Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Kenali tanda ban motor aus, retak, benjol, dan indikator TWI sebelum kondisi kendaraan membahayakan perjalanan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Ban motor yang masih terlihat tebal belum tentu layak digunakan. Pengendara perlu memeriksa kondisi tapak, retakan, benjolan, dan kestabilan kendaraan untuk mengenali potensi bahaya sejak awal.
Masalahnya, kerusakan ban tidak selalu terlihat jelas ketika motor sedang terparkir. Ada tanda yang bisa diperiksa langsung, ada pula gejala yang membutuhkan pemeriksaan mekanik. Kenali lima petunjuk berikut sebelum kembali berkendara.
1. Kembangan ban menipis, daya cengkeram ikut terancam
Ban motor bukan sekadar komponen berbahan karet yang membuat kendaraan bergerak. Permukaan tapaknya membantu menjaga kontak dengan jalan, sementara pola kembangan mendukung pembuangan air ketika kendaraan melintasi permukaan basah.
Ketika tapak semakin aus, kemampuan ban mempertahankan cengkeraman dapat menurun. Risikonya perlu diperhatikan saat hujan, terutama ketika pengendara harus mengerem atau mengubah arah perjalanan.
Instruktur Safety Riding Honda Babel, Hariyansha, mengingatkan risiko tersebut melalui pernyataan yang dimuat ANTARA pada 26 Mei 2025.
“Ban tipis itu seperti bom waktu. Kapan saja bisa membahayakan pengendara, terutama saat kondisi jalan licin atau saat pengereman mendadak.”
Karena itu, jangan hanya menilai ban dari tampilannya secara keseluruhan. Periksa bagian tengah dan sisi tapak untuk melihat apakah keausan terjadi secara merata atau justru terkonsentrasi pada bagian tertentu.
2. Mengenali TWI sebelum ban terlihat botak
Ada cara praktis untuk memeriksa batas keausan tanpa harus menunggu permukaan ban terlihat gundul. Perhatikan tanda Tread Wear Indicator (TWI), yaitu indikator keausan yang tersedia pada ban.
Tanda segitiga kecil pada dinding samping membantu menunjukkan posisi indikator di bagian tapak. Pada posisi tersebut, terdapat tonjolan kecil yang dapat digunakan untuk membandingkan tingkat keausan permukaan ban.
Jika tapak sudah sejajar dengan indikator TWI, ban perlu diganti. Jangan menunggu sampai permukaan karet benar-benar habis, sebab batas tersebut merupakan petunjuk penting untuk menentukan kelayakan pemakaian.
Suzuki Indonesia juga menjelaskan bahwa indikator TWI berkaitan dengan kemampuan kembangan ban membuang air. Ketika batas keausan tercapai, kemampuan tersebut tidak lagi dapat diandalkan sebagaimana mestinya.
3. Retakan kecil bukan sekadar masalah penampilan
Ban yang masih memiliki ketebalan memadai belum tentu bebas dari kerusakan. Perhatikan dinding samping dan permukaan tapak, terutama jika muncul retakan, karet mengeras, atau bagian tertentu terlihat pecah-pecah.
Paparan sinar matahari, proses penuaan, penyimpanan yang kurang tepat, serta kondisi penggunaan dapat memengaruhi kualitas karet. Retakan akibat penuaan perlu dibedakan dari goresan ringan karena tingkat kerusakannya tidak selalu sama.
Michelin Indonesia memasukkan retakan karet akibat penuaan sebagai salah satu kondisi yang memerlukan penggantian ban. Kerusakan semacam ini tidak cukup dinilai hanya dari sisa ketebalan tapak.
Jika retakan terlihat jelas, karet mulai terkelupas, atau bagian dalam ban tampak, mintalah pemeriksaan tenaga profesional. Ban yang rusak secara struktural tidak layak dipaksakan untuk perjalanan harian.
4. Motor oleng atau bergetar? Jangan langsung menyalahkan ban
Perubahan rasa berkendara juga patut diperhatikan. Motor yang terasa bergetar, kurang stabil ketika menikung, atau mengalami keausan ban pada satu sisi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Ban yang aus tidak merata dapat berkaitan dengan tekanan angin yang kurang tepat atau persoalan pada keselarasan roda. Namun, gejala serupa juga dapat muncul akibat gangguan pada roda, bearing, maupun suspensi.
Artinya, menambah angin saja belum tentu menyelesaikan persoalan. Jika tekanan sudah sesuai rekomendasi pabrikan tetapi motor masih terasa janggal, periksakan kendaraan ke bengkel.
Hariyansha juga mengingatkan pengendara agar memperhatikan perubahan kestabilan. Dalam pemberitaan ANTARA yang sama, ia mengatakan, “Sering kali pengendara tidak menyadari bahwa motornya mulai tidak stabil. Padahal, penyebab utamanya ada pada kondisi ban.”
Gejala tersebut perlu ditanggapi serius, tetapi pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan sumber masalahnya.
5. Ban benjol menjadi tanda bahaya yang perlu segera ditangani
Benjolan pada permukaan atau dinding ban merupakan tanda yang berbeda dari keausan biasa. Kerusakan ini dapat menunjukkan adanya gangguan pada lapisan penguat di dalam struktur ban.
Benturan keras, misalnya ketika roda menghantam lubang jalan, dapat merusak bagian internal tersebut. Tekanan angin yang terlalu rendah juga dapat meningkatkan tekanan kerja pada struktur ban dan memicu kerusakan.
Suzuki Indonesia menjelaskan bahwa benjolan dapat berkaitan dengan kerusakan benang konstruksi pada dinding samping. Kondisi tersebut membuat ban tidak aman digunakan seperti biasa.
Jika menemukan benjolan, jangan menganggapnya sebagai perubahan bentuk yang akan hilang sendiri. Hindari melanjutkan perjalanan menggunakan ban tersebut dan minta bantuan untuk pemeriksaan atau penggantian yang aman.
Baca Juga: Jarak Tempuh 310 Km, Suzuki e SKY Punya Cara Berbeda Mengajak Orang Beralih ke Mobil Listrik
Pemeriksaan sederhana sebelum motor digunakan
Pemeriksaan ban tidak harus menunggu jadwal servis. Beberapa langkah berikut membantu mengenali masalah sejak awal.
| Bagian yang diperiksa | Hal yang dicari | Tindakan |
|---|---|---|
| Tapak ban | Kembangan menipis atau aus tidak merata | Periksa TWI dan kondisi tapak |
| Dinding samping | Retakan, sobekan, atau benjolan | Minta pemeriksaan profesional |
| Tekanan angin | Tekanan tidak sesuai rekomendasi | Sesuaikan ketika ban dingin |
| Kestabilan motor | Getaran atau perubahan kendali | Periksa ban dan komponen terkait |
Michelin Indonesia menyarankan pemeriksaan tekanan ban setiap dua minggu dan sebelum perjalanan jauh. Pengukuran sebaiknya dilakukan ketika ban dingin dengan mengikuti rekomendasi tekanan dari pabrikan kendaraan.
Hindari mengurangi tekanan ban ketika kondisinya panas. Pembacaan saat panas dapat berbeda dari kondisi dingin sehingga hasil penyesuaiannya berisiko keliru.
Mengapa mengganti ban tidak sebaiknya menunggu sampai rusak parah?
Menunda penggantian dapat membuat pengendara melewatkan tanda kerusakan yang sebenarnya sudah terlihat. Masalahnya bukan sekadar ban menjadi kurang nyaman, melainkan kemampuan kendaraan mempertahankan kendali dapat ikut terpengaruh.
Bagi pengguna motor harian di Balikpapan, pemeriksaan ini relevan sebelum berangkat bekerja, mengantar keluarga, atau menempuh perjalanan ketika hujan. Kondisi setiap ruas jalan berbeda, sehingga pemeriksaan ban menjadi langkah praktis yang bisa dilakukan tanpa bergantung pada perkiraan cuaca atau jarak perjalanan.
Jika tapak sudah mencapai TWI, terdapat retakan struktural, atau muncul benjolan, jangan menunggu sampai ban bocor di tengah perjalanan. Keselamatan dimulai dari kondisi kendaraan yang diperiksa sebelum digunakan.
Baca Juga: Apakah Masih Tangguh Honda ADV160 2026 di Pelosok Pedalaman Kalimantan? Ini Penjelasannya
Poin Penting
-
Tapak menipis dapat mengurangi kemampuan ban mempertahankan cengkeraman.
-
TWI membantu mengenali batas keausan ban.
-
Retakan, sobekan, dan benjolan dapat menandakan kerusakan serius.
-
Motor bergetar atau oleng membutuhkan pemeriksaan ban dan komponen terkait.
-
Tekanan angin perlu diperiksa secara berkala ketika ban dingin.
Insight Redaksi
Ban sering baru mendapat perhatian ketika motor bermasalah. Padahal, pemeriksaan singkat dapat membantu mengenali kerusakan sebelum perjalanan dimulai. Di Balikpapan, jangan menunggu ban benar-benar botak untuk mulai peduli. Keselamatan bukan soal berani di jalan, melainkan tahu kapan kendaraan sudah perlu diperiksa.
Sempatkan memeriksa ban sebelum berangkat, Ces. Jika ada kerusakan yang meragukan, prioritaskan pemeriksaan bengkel daripada memaksakan perjalanan.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam yang setiap hari menggunakan motor, supaya makin banyak pengendara mengenali tanda bahaya pada ban.
Informasi otomotif dan keselamatan berkendara bisa ikam ikuti bersama Balikpapan TV. Ban boleh terlihat biasa, tetapi kondisinya menentukan perjalanan. Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Kapan ban motor harus diganti?
Ban perlu diganti ketika tapak mencapai indikator TWI atau ditemukan kerusakan struktural seperti retakan akibat penuaan, sobekan serius, dan benjolan.
2. Apakah ban yang belum botak masih aman?
Belum tentu. Kondisi dinding samping, retakan, benjolan, tekanan angin, dan pola keausan juga perlu diperiksa.
3. Seberapa sering tekanan angin perlu diperiksa?
Michelin Indonesia menyarankan pemeriksaan setiap dua minggu dan sebelum perjalanan jauh, dengan pengukuran ketika ban dingin.
4. Apakah motor oleng selalu disebabkan ban?
Tidak selalu. Ban aus tidak merata dapat menjadi penyebab, tetapi roda, bearing, suspensi, dan tekanan angin juga perlu diperiksa.
Sumber Informasi: ANTARA News Bangka Belitung, dengan judul Waspadai bahaya ban motor tipis, Honda Babel imbau pengendara lebih peduli keselamatan, oleh Elza Elvia. Suzuki Indonesia, melalui panduan Perlukah Ganti Ban Motor Saat Musim Hujan? dan Normalnya Berapa Kali Ban Motor Boleh Ditambal? Michelin Indonesia, melalui panduan Keausan Ban Sepeda Motor: Kapan Harus Mengganti Ban Sepeda Motor Saya?. Diolah kembali dengan sudut pandang dan gaya jurnalistik BalikpapanTV.id.
Editor : Arya Kusuma