Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Road Trip ke Dieng: Dari Yogyakarta hingga Telaga Menjer, Wisata Alam yang Bikin Perjalanan Tak Terasa

kholiefatul Jannah • Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:52 WIB
Menjelajahi rute menuju Dieng menawarkan pengalaman wisata alam yang memikat sejak awal perjalanan hingga tujuan akhir. (BTV/AI)
Menjelajahi rute menuju Dieng menawarkan pengalaman wisata alam yang memikat sejak awal perjalanan hingga tujuan akhir. (BTV/AI)

Durasi Baca: 8 Menit

Topik: Road trip menuju Dieng menghadirkan pengalaman wisata alam, kuliner khas, dan petualangan pegunungan yang berkesan.

Ikhtisar: Perjalanan menuju Dieng menawarkan perpaduan panorama alam, kuliner khas, destinasi populer, serta sejumlah tips penting agar perjalanan tetap nyaman dan aman.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Menjelajahi Dataran Tinggi Dieng melalui perjalanan darat ternyata bukan sekadar mengejar destinasi akhir, tetapi juga menikmati setiap persinggahan dari Yogyakarta, Magelang, Temanggung, Parakan hingga Wonosobo yang menyuguhkan panorama alam, kuliner khas, dan pengalaman berbeda di setiap titik.

Perjalanan jauh kadang justru menyimpan cerita paling menarik. Jadi, jangan buru-buru mengejar tujuan akhir. Nikmati setiap pemberhentian karena di situlah pengalaman baru sering muncul, Ces!

Apakah road trip menuju Dieng memang layak dicoba?

Perjalanan yang dibagikan melalui kanal YouTube @PERGI KELUAR memperlihatkan bahwa perjalanan menuju Dieng memiliki daya tarik sejak roda kendaraan mulai meninggalkan Yogyakarta pada pukul empat dini hari.

Alih-alih langsung menuju kawasan wisata, rombongan memilih menikmati perjalanan secara santai dengan beberapa kali berhenti untuk memenuhi kebutuhan logistik sekaligus menikmati suasana daerah yang dilintasi.

Rute yang dipilih dimulai dari kawasan Patuk, Gunungkidul, kemudian melewati Magelang, Temanggung, Parakan, sebelum akhirnya memasuki Kabupaten Wonosobo sebagai pintu menuju kawasan Dieng.

Secara normal perjalanan menuju Dieng dapat ditempuh sekitar empat jam. Namun perjalanan kali ini berlangsung lebih panjang karena setiap pemberhentian memang menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

Sebelum benar-benar meninggalkan wilayah Yogyakarta, rombongan menyempatkan diri menikmati sarapan di Soto Kadipiro sebagai pengisi tenaga sebelum memasuki jalur pegunungan.

Memasuki Magelang, perjalanan kembali berhenti untuk membeli sejumlah perlengkapan seperti gas portabel dan kopi yang nantinya digunakan selama bermalam.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Pasar Kliwon Temanggung. Tempat ini dipilih untuk membeli berbagai bahan makanan segar yang akan dimasak sendiri saat malam hari.

Menariknya, biaya belanja di pasar tradisional tersebut relatif hemat.

"Keunikan belanja di pasar tradisional Pasar Kliwon Temanggung itu Luar biasa ini murah loh Lur ternyata cuman cukup 15.000 saja kita belanja di pasar sangat hemat dan nanti kita akan menyajikan suatu hidangan yang enak."

Kutipan tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan wisata tidak selalu identik dengan pengeluaran besar. Dengan sedikit perencanaan, kebutuhan konsumsi selama perjalanan dapat dipenuhi dengan biaya yang efisien.

Baca Juga: Daya Tarik Pulau Sangalaki, Pulau Kecil yang Menyimpan Kekayaan Laut Indonesia

Mengapa kawasan Wonosobo dan kebun teh menjadi pemberhentian yang menarik?

Semakin mendekati Wonosobo, suasana perjalanan mulai berubah.

Udara yang semula hangat perlahan menjadi jauh lebih sejuk. Pergantian suasana inilah yang sering menjadi salah satu alasan wisatawan menikmati perjalanan menuju dataran tinggi.

Rombongan sempat berhenti di Rest Area Banjaran untuk beristirahat sejenak sambil menikmati hamparan kebun teh yang menghijau.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Kebun Teh Tambi.

Meski saat itu kabut cukup tebal disertai gerimis ringan sehingga pandangan tidak sepenuhnya terbuka, kawasan tersebut tetap menghadirkan nuansa pegunungan yang khas dengan jalan-jalan alami yang membelah perkebunan.

Kabut yang turun justru memperkuat suasana tenang khas pegunungan.

Sesampainya di gerbang kawasan Dieng, perubahan suhu terasa semakin signifikan. Udara dingin langsung menyambut rombongan yang baru tiba setelah menempuh perjalanan panjang dari Yogyakarta.

Sebelum mencari tempat menginap, rombongan memanfaatkan waktu untuk mencicipi kuliner khas daerah.

Pilihan mereka jatuh pada mi ongklop, salah satu hidangan yang cukup dikenal di kawasan Wonosobo dan Dieng.

Mi kuning tersebut disajikan bersama irisan kubis, kucai, bawang goreng, kemudian disiram kuah kental berbahan pati sehingga memberikan tekstur yang berbeda dibanding mi berkuah pada umumnya.

Pengunjung dapat memilih pendamping berupa sate ayam, kambing maupun sapi dengan harga sekitar Rp24.000 per porsi.

Selain itu, mereka juga mencoba minuman purwaceng yang banyak dicari wisatawan karena dipercaya memberikan sensasi hangat saat dinikmati di tengah udara pegunungan yang dingin.Baca Juga: Wisata ke Desa Budaya Pampang, Yuk Mengenal Tradisi Suku Dayak Kenyah dari Dekat

Tips singkat menikmati road trip menuju Dieng:

  1. Berangkat sebelum subuh agar memiliki waktu singgah di beberapa destinasi tanpa terburu-buru.

  2. Belanja kebutuhan di pasar tradisional untuk menghemat anggaran perjalanan.

  3. Siapkan pakaian hangat karena suhu kawasan Dieng dapat turun cukup drastis.

  4. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima, terutama bila berencana melewati jalur pegunungan yang berkelok.

  5. Sediakan waktu menikmati setiap pemberhentian, bukan hanya fokus pada tujuan akhir.

Mengapa rencana berkemah di Telaga Cebong akhirnya dibatalkan?

Menjelang malam, rombongan bergerak menuju Telaga Cebong yang berada di bawah Bukit Sikunir.

Awalnya lokasi tersebut telah dipilih sebagai tempat berkemah.

Setelah membayar tiket masuk sekitar Rp15.000 per orang, mereka mendapati area tepi telaga sedang menjalani proyek perbaikan sehingga kondisi lokasi tidak sesuai dengan rencana awal.

Demi kenyamanan selama bermalam, rombongan akhirnya mengubah rencana dan memilih menginap di sebuah cottage kayu atau homestay yang berada tidak jauh dari kawasan tersebut.

Keputusan tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa fleksibilitas merupakan bagian penting dalam melakukan perjalanan darat, terutama ketika kondisi lapangan berubah sewaktu-waktu.

Di penginapan, suasana malam justru menjadi lebih hangat ketika salah seorang anggota rombongan, Mas Ronald, menyiapkan makan malam sederhana berupa sandwich tempe menggunakan tempe gembus khas daerah setempat yang dipadukan dengan roti tawar.

Kebersamaan sederhana seperti ini menjadi salah satu cerita yang memperkaya pengalaman road trip, bukan sekadar daftar destinasi yang berhasil dikunjungi.

Keesokan paginya, rombongan memulai aktivitas sejak sebelum matahari terbit. Target utamanya adalah mencapai Puncak Bukit Sikunir, salah satu lokasi yang dikenal sebagai tempat terbaik menikmati panorama matahari terbit di kawasan Dieng.

Udara pagi terasa menusuk. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, tetapi juga menjadi alasan banyak wisatawan rela bangun lebih awal demi menyaksikan pemandangan yang hanya berlangsung beberapa saat.

Baca Juga: Wisata ke Desa Budaya Pampang, Yuk Mengenal Tradisi Suku Dayak Kenyah dari Dekat

Apa yang membuat sunrise di Bukit Sikunir selalu diburu wisatawan?

Pendakian menuju Bukit Sikunir relatif singkat, namun tetap membutuhkan stamina karena jalurnya terus menanjak.

Saat langit mulai berubah warna, hamparan awan perlahan diterangi cahaya matahari. Dari puncak, deretan gunung terlihat menjulang di kejauhan, menciptakan lanskap yang menjadi daya tarik utama kawasan Dieng.

Kondisi cuaca cerah pada pagi itu membuat panorama terlihat maksimal. Pemandangan tersebut menjadi salah satu momen yang paling dinantikan selama perjalanan.

Di sela pendakian, host kanal YouTube @PERGI KELUAR juga membagikan beberapa tips sederhana bagi wisatawan yang ingin menikmati matahari terbit dengan nyaman.

"Kita di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut, cukup dingin sekitar 10 derajat, jadi untuk teman-teman yang mau ke sini harus wajib bawa jaket tebel terus sarung tangan dan lain-lain. Sekedar tips ya kalau mau naik siapkan air putih, jangan merokok dulu, bisa mengkis-mengkis."

Suhu yang rendah memang menjadi karakter khas kawasan Dieng. Karena itu, perlengkapan seperti jaket tebal, penutup kepala, dan sarung tangan menjadi kebutuhan penting, terutama saat beraktivitas sebelum matahari terbit.

Setelah puas menikmati panorama dari puncak, rombongan kembali turun menuju penginapan.

Dalam perjalanan pulang, mereka menjumpai sejumlah pedagang lokal yang menawarkan berbagai hasil khas Dieng, mulai dari buah karika olahan hingga cabai jalapeno yang cukup banyak dibudidayakan di kawasan dataran tinggi tersebut.

Karika sendiri dikenal sebagai buah khas pegunungan Dieng yang umumnya diolah menjadi sirup maupun minuman segar sehingga menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan.

Mengapa Telaga Menjer layak menjadi destinasi penutup perjalanan?

Menjelang siang, rombongan melakukan check-out dari penginapan sebelum mencari sarapan di sekitar kawasan tulisan ikonik Dieng.

Pilihan menu kali ini adalah soto sapi khas Dieng yang memiliki ciri penggunaan tauge sebagai pelengkap sehingga memberikan tekstur renyah sekaligus menyegarkan.

Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Telaga Menjer melalui jalur alternatif Curug Sikaring.

Rute tersebut menawarkan panorama perbukitan hijau yang memanjakan mata. Namun, karakter jalannya cukup menantang karena didominasi tanjakan, turunan, serta tikungan yang rapat.

Host kembali mengingatkan pentingnya memastikan kendaraan berada dalam kondisi prima sebelum melewati jalur tersebut.

"Jalur yang dilewati ini memiliki pemandangan hijau yang menyegarkan mata namun cukup curam dan berkelok sehingga pastikan kendaraan kamu dalam kondisi Prima saat melalui jalan ini."

Sesampainya di Telaga Menjer, suasana berbeda langsung terasa.

Danau alami yang luas dipadukan udara pegunungan menghadirkan ketenangan yang kontras dengan hiruk pikuk perkotaan.

Area wisata juga telah dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari spot foto, tambak ikan, hingga warung apung yang berdiri di atas rakit bambu dengan drum sebagai penyangga.

Salah satu aktivitas yang dipilih rombongan adalah menyewa perahu wisata.

Dengan tarif sekitar Rp20.000 per orang, mereka dapat berkeliling danau selama kurang lebih 20 menit sambil menikmati panorama pegunungan dari permukaan air.

Walaupun matahari bersinar cukup terik, udara di atas Telaga Menjer tetap terasa sejuk sehingga perjalanan penutup ini menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Road trip tersebut memperlihatkan bahwa menikmati Dieng tidak hanya soal mendatangi destinasi populer. Perjalanan justru terasa lengkap karena setiap persinggahan menghadirkan pengalaman baru, mulai dari kuliner lokal, pasar tradisional, kebun teh, hingga kehangatan masyarakat pegunungan.

Baca Juga: Pulau Kaniungan Berau, Destinasi Bahari yang Cocok untuk Snorkeling dan Liburan Tenang

Poin Penting:

Insight Redaksi: Road trip seperti ini menunjukkan bahwa kualitas perjalanan kada selalu ditentukan banyaknya destinasi yang dikunjungi. Justru pemberhentian sederhana di pasar tradisional, kebun teh, hingga warung lokal menghadirkan pengalaman yang sering terlupakan. Bagi bubuhan yang merencanakan liburan ke Dieng, menyusun waktu perjalanan dengan santai pang memberi ruang menikmati setiap sudut daerah yang dilewati. Kadada salahnya menikmati proses, bukan hanya tujuan akhirnya, Ces.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam yang sedang merencanakan liburan ke Dieng agar perjalanan mereka semakin matang dan penuh pengalaman menarik.

Selalu ikuti informasi wisata terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa lama perjalanan dari Yogyakarta menuju Dieng?
Waktu tempuh normal sekitar empat jam, namun dapat bertambah apabila singgah di beberapa lokasi selama perjalanan.

2. Mengapa camping di Telaga Cebong dibatalkan?
Karena area tepi telaga sedang menjalani proyek perbaikan sehingga rombongan memilih menginap di homestay.

3. Apa kuliner khas yang dicoba selama berada di Dieng?
Mi ongklop, minuman purwaceng, serta soto sapi khas Dieng.

4. Apa yang perlu dipersiapkan saat mendaki Bukit Sikunir?
Jaket tebal, sarung tangan, air minum, serta kondisi fisik yang cukup karena suhu dapat mencapai sekitar 10 derajat Celsius.

5. Berapa biaya naik perahu di Telaga Menjer?
Sekitar Rp20.000 per orang untuk perjalanan kurang lebih 20 menit.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media YouTube @PERGI KELUAR, dengan judul "Menjelajahi Keindahan Alam Dieng | Road Trip Yogyakarta-Wonosobo | Eps.01". Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
#PERGI KELUAR #Dieng #Telaga Menjer