Durasi Baca: 7 menit
Ikhtisar: Ferrari 296 GTB menggabungkan V6 twin-turbo, motor listrik, aerodinamika aktif, dan kontrol elektronik pintar.
Balikpapan TV - Hai Ces! Ferrari 296 GTB merupakan berlinetta dua kursi bermesin tengah-belakang yang menggabungkan V6 twin-turbo dan sistem plug-in hybrid untuk menghasilkan 830 cv, menjadikannya salah satu mobil sport paling ekstrem di kelasnya.
Angka kecepatannya memang mengesankan. Namun, justru teknologi di balik angka tersebut yang membuat 296 GTB menarik untuk dibahas. Ada mesin V6 dengan sudut 120 derajat, motor listrik axial-flux, sistem kendali dinamika terintegrasi, hingga aerodinamika aktif yang bekerja ketika mobil membutuhkan lebih banyak stabilitas.
Mesin kecil, tetapi cara kerjanya tidak sederhana
Hal pertama yang membuat 296 GTB berbeda adalah mesin yang digunakan.
Ferrari tidak memasangkan mesin V8 atau V12 seperti yang selama ini identik dengan jajaran mobil sportnya. 296 GTB memakai V6 2.992 cc dengan konfigurasi 120 derajat dan dua turbocharger.
Mesin pembakaran internalnya menghasilkan 663 cv. Motor listrik kemudian menambahkan tenaga hingga sistem secara keseluruhan mampu menghasilkan 830 cv pada 8.000 rpm. Torsi maksimum mencapai 740 Nm, sementara putaran mesin dapat mencapai 8.500 rpm.
Konfigurasi V6 120 derajat tersebut bukan sekadar pilihan untuk mengejar angka tenaga.
Sudut V yang lebar membuat konstruksi mesin bisa dibuat lebih rendah. Ferrari juga menempatkan dua turbo di antara bank silinder. Posisi tersebut membantu kemasan mesin sekaligus mendukung pusat gravitasi yang lebih rendah. Ferrari bahkan menyebut desain ini sebagai bagian penting dari karakter mesin yang kemudian dikenal dengan julukan piccolo V12 atau “V12 kecil”.
Di sinilah perbedaan 296 GTB mulai terasa.
Ferrari tidak sekadar mengecilkan jumlah silinder. Arsitektur mesinnya dirancang supaya ukuran, posisi, turbo, dan karakter putaran tinggi tetap mendukung sebuah mobil sport bermesin tengah.
Motor listrik bukan tempelan untuk mengejar angka tenaga
Sistem hybrid pada 296 GTB juga bukan sekadar perangkat tambahan untuk membuat angka tenaga terlihat besar.
Motor listrik ditempatkan di antara mesin V6 dan transmisi delapan percepatan dual-clutch. Sistem tersebut menggunakan motor axial-flux yang dirancang kompak dan memiliki kepadatan daya tinggi. Energinya berasal dari baterai tegangan tinggi berkapasitas 7,45 kWh.
Apa manfaatnya?
Motor listrik dapat memberikan dorongan tenaga dan torsi secara cepat, sekaligus membantu mengisi kembali energi ke baterai. Sistem tersebut juga memungkinkan 296 GTB berjalan hanya menggunakan tenaga listrik.
Dalam mode eDrive, mesin bensin dapat dimatikan dan mobil bergerak menggunakan motor listrik ke roda belakang. Dengan baterai penuh, Ferrari menyebut jarak jelajah listriknya dapat mencapai 25 kilometer dengan kecepatan maksimum 135 km/jam.
Memang, jarak tersebut terlalu pendek jika dibandingkan mobil listrik murni.
Tetapi itu bukan tujuan utama teknologi ini.
Pada 296 GTB, motor listrik lebih menarik ketika dipakai untuk mengisi celah respons antara mesin dan roda. Tenaga listrik tersedia dengan karakter yang berbeda dari mesin bensin sehingga keseluruhan sistem dapat memberikan respons yang lebih cepat.
eManettino membuat karakter mobil bisa berubah
Ferrari juga tidak menyerahkan seluruh pekerjaan kepada pengemudi.
Di balik kemudi terdapat sistem pengaturan bernama eManettino, yang bekerja bersama Manettino tradisional untuk mengatur strategi penggunaan energi dan karakter powertrain.
Setidaknya ada empat mode utama: eDrive, Hybrid, Performance, dan Qualify.
Pada eDrive, fokusnya adalah berkendara menggunakan tenaga listrik. Hybrid menjadi mode standar dan mengatur kapan mesin bensin perlu bekerja. Performance mempertahankan mesin pembakaran internal tetap aktif agar tenaga tersedia lebih cepat, sedangkan Qualify memprioritaskan performa maksimum meski pengelolaan energi baterai menjadi lebih agresif.
Bagi pengemudi, teknologi ini berarti satu mobil tidak harus selalu terasa sama.
Ketika digunakan dengan santai, sistem hybrid dapat membantu membuat respons kendaraan lebih mudah dikendalikan. Ketika pengemudi menginginkan performa, strategi pengelolaan energi berubah untuk memastikan tenaga tersedia ketika dibutuhkan.
Jadi, hybrid di sini bukan hanya soal efisiensi bahan bakar.
Ia menjadi bagian dari sistem pengendalian karakter mobil.
Yang membuat 296 GTB cepat bukan hanya tenaga
Dengan tenaga 830 cv, tentu saja 296 GTB sangat cepat. Ferrari mencatat akselerasi 0–100 km/jam dalam 2,9 detik dan 0–200 km/jam dalam 7,3 detik, dengan kecepatan maksimum lebih dari 330 km/jam.
Namun, angka tersebut hanya sebagian dari ceritanya.
Ferrari mengintegrasikan berbagai sistem elektronik ke dalam paket yang disebut eSSC. Di dalamnya terdapat sejumlah fungsi seperti electronic traction control, electronic differential, sistem pengelolaan suspensi, Ferrari Dynamic Enhancer 2.0, electronic power steering, serta ABS Evo dan distribusi pengereman elektronik.
Bahasa sederhananya, komputer kendaraan terus membantu mengelola hubungan antara tenaga mesin, traksi ban, pengereman dan gerakan bodi.
Ini penting karena mobil dengan tenaga sebesar 830 cv tidak cukup hanya memiliki mesin kuat. Tenaga tersebut harus bisa diterjemahkan menjadi gerakan yang dapat dikendalikan.
Itulah sebabnya performa sebuah mobil sport modern semakin ditentukan oleh bagaimana berbagai sistem bekerja bersama, bukan sekadar seberapa besar tenaga mesinnya.
Aerodinamika aktif ikut bekerja saat kecepatan meningkat
Ada satu teknologi lain yang sering luput ketika orang hanya melihat angka tenaga: aerodinamika.
296 GTB menggunakan perangkat aerodinamika aktif di bagian belakang. Ketika kondisi membutuhkan tambahan gaya tekan, perangkat tersebut dapat berubah posisi untuk membantu meningkatkan downforce dan mendukung stabilitas serta kemampuan pengereman pada kecepatan tinggi.
Konsep ini menarik karena aerodinamika tidak bekerja dengan satu tujuan sepanjang waktu.
Mobil membutuhkan hambatan udara yang rendah ketika melaju cepat di lintasan lurus. Tetapi ketika memasuki pengereman atau tikungan berkecepatan tinggi, kestabilan dan gaya tekan menjadi jauh lebih penting.
Karena itu, perangkat aktif memungkinkan karakter aerodinamika menyesuaikan kebutuhan.
Teknologinya mungkin tidak terasa seperti fitur yang digunakan setiap hari. Namun bagi mobil yang mampu melewati 330 km/jam, pengelolaan aliran udara merupakan bagian dari keselamatan dinamis sekaligus performa.
Rem juga menjadi bagian dari sistem elektronik
Teknologi performa 296 GTB tidak berhenti pada mesin dan aerodinamika.
Ferrari menggunakan sistem ABS Evo yang bekerja bersama sistem pengereman dan pemulihan energi. Tujuannya bukan sekadar mencegah roda mengunci, tetapi membantu mengoptimalkan pengereman berdasarkan kondisi kendaraan.
Ferrari mencatat jarak pengereman 200–0 km/jam sebesar 107 meter.
Angka seperti ini menunjukkan mengapa pengereman tidak boleh diperlakukan sebagai pelengkap dari tenaga mesin. Mobil yang mampu berakselerasi sangat cepat juga membutuhkan sistem yang dapat mengurangi kecepatannya secara konsisten.
Dalam mobil performa tinggi, kemampuan berhenti sama pentingnya dengan kemampuan melaju.
Lalu, apa bedanya dengan McLaren Artura?
Untuk melihat posisi 296 GTB dengan lebih jelas, McLaren Artura merupakan salah satu pembanding yang masuk akal karena sama-sama menggunakan konfigurasi V6 twin-turbo plug-in hybrid, penggerak roda belakang, dan transmisi dual-clutch delapan percepatan.
Namun karakter teknologinya tidak identik.
Artura menghasilkan 690 hp dari kombinasi V6 3,0 liter dan motor listrik, sedangkan 296 GTB mencapai 830 cv. McLaren juga menggunakan motor listrik axial-flux yang ditempatkan dalam rumah transmisi dan baterai 7,4 kWh.
Dalam pengujian Car and Driver, Artura mencatat 0–60 mph dalam 2,6 detik. Sementara 296 GTB dalam pengujian media yang sama mampu mencapai 60 mph dalam 2,4 detik dan mencatat seperempat mil 9,7 detik.
Perbedaannya bukan sekadar angka.
Artura menunjukkan bagaimana teknologi hybrid dapat dipakai untuk membuat supercar lebih fleksibel dan relatif nyaman digunakan. Ferrari mengambil pendekatan yang lebih agresif dalam mengintegrasikan sistem hybrid dengan karakter berkendara dan sistem dinamika kendaraan.
Karena itu, memilih di antara keduanya bukan hanya soal siapa yang paling cepat.
Teknologi secanggih ini juga punya konsekuensi
Ada sisi lain yang perlu diperhatikan.
296 GTB membawa jauh lebih banyak teknologi dibanding mobil sport konvensional. Ada mesin turbo, motor listrik, baterai tegangan tinggi, inverter, transmisi dual-clutch, sistem kontrol dinamika, aerodinamika aktif dan berbagai sensor.
Kompleksitas tersebut memberikan kemampuan yang luar biasa, tetapi juga berarti mobil bergantung pada semakin banyak komponen elektronik dan mekanis yang harus bekerja secara tepat.
Selain itu, kemampuan berkendara listrik 25 kilometer menunjukkan bahwa 296 GTB bukan alternatif bagi mobil listrik murni. Sistem hybridnya lebih tepat dipahami sebagai teknologi untuk menggabungkan karakter mesin pembakaran dengan respons motor listrik.
Jadi, jangan melihat kata “hybrid” lalu menganggap 296 GTB dibuat terutama untuk menghemat bahan bakar.
Ferrari justru menggunakan elektrifikasi sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan sebuah mobil sport.
Mengapa teknologi 296 GTB terasa berbeda?
Ada satu benang merah dari seluruh teknologi tersebut.
Mesin V6 120 derajat memberikan fondasi tenaga. Motor listrik mengisi kebutuhan respons dan memungkinkan mode berkendara listrik. eManettino mengatur strategi energi. eSSC mengelola dinamika kendaraan. ABS Evo membantu pengereman. Aerodinamika aktif menyesuaikan kebutuhan gaya tekan.
Semuanya bekerja sebagai satu sistem.
Itulah alasan Ferrari 296 GTB menarik bukan hanya karena mampu melaju lebih dari 330 km/jam. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan untuk membuat tenaga sebesar itu tetap bisa diterjemahkan menjadi performa yang terkontrol.
Ferrari bahkan menawarkan Assetto Fiorano, paket yang dibuat untuk semakin mengutamakan performa, menunjukkan bahwa platform 296 memang dirancang dengan ruang pengembangan yang serius untuk penggunaan berperforma tinggi.
Bagi pembaca yang melihat mobil hanya sebagai alat transportasi, sebagian teknologi ini mungkin terasa berlebihan.
Tetapi bagi dunia otomotif, 296 GTB memperlihatkan arah perkembangan mobil sport modern: mesin pembakaran tidak langsung ditinggalkan, tetapi dipadukan dengan elektrifikasi dan perangkat lunak agar kemampuannya bisa digunakan dengan lebih presisi.
Dan di situlah Ferrari 296 GTB menjadi berbeda.
Bukan cuma karena ia cepat, tetapi karena begitu banyak teknologi bekerja di belakang kecepatan tersebut.
Baca Juga: Kenapa Lexus LM 300h Banyak Dilirik sebagai MPV Premium? Bongkar Teknologi dan Kenyamanannya
Poin Penting
-
V6 120 derajat: mesin 2.992 cc menghasilkan 663 cv dan dapat berputar hingga 8.500 rpm.
-
Sistem plug-in hybrid: motor listrik membuat total output mencapai 830 cv.
-
Motor axial-flux: konstruksi kompak membantu integrasi sistem hybrid dengan powertrain.
-
eManettino: mengatur strategi penggunaan mesin bensin dan motor listrik melalui empat mode utama.
-
eSSC: mengintegrasikan berbagai sistem kontrol dinamika kendaraan.
-
Aerodinamika aktif: membantu menghasilkan tambahan downforce ketika dibutuhkan.
-
ABS Evo: menjadi bagian dari sistem pengereman berperforma tinggi.
-
Bukan EV murni: kemampuan listrik hingga 25 km lebih tepat dipahami sebagai bagian dari strategi performa dan fleksibilitas hybrid.
Insight Redaksi
Ferrari 296 GTB menunjukkan bahwa elektrifikasi tidak selalu berarti sebuah mobil harus meninggalkan mesin bensin. Pada mobil ini, motor listrik justru digunakan untuk memperkuat karakter mesin pembakaran dan membantu mengatur bagaimana tenaga besar diteruskan ke jalan.
Perbedaannya dengan mobil sport generasi lama ada pada integrasi. Dulu mesin menjadi pusat perhatian dan teknologi elektronik bekerja sebagai pendukung. Pada 296 GTB, mesin, motor listrik, baterai, transmisi, rem, aerodinamika dan perangkat lunak justru dirancang agar bekerja sebagai satu kesatuan.
Untuk pembaca, pelajaran terpentingnya sederhana: spesifikasi besar belum tentu menjelaskan mengapa sebuah mobil terasa istimewa. Cara setiap teknologi bekerja bersama justru sering menjadi pembeda sebenarnya.
Kalau artikel ini terasa menarik, bagikan ke teman yang juga suka membicarakan teknologi otomotif. Sebab di balik setiap angka performa, selalu ada rekayasa yang menarik untuk dibongkar.
FAQ
Berapa tenaga Ferrari 296 GTB?
Ferrari 296 GTB menghasilkan tenaga maksimum sistem hybrid hingga 830 cv, terdiri dari mesin V6 663 cv dan dukungan motor listrik.
Apakah Ferrari 296 GTB bisa berjalan menggunakan listrik saja?
Bisa. Dalam mode eDrive, mesin pembakaran internal dapat dimatikan dan mobil digerakkan motor listrik. Ferrari menyebut jarak hingga 25 kilometer dan kecepatan maksimum 135 km/jam dalam mode tersebut.
Apakah Ferrari 296 GTB menggunakan V8?
Tidak. 296 GTB menggunakan V6 twin-turbo berkapasitas 2.992 cc dengan konfigurasi 120 derajat.
Apakah 296 GTB menggunakan penggerak semua roda?
Tidak. Tenaga sistemnya disalurkan ke roda belakang melalui transmisi F1 DCT delapan percepatan.
Apa teknologi paling penting pada 296 GTB?
Tidak ada satu teknologi yang berdiri sendiri. Keistimewaannya justru berada pada integrasi V6 hybrid, motor listrik, eManettino, sistem kontrol dinamika, pengereman elektronik dan aerodinamika aktif.
Apakah 296 GTB lebih unggul daripada McLaren Artura?
Keduanya menggunakan konsep V6 twin-turbo plug-in hybrid dan penggerak roda belakang, tetapi Ferrari memiliki output sistem lebih tinggi. Dalam pengujian Car and Driver, 296 GTB juga mencatat akselerasi yang lebih cepat. Namun pilihan terbaik tetap bergantung pada karakter berkendara yang dicari.
Editor : Arya Kusuma