Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Penjelajah Osaka Bersama Leonardo Edwin, Dari Ramen Tersembunyi hingga Kastel Bersejarah

istikhomah • Senin, 13 Juli 2026 | 10:59 WIB
Di balik hiruk pikuk Osaka modern, Osaka Castle masih berdiri sebagai pengingat panjangnya sejarah Jepang. (BTV/AI)
Di balik hiruk pikuk Osaka modern, Osaka Castle masih berdiri sebagai pengingat panjangnya sejarah Jepang. (BTV/AI)
Durasi Baca: 7 menit

Topik: Menelusuri wajah Osaka melalui kuliner, sejarah, dan budaya lokal Jepang.

Ikhtisar: Artikel ini membahas pengalaman menjelajahi Osaka dari sisi kuliner, warisan sejarah, tradisi Shinto, hingga kebiasaan masyarakat lokal yang membentuk identitas kota tersebut.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Osaka kembali menunjukkan alasan mengapa kota ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan dunia. Kreator perjalanan Leonardo Edwin mengajak penontonnya menyusuri sisi lain kota terbesar kedua di Jepang itu, mulai dari kuliner autentik, kawasan hiburan Dotonbori, hingga jejak sejarah di Osaka Castle yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Perjalanan tersebut bukan sekadar wisata biasa. Ada cerita budaya, tradisi, dan kebiasaan lokal yang membuat Osaka terasa berbeda dibanding kota besar Jepang lainnya.

Makin menarik karena banyak sisi kota yang jarang masuk daftar wajib turis. Nah, di sinilah serunya Ces!

Apa yang membuat kuliner Osaka selalu masuk daftar favorit wisatawan?

Pemberhentian pertama Leonardo Edwin adalah sebuah kedai populer bernama Katsudon Chiyomatsu. Tempat ini dikenal dengan sajian katsudon menggunakan potongan daging babi berukuran besar yang disajikan di atas nasi hangat bersama telur setengah matang yang lembut.

Menu yang dipilih menggunakan potongan daging seberat 200 gram. Ketebalan daging menjadi daya tarik utama karena teksturnya tetap empuk meski ukurannya jauh di atas rata-rata katsudon pada umumnya.

Menariknya, mayoritas pengunjung saat itu justru berasal dari luar Jepang. Fenomena tersebut menunjukkan betapa kuatnya reputasi Osaka sebagai kota kuliner internasional.

Saat malam tiba, perjalanan berlanjut menuju sebuah kedai ramen kecil yang bahkan tidak muncul di Google Maps. Tempat seperti ini cukup umum ditemukan di Jepang dan biasanya menjadi langganan warga lokal.

Leonardo mencoba tenu ramen berbahan dasar babi dengan kuah kaldu pekat yang dimasak berjam-jam hingga menghasilkan rasa gurih yang kuat.

Di sela eksplorasi kawasan Dotonbori, perjalanan ditutup dengan mencicipi Cremia, es krim susu yang telah lama menjadi salah satu camilan ikonik Jepang.

Tips singkat menikmati wisata kuliner Osaka:

  1. Datang lebih awal untuk menghindari antrean panjang.
  2. Siapkan uang tunai karena sebagian kedai kecil belum menerima kartu.
  3. Jangan ragu mencoba restoran yang dipenuhi warga lokal.
  4. Perhatikan aturan antre dan etika makan di tempat umum.

Baca Juga: Pariwisata Samarinda Didorong Makin Fokus, DPRD Usul Disporapar Dipisah

Leonardo Edwin menikmati suasana malam Dotonbori. (BTV/AI)
Leonardo Edwin menikmati suasana malam Dotonbori. (BTV/AI)

Mengapa Dotonbori selalu menjadi pusat keramaian Osaka?

Menjelang malam, Dotonbori berubah menjadi lautan cahaya neon yang memantul di sepanjang kanal kota. Suasana ramai, aroma makanan, dan suara pengunjung bercampur menjadi ciri khas kawasan ini.

Salah satu bangunan yang paling mudah dikenali adalah Mega Don Quijote. Toko serba ada tersebut memiliki biang lala berbentuk oval yang bergerak mengikuti rel melingkar di bagian fasad gedung.

Keunikan desain tersebut membuatnya menjadi salah satu landmark modern Osaka yang paling sering muncul di media sosial.

Tidak jauh dari sana terdapat jembatan tempat berdirinya Glico Sign, papan reklame bergambar pelari yang telah menjadi simbol kota selama puluhan tahun.

Pada malam hari, papan reklame ini menyala menggunakan sekitar 160 ribu lampu LED dan menjadi lokasi foto wajib hampir setiap wisatawan yang datang ke Osaka.

Sulit menemukan wisatawan yang melewatkan tempat ini.

Baca Juga: Potensi PPU Diolah Bersama Swasta, Arah Ekonomi Makin Terbuka! Pemkab PPU dan Swasta Dorong Pertanian, Pariwisata, dan Industri Penyangga IKN

Bagaimana Osaka Castle bertahan menjadi simbol sejarah Jepang?

Di tengah hiruk pikuk kota modern, Osaka Castle hadir sebagai pengingat panjangnya sejarah Jepang.

Kompleks kastel ini berdiri di area seluas sekitar 106 hektar yang kini berubah menjadi ruang terbuka hijau bagi masyarakat. Banyak warga memanfaatkan kawasan tersebut untuk bersepeda, jogging, hingga menikmati pertunjukan jalanan.

Di masa lalu, keberadaan parit air dan dinding benteng tinggi memiliki fungsi pertahanan yang sangat penting.

Osaka Castle pertama kali dibangun pada abad ke-16 dan mengalami kehancuran berkali-kali akibat peperangan serta konflik politik antarklan.

Bangunan yang berdiri saat ini merupakan hasil rekonstruksi tahun 1931. Struktur tersebut berhasil bertahan dari pengeboman besar pada Perang Dunia II tahun 1945 yang menghantam Osaka.

Karena itulah kastel ini menjadi simbol ketahanan sekaligus kebanggaan masyarakat Jepang.

Saat memasuki area utama, Leonardo melewati Gerbang Sakuramon yang terkenal dengan keberadaan Ryukoishi atau Batu Naga dan Harimau.

Batu raksasa utuh tersebut dipercaya memperlihatkan pola menyerupai naga dan harimau ketika permukaannya terkena air hujan.

Bagian dalam kastel kini difungsikan sebagai museum sejarah dengan tiket masuk sebesar 600 Yen.

Pengunjung dapat menemukan berbagai artefak perang, perlengkapan samurai, hingga manuskrip sejarah yang menggambarkan konflik besar pada masa feodal Jepang.

Apa yang bisa dipelajari dari tradisi Shinto di Osaka?

Perjalanan budaya berlanjut menuju Tenmangu Shrine, salah satu kuil Shinto tertua di Osaka yang telah berdiri sejak abad ke-10.

Kuil ini memiliki peran penting dalam penyelenggaraan Tenjin Matsuri, festival musim panas terbesar di Osaka yang setiap tahun menghadirkan parade kapal, tarian, serta pertunjukan budaya tradisional.

Leonardo juga membagikan tata cara memasuki kuil menurut tradisi Shinto.

Ritual dimulai dengan membungkuk sebelum melewati gerbang Torii sambil melangkah menggunakan kaki kiri terlebih dahulu.

Setelah itu pengunjung menuju area Chozuya untuk membersihkan tangan menggunakan air yang diambil memakai gayung kayu.

Prosesi berdoa dilakukan dengan melempar koin persembahan ke kotak saisen-bako, dilanjutkan dua kali membungkuk, dua kali tepuk tangan, memanjatkan doa, lalu diakhiri satu kali membungkuk kembali.

Rangkaian sederhana tersebut memperlihatkan betapa pentingnya penghormatan dan kesucian dalam budaya Jepang.

Menariknya, Leonardo juga menyempatkan diri mengikuti misa Sabtu malam di Kapel Gereja Katolik Our Lady of Fatima atau Fatimano Sengu.

Kehadiran gereja tersebut menjadi gambaran keberagaman keyakinan yang hidup berdampingan di Osaka.

Baca Juga: Sertifikasi 20 Pemandu Ekowisata Dorong Profesionalisme Pariwisata Berbasis Alam IKN

Kebiasaan kecil apa yang membuat Osaka terasa berbeda?

Di sela perjalanan, Leonardo menemukan lapangan bisbol mini yang dipenuhi anak-anak lokal.

Pemandangan ini mengingatkan bahwa bisbol memiliki posisi istimewa dalam budaya olahraga Jepang, setara dengan popularitas sepak bola di banyak negara Asia lainnya.

Osaka juga dikenal memiliki banyak shopping street beratap yang dipenuhi toko obat, kosmetik, pakaian, hingga restoran keluarga.

Konsep ini membuat aktivitas belanja tetap nyaman meski cuaca sedang hujan atau musim panas sedang mencapai puncaknya.

Ada pula perbedaan kecil yang cukup menarik perhatian wisatawan Indonesia.

Jika masyarakat Tokyo umumnya berdiri di sisi kiri eskalator dan memberikan jalur kanan bagi pejalan cepat, masyarakat Osaka justru melakukan kebalikannya dengan berdiri di sisi kanan.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa budaya lokal di Jepang ternyata tidak selalu seragam meski berada dalam satu negara.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Osaka memperlihatkan bahwa identitas kota kada hanya dibangun oleh gedung tinggi atau pusat belanja modern. Justru kebiasaan kecil seperti posisi berdiri di eskalator, kedai ramen tanpa papan nama, hingga ruang hijau di sekitar kastel menjadi pembeda yang kuat. Dari sudut pandang Balikpapan, kota dengan karakter lokal yang dijaga biasanya memiliki daya tarik wisata yang bertahan lama. Kearifan lokal pang sering kali menjadi aset terbesar sebuah daerah, Ces.

Bagikan jua artikel ini ke kawalan ikam yang sedang merancang perjalanan ke Jepang supaya pengalaman wisatanya makin lengkap dan kaya cerita.

Masih banyak sisi Jepang yang jarang masuk daftar wisata populer. Jadi jangan sampai ketinggalan update terbaru hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa kuliner pertama yang dicoba Leonardo Edwin di Osaka?
Katsudon dengan potongan daging babi 200 gram di Katsudon Chiyomatsu.

2. Berapa harga tiket masuk Osaka Castle?
Tiket masuk museum Osaka Castle sebesar 600 Yen.

3. Apa festival terbesar yang berkaitan dengan Tenmangu Shrine?
Tenjin Matsuri yang berlangsung setiap bulan Juli.

4. Di sisi mana masyarakat Osaka berdiri saat menggunakan eskalator?
Mayoritas masyarakat Osaka berdiri di sisi kanan.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media Youtube @Leonardo Edwin, dengan judul "Eksplorasi Osaka Jepang". Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#Osaka #kastel osaka #jepang #wisata