan stok di tengah pesatnya modernisasi? Simak ulasan lengkapnya sampai selesai Ces!

Baca Juga: Menyusuri Tepian Sungai Segah dan Jejak Kerajaan Berau yang Masih Terjaga Modern ini

Mengapa Malaris Menjadi Tempat Terbaik Merasakan Alam Meratus?

Akomodasi wisata di tepi sungai kini mulai mengusung konsep kemah mandiri guna memberikan pengalaman otentik bagi para pelancong. Pendekatan ini sengaja dipilih agar pengunjung dapat langsung menyatu dengan ketenangan hutan Pegunungan Meratus yang masih sangat asri.

Pengelola Malaris Adventure Camp, Rudi, yang akrab disapa Amang Udur, menegaskan alasan di balik pemilihan konsep tempat menginap berbasis tenda tersebut.

"Malaris Adventure Camp ini menyiapkan sebuah akomodasi bukan dalam bentuk kabin atau vila, melainkan tenda. Kenapa tenda? Karena kita ingin membuat sebuah destinasi dengan akomodasi yang langsung bersentuhan dengan alam, sehingga tamu-tamu yang berkunjung bisa langsung merasakan suasana tersebut," ujar Rudi.

Kehadiran penginapan berbasis alam ini memberikan ruang ruang rileksasi bagi wisatawan yang ingin terbebas dari hiruk-pikuk kota.

Baca Juga: Bukan Cuma Mal, Ini 20 Tempat Wisata Samarinda Terhits yang Bikin Liburan Makin Seru

Bagaimana Sistem Lumbung Padi Dayak Meratus Menjamin Pangan?

Kehidupan warga Suku Dayak Meratus di Desa Malaris memiliki keunikan dalam mengelola hasil pertanian padi ladang. Bangunan lumbung kayu atau langkau didirikan khusus di area ladang atau kawasan hutan, jauh dari permukiman warga.

Penyimpanan padi di dalam lumbung ini mampu bertahan hingga kurun waktu puluhan tahun tanpa mengalami kerusakan fungsi konsumsi. Padi yang disimpan merupakan cadangan pangan masa depan yang tidak diperjualbelikan secara bebas oleh pemiliknya.

Seorang warga asli Dayak Meratus Kampung Malaris yang juga berprofesi sebagai guru, Sahrani, menjelaskan mengenai nilai filosofis dari tradisi penyimpanan padi tersebut.

"Masyarakat di sini sangat menghargai padi, sehingga tidak diperjualbelikan kecuali dalam kondisi terpaksa. Padi disimpan di lumbung-lumbung sebagai cadangan pangan untuk kehidupan masa depan," kata Sahrani.

Sistem mandiri ini terbukti berhasil menjaga stabilitas pangan keluarga secara turun-temurun tanpa ketergantungan pada rantai pasok luar.

Mengapa Alam Dianggap Sebagai Ibu Oleh Masyarakat Kaharingan?

Masyarakat Dayak Meratus yang memeluk kepercayaan Kaharingan menjalankan berbagai ritual adat pada setiap tahapan berladang. Penghormatan terhadap alam diwujudkan melalui ritual mulai dari pembukaan lahan hingga upacara Aru setelah masa panen.

Filosfi hidup yang dipegang teguh adalah memperlakukan lingkungan sekitar sebagai sumber kehidupan utama yang wajib dijaga keasriannya secara bersama-sama. Kebijaksanaan ini memastikan hutan lindung di sekitar Pegunungan Meratus tetap terjaga dari ancaman kerusakan eksploratif.

Sahrani kembali menegaskan prinsip hubungan mendasar antara manusia dengan ekosistem hutan tempat tinggal mereka.

"Bagi masyarakat Kaharingan, mengandalkan alam itu karena alam adalah ibu. Kita makan dan minum dari mereka, jadi alam tidak bisa dirusak. Jika kita jaga, alam justru akan menjaga kehidupan kita," ungkap Sahrani.

Keseimbangan inilah yang membuat ketersediaan air jernih, keanekaragaman bambu, serta hasil hutan seperti kayu manis tetap melimpah.

Baca Juga: Rute Touring Samarinda-Biduk Biduk: Panduan Menembus Jalur Eksotis Danau Dua Rasa

Tips Berkunjung ke Kawasan Wisata Loksado:

  1. Gunakan Alas Kaki Khusus: Pilih sepatu air atau sandal gunung dengan cengkeraman kuat karena batuan sungai sangat licin berlumut.

  2. Patuhi Adat Lokal: Minta izin atau jaga kesopanan saat melintasi area ladang, lumbung padi, dan lokasi ritual adat.

  3. Bawa Perlengkapan Tanpa Sinyal: Siapkan peta luring atau dokumen fisik karena koneksi internet di beberapa titik masih terbatas.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Menjaga kelestarian alam Meratus itu kada cuma soal tradisi lama, tapi soal masa depan pangan kita jua. Mun ikam lihat kearifan Dayak Meratus simpan padi di lumbung, itu bukti nyata ketahanan pangan sejati. Jangan sampai kita yang di kota malah konsumtif kada karuan sanggup. Jaga lingkungan dari sekarang, pahami nilai alam, baru hidup tenang Ces!

Bagikan jua info ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang paham pentingnya menjaga kelestarian hutan serta budaya lokal! * Mau tau liputan wisata alam dan budaya menarik lainnya? Pantau terus update terbarunya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa! *

FAQ

1. Di mana lokasi Malaris Adventure Camp berada?

Malaris Adventure Camp terletak di Desa Malaris, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

2. Mengapa lumbung padi Dayak Meratus diletakkan di area ladang atau hutan?

Lumbung diletakkan di kawasan ladang untuk mempermudah penyimpanan langsung setelah panen serta menjaga tradisi kelola ruang adat.

3. Berapa lama padi hasil panen dapat bertahan di dalam lumbung kayu?

Padi yang disimpan dalam lumbung kayu (langkau) khas Dayak Meratus dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa rusak.

4. Apakah beras hasil panen warga Dayak Meratus dijual bebas ke pasar?

Kada, padi hasil panen tidak diperjualbelikan secara bebas karena sangat dihormati dan difungsikan khusus sebagai cadangan pangan keluarga serta keperluan ritual.

Baca Juga: Bule Rela Jauh-Jauh Datang, Kenapa Kita Malah Asyik Abaikan Rumah Orangutan di Kalimantan?

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Roadtrip Indonesia, dengan judul ["MASUK PERKAMPUNGAN DAYAK II LOKSADO"]. Di-publikasikan kembali berupa artikel dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Loksado Sahrani Lumbung Padi