Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Menembus Riam Ganas Kalimantan: Perjuangan Nekat Andrew Kalaweit Menuju Nokanayan

Nasya Syafira • Selasa, 14 Juli 2026 | 21:12 WIB
Perahu kayu kecil bertarung menembus arus deras dan riam berbatu di hulu sungai Kalimantan. (BTV/AI)
Perahu kayu kecil bertarung menembus arus deras dan riam berbatu di hulu sungai Kalimantan. (BTV/AI)

Durasi: 4 menit

Topik: Perjuangan Menembus Sungai Kalimantan Menuju Air Terjun Tertinggi Nokanayan

Ikhtisar: Menelusuri jalur perairan hulu Kalimantan yang penuh risiko demi menjangkau Air Terjun Nokanayan, di mana tantangan fisik, arus deras, dan medan alam ekstrem menguji daya tahan tim.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ekspedisi menyusuri lintasan sungai pedalaman Kalimantan demi menjangkau keajaiban alam Air Terjun Nokanayan menghadirkan ujian fisik ekstrem serta risiko keselamatan yang tidak ringan bagi para penjelajah.

Penasaran perjalanan nekat menembus riam ganas di hulu sungai Kalimantan ini? Simak kisah lengkapnya sampai tuntas Ces!

Mengapa Perjalanan Jalur Sungai Menuju Nokanayan Begitu Menantang?

Perjalanan darat awal dimulai dari Kota Pontianak menuju Nanga Pinoh dengan waktu tempuh sekitar delapan jam menggunakan mobil. Lintasan darat kemudian berakhir sepenuhnya di Nanga Pinoh, memaksa rombongan menukar armada darat dengan perahu motor untuk membelah perairan hulu.

Jalur sungai menjadi satu-satunya akses utama menuju titik tujuan karena ketiadaan infrastruktur darat yang memadai di pedalaman tersebut. Namun, rute perairan tidak pernah menawarkan kepastian karena sangat bergantung pada dinamika cuaca serta naik turunnya debit air sungai.

Ketidakpastian waktu tempuh menjadi makanan sehari-hari sepanjang melintasi arus. Rencana perjalanan yang mulanya diperkirakan hanya memakan waktu beberapa jam kerap meleset jauh akibat hambatan alam yang muncul mendadak di tengah lintasan.

Bagaimana Cara Tim Menghadapi Riam Berbatu dan Sungai Surut?

Kondisi sungai yang dangkal dan bertabur batu berukuran besar memaksa tim berpindah ke perahu kayu kecil berjenis ces. Perahu jenis ini hanya mampu merayap perlahan demi menghindari benturan keras pada lambung kapal.

Ketika perahu tak lagi mampu bergerak karena kedangkalan air, seluruh penumpang diwajibkan turun ke sungai. Mereka harus membasahi tubuh, berpijak pada batuan licin, serta menarik perahu secara manual agar tetap bisa melaju ke hulu.

Beban perahu harus terus dikurangi setiap kali menjumpai titik riam ekstrem. Penurunan beban ini dilakukan demi menjaga keseimbangan kapal sekaligus mengamankan peralatan kamera berharga dari risiko tenggelam.

"Yang bahaya adalah kalau misalnya di pertengahan enggak mampu naik atau mesinnya mati, itu akan hanyut dan bisa terguling," kata Andrew Kalaweit.

Apa yang Terjadi Saat Anggota Tim Terseret Arus Deras?

Ujian fisik makin berat saat mesin perahu gagal menaklukkan tanjakan arus di riam bergelombang. Dua kali upaya menembus benteng air gagal total, sehingga dorongan tenaga manusia dan bantuan warga lokal menjadi satu-satunya jalan keluar.

Insiden menegangkan sempat terjadi ketika dua anggota tim tergelincir dari pijakan batu licin. Arus deras sungai langsung menyapu tubuh mereka hingga terseret beberapa meter ke hilir.

Sikap tenang dan pemahaman dasar keselamatan air menjadi kunci utama untuk selamat dari bahaya tenggelam. Mengikuti arah aliran air tanpa melawan arus terbukti berhasil membawa mereka kembali ke tepi sungai dengan selamat.

"Harus diingat walaupun sungainya kelihatan kecil, airnya kecil, tapi tetap powerful. Dipakai pelajaran, kalau hanyut jangan dilawan, ikuti saja berenang ke pinggir habis itu jalan kaki," ujar Andrew Kalaweit.

Bagaimana Strategi Jalur Pintas Demi Menembus Kegelapan Hutan?

Guna menghemat durasi serta menghindari bahaya riam yang mustahil ditempuh kapal, tim memanfaatkan ojek sepeda motor lokal. Ojek darat ini memotong rute sungai selama 20 menit menuju titik penyeberangan berikutnya.

Trekking menembus pekatnya hutan primer terpaksa dilakukan saat malam mulai membungkus kawasan pedalaman. Perjalanan kaki menyusuri celah pepohonan tua ini memakan waktu sekitar satu jam sebelum kembali menemukan alur sungai yang tenang.

Perjuangan berat menembus rute ekstrem berbuah manis saat perahu kayu kembali berlayar di bawah pendar sinar bulan purnama. Suasana tenang sungai malam hari menjadi penawar lelah setelah seharian bertarung dengan riam ganas.

Pengorbanan fisik berupa cedera memar pada kaki tak menghalangi semangat tim untuk menuntaskan misi. Tim akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Desa Deme pada malam hari sebelum siap melanjutkan pendakian puncak.

Poin Penting:

  • Perjalanan dimulai dari Pontianak menuju Nanga Pinoh selama delapan jam sebelum beralih total ke moda transportasi air.

  • Speedboat dan perahu kayu ces menjadi tumpuan utama melintasi sungai pedalaman yang sarat riam berbahaya.

  • Seluruh tim harus bergotong royong menarik perahu manual saat melewati perairan dangkal serta arus menanjak.

  • Insiden anggota tim terseret arus deras berhasil diatasi dengan teknik keselamatan berenang mengikuti alur air.

  • Penggunaan ojek lokal dan trekking hutan malam hari menjadi alternatif aman menghindari titik riam mematikan.

Insight Redaksi: Menjelajah rimba Kalimantan itu kada cuma soal modal nekat, tapi butuh perhitungan matang dan mental baja. Arus sungai pedalaman kelihatan tenang di permukaan, padahal bawahnya siap menggulung siapa saja yang meremehkan alam. Mun ikam kada punya persiapan fisik fit dan navigasi lokal jempolan, jangan coba-coba memaksakan diri. Respek pada alam Kalimantan itu harga mati, pahamlah ikam! Bagi bubuhan ikam yang ketagihan petualangan ekstrem, selalu utamakan keselamatan diri ketimbang sekadar demi konten belaka, Ces!

Dapatkan informasi tepercaya dan kisah petualangan paling seru lainnya dengan membagikan artikel ini ke kawalan ikam. Pantau terus kabar paling segar dan seru hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

  1. Berapa lama perjalanan darat dari Pontianak sebelum memulai rute sungai?

    Perjalanan darat menempuh waktu sekitar 8 jam menggunakan mobil dari Pontianak menuju Nanga Pinoh.

  2. Jenis perahu apa yang digunakan untuk menembus riam dangkal dan berbatu?

    Perahu kayu berukuran kecil berjenis ces digunakan untuk menelusuri hulu sungai yang dangkal dan bertabur batu.

  3. Bagaimana cara tim menyikapi insiden saat terseret arus deras sungai?

    Anggota tim tidak melawan arus, melainkan berenang tenang mengikuti alur air menuju ke tepi sungai lalu melanjutkan jalan kaki.

  4. Mengapa tim harus berjalan kaki menembus hutan pada malam hari?

    Trekking hutan dilakukan karena ukuran riam sungai terlalu besar dan sangat berbahaya untuk dilewati perahu kayu.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Andrew Kalaweit, dengan judul "Menelusuri Sungai Kalimantan Menuju Air Terjun Tertinggi.". Di-publikasikan kembali berupa artikel dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Andrew Kalaweit Air Terjun Nokanayan kalimantan