Durasi Baca: 4 menit
Topik: Potensi Wisata Sejarah Budaya dan Kehidupan Masyarakat Kabupaten Berau Kalimantan Timur
Ikhtisar: Artikel ini mengulas perjalanan menyusuri Kabupaten Berau, mulai dari dinamika tepian sungai, warisan Kerajaan Berau di Museum Bati Wakal, hingga kekayaan budaya suku Banua.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kabupaten Berau di Kalimantan Timur menyimpan pesona wisata sejarah dan budaya luar biasa yang terus memikat wisatawan melalui kehangatan masyarakat serta kejayaan masa lalu kerajaan lokalnya.
Kaltim itu luas betul, tapi kawasan utara ini punya magnet tersendiri buat kamu yang mau cari suasana beda, Ces!
Baca Juga: Petualangan 3 Hari Menembus Hutan Gunung Kombeng Dan Long Lemun
Apa yang Membuat Tepian Sungai Segah Jadi Pusat Kehidupan Berau?
Kota Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau, menyapa setiap pengunjung dengan julukan khasnya sebagai Kota Sanggam. Wilayah ini tidak terlalu luas, namun geliat ekonomi masyarakatnya terasa sangat hidup, bersih, dan jauh dari kebisingan kota besar.
Sungai Segah menjadi urat nadi utama yang menggerakkan ritme harian warga Tanjung Redeb. Di sepanjang pinggiran sungai yang dikenal dengan sebutan tepian, deretan gerobak UMKM menjajakan aneka kuliner malam yang selalu ramai dipadati warga lokal maupun pendatang.
Masyarakat Kalimantan memiliki keterikatan emosional serta ekonomi yang sangat kuat dengan kawasan sungai. Menurut Bang Nurhadi Pratama, seorang warga yang menetap di Berau, fungsi sungai melingkupi seluruh lini kehidupan warga setempat.
"Soalnya kayaknya bagi orang Kalimantan, sungai itu memang berarti kali. Tempat ekonomi, emang kapal, perahu ketinting, terus tempat orang nongkrong juga di tepian. Rata-rata kota di Kalimantan itu ngumpulnya di tepian, tempat hidupnya di tepian. Tepian adalah tempat healing sehari-harinya orang Berau."
— Bang Nurhadi Pratama, Warga Menetap di Berau
Aktivitas di tepian tak pernah redup, bahkan sejak pagi hari menjelang. Banyak pedagang menyajikan sarapan di pinggir sungai, menyuguhkan pemandangan khas perahu-perahu kecil yang melintas saban hari.
Baca Juga: Perjuangan Menembus Riam Ganas Sungai Mahakam Menuju Long Pahangai
Bagaimana Menyusuri Sejarah Berau di Museum Bati Wakal?
Untuk mendalami rekam jejak masa lalu Berau, pengunjung bisa menyeberangi Sungai Segah menuju Kecamatan Gunung Tabur. Transportasi utama yang digunakan warga untuk menyeberang adalah perahu bermotor tradisional bernama ketinting dengan tarif Rp10.000 per orang.
Tepat di seberang dermaga, berdiri anggun Museum Bati Wakal dengan nuansa warna kuning khas Melayu. Bangunan bersejarah ini resmi dibuka untuk umum sejak tahun 1992 guna menyimpan peninggalan Kesultanan Gunung Tabur.
Di dalam museum, tersimpan berbagai koleksi busana adat, singgasana kesultanan, hingga foto para penguasa Berau tempo dulu. Penataan benda pusaka ini memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh peradaban masa lalu terhadap identitas daerah.
Pemandu wisata museum, Bapak Said, menjelaskan perjalanan panjang dinasti kerajaan di bumi Berau sebelum akhirnya terpecah menjadi dua wilayah kesultanan akibat campur tangan penjajah.
"Di zaman pemerintahan Aji Dilayas (raja ke-8 Kerajaan Berau), luas kekuasaan Kerajaan Berau sampai ke daerah Kinabalu, Kinabatangan, dan Bulungan."
— Bapak Said, Pemandu Wisata Museum Bati Wakal
Kerajaan Berau awalnya berdiri pada abad ke-14 dengan corak Hindu sebelum ajaran Islam masuk pada abad ke-17. Akibat taktik politik devide et impera Belanda pada rentang tahun 1800-an, kerajaan ini terbelah menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung yang dipisahkan oleh aliran Sungai Segah.
Museum ini juga menyimpan benda unik seperti replika Pau Janggi atau kelapa pantai yang diyakini sebagai obat perangsang melahirkan, serta mangkuk keramik kuno penanda waktu makan bagi keluarga kerajaan.
Mengapa Suku Banua Memiliki Keterikatan dengan Bahasa Melayu?
Melalui penelusuran di Museum Bati Wakal, terungkap bahwa masyarakat asli Berau dikenal dengan sebutan Suku Banua. Rumpun suku ini memiliki ikatan sejarah yang sangat erat dengan kebudayaan Melayu.
Perbedaan paling mencolok antara penuturan bahasa Melayu umum dan bahasa Berau terletak pada penggunaan vokal dalam percakapan sehari-hari.
"Suku Berau ini berasal dari suku Melayu, yaitu Berayu. 'Berayu' dalam arti indah, cantik, molek. Hanya membedakan bahasa saja; kalau bahasa Melayu kebanyakan memakai vokal huruf E, sedangkan vokal huruf bahasa Berau memakai vokal huruf A. Contohnya 'berjalan' menjadi 'bajalan' dan 'barlari' menjadi 'balari'."
— Bapak Said, Pemandu Wisata Museum Bati Wakal
Warisan linguistik dan tradisi ini terus dirawat oleh warga lokal di tengah arus modernisasi pembangunan Kabupaten Berau.
Museum Bati Wakal buka setiap hari Selasa, Rabu, Kamis, serta akhir pekan mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA dengan biaya tiket masuk Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak.
Pariwisata Berau tidak hanya menawarkan panorama alam darat dan bahari seperti Pulau Maratua, tetapi juga kehangatan nilai-nilai sejarah yang terus hidup dalam keseharian masyarakatnya.
Baca Juga: Menembus Belantara Bukit Raya: Sensasi Ekspedisi Seven Summits Di Kalimantan!
Poin Penting:
- Sungai Segah berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, transportasi, dan ruang sosial utama masyarakat Tanjung Redeb.
- Ketinting menjadi sarana transportasi penyeberangan sungai dengan tarif terjangkau bagi warga dan wisatawan.
- Museum Bati Wakal mengarsipkan artefak penting Kesultanan Gunung Tabur serta sejarah pemecahan Kerajaan Berau.
- Suku Banua merupakan suku asli Berau yang berakar dari rumpun Melayu dengan dialek vokal yang khas.
Insight Redaksi: Penelusuran kebudayaan di Berau membuktikan bahwa kekuatan pariwisata Kaltim tidak melulu soal bentang alam bahari atau tambang semata. Identitas lokal seperti tradisi tepian sungai dan riwayat kesultanan di Gunung Tabur adalah aset berharga yang wajib dijaga kerapiannya. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) harusnya makin mendongkrak narasi sejarah lokal begini supaya orang luar paham betapa kayanya budaya Benua Etam, paham kuisnya Ces!
Kalau kamu punya rencana liburan ke kawasan utara Kaltim, jangan lupa mampir ngopi di tepian Sungai Segah sambil menikmati hembusan angin malam! Bagikan artikel ini ke kerabat kamu yang butuh ide jalan-jalan seru! Nikmati terus pengalaman eksplorasi destinasi menarik dan berita terkini di Kalimantan Timur. Selalu update info hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa nama transportasi lokal yang digunakan untuk menyeberangi Sungai Segah?
Transportasi yang digunakan adalah perahu bermotor tradisional yang disebut ketinting.
2. Berapa harga tiket masuk ke Museum Bati Wakal Berau?
Tiket masuk museum dibanderol seharga Rp10.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak.
3. Kapan jadwal operasional kunjungan Museum Bati Wakal?
Museum ini menerima kunjungan pada hari Selasa, Rabu, Kamis, dan akhir pekan mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA.
4. Siapa sebutan untuk suku asli masyarakat Kabupaten Berau?
Masyarakat asli Berau disebut Suku Banua yang memiliki keterikatan sejarah dengan rumpun Melayu.
Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Potret, dengan judul "Menyapa Keindahan Kota Berau | POTRET". Di-publikasikan kembali berupa artikel dengan angle dan style balikpapantv.id.