Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Tak Hanya Salju, Musim Gugur di Alpen Justru Menyuguhkan Pemandangan yang Sulit Dilupakan

kholiefatul Jannah • Sabtu, 11 Juli 2026 | 15:41 WIB
Musim gugur di Alpen menghadirkan perpaduan keindahan alam, budaya desa, dan pengalaman wisata yang sulit dilupakan bersama. (BTV/AI)
Musim gugur di Alpen menghadirkan perpaduan keindahan alam, budaya desa, dan pengalaman wisata yang sulit dilupakan bersama. (BTV/AI)

Durasi Baca: 7 menit

Topik: Keindahan musim gugur Pegunungan Alpen menghadirkan pengalaman wisata alam, budaya desa, dan aktivitas luar ruang yang memikat.

Ikhtisar: Musim gugur di Pegunungan Alpen menawarkan panorama warna-warni, destinasi menarik, aktivitas khas, serta waktu berlibur yang dinilai menguntungkan karena biaya perjalanan relatif terjangkau.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Musim gugur di Pegunungan Alpen menjadi salah satu waktu terbaik menikmati Eropa karena menghadirkan lanskap berwarna keemasan, udara yang masih nyaman, serta biaya perjalanan yang cenderung lebih rendah dibanding musim liburan akhir tahun. Pengalaman tersebut dibagikan kreator YouTube Nadya Keliling Eropa melalui perjalanan selama satu jam menyusuri kawasan Alpen Prancis.

Kalau selama ini banyak orang mengejar salju, musim gugur ternyata menyimpan pesona yang berbeda. Pemandangannya berubah hampir setiap hari. Menarik pang, Ces!

Apa yang membuat musim gugur di Pegunungan Alpen begitu istimewa?

Perjalanan dimulai saat cuaca yang semula gelap dan berkabut berubah menjadi langit biru cerah. Perubahan suasana itu langsung memperlihatkan hamparan pepohonan yang telah berganti warna menjadi kuning, cokelat, hingga keemasan.

Menurut Nadya, akhir Oktober hingga awal November merupakan periode yang paling menarik untuk menikmati musim gugur di kawasan Alpen. Selain warna dedaunan sedang berada pada puncaknya, periode tersebut juga termasuk low season sehingga biaya akomodasi maupun perjalanan umumnya lebih bersahabat dibanding musim Natal dan Tahun Baru.

Baca Juga: Selebriti Terpukau Air Jernih Labuan Cermin, Sensasi Berenang di Danau Dua Rasa yang Sulit Dilupakan

Dalam videonya, Nadya mengatakan:

"Menurut aku yang enggak kalah bagus tuh musim gugur karena enggak ada di Indonesia, ini tuh cantiknya luar biasa loh... kalau musim gugur itu harganya enggak mahal... musim gugur tuh low season gitu loh."

Suasana pedesaan Alpen juga memperlihatkan kehidupan masyarakat yang mulai bersiap menghadapi musim dingin. Kebun sayur telah selesai dipanen, sementara aktivitas memperbaiki rumah maupun kendaraan dilakukan ketika cuaca masih hangat.

Bagaimana kehidupan masyarakat desa di kawasan Alpen saat musim gugur?

Salah satu hal yang paling menarik adalah kehidupan peternakan sapi di kawasan pegunungan. Denting lonceng sapi terdengar hampir sepanjang perjalanan ketika hewan-hewan tersebut dibiarkan merumput di padang rumput yang luas.

Wilayah tersebut dikenal sebagai daerah penghasil susu dan keju. Dalam video dijelaskan seekor sapi mampu menghasilkan sekitar 5.000 liter susu setiap tahun.

Ketika musim dingin datang, seluruh sapi dipindahkan ke kandang karena padang rumput tertutup salju. Para peternak sudah lebih dahulu menyiapkan gulungan jerami berukuran besar sejak musim panas sebagai cadangan pakan selama beberapa bulan.

Selain sapi, sebagian warga juga memelihara ayam petelur dan domba yang menjadi bagian dari kehidupan pedesaan Alpen.

Sementara itu, Flo bersama ayahnya memanfaatkan cuaca cerah untuk memperbaiki campervan agar tidak mengalami kebocoran saat menghadapi hujan maupun salju.

Baca Juga: 7 Alasan Taman Alun Kapuas Jadi Destinasi Favorit Saat Berkunjung ke Pontianak

Mengapa Col de Forclaz menjadi favorit pecinta paralayang?

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Col de Forclaz di kawasan Annecy dengan ketinggian sekitar 1.157 meter di atas permukaan laut.

Lokasi ini dikenal sebagai salah satu titik terbaik menikmati panorama Danau Annecy sekaligus menjadi tempat favorit olahraga paralayang. Landasan yang miring menghadap lembah memungkinkan penerjun memperoleh dorongan angin secara alami sebelum terbang.

Setelah menyaksikan aktivitas paralayang, perjalanan diteruskan menuju stasiun ski di ketinggian sekitar 1.400 meter untuk menikmati matahari terbenam.

Dari lokasi tersebut tampak Gunung Mont Blanc yang puncaknya tetap tertutup salju sepanjang tahun. Saat sore menjelang malam, suhu udara turun drastis hingga sekitar 4 derajat Celsius.

Menariknya, banyak pengguna campervan memilih bermalam secara gratis di area tersebut ketika low season demi menikmati matahari terbit, matahari terbenam, hingga langit malam yang dipenuhi gugusan bintang.

Apa yang menarik dari Saint-Gervais-les-Bains di kaki Mont Blanc?

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan menuju Saint-Gervais-les-Bains setelah terlebih dahulu membeli kebutuhan logistik di supermarket yang berada di kaki Pegunungan Alpen. Persediaan makanan seperti pasta, mi instan, jus mangga, hingga bahan memasak disiapkan sebelum menuju kawasan pegunungan.

Saint-Gervais-les-Bains berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu kota spa pegunungan terkenal di Prancis. Kota ini memiliki sumber air panas alami yang kaya kandungan belerang dan mineral yang telah dimanfaatkan sejak abad ke-19.

Meski berada di kawasan pegunungan, fasilitas di kota tersebut tergolong lengkap. Pengunjung dapat menemukan apartemen, sekolah, rumah sakit, pusat olahraga, hingga Gereja Saint-Gervais yang dibangun pada 1696 dengan arsitektur Barok yang masih terawat.

Posisinya yang berada di jalur menuju Mont Blanc membuat kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata kelas dunia. Kondisi tersebut ikut mendorong harga properti dan biaya hidup menjadi relatif tinggi karena banyak diminati wisatawan maupun pemilik rumah liburan.

Baca Juga: Menelusuri Romantisme Sejarah Kutai Kartanegara dari Sungai Mahakam

Mengapa Danau Hijau Lac Vert dijaga sangat ketat?

Salah satu tujuan berikutnya adalah Lac Vert atau Danau Hijau yang dapat dicapai sekitar 10 menit berjalan kaki dari area parkir.

Perjalanan menuju danau melewati jalur hutan yang cukup landai. Di sepanjang rute tampak beberapa kabin kayu tradisional yang disewakan kepada wisatawan yang ingin menikmati suasana alam Alpen lebih lama.

Sesampainya di lokasi, air danau tampak sangat jernih dengan warna hijau alami yang menjadi asal nama Lac Vert. Dasar danau masih terlihat jelas, sementara ikan-ikan berukuran besar berenang bebas tanpa terganggu aktivitas manusia.

Keindahan tersebut dijaga melalui aturan konservasi yang cukup ketat. Wisatawan tidak diperbolehkan berenang di danau untuk mengurangi risiko pencemaran dari bahan kimia, termasuk kandungan tabir surya yang dapat memengaruhi kualitas air dan ekosistem di dalamnya.

Kebijakan itu menjadi contoh bagaimana destinasi wisata alam tetap dibuka untuk publik tanpa mengabaikan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Tips jika ingin menikmati wisata alam saat musim gugur di Alpen

  1. Datang pada akhir Oktober hingga awal November untuk menikmati warna dedaunan yang sedang mencapai puncaknya.

  2. Siapkan pakaian berlapis, karena suhu dapat berubah cepat meski siang terasa hangat.

  3. Patuhi aturan kawasan konservasi, termasuk larangan berenang di danau yang dilindungi.

  4. Datang lebih pagi jika ingin menikmati panorama tanpa terlalu ramai pengunjung.

  5. Periksa prakiraan cuaca, terutama jika berencana menuju kawasan pegunungan dengan ketinggian di atas 1.000 meter.

Bagaimana tradisi berburu jamur liar di hutan Alpen?

Agenda terakhir dalam perjalanan adalah berburu jamur liar pada pagi hari di kawasan hutan Alpen.

Nadya dan Flo berangkat sejak pagi agar tidak didahului pencari jamur lainnya. Hutan yang dipenuhi lumut tebal menciptakan suasana lembap sehingga menjadi habitat ideal bagi berbagai jenis jamur liar.

Jamur yang dicari adalah Chanterelle, salah satu jamur liar berwarna kuning keemasan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Untuk menemukannya, mereka harus masuk lebih jauh ke balik semak dan ranting-ranting hutan karena jamur berkualitas biasanya tumbuh di lokasi yang terlindung.

Hasil pencarian mereka memenuhi satu keranjang. Dalam video disebutkan harga jamur Chanterelle di supermarket dapat mencapai sekitar 40 euro per kilogram.

Setelah dibersihkan, sebagian jamur langsung diolah menjadi omelet dengan mentega dan taburan keju parmesan.

Flo juga membagikan tips sederhana saat memasak omelet.

"Katanya kalau omelet itu jangan sekali-kali garamnya dimasukin ke telurnya, tapi seudahnya gitu, seudah jadi baru pakai garam di atasnya. Kalau enggak, nanti tekstur telurnya berubah."

Sementara itu, sisa jamur dikeringkan menggunakan oven bersuhu sekitar 60 derajat Celsius selama dua jam. Proses tersebut mengurangi kadar air sehingga jamur dapat disimpan hingga sekitar satu tahun dalam wadah tertutup.

Praktik ini menjadi cara umum untuk memperpanjang masa simpan jamur liar yang secara alami hanya bertahan beberapa hari setelah dipanen. Dengan demikian, hasil panen masih dapat dimanfaatkan dalam waktu yang panjang atau dibawa sebagai oleh-oleh.

Baca Juga: Bukit Batu Dinding di Kalimantan, Panorama Tebing Alami yang Mulai Dilirik Wisatawan

Poin Penting:

Insight Redaksi: Keindahan Alpen dalam video ini memperlihatkan bahwa daya tarik wisata bukan semata soal bangunan megah atau wahana modern. Pengelolaan alam yang konsisten justru menjadi nilai utama. Aturan sederhana seperti larangan berenang di Lac Vert mampu menjaga kualitas lingkungan hingga dinikmati lintas generasi. Dari sudut pandang Balikpapan, pendekatan seperti ini layak menjadi inspirasi pengelolaan wisata alam. Kada harus serba baru, pang yang penting kawasan tetap terawat dan memberi pengalaman berkesan bagi setiap pengunjung, Ces.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam yang sedang merencanakan liburan ke Eropa supaya memiliki gambaran waktu terbaik menikmati Pegunungan Alpen.

Selalu ikuti informasi wisata dunia yang inspiratif dan penuh cerita menarik hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Kapan waktu terbaik menikmati musim gugur di Pegunungan Alpen?
Akhir Oktober hingga awal November karena warna dedaunan sedang berada pada puncaknya dan biaya perjalanan relatif lebih terjangkau.

2. Mengapa Lac Vert melarang wisatawan berenang?
Larangan diterapkan untuk menjaga kualitas air serta melindungi ekosistem danau dari pencemaran bahan kimia seperti tabir surya.

3. Apa yang membuat Saint-Gervais-les-Bains terkenal?
Kota ini dikenal sebagai kota spa pegunungan yang memiliki sumber air panas alami dan menjadi salah satu akses menuju Mont Blanc.

4. Mengapa jamur Chanterelle dikeringkan setelah dipanen?
Pengeringan mengurangi kadar air sehingga jamur dapat disimpan hingga sekitar satu tahun di dalam wadah tertutup.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media YouTube @Nadya Keliling Eropa, dengan judul "FULL 1 JAM KEHIDUPAN MUSIM GUGUR DI PEGUNUNGAN ALPEN". Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
#Nadya Keliling Eropa #Pegunungan Alpen #Musim gugur Budapest