Menembus Tebing Kars Ekstrem Demi Menemukan Makam Kuno Dayak Ga'ai!

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 19:32 WIB
Keindahan pemandangan Danau Tebo dari atas menyajikan panorama alam memukau yang sangat memanjakan mata. (BTV/Ai)
Keindahan pemandangan Danau Tebo dari atas menyajikan panorama alam memukau yang sangat memanjakan mata. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 Menit

Topik: Penjelajahan Situs Budaya Makam Kuno Dayak Ga'ai Di Lembah Danau Tebo Kalimantan Timur

Ikhtisar: Petualangan ekspedisi menembus kawasan kars Lembah Danau Tebo di perbatasan Berau dan Kutai Timur demi menguak situs makam kuno Dayak Ga'ai yang penuh tantangan serta sarat kearifan lokal.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Penjelajahan menembus jantung hutan pedalaman Kalimantan Timur kembali mengungkap jejak peradaban masa lalu yang tersembunyi di balik megahnya tebing kars. Ekspedisi menyusuri perbatasan Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur ini berhasil menemukan peninggalan bersejarah berupa situs makam kuno Suku Dayak Ga'ai di kawasan Danau Tebo.

Penasaran gimana perjuangan menembus bentang alam yang penuh tantangan dan aura mistis ini? Simak kisah lengkap penjelajahan berharga ini Ces!

Bagaimana Perjalanan Ekspedisi Menuju Danau Tebo Dimulai?

Titik awal perjalanan panjang ini berawal dari Desa Merabu, sebuah kawasan pemukiman yang terletak di Kabupaten Berau. Misi utama petualangan tersebut difokuskan untuk mengidentifikasi keberadaan lungun, yaitu sebutan lokal masyarakat tempatan untuk tempat pemakaman kuno kayu milik warga Dayak Ga'ai. Lokasi tujuan berada di area danau unik yang membentang di atas ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut.

Untuk mengarungi rute ekstrim yang belum banyak terjamah ini, tim ekspedisi didampingi oleh dua warga lokal terpercaya dari Desa Merabu, yakni Ibrahim dan Bang Opan. Kehadiran pemandu lokal sangat vital mengingat lintasan darat menembus Hutan Kalimantan memerlukan waktu tempuh hingga dua hari berjalan kaki dengan mendirikan kemah darurat di tengah belantara.

Sebelum memasuki kawasan inti, tim sempat singgah di lokasi Danau Nyadeng yang berada tak jauh dari rute utama. Danau ini memancarkan air yang sangat jernih dari mata air bentang alam kars. Penamaan Nyadeng berasal dari kosa kata bahasa Dayak Lebo yang menggambarkan fenomena aliran air jernih yang muncul melimpah tanpa diketahui pasti dari mana hulu asalnya.

"Kita lagi berada di salah satu desa yang terletak di Kabupaten Berau, nama desanya Desa Merabu. Kali ini kita akan coba menjelajahi salah satu hidden gem di perbatasan Berau dan Kutai Timur. Yang kita cari di sana ialah sebuah makam kuno atau bahasa lokalnya lungun dari Dayak Ga'ai... uniknya makam itu terletak di danau di ketinggian kurang lebih 200 mdpl dikelilingi perbukitan kars," ujar Anak Pedalaman, Kreator Konten & Petualang (Kanal YouTube @Anak Pedalaman).

Tantangan Medan Dan Fenomena Alam Apa Saja Yang Dihadapi?

Ujian fisik sebenarnya mulai menguji ketahanan tim saat harus memanjat Gunung Batu Ketepu. Jalur pendakian ini tergolong sangat ekstrem lantaran memiliki sudut kemiringan lintasan yang memicu adrenalin hingga mendekati 90 derajat. Tim menghabiskan energi berjalan selama 8 jam penuh di hari pertama sebelum akhirnya beristirahat di lokasi Camp Pemotong yang berada pada ketinggian 369 mdpl.

Memasuki hari kedua, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni lereng tebing menuju kawasan Lembah Tebo. Dalam bahasa warga setempat, kata Tebo atau Tebok memiliki arti "bocor" atau "bolong", merujuk pada struktur topografi kars yang unik. Di tengah perintisan jalur menembus semak belantara, tim bahkan sempat menemukan jejak tapak kaki macan dahan yang oleh warga lokal akrab disapa dengan sebutan "Datuk".

Setibanya di area padang sabana Lembah Tebo, aura misteri alam mulai menyelimuti proses pencarian lokasi pemakaman. Suara guntur bertubi-tubi kerap terdengar menggema di sekitar tebing kars meski kondisi cuaca sedang cerah tanpa diiringi rintik hujan ataupun terpaan angin kencang. Fenomena alam ini dianggap sebagai bentuk teguran halus agar pendatang selalu menjaga etika dan norma kesopanan.

"Dari awalnya aku tidak percaya dengan hal-hal yang berbau magic, tapi sekarang aku mengalaminya... kalau dari orang-orang Kampung Merabu atau Karangan, tempat ini bilangnya sangat dikeramatkan. Banyak hal-hal misteri yang belum terpecahkan di sini. Mau ke sini itu betul-betul ekspedisi, bukan asal jadi karena jaraknya jauh dan risiko yang dihadapi sangat besar," kata Anak Pedalaman, Kreator Konten & Petualang (Kanal YouTube @Anak Pedalaman).

Baca Juga: Surga Tersembunyi Kaltim: Menguak Misteri Danau Dua Rasa Labuan Cermin Berau

Bagaimana Makna Kearifan Lokal Dalam Menjaga Kelestarian Hutan?

Penjelajahan menjelajahi sudut tebing di sekeliling danau akhirnya membuahkan hasil saat tim berhasil menemukan keberadaan satu wadah makam kayu kuno (lungun). Temuan ini memperkuat dugaan sejarah bahwa kawasan bentang alam Lembah Tebo pada masa lampau merupakan pemukiman kuno atau wilayah pertapaan penting bagi leluhur Dayak Ga'ai maupun Suku Basap.

Selama penjelajahan berlangsung, para pemandu lokal senantiasa mengingatkan pentingnya menjalankan tata cara tradisi permisi saat menginjakan kaki di wilayah baru. Ritual sederhana seperti membasuh wajah menggunakan air perlintasan menjadi simbol penghormatan serta izin bersosialisasi dengan alam liar agar terhindar dari marabahaya atau gangguan selama berkemah.

Keberhasilan penjelajahan ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya persiapan matang dan penghormatan pada adat setempat. Hutan pedalaman bukan sekadar area petualangan lepas, melainkan ruang hidup yang menyimpan jejak sejarah panjang serta identitas kebudayaan warga lokal Kalimantan Timur yang wajib dijaga bersama.

Berikut beberapa panduan penting saat melakukan penjelajahan hutan kars pedalaman:

Poin Penting:

Insight Redaksi: Penjelajahan ke Danau Tebo ini buktinya Kalimantan itu kaya banget sama jejak peradaban masa lalu Ces! Namun ingat, menjelajah ke area keramat kaitu kada boleh asal nekat pang. Menjaga adab dan menghormati tradisi warga lokal itu nomor satu agar perjalanan aman terkendali. Lamun ikam ketuju petualangan sejarah yang menantang, persiapkan fisik dan mental dari sekarang. Biar kawalan ikam kada ketinggalan info seru ini, bagikan artikel ini ke bubuhan ikam sekarang jua!

Biar ikam selalu dapat informasi penjelajahan paling terkini dan edukatif, ikuti terus pembaruan artikel kami hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

Baca Juga: Rekomendasi 6 Tempat Wisata Hits di Bontang untuk Liburan Akhir Pekan Keluarga

FAQ

  1. Di mana lokasi keberadaan situs makam kuno Dayak Ga'ai tersebut? Situs makam kuno tersebut terletak di kawasan Danau Tebo, perbatasan antara Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

  2. Apa arti istilah lungun dan tebok dalam bahasa lokal setempat? Lungun adalah sebutan lokal untuk peti makam kayu kuno, sedangkan Tebok atau Tebo berarti bocor atau bolong.

  3. Berapa lama waktu perjalanan kaki yang dibutuhkan dari Desa Merabu ke Danau Tebo? Perjalanan menembus hutan dan tebing kars memerlukan waktu sekitar dua hari jalan kaki dengan menginap di perjalanan.

  4. Siapa penunjuk jalan yang mendampingi perjalanan ekspedisi ini? Tim ekspedisi didampingi oleh dua warga lokal dari Desa Merabu, yaitu Ibrahim dan Bang Opan.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Anak Pedalaman, dengan judul ["Camping Exploring : Tiga Hari Mencari Makam Kuno di pedalaman Hutan Kalimantan - Danau Tebo"]. Di-publikasikan kembali berupa artikel dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Anak Pedalaman Desa Merabu Danau Tebo