Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

2 Minggu di Banda Neira, Ilham Montrail Menemukan Rumah Baru di Timur Indonesia

istikhomah • Senin, 13 Juli 2026 | 13:02 WIB
Panorama Kepulauan Banda. (BTV/AI)
Panorama Kepulauan Banda. (BTV/AI)
Durasi Baca: 8 menit

Topik: Menelusuri sejarah rempah, gunung api, dan laut Banda Neira

Ikhtisar: Perjalanan ini mengungkap kekayaan sejarah kolonial, petualangan alam, serta kedekatan sosial yang menjadikan Banda Neira memiliki makna mendalam bagi seorang penjelajah Indonesia Timur.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Perjalanan selama dua minggu membawa kreator petualangan Ilham Montrail menuju Banda Neira, Maluku, sebagai destinasi pamungkas dari rangkaian eksplorasinya di Indonesia Timur. Bersama komunitas pecinta alam lokal Gembala, ia menyusuri jejak sejarah rempah, mendaki gunung api aktif, hingga menyelami perairan yang selama ini dikenal sebagai salah satu surga bawah laut Nusantara.

Ada tempat yang indah untuk dikunjungi, lalu ada tempat yang terasa seperti ingin disinggahi lebih lama. Banda Neira rupanya masuk kategori kedua. Dan itu terasa sejak hari-hari pertama, Ces.

Apakah Banda Neira masih menyimpan jejak kejayaan rempah dunia?

Nama Banda pernah menjadi pusat perhatian dunia ketika pala menjadi komoditas paling berharga di abad ke-17. Perjalanan Ilham dimulai dengan menyusuri peninggalan masa itu yang masih berdiri di Pulau Neira.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Istana Mini, bekas kediaman Gubernur Jenderal VOC yang menjadi simbol kuat bagaimana Kepulauan Banda pernah berada di pusat perebutan perdagangan global.

Tak jauh dari sana terdapat Rumah Pengasingan Bung Hatta. Tempat sederhana itu pernah menjadi ruang hidup salah satu proklamator Indonesia selama masa pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda.

Namun kisah Banda tidak berhenti di Pulau Neira.

Di Pulau Banda Besar atau Negeri Lontor, Ilham bersama komunitas Gembala mendatangi sejumlah situs bersejarah yang jarang dikenal wisatawan umum. Ada Parigi Pusaka, sebuah sumur tua yang dipercaya memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kuburan Satu Jengkal yang menyimpan cerita tersendiri dalam sejarah lokal masyarakat Banda.

Mereka juga mengunjungi Bloodstone, batu kesepakatan adat yang menjadi saksi berbagai perjanjian masyarakat di masa lampau.

Di bagian lain pulau berdiri reruntuhan Benteng Hollandia yang kini perlahan dipeluk vegetasi tropis. Meski sebagian bangunannya telah rusak, atmosfer sejarah masih terasa kuat.

Benteng Belgika menjadi salah satu titik paling mencuri perhatian.

Benteng berbentuk pentagon itu berdiri megah di atas bukit dan menawarkan pemandangan Pulau Banda dari berbagai sisi. Dari atas tembok benteng, laut biru dan atap-atap rumah warga berpadu dengan siluet Gunung Api Banda di kejauhan.

Sementara itu, Benteng Nassau membawa memori yang jauh lebih kelam. Tempat ini menjadi salah satu saksi sejarah pembantaian rakyat Banda oleh VOC pada tahun 1621, peristiwa yang mengubah wajah Kepulauan Banda untuk selamanya.

Baca Juga: Pariwisata Samarinda Didorong Makin Fokus, DPRD Usul Disporapar Dipisah

Seperti apa rasanya mendaki gunung api dari bibir pantai?

Banda Neira menawarkan pengalaman yang cukup langka bagi para pendaki.

Dari titik awal yang berada hampir di permukaan laut, Ilham memulai perjalanan menuju puncak Gunung Lewerani yang memiliki ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut.

Jalur pendakiannya tidak panjang, tetapi memiliki tantangan tersendiri.

Medan berpasir vulkanik dan kerikil panas membuat langkah terasa lebih berat dibanding jalur tanah biasa. Setiap pijakan kadang mundur setengah langkah akibat material vulkanik yang longgar.

Semakin tinggi, vegetasi mulai menipis dan lanskap berubah drastis.

Asap belerang masih terlihat keluar dari bagian kawah, mengingatkan bahwa gunung ini masih aktif hingga sekarang.

Sesampainya di puncak, seluruh rasa lelah terasa terbayar.

Hamparan pulau-pulau kecil di Kepulauan Banda terlihat jelas dari ketinggian. Laut biru tua mengelilingi pulau-pulau hijau seperti potongan mozaik yang terapung di tengah samudra.

Pemandangan semacam ini sulit ditemukan di tempat lain di Indonesia.

Mengapa bawah laut Banda menjadi impian banyak penyelam?

Jika daratannya menyimpan sejarah panjang, maka laut Banda menawarkan cerita yang berbeda.

Ilham memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk melakukan freediving di sejumlah titik yang selama ini dikenal luas di kalangan penyelam.

Salah satunya adalah Lava Flow.

Lokasi ini terbentuk di atas aliran lava hasil letusan Gunung Api Banda tahun 1988. Yang menarik, kawasan yang pernah tertutup material vulkanik itu kini justru dipenuhi pertumbuhan terumbu karang yang subur.

Warna-warni karang berpadu dengan kehadiran ikan karang dalam jumlah besar menciptakan pemandangan bawah laut yang nyaris sulit dipercaya.

Perjalanan berlanjut menuju perairan dangkal Pulau Karaka.

Airnya sangat jernih sehingga kontur dasar laut dapat terlihat langsung dari permukaan. Tempat ini menjadi lokasi ideal untuk menikmati freediving santai sambil mengamati kehidupan laut yang aktif bergerak di antara karang.

Pulau Hatta menjadi destinasi berikutnya.

Selain dikenal memiliki spot penyelaman kelas dunia, pulau ini juga erat dengan sejarah perkebunan pala yang selama ratusan tahun menjadi identitas utama Kepulauan Banda.

Ada pula Batu Panjang yang menawarkan karakter bawah laut berbeda dibanding lokasi lainnya.

Setiap titik seolah memiliki kepribadian masing-masing. Tidak ada yang benar-benar terasa sama.

Baca Juga: Festival Adat Nondoi Kembali Hadir di Penajam, Dorong Budaya dan Pariwisata Lokal.

Kawasan Benteng Belgika di Banda Neira. (BTV/AI)
Kawasan Benteng Belgika di Banda Neira. (BTV/AI)

Bagaimana Banda Neira berubah menjadi tempat yang terasa seperti rumah?

Menjelang akhir perjalanan, suasana mulai berubah menjadi lebih emosional.

Bukan karena petualangan telah selesai, melainkan karena ada ikatan yang mulai tumbuh selama dua minggu berada di sana.

Komunitas Gembala yang sejak awal mendampingi eksplorasi perlahan berubah dari sekadar teman perjalanan menjadi keluarga baru di tanah Banda.

Interaksi dengan masyarakat setempat juga meninggalkan kesan mendalam.

Ada percakapan singkat di pelabuhan, cerita tentang pala di halaman rumah, hingga kebiasaan sederhana yang membuat pulau kecil ini terasa hangat dan dekat.

Momen paling berat datang ketika kapal Pelni mulai meninggalkan dermaga.

Perjalanan pulang menjadi penutup yang emosional bagi petualangan panjang di Indonesia Timur.

Bagi Ilham Montrail, Banda Neira akhirnya bukan hanya tentang benteng tua, gunung api, atau laut biru yang memikat.

Pulau ini menjelma menjadi tempat yang menghadirkan rasa pulang di lokasi yang sebelumnya sama sekali asing.

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar Banda Neira.

Bukan hanya membuat orang datang.

Tetapi membuat banyak orang ingin kembali.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Banda Neira menunjukkan bahwa wisata paling berkesan sering kali lahir dari pertemuan antara sejarah, alam, dan manusia. Banyak destinasi memiliki pemandangan indah, tetapi kada banyak yang mampu meninggalkan rasa memiliki. Itulah yang terlihat dari perjalanan ini. Bagi daerah pesisir seperti Balikpapan, pelajaran pentingnya jelas: identitas lokal dan keramahan masyarakat sama berharganya dengan objek wisata itu sendiri. Tempat yang berkesan bukan selalu yang paling ramai. Kadang justru yang paling membekas adalah yang paling tulus menerima tamu, Ces.

Bagikan jua cerita ini ke bubuhan ikam yang suka petualangan dan sejarah Nusantara. Siapa tahu Banda Neira masuk daftar perjalanan berikutnya.

Masih banyak sudut Indonesia yang menyimpan cerita serupa dan menunggu untuk ditemukan. Jadi jangan sampai ketinggalan kabar perjalanan menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

Baca Juga: Potensi PPU Diolah Bersama Swasta, Arah Ekonomi Makin Terbuka! Pemkab PPU dan Swasta Dorong Pertanian, Pariwisata, dan Industri Penyangga IKN

FAQ

1. Berapa lama Ilham Montrail berada di Banda Neira?
Ilham menghabiskan waktu sekitar dua minggu untuk mengeksplorasi Kepulauan Banda.

2. Siapa yang mendampingi eksplorasi selama di Banda Neira?
Ia didampingi komunitas pecinta alam lokal bernama Gembala.

3. Apa saja lokasi freediving yang dikunjungi?
Lava Flow, Pulau Karaka, Pulau Hatta, dan Batu Panjang.

4. Gunung apa yang didaki selama perjalanan?
Gunung Lewerani di Gunung Api Banda dengan ketinggian sekitar 600 mdpl.

5. Mengapa perjalanan pulang terasa emosional?
Karena Banda Neira telah menghadirkan kedekatan sosial dan rasa seperti memiliki rumah kedua.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Ilham Montrail, dengan judul "Perjalanan ke Banda Neira sebagai destinasi terakhir eksplorasi Indonesia Timur". Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#wisata indonesia #Banda Neira #sejarah #pariwisata