Balikpapan TV - Hai Cess! Pemprov Kaltim pasang target besar: swasembada pangan hewani di tahun 2027. Langkah ini bukan sekadar jargon, tapi strategi nyata untuk jamin kecukupan protein hewani lokal bagi semua orang.
Target ini dikebut lewat Program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT), konsep yang mengusung pemberdayaan masyarakat dengan model ekonomi kerakyatan. Intinya, desa-desa diberdayakan jadi motor peternakan mandiri.
Swasembada Pangan Hewani Jadi Target 2027!
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menegaskan bahwa bicara kedaulatan pangan tak cukup hanya soal beras atau jagung. Daging dan telur harus ikut disokong dengan produksi mandiri.
“Kita tidak bisa hanya bicara swasembada beras dan jagung. Protein hewani seperti daging dan telur juga harus dikejar kemandiriannya, dan Kaltim harus mampu mewujudkannya,” ujarnya dalam acara Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan yang digelar di Halaman Parkir Samarinda Square, Kamis sore (2 Oktober 2025).
Kaltim menargetkan 841 desa ikut program ini. Bayangkan, dari hulu ke hilir, peternakan rakyat lokal disiapkan untuk memasok daging merah maupun putih. Kalau program berjalan mulus, Kaltim bisa lepas dari ketergantungan pasokan luar daerah.
Baca Juga: Bapenda Kaltim Pastikan Bebas Opsen Pajak Kendaraan Bermotor, Target PAD 2025 Rp10 Triliun
Produksi Daging Digenjot, Desa Jadi Sentra Peternakan
Lewat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH), target produksi 17.000 ton daging per tahun ditetapkan, menyesuaikan kebutuhan konsumsi masyarakat. Pemerintah ingin sentra-sentra produksi berdiri kokoh di banyak wilayah.
“Kita akan bangun sentra-sentra peternakan lokal yang kuat, dan mulai fokus pada produksi daging secara signifikan dari wilayah sendiri,” tambah Seno Aji.
Harapannya, dari dapur masyarakat hingga pasar lokal, kebutuhan protein bisa terpenuhi tanpa khawatir harga melonjak karena pasokan luar terganggu.
Keterlibatan Masyarakat dan Investor Jadi Kunci
Kepala DPKH Kaltim, Fahmi Himawan, menegaskan kalau program ini tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Skema ekonomi kerakyatan jadi pondasi awal, tapi keterlibatan investor sangat dibutuhkan untuk percepatan.
“Program PDKT ini baru memenuhi 20 persen target swasembada, sisanya 80 persen harus melibatkan investasi berskala besar, baik dari swasta maupun kemitraan strategis,” ungkapnya.
Bayangkan, kalau masyarakat diberdayakan dengan pola gotong royong, sementara investor masuk dengan modal dan teknologi, dampaknya bisa besar. Desa jadi mandiri, tenaga kerja bertambah, dan ekonomi lokal naik kelas.
CSR Perusahaan, Dorongan Tambahan untuk Peternakan Lokal
Selain pemerintah dan investor, perusahaan juga diharapkan turun tangan melalui CSR. Dukungan ini bisa berupa infrastruktur, bibit unggul, hingga pelatihan teknis bagi peternak lokal. Dengan begitu, petani dan peternak tak berjalan sendirian.
“Melalui CSR, kita berharap ada dukungan nyata dalam bentuk penguatan peternakan lokal, baik infrastruktur, bibit, maupun pelatihan teknis bagi peternak,” tambah Fahmi.
Artinya, rantai ekosistem peternakan ini dibangun dari semua arah—pemerintah, swasta, hingga masyarakat.
Kalau ditarik lebih luas, program PDKT bukan sekadar proyek jangka pendek. Ia jadi peta jalan Kalimantan Timur menuju kedaulatan pangan.
Dari dapur rumah tangga hingga agenda besar daerah, semuanya berakar pada satu hal: menjaga ketersediaan protein hewani dengan cara yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan.
Bayangkan di 2027 nanti, daging ayam, sapi, atau telur di pasar Balikpapan dan Samarinda sudah 100% produksi lokal. Bukan hanya soal makan lebih tenang, tapi juga bukti nyata kalau ekonomi kerakyatan bisa jadi motor perubahan.
Saatnya kita dukung bareng langkah ini. Karena swasembada bukan sekadar angka di atas kertas, tapi soal masa depan kesehatan, gizi, dan kemandirian masyarakat Kaltim.
Yuk, share artikel ini biar makin banyak orang yang peduli dengan kemandirian pangan di daerah kita, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'