Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Mengintip Pulau Kule Ievo, Dihuni Ribuan Jenazah Lintas Agama di Jantung Halmahera Tengah

Arya Kusuma • Senin, 13 Juli 2026 | 12:37 WIB
Lanskap hijau Pulau Imam sebagai tempat peristirahatan terakhir warga Weda.
Lanskap hijau Pulau Imam sebagai tempat peristirahatan terakhir warga Weda.

Durasi: 5 Menit

Topik: Eksplorasi sosial ekonomi masyarakat Kota Weda Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara

Ikhtisar: Artikel mengeksplorasi ironi distribusi energi, geliat ekonomi, keunikan tradisi pemakaman, serta potensi ekowisata di Kota Weda Halmahera Tengah guna memberikan pemahaman mendalam bagi publik.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Distribusi energi yang belum merata masih membayangi kehidupan masyarakat di Kota Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, meskipun wilayah tersebut berstatus sebagai salah satu daerah penyumbang devisa pertambangan terbesar di Indonesia. Menatap kenyataan ini membuat kita terenyuh sekaligus kagum pada ketangguhan warga lokal yang menjalani keseharian dengan penuh senyuman, Ces!

Geliat kehidupan di pesisir timur nusantara selalu menyimpan cerita mendalam mengenai perjuangan, kehangatan sosial, hingga harmonisasi tradisi yang tetap terjaga di tengah dinamika industri modern. Mari kita telusuri bagaimana denyut nadi masyarakat di sana bertahan dan terus berkembang.

Bagaimana realitas pemenuhan kebutuhan energi di daerah penghasil tambang?

Ironi langsung terasa begitu menginjakkan kaki di tanah Halmahera Tengah, tempat industri pertambangan nikel skala besar beroperasi. Daerah yang menyumbang pendapatan negara melimpah ini justru mengalami kelangkaan bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar di stasiun pengisian bahan bakar umum. Warga setempat harus berpuas diri dengan pasokan Pertamax yang harganya lebih tinggi, itu pun dengan antrian yang mengular panjang hingga ke tikungan jalan utama.

Kondisi pasokan energi ini memaksa masyarakat merogoh kocek lebih dalam demi mendukung mobilitas harian mereka. Namun, alih-alih memicu gelombang protes atau demonstrasi besar seperti di kota-kota besar, warga lokal menerimanya dengan lapang dada. Bagi mereka, kepastian ketersediaan bahan bakar jauh lebih utama daripada meributkan harga yang tidak mendapatkan subsidi.

Prinsip penerimaan tersebut mencerminkan ketangguhan psikologis sekaligus karakter masyarakat yang adaptif terhadap keadaan. Mereka fokus pada keberlangsungan aktivitas ekonomi ketimbang larut dalam keluhan. Ketenangan ini menjadi modal sosial penting yang menjaga stabilitas di kawasan yang tengah mengalami transisi industri cepat.

Baca Juga: Penjelajah Osaka Bersama Leonardo Edwin, Dari Ramen Tersembunyi hingga Kastel Bersejarah

Seperti apa potret pusat perbelanjaan dan interaksi pasar tradisional di sana?

Fasilitas publik di Kota Weda terus berkembang, salah satunya ditandai dengan kehadiran sebuah pusat perbelanjaan modern berbentuk mal. Meski telah dilengkapi fasilitas penyejuk udara, lift, dan tangga berjalan pertama di wilayah tersebut, mal ini masih tampak lengang. Banyak ruang usaha yang belum terisi, mencerminkan bahwa konsep belanja modern belum sepenuhnya menyatu dengan kebiasaan masyarakat setempat.

Aktivitas perekonomian yang sesungguhnya justru berdenyut kencang di area belakang bangunan modern itu, tepatnya di Pasar Rakyat Weda. Di pasar tradisional inilah interaksi sosial dan transaksi ekonomi berjalan dinamis dan penuh kehangatan. Lapak-lapak sederhana menampilkan warna-warni hasil bumi, bumbu dapur, serta komoditas rempah khas Maluku yang melegenda.

Di pasar tradisional ini pula, kebudayaan lokal terlihat jelas melalui penggunaan satuan takaran komoditas yang unik. Warga setempat menggunakan istilah cupak, yaitu takaran menggunakan kaleng kecil, untuk memperjualbelikan cabai seharga Rp15.000. Sistem takaran tradisional ini bertahan di tengah gempuran sistem timbangan modern, menjaga kedekatan personal antara penjual dan pembeli.

Tanah Pemakaman Lintas Agama
Tanah Pemakaman Lintas Agama

Mengapa Pulau Imam menjadi pusat perhatian dan spiritualitas warga Weda?

Tepat di seberang dermaga utama, sekitar 500 meter membelah lautan, berdiri sebuah pulau kecil yang menyimpan nilai sakral bernama Pulau Imam. Pulau yang dikenal juga dengan sebutan Pulau Kule Ievo ini tidak dihuni oleh satu pun orang hidup. Daratannya didedikasikan sepenuhnya sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan jenazah warga Weda dari berbagai latar belakang agama.

Harmoni keberagaman tampak nyata di atas tanah pulau pemakaman ini, tempat pemakaman Muslim dan Nasrani berdampingan tanpa sekat pemisah. Pulau ini menjadi simbol toleransi abadi yang dirawat oleh masyarakat Halmahera Tengah dari generasi ke generasi. Kematian di sini tidak memisahkan, melainkan menyatukan masyarakat dalam rasa hormat yang mendalam terhadap leluhur.

Keberadaan makam ini juga diselimuti berbagai kisah tutur dan kepercayaan lokal mengenai arwah serta mitos harta karun tersembunyi. Bagi orang luar, tempat ini mungkin terasa menegangkan, namun bagi warga lokal, pulau ini adalah ruang ziarah sekaligus lokasi rekreasi spiritual. Mereka bahkan kerap mengunjungi pulau tersebut menggunakan perahu sewaan tarif Rp50.000 untuk sekadar melakukan tradisi piknik keluarga.

Baca Juga: Air Panas Biatan Berau, Wisata Unik di Tengah Hutan Tanpa Aroma Belerang

Bagaimana keunikan kuliner tradisional dan potensi wisata alam Nusliko Park?

Kekayaan budaya Weda juga memancar dari warisan kuliner tradisionalnya yang menggunakan bahan baku lokal berkarakter kuat. Salah satu yang paling ikonik adalah Asida, kudapan bertekstur lembut dan kenyal yang dibuat dari adonan gula aren dengan lelehan mentega di tengahnya. Ada pula Kue Angka yang manis aromatik durian serta Kue Cara berkarakter asin pedas dengan taburan abon ikan di atasnya.

Kearifan lokal dalam mengolah pangan ini melengkapi keindahan lanskap alam yang tersaji di kawasan ekowisata Nusliko Park, Desa Nusliko. Destinasi wisata andalan ini memadukan keasrian hutan mangrove, ketenangan telaga, kawasan pantai, serta jalur jembatan kayu yang tertata rapi. Tempat ini menjadi pelarian sempurna bagi warga yang merindukan kesejukan alam abadi.

Di kawasan Nusliko, kehidupan berjalan dalam harmoni yang murni antara manusia dan alam sekitar yang masih terjaga. Anak-anak pesisir menghabiskan waktu sore dengan berenang, memanjat pohon kelapa, dan melompat bebas ke dalam air laut jernih. Kegembiraan sederhana mereka menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir dari keselarasan hidup bersama alam.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Melirik Kota Weda, kita disuguhkan kontras yang tajam antara kekayaan industri tambang dan keterbatasan akses energi mendasar bagi masyarakatnya. Ketimpangan distribusi BBM subsidi ini harusnya memicu pembenahan regulasi dari pemangku kebijakan pusat, agar daerah penghasil devisa tidak sekadar menjadi penonton kemakmuran. Untungnya, modal sosial berupa karakter warga yang tangguh dan toleran mampu meredam potensi konflik sosial. Persatuan di Pulau Imam adalah bukti nyata keberagaman kita. Jadi, mari kawal jua pembangunan daerah ini, Ces!

Bagikan jua info penting ini ke kawalan ikam agar semakin banyak yang peduli dengan pemerataan pembangunan di pelosok nusantara! Perluas wawasan dan perbanyak referensi dengan selalu update info hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

  1. Mengapa bahan bakar minyak bersubsidi seperti Pertalite tidak tersedia di SPBU Kota Weda? Berdasarkan kondisi di lapangan, seluruh wilayah Halmahera dan Maluku Utara mengalami kelangkaan pasokan BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar, sehingga masyarakat beralih menggunakan Pertamax.

  2. Apa yang dimaksud dengan satuan takaran cupak yang digunakan di Pasar Rakyat Weda? Cupak merupakan satuan takaran tradisional berupa kaleng kecil yang digunakan oleh pedagang setempat untuk menakar komoditas seperti cabai.

  3. Siapa saja yang dimakamkan di Pulau Imam atau Pulau Kule Ievo? Pulau Imam digunakan sebagai tempat pemakaman terpadu bagi ribuan warga Kota Weda, baik yang beragama Muslim maupun Nasrani.

  4. Berapa biaya transportasi untuk mengunjungi Pulau Imam dari dermaga Weda? Warga dapat menyewa perahu motor milik nelayan setempat dengan tarif Rp50.000 untuk perjalanan pergi-pulang (PP).

  5. Fasilitas apa saja yang dapat dinikmati pengunjung di kawasan ekowisata Nusliko Park? Pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan mangrove, telaga, pantai, spot memancing, serta fasilitas jalur jembatan kayu untuk berjalan kaki.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @JAJAGO KELILING INDONESIA, dengan judul "Eps 20 - PULAU MISTERIUS DI MALUKU UTARA". Di-publikasikan kembali berupa artikel dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Pulau Kule Ievo Pulau Imam Nusliko Park Halmahera Tengah Wedangan Queen Balikpapan