Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

OIKN Wujudkan Living Museum di IKN, Bukti Cinta untuk Budaya Kaltim

AdminBTV • Rabu, 29 Oktober 2025 | 10:37 WIB

 

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Di tengah deru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Otorita IKN (OIKN) menegaskan komitmennya untuk tidak hanya membangun kota, tetapi juga merawat jiwa dari tanah itu sendiri—budaya asli suku Dayak, Paser, dan Kutai.
Tiga suku besar yang sudah sejak lama jadi bagian dari denyut kehidupan Kalimantan Timur kini mendapat ruang istimewa dalam peta pembangunan Nusantara.

Kalimat sederhana dari Deputi Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, menangkap esensinya:

“Kami komitmen melestarikan budaya lokal yang ada di kawasan IKN seperti Suku Paser, Dayak, dan Kutai.”

Dan di balik kalimat itu, tersimpan semangat besar—bahwa kemajuan sejati bukan cuma soal infrastruktur megah, tapi juga soal menjaga identitas yang melekat pada masyarakatnya.

Apa yang Dimaksud dengan Living Museum di IKN?

Di tengah gencarnya pembangunan, OIKN menggagas sesuatu yang menarik: Living Museum.
Bukan museum biasa yang hening dan berdebu, tapi tempat di mana budaya benar-benar hidup—tarian ditampilkan, cerita rakyat diceritakan, dan kearifan lokal dijaga lewat interaksi nyata.

Konsep ini diharapkan jadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Seperti kata Alimuddin, living museum adalah bagian dari upaya memperkokoh identitas IKN agar tak kehilangan akar di tengah arus modernitas.

Museum hidup ini nantinya akan memberi ruang bagi masyarakat adat untuk terus mengekspresikan tradisi mereka. Jadi, ketika IKN berkembang jadi kota masa depan, budaya lokal tetap punya napas dan tempat untuk tumbuh.

Kenapa Pelestarian Budaya Lokal Jadi Fokus Pembangunan IKN?

Buat OIKN, pembangunan IKN bukan sekadar soal membangun gedung tinggi atau jalan mulus. Lebih dari itu, ada tanggung jawab besar: menjaga manusia dan kebudayaannya.

OIKN memastikan pembangunan IKN tidak hanya memajukan dari sisi fisik, tetapi juga memperkuat fondasi sosial dan budaya lokal dengan memberikan ruang dan fasilitas bagi masyarakat lokal dalam mengembangkan dan melestarikan budayanya.

Pernyataan itu mempertegas bahwa kemajuan tanpa identitas akan terasa hampa. IKN diharapkan menjadi tempat di mana kemajuan dan kearifan lokal bisa tumbuh beriringan.

Baca Juga: Pemkot Balikpapan Gelar Festival Anak Indonesia Hebat 2025 di BSCC Dome, Dukung Generasi Emas 2045

Langkah Konkret OIKN dalam Menjaga Kearifan Lokal

Bukan cuma konsep, OIKN juga mulai melakukan aksi nyata. Salah satunya dengan mengundang langsung narasumber dari tiap suku — Dayak, Paser, dan Kutai — untuk menampilkan warisan budaya mereka.
Dari situ, setiap suku bisa memperkenalkan tradisi, adat, dan nilai-nilai yang mereka pegang kepada masyarakat luas.

“Hal ini dilakukan untuk menjaga agar kearifan lokal tetap hidup, meskipun tidak secara langsung ada di Nusantara,” jelas Alimuddin (24/10/2025).

Pendekatan ini bukan hanya bentuk pelestarian, tapi juga edukasi bagi generasi muda. Sebab, memahami budaya berarti memahami jati diri.

Bagaimana OIKN Melihat Inklusivitas di Tanah Nusantara?

Yang menarik dari langkah OIKN adalah cara pandangnya yang inklusif.
Mereka tak membatasi siapa yang disebut “putra daerah” hanya dari suku, agama, atau tempat lahir. Siapa pun yang tinggal dan berkarya di Pulau Kalimantan, menurut OIKN, adalah bagian dari daerah ini.

Alimuddin bahkan menggambarkan pandangan ini dengan perumpamaan yang indah:

“Seperti sungai besar yang mengalir ke sungai-sungai kecil, lalu menyebar kembali ke sungai besar dan ke seluruh pelosok Nusantara.”

Maknanya dalam: budaya lokal bukan untuk dikurung, tapi untuk berinteraksi dan memperkaya khazanah budaya nasional. Inilah semangat IKN yang sesungguhnya—menyatukan, bukan memisahkan.

Wilayah Mana Saja yang Jadi Fokus Pelestarian Budaya di IKN?

Ada tujuh kecamatan yang jadi lokus pelestarian adat dan budaya oleh OIKN.
Satu di Kabupaten Penajam Paser Utara, yakni Kecamatan Sepaku, dan enam lainnya di Kutai Kartanegara: Loa Kulu, Loa Janan, Muara Jawa, Samboja, Samboja Barat, dan Sangasanga.

Di wilayah ini, masyarakat adat seperti Paser Balik dan Dayak Kenyah tetap menjaga warisan leluhur mereka. Mulai dari tarian sakral, musik tradisional, hingga ritual adat yang diwariskan turun-temurun. Semua jadi bagian dari denyut kehidupan di tengah geliat pembangunan.

Baca Juga: Apel Ojol Kamtibmas: Polda Kaltim Gandeng Komunitas Ojol Wujudkan Lingkungan Aman

Tips Singkat: Yuk, Ikut Lestarikan Budaya Lokal!

  1. Kenali dulu, baru cintai. Coba cari tahu cerita asal daerahmu — dari lagu, tarian, atau kuliner khasnya.

  2. Dukung kegiatan budaya lokal. Hadiri festival, pameran, atau pertunjukan seni. Kehadiranmu sangat berarti.

  3. Ikut belajar dari pelaku budaya. Banyak komunitas lokal yang terbuka berbagi ilmu, tinggal kita mau terlibat.

Melestarikan budaya itu sederhana, asal ada kemauan dan rasa bangga

IKN bukan sekadar simbol kemajuan fisik, tapi juga rumah bagi keberagaman yang tumbuh berdampingan. Melalui gagasan living museum dan semangat inklusivitas budaya, OIKN ingin memastikan bahwa suku Dayak, Paser, dan Kutai tetap menjadi denyut utama Kalimantan Timur — bukan kenangan masa lalu, melainkan bagian hidup dari masa depan Nusantara.

Yuk, terus dukung pelestarian budaya lokal agar IKN tak kehilangan jiwanya.


Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

 

FAQ

1. Apa itu Living Museum di IKN?
Living Museum adalah ruang budaya hidup yang memungkinkan tradisi lokal tetap dijalankan, bukan sekadar dipamerkan.

2. Suku apa saja yang menjadi fokus pelestarian budaya oleh OIKN?
Tiga suku utama: Dayak, Paser, dan Kutai.

3. Apakah masyarakat luar Kalimantan bisa disebut putra daerah IKN?
Ya. Menurut OIKN, siapa pun yang tinggal dan berkarya di Kalimantan adalah bagian dari daerah ini.

DISKLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh manusia (redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Gawai Dayak yang menjadi salah satu budaya yang dilestarikan
Gawai Dayak yang menjadi salah satu budaya yang dilestarikan

Editor : Arya Kusuma
#Living Museum #Budaya Kalimantan Timur #Pelestarian BUdaya Daerah