Balikpapan TV – Hai Cess! Di hamparan mangrove yang hijau dan perairan pesisir yang tenang, Pemerintah Kota Balikpapan kembali menegaskan arah pariwisatanya. Bukan sekadar indah dipandang, tapi juga ramah lingkungan dan penuh makna.
Di kawasan mangrove Balikpapan, konsep silvofishery mulai digarap serius sebagai wajah baru wisata edukatif. Sistem tambak terpadu yang memadukan budidaya perikanan dan pelestarian mangrove ini hadir sebagai solusi lingkungan, ekonomi, sekaligus ruang belajar terbuka bagi masyarakat.
Menariknya, cerita ini bukan cuma soal tambak dan mangrove. Ini soal masa depan kota pesisir yang ingin tumbuh selaras dengan alam. Jadi, ikam jangan buru-buru geser layar. Baca pelan-pelan sampai habis, pahami alurnya, dan rasakan kenapa silvofishery ini layak jadi perhatian bersama, Cess!.
Baca Juga: Bagaimana Cara Santai Menjaga Tubuh Tetap Bugar dan Pikiran Tenang?
Mengapa silvofishery mulai dilirik sebagai wajah baru wisata Balikpapan?
Silvofishery kini menjadi fokus Pemkot Balikpapan karena menjawab dua tantangan sekaligus: lingkungan yang terjaga dan ekonomi yang tetap bergerak. Kepala Disporapar Kota Balikpapan, Ratih Kusuma, menegaskan konsep ini bukan tren sesaat. Ia lahir dari kegelisahan panjang melihat tambak konvensional yang terus menurun produktivitasnya akibat penggunaan bahan kimia dalam jangka lama.
Menurut Ratih, penanaman dan pemeliharaan mangrove di area tambak mampu memulihkan kualitas tanah dan air secara alami. Alam bekerja dengan caranya sendiri. Hasilnya, ekosistem membaik dan budidaya perikanan punya peluang tumbuh lebih sehat. “Silvofishery adalah bentuk cinta kita pada alam. Ketika kita menjaga mangrove, alam pun akan memberi kembali,” ujar Ratih apa adanya.
Dari sisi pariwisata, kawasan ini punya daya tarik kuat. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat, tapi juga belajar langsung tentang fungsi mangrove, peran ekosistem pesisir, dan praktik perikanan berkelanjutan. Edukasi jalan, wisata dapat, kesadaran tumbuh. Nah’ itu sudah, konsep lengkap dalam satu kawasan, pahamlah ikam.
Apa yang membuat mangrove dan tambak bisa saling menguatkan?
Hubungan mangrove dan tambak dalam silvofishery bukan sekadar berdampingan. Keduanya saling menghidupi. Wakil Ketua Umum Stand Up Paddle Indonesia (SUP.ID), Akmal Malik, menjelaskan banyak lahan tambak di Indonesia mengalami degradasi karena pupuk kimia dan urea digunakan puluhan tahun tanpa henti. Dampaknya, tanah kehilangan kesuburan dan hasil perikanan terus menurun.
Dalam silvofishery, mangrove berfungsi sebagai penyangga alami. Akar mangrove membantu menyaring air, menstabilkan sedimen, dan menciptakan lingkungan perairan yang lebih sehat. Sistem ini direkomendasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai pendekatan berbasis alam.
Di Sungai Manggar, Balikpapan, penerapan silvofishery mulai menunjukkan arah yang menjanjikan. Mangrove tidak hanya melindungi pesisir, tapi juga mendukung produktivitas tambak tanpa ketergantungan bahan kimia. Pendekatan ini sederhana, tapi dampaknya panjang. Bubuhan yang terlibat di lapangan pun mulai melihat perubahan cara pandang terhadap tambak dan alam sekitarnya.
Bagaimana konsep ini dikembangkan menjadi wisata edukatif?
Pemkot Balikpapan melihat silvofishery lebih dari sekadar sistem budidaya. Kawasan ini dirancang menjadi ruang belajar hidup. Ratih Kusuma menyebut, wisata edukatif berbasis lingkungan adalah kunci agar masyarakat dan wisatawan memahami nilai mangrove secara utuh, bukan hanya dari foto-foto estetik.
Ke depan, wisatawan akan diajak menyusuri sungai menggunakan perahu sebelum melakukan penanaman mangrove. Aktivitas ini dirancang aman dengan melibatkan Basarnas, Kepolisian Perairan, dan BPBD. Edukasi dibalut pengalaman langsung, jadi ilmunya lebih melekat. Anak sekolah, mahasiswa, hingga wisatawan umum bisa ikut terlibat.
Menariknya, meski belum resmi dibuka, konsep silvofishery Sungai Manggar sudah menarik perhatian daerah lain seperti Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta untuk studi pembelajaran. Artinya, Balikpapan pelan-pelan menjadi rujukan. Bukan karena sensasi, tapi karena konsistensi menjaga alam sambil membuka peluang wisata yang berkelanjutan, ya’ kalo pahamlah ikam.
Sejauh mana kesiapan Balikpapan menjalankan silvofishery berkelanjutan?
Tahap awal pengembangan silvofishery dilakukan di lahan seluas 10 hektare dengan dukungan sekitar 10 ribu bibit mangrove dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Skala ini menjadi pijakan awal sebelum pengembangan lebih luas. Pemerintah daerah juga terus mendorong kolaborasi lintas sektor agar program berjalan optimal.
Akmal Malik menilai, pendekatan ini bukan solusi instan. Namun jika konsisten, silvofishery mampu memulihkan ekosistem pesisir sekaligus membuka ruang sport tourism dan edukasi lingkungan. Ia berharap kawasan Sungai Manggar bisa menjadi contoh nyata wisata hijau yang seimbang antara alam, aktivitas manusia, dan keselamatan.
Bagi Balikpapan, ini sejalan dengan visi kota hijau. Pariwisata tumbuh bersama alam, bukan merusaknya. Tips singkat buat ikam yang nanti berkunjung: datang dengan sikap belajar, jaga kebersihan, dan hormati kawasan mangrove sebagai ruang hidup bersama. Dari hal kecil itu, dampaknya bisa besar, pahamlah.
Silvofishery di Balikpapan hadir sebagai inovasi pengelolaan tambak yang ramah lingkungan sekaligus destinasi wisata edukatif. Menggabungkan mangrove dan perikanan, konsep ini memperkuat ekosistem pesisir, membuka ruang belajar, dan mendorong pariwisata berkelanjutan.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham arah wisata hijau Balikpapan, Cess!.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (Rafi)
FAQ
Apa itu silvofishery dan mengapa penting untuk Balikpapan?
Silvofishery adalah sistem tambak terpadu dengan mangrove yang mendukung lingkungan dan produktivitas perikanan.
Di mana lokasi pengembangan silvofishery di Balikpapan?
Pengembangan awal dilakukan di kawasan Sungai Manggar, Balikpapan.
Apakah kawasan ini terbuka untuk wisatawan?
Ke depan, kawasan silvofishery akan dikembangkan sebagai wisata edukatif dengan aktivitas penanaman mangrove.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.