Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Kampung Dayak di Pedalaman Sungai Teweh Kini Tinggal Dihuni Dua Keluarga, Jejak Permukiman Lama Masih Bertahan

Nasya Syafira • Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:51 WIB
Perjalanan menggunakan perahu kelotok menuju Dusun Kamenran di pedalaman Sungai Teweh, Kalimantan Tengah. (BTV/AI)
Perjalanan menggunakan perahu kelotok menuju Dusun Kamenran di pedalaman Sungai Teweh, Kalimantan Tengah. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 Menit

Topik: Kehidupan masyarakat Dayak di Dusun Kamenran yang kini tersisa dua keluarga penghuni.

Ikhtisar: Artikel ini mengulas perjalanan menuju Dusun Kamenran, perubahan jumlah penduduk, kondisi fasilitas yang ditinggalkan, serta kisah warga yang masih memilih menetap di pedalaman.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Sebuah dusun terpencil di Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, kini hanya dihuni dua keluarga setelah sebagian besar warganya berpindah ke daerah lain demi memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.

Masih adakah kampung yang bertahan di tengah hutan tanpa sinyal telepon? Ternyata masih ada. Ikuti kisahnya sampai selesai, Ces!

Perjalanan menuju Dusun Kamenran dimulai dari tepian Sungai Teweh menggunakan perahu kelotok berkapasitas sekitar lima hingga enam orang. Jalur sungai menjadi satu-satunya akses utama menuju kawasan tersebut dengan waktu tempuh sekitar 30 menit hingga satu jam, bergantung kondisi arus sungai.

Selama perjalanan, hamparan hutan tropis mendominasi pemandangan di sepanjang tepian sungai. Sesekali tampak pondok sederhana milik warga yang digunakan sebagai tempat beristirahat setelah menyadap karet atau menjaga kebun durian ketika musim panen tiba.

Keberadaan pondok-pondok itu memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat pedalaman masih bertumpu pada hasil alam. Karet dan durian menjadi sumber penghidupan yang telah diwariskan turun-temurun.

Bagaimana kondisi Dusun Kamenran saat ini?

Sesampainya di Dusun Kamenran, suasana yang terlihat sangat berbeda dibanding gambaran sebuah permukiman pada umumnya. Jalan kampung tampak lengang, sementara bangunan-bangunan lama berdiri tanpa aktivitas.

Tidak terdapat jaringan telepon seluler di kawasan tersebut sehingga komunikasi dengan dunia luar masih sangat terbatas. Kondisi geografis yang berada jauh di pedalaman menjadi salah satu tantangan yang dihadapi warga.

Walaupun banyak rumah telah kosong, jejak kehidupan masa lalu masih mudah dikenali. Pohon kelapa, rambutan, pinang, hingga durian tumbuh di sekitar bekas permukiman, menjadi penanda bahwa kawasan itu pernah dihuni cukup banyak keluarga.

Tanaman-tanaman tersebut bukan sekadar pohon buah. Keberadaannya menjadi saksi sejarah perkembangan Dusun Kamenran ketika aktivitas masyarakat masih berlangsung setiap hari.

Mengapa sebagian besar warga memilih meninggalkan kampung?

Berdasarkan penuturan dalam video YouTube @WAWAY BARITO, Dusun Kamenran sebelumnya merupakan permukiman masyarakat Dayak Bakumpai yang cukup ramai.

Bahkan hingga sekitar tahun 2010, aktivitas masyarakat masih berlangsung seperti biasa. Namun perubahan perlahan terjadi ketika banyak warga memutuskan pindah menuju kawasan perkotaan.

Perpindahan itu didorong keinginan memperoleh peluang ekonomi yang dinilai lebih menjanjikan. Lapangan pekerjaan, pendidikan, serta kemudahan memperoleh layanan publik menjadi pertimbangan utama sebagian besar keluarga.

Akibatnya, jumlah penduduk terus berkurang hingga akhirnya hanya tersisa dua keluarga yang masih mempertahankan kehidupan di kawasan tersebut.

Perubahan itu juga berdampak terhadap fasilitas umum. Bangunan Sekolah Dasar beserta rumah dinas guru kini kosong dan mulai mengalami kerusakan karena sudah lama tidak difungsikan.

Bangunan yang dahulu menjadi pusat kegiatan belajar kini hanya menyisakan struktur yang dimakan usia. Meski demikian, keberadaannya masih menjadi penanda bahwa pendidikan pernah tumbuh di kawasan pedalaman ini.

Apa yang tersisa dari fasilitas umum di Dusun Kamenran?

Selain bangunan sekolah yang telah kosong, rombongan juga menemukan sebuah masjid tua yang masih berdiri di tengah kawasan bekas permukiman. Lokasinya tidak jauh dari sekolah dasar yang sudah lama ditinggalkan.

Masjid tersebut diperkirakan sudah belasan hingga puluhan tahun tidak lagi digunakan setelah sebagian besar warga meninggalkan dusun. Kondisi bangunan mulai mengalami kerusakan akibat usia dan minim perawatan.

Di bagian dalam, sejumlah tanaman liar mulai tumbuh memasuki bangunan. Meski demikian, beberapa perlengkapan lama masih dapat ditemukan, seperti sajadah yang tersisa dan beduk kayu yang dahulu dipakai sebagai penanda waktu salat.

Pemandangan itu menjadi gambaran bagaimana sebuah fasilitas ibadah ikut kehilangan fungsinya ketika jumlah penduduk terus berkurang.

Siapa penghuni yang masih bertahan di kampung pedalaman ini?

Perjalanan kemudian mengarah ke satu-satunya rumah yang masih dihuni di Dusun Kamenran. Rumah tersebut ditempati seorang perempuan lanjut usia yang dikenal warga dengan panggilan Ucu Idang atau Acil Idang.

Saat rombongan tiba, pintu rumah dalam keadaan tertutup. Setelah beberapa kali memanggil, diketahui bahwa Ucu Idang sedang berada di kawasan hutan untuk menyadap karet, pekerjaan yang masih menjadi sumber penghidupannya.

Rombongan menunggu lebih dari dua jam dengan harapan dapat bertemu langsung. Namun hingga waktu keberangkatan tiba, Ucu Idang belum kembali dari lokasi penyadapan.

Bingkisan berupa sepasang sepatu yang telah disiapkan akhirnya dititipkan kepada tetangga terdekat yang tinggal di pondok di seberang sungai agar dapat disampaikan kepadanya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan di pedalaman masih sangat bergantung pada alam sekaligus memiliki tantangan tersendiri, mulai dari akses transportasi hingga komunikasi yang terbatas.

Dalam video YouTube @WAWAY BARITO, narator menggambarkan situasi tersebut melalui kutipan berikut.

"Bayangkan sendiri di sini loh ya, sendiri. Kamu berani enggak di sini sendiri? Kayanya mikir-mikir ya."

Salah seorang anggota rombongan, Wulan, juga mengungkapkan kesannya setelah melihat kondisi tersebut.

"Kabuat belum itu (hidup sendiri) lah... (kalau saya) sama anak sama suami enggak berani juga, belum siap lah."

Narator kemudian menjelaskan bahwa tetangga terdekat Ucu Idang berada di seberang sungai dan komunikasi antarkedua rumah dilakukan menggunakan panggilan suara khas masyarakat hutan ketika diperlukan.

Keberadaan dua keluarga yang masih bertahan menunjukkan bahwa ikatan terhadap tanah kelahiran dan mata pencaharian tradisional masih menjadi alasan kuat bagi sebagian warga untuk tetap tinggal, meskipun berbagai fasilitas publik sudah tidak lagi beroperasi.

Di sisi lain, kisah Dusun Kamenran menjadi potret perubahan yang dialami banyak permukiman pedalaman. Ketika kesempatan ekonomi, pendidikan, dan layanan dasar lebih mudah dijangkau di wilayah perkotaan, perpindahan penduduk menjadi pilihan yang sulit dihindari.

Meski begitu, jejak sejarah kampung ini masih tersimpan melalui rumah-rumah lama, pepohonan buah yang terus tumbuh, bangunan sekolah, hingga masjid tua yang menjadi saksi perjalanan masyarakat Dayak Bakumpai selama puluhan tahun.

Poin Penting:

Baca Juga: Festival Adat Nondoi Kembali Hadir di Penajam, Dorong Budaya dan Pariwisata Lokal.

Insight Redaksi: Kisah Dusun Kamenran memberi gambaran bahwa perpindahan penduduk bukan sekadar persoalan meninggalkan rumah, tetapi juga meninggalkan sejarah sebuah kampung. Di Kalimantan, kondisi serupa masih dapat dijumpai di beberapa wilayah pedalaman ketika akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi semakin terpusat di perkotaan. Pelestarian jejak kampung lama layak menjadi perhatian bersama agar nilai sejarah dan budaya masyarakat adat tetap terdokumentasi. Kada cukup hanya mengenang, upaya nyata menjaga warisan lokal juga penting dilakukan, Ces.

Bagikan artikel ini kepada bubuhan ikam agar semakin banyak yang mengenal kisah kampung-kampung pedalaman Kalimantan yang masih bertahan hingga sekarang.

Masih banyak cerita dari pelosok Kalimantan yang jarang terangkat ke permukaan. Ikuti terus informasi menarik dan kisah inspiratif hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Di mana lokasi Dusun Kamenran?
Dusun Kamenran berada di Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.

2. Berapa lama perjalanan menuju Dusun Kamenran?
Perjalanan menggunakan perahu kelotok melalui Sungai Teweh memerlukan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam.

3. Mengapa penduduk Dusun Kamenran berkurang?
Sebagian besar warga memilih pindah ke kota untuk memperoleh peluang usaha, pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik yang lebih mudah dijangkau.

4. Siapa warga yang masih tinggal di dusun tersebut?
Salah satu penghuni yang masih menetap adalah perempuan lanjut usia yang dikenal sebagai Ucu Idang atau Acil Idang.

5. Apa saja peninggalan yang masih dapat ditemukan di Dusun Kamenran?
Masih terdapat bekas rumah warga, pohon buah yang dahulu ditanam penduduk, bangunan Sekolah Dasar, rumah dinas guru, dan sebuah masjid tua yang sudah lama tidak digunakan.

Sumber Informasi: Informasi ini sudah tayang sebelumnya di Media YouTube @WAWAY BARITO, dengan judul "Kehidupan Kampung Dayak Yang Hanya dihuni 2 Keluarga Saja. Pedalaman Sungai Teweh, Kalimantan Tengah". Dipublikasikan kembali dengan angle dan style artikel balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#Ucu Idang #Dusun Kamenran #Sungai Teweh #Kabupaten Barito Utara #perahu kelotok