Topik: Evaluasi Taekwondo Kaltim usai kejurnas 2026 fokus pembenahan poomsae
Durasi Baca: 5 menit
Baca Ringkas 30 Detik: Prestasi Taekwondo Kalimantan Timur di kejuaraan nasional 2026 mencatat hasil kuat dengan posisi empat besar dan raihan medali yang signifikan. Namun, evaluasi internal menyoroti kelemahan pada sektor poomsae yang membutuhkan perbaikan sistem pembinaan dan kualitas pelatih. Program jangka panjang disiapkan, termasuk seleksi atlet inti dan rencana pelatihan luar negeri. Scroll Kebawah Lanjut Baca Selengkapnya, Ces!...
Balikpapan TV - Hai Cess! Prestasi Taekwondo Indonesia Kalimantan Timur di Kejuaraan Nasional 2026 memang mencuri perhatian. Masuk empat besar nasional dengan 6 emas, 9 perak, dan 10 perunggu, tapi di balik angka itu ada catatan penting yang kada bisa diabaikan: sektor poomsae masih perlu dibenahi serius.
Jangan berhenti di angka medali aja, lanjut simak sampai habis supaya pahamlah ikam arah pembinaan yang lagi disiapkan ke depan, nah ini menarik pang.
Baca Juga: Panduan Bermain Badminton untuk Pemula agar Latihan Lebih Terarah
Kenapa sektor poomsae jadi sorotan utama evaluasi Taekwondo Kaltim?
Poomsae langsung jadi fokus karena performanya dianggap belum maksimal dibanding kyorugi. Meski kontribusi medali didominasi nomor tarung, evaluasi tetap melihat keseluruhan kekuatan tim, bukan cuma yang sudah unggul.
Wakil Ketua II Bidang Prestasi TI Kaltim, Alfons T Lung Beraan, menegaskan, “Kalau kyorugi memang kita mendominasi. Tapi poomsae harus diakui masih perlu pembenahan.” Kalimat ini sederhana, tapi pesannya dalam. Artinya, ada celah yang harus segera ditutup kalau mau bersaing di level lebih tinggi.
Nah, ini bukan soal kalah atau menang pang, tapi soal keseimbangan performa. Pahamlah ikam, kalau satu sektor tertinggal, efeknya bisa panjang ke depan.
Apa masalah utama di pembinaan poomsae saat ini?
Masalahnya kada cuma di atlet. Sistem pembinaan secara keseluruhan ikut kena evaluasi. Dari metode latihan sampai kualitas pelatih, semua dibedah.
Alfons menyebut kondisi sebelumnya masih “tambal sulam”. Artinya, belum ada struktur yang benar-benar solid. Pelatih yang ada memang punya dasar teknik bagus karena berasal dari mantan atlet, tapi pengalaman melatih dan membangun mental atlet masih perlu ditingkatkan.
“Dasarnya mereka atlet, tapi ketika jadi pelatih sentuhannya berbeda. Atlet itu perlu diperhatikan juga mentalnya. Jadi tinggal kita upgrade,” jelasnya.
Kalimat ini jelas. Teknik saja kada cukup. Sentuhan pelatih, cara membangun karakter, itu penentu. Jadi bukan sekadar latihan gerakan, tapi membentuk mental tanding.
Bagaimana strategi TI Kaltim mengejar ketertinggalan poomsae?
Langkahnya sudah mulai disusun. Kada nunggu lama. Fokusnya jelas: memperkuat sistem pembinaan dari dasar.
Program ke depan dirancang untuk mengejar ketertinggalan tanpa mengorbankan kekuatan yang sudah ada di kyorugi. Jadi dua-duanya jalan. Seimbang.
Salah satu yang disiapkan adalah peningkatan kualitas pelatih. Ini penting, karena pelatih jadi ujung tombak di lapangan. Tanpa pelatih yang matang, atlet sulit berkembang maksimal.
Selain itu, evaluasi ini jadi fondasi untuk program jangka panjang menuju PON 2028. Jadi bukan reaksi sesaat, tapi bagian dari strategi besar.
Seperti apa rencana pembentukan atlet inti menuju PON 2028?
TI Kaltim mulai menyiapkan pemusatan latihan jangka panjang. Targetnya jelas: membentuk minimal 16 atlet inti.
Sistemnya kada asal pilih. Akan ada seleksi ketat dengan mekanisme promosi dan degradasi. Artinya, performa jadi penentu utama. Siapa yang konsisten bagus, dia bertahan. Yang menurun, siap diganti.
Ini bikin kompetisi internal tetap hidup. Atlet terpacu terus berkembang. Kada ada zona nyaman.
Langkah ini juga memberi arah jelas. Jadi bukan sekadar latihan rutin, tapi ada target konkret yang terus dipantau.
Kenapa training camp ke Korea Selatan masuk agenda penting?
Korea Selatan masih dianggap sebagai pusat pengembangan taekwondo dunia. Jadi, wajar kalau jadi tujuan peningkatan kualitas.
Rencana training camp ini masuk agenda akhir tahun. Tapi masih menunggu dukungan anggaran. Jadi, program sudah siap, tinggal realisasi.
Kalau berjalan, dampaknya bisa besar. Bukan cuma untuk atlet, tapi juga pelatih. Transfer ilmu langsung dari pusatnya.
“Program sudah kita siapkan. Tinggal bagaimana anggarannya. Kalau itu jalan, kami optimistis lebih siap menuju PON 2028,” tutup Alfons.
Nah, ini kuncinya. Optimisme ada, tapi tetap realistis. Pahamlah ikam, semua butuh proses.
Baca Juga: Memahami Pace Lari untuk Performa Lebih Terukur
Poin Penting:
- Taekwondo Kaltim tembus empat besar nasional dengan 25 medali
- Sektor poomsae jadi fokus evaluasi utama
- Masalah ada pada sistem pembinaan dan kualitas pelatih
- Disiapkan 16 atlet inti dengan sistem seleksi ketat
- Training camp ke Korea Selatan jadi agenda peningkatan kualitas
Insight: Evaluasi ini menunjukkan arah pembinaan olahraga di Kaltim mulai serius membangun fondasi, bukan sekadar mengejar hasil cepat. Kyorugi sudah kuat, tapi keberanian mengakui kekurangan di poomsae itu langkah matang. Nah, di sinilah bedanya. Fokus jangka panjang menuju PON 2028 terasa jelas, kada asal jalan. Kalau konsisten, hasilnya bisa lebih solid. Ini bukan soal cepat, tapi tepat. Pahamlah ikam...
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham arah pembinaan olahraga di Kaltim, nah itu sudah!
Jangan sampai ketinggalan update penting dunia olahraga daerah, ikuti terus perkembangan terbaru hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ:
- Apa prestasi Taekwondo Kaltim di Kejurnas 2026?
Masuk empat besar nasional dengan raihan 6 emas, 9 perak, dan 10 perunggu. - Kenapa sektor poomsae jadi perhatian utama?
Karena performanya masih tertinggal dibanding kyorugi dan butuh pembenahan sistem pembinaan. - Apa langkah yang disiapkan TI Kaltim ke depan?
Membentuk 16 atlet inti dengan sistem seleksi serta peningkatan kualitas pelatih. - Apakah ada rencana pelatihan luar negeri?
Ada, training camp ke Korea Selatan direncanakan menunggu dukungan anggaran.
my ride-or-die for updates