Museum Sadurengas, Rumah Sejarah yang Masih Bernapas di Paser
AdminBTV• Kamis, 30 Oktober 2025 | 17:23 WIB
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Balikpapan TV - Hai Cess! Pernah nggak sih kamu membayangkan seperti apa kehidupan para raja dan sultan di masa lalu? Nah, kalau kamu penasaran, datanglah ke Museum Sadurengas di Desa Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Di sini, sejarah bukan cuma ditulis di papan informasi — tapi terasa hidup di setiap kayu, ukiran, dan aroma masa lalu yang masih hangat terasa.
Dari Rumah Sultan Jadi Penjaga Cerita
Dulu, bangunan ini adalah rumah Sultan Aji Tenggara, penguasa Paser pada pertengahan abad ke-19. Rumahnya terbuat dari kayu ulin yang kokoh, berdiri di atas tiang-tiang tinggi khas rumah Kalimantan. Beberapa puluh tahun kemudian, Sultan Ibrahim Khaliluddin menambahkan bangunan di bagian depan dan menjadikannya istana resmi Kesultanan Paser.
Sekarang, rumah ini bukan lagi tempat tinggal keluarga kerajaan, tapi rumah bagi sejarah. Pemerintah setempat menjadikannya Museum Sadurengas — tempat di mana masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu ruang penuh kenangan.
Begitu melangkah masuk, kamu akan merasakan suasana yang hangat dan tenang. Ada aroma kayu tua yang khas, bunyi lembut lantai yang berderit saat diinjak, dan cahaya lembut yang masuk dari sela-sela jendela besar. Semua terasa seperti sapaan lembut dari masa lalu.
Kenapa Namanya Sadurengas?
Kata “Sadurengas” berasal dari nama kerajaan tua yang dulu berpusat di Paser. Bagi masyarakat sekitar, nama ini punya makna mendalam — tentang kebanggaan, warisan, dan identitas. Museum ini menyimpan berbagai benda peninggalan kerajaan, mulai dari mahkota dan pakaian Sultan, lukisan keluarga kerajaan, tempayan kuno dari Dinasti Yuan, sampai Al-Qur’an tulisan tangan yang usianya diperkirakan sudah ratusan tahun.
Ada juga benda unik yang sering bikin pengunjung terpukau — kerangka ikan paus sepanjang 12 meter! Konon, hewan besar itu ditemukan di pesisir Paser beberapa dekade silam dan kini dijadikan koleksi langka museum.
Dari luar, museum ini terlihat sederhana, tapi setiap sudutnya menyimpan jiwa. Arsitekturnya memadukan gaya Eropa, Jawa, dan Timur Tengah, tapi tetap terasa “Kalimantan banget.” Tak ada paku besi di sini, semua disambung dengan pasak kayu. Dindingnya dibuat dari kulit kayu sungkai, dan setiap ukiran di pintu punya makna filosofis — menggambarkan doa, keteguhan, dan kebijaksanaan para leluhur Paser.
Di sebelahnya berdiri Masjid Nurul Ibadah, yang dibangun oleh Sultan Aji Tenggara. Masjid ini masih aktif digunakan warga hingga sekarang. Keduanya — masjid dan museum — ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Nasional pada tahun 1999. Jadi, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, tapi juga rumah spiritual yang menyatukan masa lalu dan masa kini.
Perjalanan Panjang Menjadi Museum
Setelah Kesultanan Paser berakhir, keluarga kerajaan menyerahkan rumah ini kepada pemerintah agar dijaga dan dirawat. Tahun demi tahun, bangunan kayu itu tetap berdiri, meski pernah diterjang banjir besar dan usia yang makin menua.
Pada 2008, dilakukan pemugaran besar-besaran, lalu disusul rehabilitasi tahun 2018 untuk memperkuat struktur dan mempertahankan bentuk aslinya. Sekarang, bangunan ini berdiri kokoh — bukan sekadar karena kayunya yang kuat, tapi karena semangat masyarakat yang ingin menjaga sejarahnya tetap hidup.
Sejak resmi beroperasi sebagai museum, Museum Sadurengas menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Anak-anak sekolah datang berkunjung, mahasiswa menulis penelitian, dan wisatawan berfoto sambil mengagumi setiap detail kayu yang berusia lebih dari seabad.
Ada Cerita di Setiap Ruangan
Begitu kamu masuk ke dalam, setiap ruangan seolah bercerita. Ada kamar Sultan, kamar Putri, hingga ruang dayang-dayang. Di bagian belakang, dapur kerajaan masih mempertahankan bentuk aslinya — lengkap dengan tungku kayu dan perabot sederhana.
Beberapa foto hitam putih tergantung rapi di dinding, menampilkan wajah para pemimpin terdahulu. Ada rasa haru tersendiri melihatnya — membayangkan kehidupan di masa lampau yang damai, penuh nilai, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia modern.
Salah satu pengelola, Hermansyah, mengatakan,
“Untuk hari biasa tetap ada pengunjung, tapi yang ramai biasanya hari kedua Idulfitri.”
Ya, di hari itu, suasana museum seperti hidup kembali. Warga berdatangan bersama keluarga, berfoto, berbagi cerita, dan mengingat asal usul mereka.
Bukan Sekadar Tempat Wisata
Museum Sadurengas bukan hanya tempat melihat benda bersejarah. Ia seperti “guru tua” yang sabar — mengajarkan arti menghargai masa lalu. Bagi sebagian orang, tempat ini juga jadi ruang healing. Di sini, waktu berjalan lebih lambat. Angin sepoi-sepoi berhembus di antara pohon ulin, dan suara burung sesekali terdengar di kejauhan. Semuanya membuat pikiran tenang, hati adem.
Pemerintah daerah pun punya harapan besar agar museum ini terus menjadi pusat edukasi budaya dan wisata sejarah. Dengan begitu, anak-anak muda Paser tahu dari mana asal mereka, dan mengapa sejarah penting untuk dijaga.
Informasi untuk Kamu yang Mau Berkunjung
Museum Sadurengas buka setiap Senin–Kamis dan Sabtu–Minggu, pukul 08.00–16.00 WITA. Lokasinya cuma sekitar 6 kilometer dari Terminal Tanah Grogot, dan bisa dijangkau dengan motor atau mobil.
Tiket masuknya? Gratis, Cess! Jadi nggak ada alasan buat nggak mampir, apalagi kalau kamu suka tempat yang tenang tapi penuh makna.
Museum Sadurengas bukan hanya bangunan kayu tua. Ia adalah cermin perjalanan Paser, saksi bisu tentang kerajaan yang dulu berjaya, dan bukti bahwa sejarah bisa tetap hidup — asal kita mau menjaganya.
Jadi, kalau kamu lewat Paser Belengkong, sempatkan mampir. Siapa tahu, di balik derit lantai kayu itu, kamu bisa merasakan getar masa lalu yang masih berdenyut lembut hingga hari ini.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia — “Bukan Sekadar Info Biasa"
FAQ
1. Di mana lokasi Museum Sadurengas? Museum ini berada di Desa Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, sekitar 6 km dari Tanah Grogot.
2. Apa yang bisa dilihat di sana? Beragam peninggalan Kesultanan Paser, seperti pakaian Sultan, keris, guci kuno, hingga Al-Qur’an tulisan tangan.
3. Apakah museum ini masih aktif dikunjungi? Ya, terutama saat libur panjang dan hari besar keagamaan, pengunjungnya bisa ramai sekali.
DISKLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.
Bangunan kayu klasik Museum Sadurengas di Paser Belengkong berdiri anggun sebagai saksi hidup sejarah Kesultanan Paser.