Topik: Desa Wisata Ketapanrame Jadi Contoh Pemberdayaan UMKM dan Wisata Berkelanjutan
Durasi Baca: 5 Menit
Ikhtisar: Desa Wisata Ketapanrame di Mojokerto menarik perhatian karena berhasil menggabungkan wisata alam, UMKM kopi, dan pemberdayaan warga. Dukungan Bank Indonesia sejak 2024 ikut mendorong produk lokal menembus pasar internasional sekaligus meningkatkan kunjungan wisata.
Balikpapan TV - Hai Ces! Desa Wisata Ketapanrame di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, mulai dilirik sebagai contoh pengembangan wisata berbasis masyarakat yang berjalan nyata. Bukan cuma jual panorama pegunungan, desa ini juga menghidupkan ekonomi warga lewat kopi, UMKM, dan wisata edukasi yang dikelola bersama melalui BUMDes.
Masalahnya, kada semua desa wisata bisa bertahan lama. Ada yang ramai sebentar lalu redup. Karena itu, kisah Ketapanrame menarik disimak sampai habis. Ada pola kerja warga, dukungan lembaga, sampai cara mereka mengubah potensi kampung jadi sumber penghasilan yang terus bergerak, Ces!
Kenapa Desa Wisata Ketapanrame Jadi Sorotan?
Jawabannya ada pada cara desa ini mengelola potensi lokal secara serius. Ketapanrame berada di lereng Gunung Welirang dan memanfaatkan kekuatan alam pegunungan sebagai daya tarik wisata. Mulai dari wisata edukasi, budaya, kebun kopi, sampai perkebunan jeruk, semuanya dijalankan dengan keterlibatan masyarakat lokal.
Dalam rangkaian kegiatan Tinta Bank Indonesia Balikpapan 2026 bersama Balikpapan TV pada Jumat, 22 Mei 2026, memperlihatkan bagaimana desa wisata ini berkembang bukan sekadar tempat liburan biasa. Ada sistem pemberdayaan ekonomi yang berjalan di belakangnya. Itu yang bikin banyak daerah mulai melirik konsep serupa.
Bagaimana Kopi Ketapanrame Bisa Tembus Pasar Internasional?
Kopi menjadi salah satu kekuatan utama desa ini. Saat ini terdapat perkebunan kopi seluas 69 hektare yang dikelola 215 petani lokal. Hasilnya bukan hanya dipasarkan di sekitar desa, tetapi mulai dikenal hingga pasar internasional.
Kepala Desa Ketapanrame, Slamet, menjelaskan perkembangan tersebut tidak lepas dari pendampingan Bank Indonesia Jawa Timur sejak 2024. Dukungan diberikan dari hulu sampai hilir. Mulai proses budidaya, pengolahan kopi, pemasaran produk, hingga bantuan mesin roasting, grinder, rumah produksi, dan fasilitas wisata.
“Jumlah kunjungan wisatawan saat ini mencapai sekitar 70 ribu pengunjung setiap bulan dan pendapatan desa mulai kembali meningkat,” ujar Slamet.
Angka itu menunjukkan satu hal penting. Wisata yang dikelola serius bisa menggerakkan banyak sektor sekaligus. Kada cuma pengelola wisata yang hidup, tapi petani, UMKM, sampai pekerja lokal ikut merasakan dampaknya.
Apa Dampak Langsung Bagi Pelaku UMKM Lokal?
Pelaku UMKM lokal mulai merasakan perubahan ekonomi yang cukup terasa. Salah satunya disampaikan Suminin yang mengaku pengembangan desa wisata membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar.
Bukan hanya kopi mentah yang dijual. Warga mulai mengembangkan berbagai produk turunan seperti olahan kopi dan kuliner khas desa. Pola ini membuat perputaran uang terjadi lebih lama di lingkungan warga sendiri.
Situasi seperti ini sering dicari banyak daerah wisata. Pengunjung datang, belanja produk lokal, lalu ekonomi warga bergerak bersama. Sederhana kedengarannya, tapi praktiknya kada mudah kalau pengelolaannya setengah-setengah, Ces.
Apa yang Bisa Dipelajari Daerah Lain dari Ketapanrame?
Ketapanrame memperlihatkan bahwa wisata desa tidak cukup hanya mengandalkan pemandangan alam. Yang paling penting justru keterlibatan warga dan kesinambungan usaha lokal.
Ada beberapa pola yang terlihat jelas di desa ini:
1. Potensi lokal dijadikan pusat pengembangan
Kopi dan perkebunan menjadi identitas utama desa.
2. Warga ikut terlibat langsung
Petani, pelaku UMKM, hingga pengelola wisata bergerak bersama.
3. Pendampingan dilakukan berkelanjutan
Bank Indonesia tidak hanya datang sekali, tapi mendampingi proses pengembangan sejak 2024.
Model seperti ini membuat desa wisata punya fondasi ekonomi yang lebih kuat. Kadada kesan wisata musiman yang ramai saat viral saja, lalu hilang setelah tren lewat.
Kenapa Wisata Berbasis Masyarakat Mulai Banyak Dilirik?
Karena dampaknya terasa langsung bagi warga sekitar. Ketika masyarakat ikut memiliki dan mengelola wisata, manfaat ekonomi tidak berhenti di satu pihak saja. Desa juga punya peluang menjaga budaya dan potensi lokal agar tetap hidup.
Ketapanrame menjadi contoh bahwa pengembangan wisata bisa berjalan beriringan dengan UMKM dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah banyaknya destinasi baru bermunculan, konsep seperti ini justru terasa lebih membumi dan tahan lama. Bubuhan pengelola wisata daerah lain pasti mulai melirik pola serupa karena potensi yang ada di daerahnya, nah itu sudah.
Poin Penting:
- Desa Wisata Ketapanrame berada di lereng Gunung Welirang, Mojokerto
- Wisata desa menggabungkan alam, edukasi, budaya, dan UMKM lokal
- Perkebunan kopi seluas 69 hektare dikelola 215 petani
- Produk kopi Ketapanrame mulai dikenal hingga pasar internasional
- Bank Indonesia Jawa Timur mendampingi pengembangan sejak 2024
- Jumlah wisatawan mencapai sekitar 70 ribu pengunjung per bulan
Insight: Ketapanrame memperlihatkan bahwa desa wisata yang kuat bukan soal spot foto semata. Yang dicari pengunjung sekarang pengalaman yang terasa hidup dan punya cerita lokal. Ketika kopi, budaya, dan warga berjalan dalam satu ekosistem, dampaknya jadi panjang. Ini menarik untuk daerah lain, termasuk di Kalimantan. Kadada gunanya wisata ramai pang, kalau warga sekitar cuma jadi penonton. Model seperti ini justru memberi identitas yang jelas dan bikin orang ingin datang kembali.
Bagikan jua artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang paham kalau wisata desa bisa jadi penggerak ekonomi warga secara nyata.
“Masih banyak cerita menarik soal wisata, UMKM, dan perkembangan daerah yang wajib dipantau hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!” (DEL)
FAQ
1. Di mana lokasi Desa Wisata Ketapanrame?
Desa ini berada di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, di lereng Gunung Welirang.
2. Apa potensi unggulan Desa Wisata Ketapanrame?
Perkebunan kopi seluas 69 hektare yang dikelola petani lokal menjadi salah satu unggulan utama.
3. Siapa yang mendampingi pengembangan desa wisata ini?
Bank Indonesia Jawa Timur melakukan pendampingan sejak 2024.
4. Berapa jumlah kunjungan wisatawan ke Ketapanrame?
Sekitar 70 ribu pengunjung datang setiap bulan.
5. Apa dampak wisata bagi UMKM lokal?
UMKM lokal berkembang lewat produk olahan kopi dan kuliner khas desa yang ikut dipasarkan kepada wisatawan.
Editor : Arya Kusuma