Lahir di Bangkok, Elkan Baggott Bangkit dari Kesalahan hingga Gol yang Menyelamatkan Indonesia

Arya Kusuma • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 08:15 WIB
Elkan Baggott merayakan gol penyama kedudukan Indonesia saat menghadapi Thailand pada final Piala ASEAN FIFA 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Elkan Baggott merayakan gol penyama kedudukan Indonesia saat menghadapi Thailand pada final Piala ASEAN FIFA 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Durasi Baca: 8–10 menit

Ikhtisar: Elkan Baggott mengalami lima menit paling dramatis dalam kariernya ketika final Piala ASEAN FIFA 2026 melawan Thailand. Kesalahannya ikut membuka jalan bagi gol Thailand. Lima menit kemudian, justru Baggott yang mencetak gol penyama. Dari Bangkok, Jakarta, hingga Inggris, perjalanan hidupnya membuat gol tersebut punya cerita yang jauh lebih panjang.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ada pertandingan yang dikenang karena trofinya. Ada pula pertandingan yang dikenang karena satu gol.

Final Piala ASEAN FIFA 2026 punya keduanya.

Indonesia akhirnya menjadi juara edisi perdana Piala ASEAN FIFA setelah bermain imbang 2-2 melawan Thailand selama 120 menit dan menang 4-2 melalui adu penalti di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.

Namun, di antara banyak cerita dari malam bersejarah itu, ada satu kisah yang terasa sangat manusiawi.

Namanya Elkan Baggott.

Pada menit ke-111, Baggott kehilangan bola. Kesalahan tersebut kemudian dimanfaatkan Anan Yodsangwal untuk membangun serangan yang berujung gol Peeradol Chamrasamee. Thailand berbalik unggul 2-1.

Lima menit berselang, pemain yang sama mencetak gol penyama Indonesia.

Bola hasil tembakannya membentur bagian bawah mistar sebelum masuk ke gawang Thailand. Skor berubah menjadi 2-2 dan Indonesia kembali bernapas. Lima menit yang sebelumnya membawa kesalahan berubah menjadi awal dari momen penebusan.

Yang membuat cerita ini semakin menarik, FIFA mencatat Baggott lahir di Bangkok, Thailand.

Ia lahir di kota yang menjadi bagian dari negara lawan yang berdiri di hadapannya malam itu.

Tetapi pada akhirnya, ia mengangkat trofi untuk Indonesia.

Lima Menit yang Mengubah Malam Elkan Baggott

Sepak bola memang kejam dalam urusan waktu.

Satu kesalahan dapat dikenang selama bertahun-tahun. Sementara kesempatan untuk memperbaikinya terkadang hanya datang beberapa menit kemudian.

Itulah yang dialami Baggott.

Indonesia sebenarnya sudah unggul lebih dulu melalui Dean James pada menit ke-84. Tendangan bebas James membentur pemain Thailand, Iklas Sanron, sebelum masuk ke gawang. Tiga menit kemudian Thailand menyamakan kedudukan melalui Iklas.

Pertandingan kemudian memasuki perpanjangan waktu.

Thailand bermain dengan 10 orang setelah Nicholas Mickelson mendapat kartu kuning kedua. Secara situasi, Indonesia memiliki keuntungan jumlah pemain.

Namun sepak bola kembali menunjukkan betapa sulitnya membaca pertandingan hanya melalui angka.

Pada menit ke-111, Anan Yodsangwal merebut bola dari Baggott. Serangan kemudian bergerak cepat menuju Peeradol Chamrasamee yang berhasil menaklukkan Emil Audero.

Thailand 2, Indonesia 1.

Baggott menjadi salah satu pemain yang berada paling dekat dengan awal terjadinya gol tersebut.

Lalu lima menit kemudian, cerita berubah.

Rizky Ridho ikut membangun serangan Indonesia. Bola bergerak ke arah Baggott. Bek tengah itu kemudian melepaskan tembakan yang membentur bagian bawah mistar dan masuk ke gawang.

Indonesia 2, Thailand 2.

FIFA menyebut gol itu sebagai gol penyama yang membawa pertandingan ke adu penalti.

Dan Baggott belum selesai.

Dalam adu penalti, ia menjadi salah satu eksekutor Indonesia yang berhasil menjalankan tugasnya. Dean James, Elkan Baggott, Shayne Pattynama dan para eksekutor Indonesia lainnya berhasil menjaga kesempurnaan eksekusi, sementara Thailand kehilangan dua kesempatan.

Indonesia menang 4-2.

Malam itu, kesalahan Baggott tidak menjadi akhir cerita.

Justru menjadi bagian dari perjalanan menuju trofi.

Baca Juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Thailand Takluk 4-2 Lewat Adu Penalti

Lahir di Bangkok, Tetapi Indonesia Sudah Ada dalam Ceritanya

Ada ironi yang sulit dilewatkan.

Elkan Baggott lahir di Bangkok pada 23 Oktober 2002. Ayahnya berkewarganegaraan Inggris, sedangkan ibunya orang Indonesia. FIFA mencatat Bangkok sebagai tempat kelahirannya, sementara sejumlah profil lama yang mengutip wawancara Baggott juga menjelaskan bahwa orang tuanya memang sedang bekerja di Thailand ketika ia lahir.

Tetapi masa kecil Baggott tidak seluruhnya berlangsung di Thailand.

Keluarganya sempat tinggal di Singapura sebelum pindah ke Indonesia. Dalam wawancara ketika memperkuat Gillingham FC pada 2022, Baggott menjelaskan bahwa setelah dirinya lahir di Thailand, keluarganya pindah ke Indonesia dan sempat menetap selama beberapa tahun. Setelah itu, mereka kembali ke Inggris.

Jadi, perjalanan Baggott sejak kecil memang lintas negara.

Bangkok menjadi tempat kelahirannya.

Jakarta menjadi salah satu tempat yang membentuk masa kecilnya.

Inggris menjadi tempat ia mengejar karier sepak bola profesional.

Dan Indonesia menjadi negara yang kemudian ia pilih untuk dibela.

Ketika ditanya alasan memilih menjadi WNI pada 2021, Baggott memberikan jawaban sederhana.

“Saya memutuskan menjadi WNI karena, pertama, keluarga.”

Elkan Baggott, bek Timnas Indonesia, menyampaikan hal itu kepada ANTARA ketika berbicara mengenai keputusannya menjadi warga negara Indonesia. Ia juga mengatakan bangga dapat mewakili keluarga dan negara ketika memperkuat Timnas Indonesia.

Ada sesuatu yang menarik dari kalimat tersebut.

Pilihan Baggott untuk Indonesia tidak lahir semata-mata dari pertimbangan karier sepak bola.

Ada keluarga di dalamnya.

Masa Kecil di Jakarta dan Bola yang Mulai Dikejar

Sebelum dikenal sebagai bek jangkung yang bermain di Inggris, Baggott lebih dulu mengenal sepak bola dari Jakarta.

Ia pernah bersekolah di British School Jakarta dan mengikuti pembinaan sepak bola di Arsenal Training Center Jakarta. Baggott sendiri pernah menceritakan bahwa setelah periode tersebut, ia pindah ke Inggris dan bermain di kompetisi amatir Sunday League.

Di sinilah perjalanan profesionalnya perlahan dimulai.

Dari pertandingan amatir, Baggott kemudian bergabung dengan Witham Town. Penampilannya membawa perhatian yang lebih besar hingga akhirnya ia direkrut Ipswich Town.

Jalurnya bukan langsung dari sekolah sepak bola ke stadion besar.

Ada pertandingan akhir pekan, tim amatir, proses seleksi, akademi, latihan dan persaingan.

Baggott pernah menjelaskan:

“Saya pernah bersekolah di Arsenal Training Center di Jakarta dan British School Jakarta. Lalu saya pindah ke Inggris untuk bermain di Sunday League.”

Elkan Baggott, bek Timnas Indonesia, menjelaskan tahapan awal perjalanan sepak bolanya dalam wawancara yang kemudian dikutip sejumlah media Indonesia.

Kalimat tersebut membuat perjalanan Baggott terasa lebih dekat.

Sebelum ada sorotan stadion, ada anak yang bermain bola dan mencoba mencari jalan agar hobinya bisa menjadi profesi.

Dari Ipswich Town ke Sepak Bola Profesional Inggris

Baggott bergabung dengan sistem pembinaan Ipswich Town sejak usia muda dan kemudian menembus tim senior.

Menurut profil resmi Ipswich Town, ia melakukan debut senior pada Oktober 2020 dalam pertandingan EFL Trophy melawan Gillingham. Setelah itu ia menjalani masa peminjaman di King's Lynn Town dan kemudian kembali ke Ipswich. Pada musim 2021/2022, ia mendapat kesempatan bermain di tim utama dan mencatat dua penampilan liga sebagai starter pada akhir musim.

Pada April 2022, Baggott juga mencatat debut profesionalnya di kompetisi liga Inggris.

Perjalanan tersebut kemudian diikuti sejumlah masa peminjaman, termasuk bersama Gillingham dan Cheltenham Town, sebelum kemudian menjalani periode bersama klub lain seperti Bristol Rovers dan Blackpool.

Karier profesionalnya ternyata tidak selalu bergerak lurus ke atas.

Ada masa ketika ia harus menunggu.

Ada masa ketika kesempatan bermain tidak datang sebanyak yang diharapkan.

Dan ada masa ketika ia harus pergi ke klub lain agar bisa mendapatkan menit bermain.

Itulah bagian yang sering hilang ketika kisah seorang pesepak bola hanya ditulis berdasarkan pertandingan besar.

Baca Juga: Suara di Balik 9 Gol Indonesia, Layalia Nurul Salma Jadi Sorotan di GBK

Ketika Menjadi Pilihan Keempat, Baggott Belajar Menunggu

Pada musim terakhirnya bersama Ipswich sebelum pindah permanen, Baggott mengalami situasi yang tidak mudah.

Ia menjadi pilihan keempat untuk posisi bek tengah ketika Ipswich menjalani musim yang berujung promosi.

Dalam wawancara dengan Southwark News pada Agustus 2026, Baggott mengakui situasi tersebut membuat frustrasi.

“I’m not going to lie, it was frustrating.”

Elkan Baggott, bek Millwall dan Timnas Indonesia, mengatakan ia berharap bisa memperoleh lebih banyak pertandingan, tetapi pada sisi lain ia tetap memperoleh pelajaran karena berada di dalam tim yang berhasil promosi.

Ada paradoks kecil di sana.

Ia tidak banyak bermain, tetapi berada di lingkungan yang berhasil.

Ia tidak menjadi pemain utama, tetapi ikut menyaksikan bagaimana sebuah tim membangun budaya kemenangan.

Pengalaman semacam itu tidak selalu terlihat dalam statistik.

Tetapi justru bisa membentuk seorang pemain.

Babak Baru Bersama Millwall

Pada Juli 2026, Baggott meninggalkan Ipswich Town dan bergabung secara permanen dengan Millwall.

Menurut laporan BBC, Millwall merekrut pemain berusia 23 tahun itu dengan kontrak jangka panjang. Direktur sepak bola Millwall, Steve Gallen, menilai Baggott memiliki usia yang tepat, keinginan berkembang dan sesuai dengan profil defensif yang dicari klub.

Transfer itu menjadi babak baru bagi pemain yang telah berada dalam sistem Ipswich sejak usia muda.

Baggott juga menyadari bahwa kepindahan klub bukan berarti perjuangan selesai.

Dalam wawancara Agustus 2026, ia menggambarkan persaingan mendapatkan tempat di tim utama sebagai sesuatu yang harus terus diperjuangkan.

Bukan soal mendapatkan tempat lalu berhenti.

Justru setelah mendapat kesempatan, ia harus mempertahankannya.

Itu menjadi tema yang berulang dalam perjalanan Baggott.

Dari Sunday League ke akademi.

Dari akademi ke tim senior.

Dari bangku cadangan menuju pertandingan.

Dari klub ke klub.

Dan dari masa ketika ia tidak dipanggil ke Timnas Indonesia selama periode tertentu hingga kembali mendapat kesempatan pada 2026. Southwark News mencatat terdapat jeda sekitar dua tahun antara penampilannya untuk Indonesia pada Januari 2024 dan pemanggilannya kembali pada Maret 2026.

Indonesia Masuk Ketika Baggott Masih Muda

PSSI mulai melihat Baggott ketika ia masih berada di lingkungan sepak bola Inggris.

Pada 2020, ia dipanggil ke pemusatan latihan Timnas Indonesia U-19.

Ketika itu muncul pertanyaan mengenai status kewarganegaraannya karena ia lahir di Thailand dan memiliki ayah Inggris.

Jawabannya cukup jelas.

Nova Arianto, yang saat itu menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia U-19, menjelaskan:

“Dia WNI dan sudah berpaspor Indonesia. Dia bukan naturalisasi. Sedari awal, dia memang WNI.”

Pernyataan tersebut disampaikan Nova pada 2020 ketika menjelaskan status Baggott.

Kemudian, pada 2021, Direktur Jenderal Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh juga menjelaskan bahwa pilihan Baggott menjadi WNI bukan proses naturalisasi.

Status itu berkaitan dengan kondisi kewarganegaraan orang tuanya dan pilihan yang diambil Baggott mengikuti kewarganegaraan ibunya.

Jadi, narasi bahwa Baggott "dinaturalisasi" perlu dihindari.

Ia bukan pemain asing yang kemudian menjalani proses naturalisasi untuk memperkuat Indonesia.

Hubungannya dengan Indonesia sudah ada melalui keluarganya.

Dari Timnas U-19 ke Timnas Senior

Debut Baggott bersama Timnas Indonesia U-19 terjadi pada 2020.

Profil resmi Ipswich Town mencatat ia kemudian melakukan debut bersama tim senior Indonesia pada November 2021 ketika menghadapi Afghanistan. Pada tahun yang sama ia mencetak gol internasional pertamanya ketika menghadapi Malaysia.

Dari sana, Baggott perlahan menjadi bagian dari perjalanan generasi baru Timnas Indonesia.

Ia menjalani pertandingan besar, menghadapi lawan-lawan kuat, mengalami masa ketika tidak masuk skuad, kemudian kembali.

Salah satu kenangan yang ia sebut sendiri adalah pertandingan melawan Argentina setelah negara tersebut menjuarai Piala Dunia.

Bagi Baggott, pengalaman bermain untuk Indonesia juga bukan hanya perkara pertandingan.

Ia pernah mengatakan kepada Southwark News:

“The highest honour in football is playing for your country.”

Elkan Baggott, bek Timnas Indonesia, menjelaskan bahwa bermain untuk negaranya merupakan salah satu kehormatan terbesar dalam karier sepak bolanya. Ia juga menyebut kebanggaan yang dirasakan ketika bermain untuk Indonesia.

Baca Juga: Mario Aji Crash di Moto2 Jepang, Recovery Terhenti Saat Guevara Pangkas Jarak Gelar

Mengapa Final Melawan Thailand Terasa Berbeda?

Karena Thailand bukan negara asing dalam cerita hidup Baggott.

Ia lahir di sana.

Dan pada final 2026, ia harus membantu Indonesia mengalahkan negara tempat ia dilahirkan.

Lebih dari itu, ada sejarah pertandingan yang ikut membentuk motivasinya.

Baggott pernah mengalami kekalahan Indonesia dari Thailand pada final Piala AFF 2020. Setelah final 2026, ia mengingat pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menjadi motivasi tambahan untuk menang.

Kemenangan kali ini akhirnya datang dengan cara yang nyaris tidak masuk akal.

Ia membuat kesalahan yang berkontribusi pada gol Thailand.

Lima menit kemudian ia mencetak gol penyama.

Kemudian ia ikut berhasil menjalankan tugas dalam adu penalti.

Dan Indonesia menjadi juara.

"Saya Sangat Bangga Menjadi Orang Indonesia"

Setelah semua drama itu selesai, Baggott tidak berbicara panjang mengenai kesalahannya.

Ia justru berbicara mengenai dukungan yang diterimanya.

“Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah terima kasih atas seluruh dukungan dari para suporter. Saya sangat bangga menjadi orang Indonesia hari ini.”

Elkan Baggott, bek Timnas Indonesia, menyampaikan kalimat tersebut dalam konferensi pers setelah kemenangan Indonesia atas Thailand di Jakarta.

Kalimat itu terasa berbeda jika dibaca bersama perjalanan hidupnya.

Seorang anak lahir di Bangkok.

Ayahnya orang Inggris.

Ibunya orang Indonesia.

Ia pernah tinggal di Jakarta.

Ia kemudian pindah ke Inggris.

Ia belajar sepak bola melalui kompetisi amatir.

Masuk akademi.

Menjadi profesional.

Mengalami peminjaman.

Menunggu kesempatan.

Memilih Indonesia.

Mengalami jeda dari tim nasional.

Kembali.

Dan pada malam 5 Oktober 2026, ia berdiri di lapangan SUGBK menghadapi Thailand.

Negara tempat ia lahir.

Lalu ia mencetak gol untuk negara yang dipilihnya.

Baca Juga: Samuel Otusanya Jadi Rekrutan Terakhir Arema FC, Pernah Main di Norwegia dan Brasil

Kesalahan Bukan Selalu Akhir Cerita

Mungkin itulah bagian paling manusiawi dari kisah Elkan Baggott di final Piala ASEAN FIFA 2026.

Sepak bola sering membuat kesalahan terlihat lebih besar daripada manusia yang melakukannya.

Satu operan salah.

Satu kehilangan bola.

Satu keputusan terlambat.

Satu peluang yang gagal.

Semua bisa berubah menjadi angka di papan skor.

Namun pertandingan tidak selalu berhenti di sana.

Baggott kehilangan bola pada menit ke-111.

Lima menit kemudian ia mencetak gol.

Setelah itu ia mengambil tanggung jawab lain sebagai salah satu penendang penalti Indonesia.

Tiga momen tersebut memperlihatkan sesuatu yang sederhana: seorang pemain tidak bisa memilih apakah ia akan pernah melakukan kesalahan. Tetapi ia masih bisa menentukan apa yang dilakukan setelah kesalahan itu terjadi.

Dan malam itu, Baggott memilih untuk terus bermain.

Indonesia pun terus bermain.

Sampai akhirnya trofi berada di tangan Garuda.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kisah Elkan Baggott menarik bukan karena ia lahir di negara lain lalu bermain untuk Indonesia.

Nilai ceritanya justru berada pada proses panjang di belakang identitas tersebut.

Ia tidak tumbuh dalam satu ruang yang sederhana. Bangkok menjadi tempat kelahiran. Jakarta menjadi bagian dari masa kecil. Inggris menjadi tempat pendidikan sepak bola dan perjalanan profesional. Indonesia kemudian menjadi negara yang ia pilih untuk dibela.

Pada final Piala ASEAN FIFA 2026, semua lapisan itu seperti bertemu dalam satu malam.

Ia menghadapi Thailand, negara tempat ia dilahirkan.

Ia melakukan kesalahan.

Ia mendapat kesempatan.

Ia mencetak gol.

Dan akhirnya, ia menjadi juara bersama Indonesia.

Bagi seorang pemain sepak bola, mungkin tidak ada cara yang lebih dramatis untuk menulis satu bab dalam perjalanan karier.

Di balik trofi, ada manusia yang pernah salah.

Dan justru karena itulah golnya terasa lebih berarti.

Bagi pembaca yang menyaksikan perjalanan sepak bola Indonesia, kisah Baggott juga mengingatkan bahwa perjalanan seorang pemain tidak pernah hanya terdiri dari pertandingan yang dimenangkan. Ada masa belajar, menunggu, kehilangan tempat, berpindah klub, kembali dipercaya, lalu membuktikan diri ketika kesempatan datang.

Malam di Jakarta itu akhirnya bukan hanya tentang bagaimana Indonesia menang.

Ini juga tentang bagaimana seseorang merespons ketika permainan hampir berjalan ke arah yang salah.

Dan lima menit kemudian, arah itu berubah.

FAQ

Elkan Baggott lahir di mana?

Elkan Baggott lahir di Bangkok, Thailand, pada 23 Oktober 2002.

Apakah Elkan Baggott pemain naturalisasi?

Tidak. Baggott memiliki ibu berkewarganegaraan Indonesia dan sejak awal memiliki hubungan kewarganegaraan dengan Indonesia. Pada 2020, Nova Arianto menjelaskan bahwa Baggott sudah berstatus WNI dan bukan pemain naturalisasi.

Mengapa Elkan Baggott memilih Indonesia?

Baggott mengatakan keluarga menjadi alasan utama. Ibunya merupakan warga negara Indonesia, dan ia juga pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia.

Di mana Elkan Baggott bersekolah ketika tinggal di Indonesia?

Ia pernah bersekolah di British School Jakarta dan mengikuti pembinaan sepak bola di Arsenal Training Center Jakarta.

Kapan Elkan Baggott debut bersama Timnas Indonesia senior?

Ia melakukan debut senior pada November 2021. Profil resmi Ipswich Town mencatat debut tersebut berlangsung melawan Afghanistan.

Apa yang terjadi dengan Baggott sebelum mencetak gol di final 2026?

Pada menit ke-111, Anan Yodsangwal merebut bola dari Baggott. Serangan tersebut berujung gol Peeradol Chamrasamee untuk membawa Thailand unggul 2-1. Lima menit kemudian, Baggott mencetak gol penyama menjadi 2-2.

Klub Elkan Baggott pada musim 2026/2027?

Baggott bergabung secara permanen dengan Millwall dari Ipswich Town pada Juli 2026.

Sumber Informasi

FIFA; ASEAN Football Federation; Ipswich Town FC; ANTARA; BBC Sport; Southwark News; Bola.com; Medcom; wawancara Elkan Baggott yang dikutip media nasional.

Editor : Arya Kusuma
Elkan Baggott Piala ASEAN FIFA 2026 Timnas Indonesia sepak bola indonesia