BalikpapanTv.id-Tari Hudoq adalah tarian sakral tradisional suku Dayak Modang di Kutai Timur, Kalimantan Timur yang digunakan dalam prosesi ritual atau upacara adat. Tari Hudoq berasal dari kisah Halaeng Heboung, putra seorang Raja di Kampung Laham Kejin yang menikah dengan Selo Sen Yaeng, seorang makhluk gaib dari sungai.
Hudoq dimaksudkan sebagai ritual yang tetap menjaga hubungan antara Halaeng Heboung dan Selo Sen, setelah Halaeng meninggal di sungai saat mencari mandaunya. Dalam tarian ini, penari mengenakan topeng binatang buas dan pakaian daun yang berbeda, sedangkan masing-masing penari menggambarkan karakter dari dewa-dewa bernama hudoq.
Hudoq dimulai dengan ritual Sakaeng Ngaweit yang berisi permohonan, kemudian diikuti oleh sekelompok perempaun dewasa yang menari dan melantunkan syair sebagai bagian dari arak-arakan menuju rumah adat (lamin adat atau Maeso Puen).
Hudoq berkaitan dengan pencapaian hasil maksimal dan kesejahteraan dalam usaha perladangan, serta ciptakan harmoni antara manusia dan alam. Tarian ini dimaksudkan untuk melawan hama dan memperoleh hasil panen yang banyak.
Tarian Hudoq memiliki komposisi melingkar tanpa aturan khusus untuk keluar dan masuknya penari. Keahlian para penari dalam menghayati tokoh hudoq sangat penting, karena mereka seakan-akan menjadi mediator kekuatan gaib yang membantu mereka. Topeng hudoq dibuat dari kayu ringan dan tahan lama seperti Jelutung, Pelay, atau Kemiri.
Meskipun tarian Hudoq juga dikenal oleh subsuku Dayak lain, seperti Dayak Bahau, Kayan, dan Kenyah, "Hudoq Modang" memiliki ciri khas tersendiri pada topeng (nyeung hedoq) dan penyebutan tokoh-tokoh dalam tarian Hudoq.
Terdapat berbagai tokoh Hudoq dalam tarian ini, seperti roh guntur (delay), roh harimau (lejie), penolong manusia ke alam baka (pen leih), roh buaya (wah jaeg), roh ikan belut (telea), roh burung elang (nyehae), roh babi (ewoa), jelmaan roh manusia (sehuen), roh kera (yoq), dan jelmaan roh pengganggu (hedoq menlieu).
Tari Hudoq bukan hanya sarat dengan nilai religi, tetapi juga menampilkan nilai-nilai gotong royong, tontonan atau hiburan, ikatan kepentingan bersama, dan kekeluargaan dalam kesehariannya.
Editor : Cakra Agung