Balikpapan TV – Hai Cess! Bapenda Kaltim menargetkan PAD 2025 bisa tembus Rp10 triliun.
Hingga akhir September, realisasi baru mencapai 65 persen atau Rp6,5 triliun. Meski begitu, Bapenda Kaltim yakin target ambisius ini bisa dikejar dalam sisa tiga bulan terakhir.
Fokus utama ada pada pajak daerah, terutama kendaraan bermotor, yang jadi penyumbang besar Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan kebijakan fiskal baru, peluang untuk menutup gap Rp3,5 triliun makin terbuka.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Strategi percepatan terus digencarkan, dari evaluasi kinerja, optimalisasi penerimaan, hingga kolaborasi lintas daerah.
Baca Juga: DBH Kaltim 75 Persen Resmi Ditetapkan, Pemda Dorong Strategi Ekonomi Hijau dan Biru Jadi Prioritas
Strategi Jitu Percepatan Pajak Kendaraan Bermotor
Kebijakan fiskal anyar jadi senjata utama Bapenda. Salah satunya pembebasan biaya opsen pajak kendaraan bermotor. Harapannya sederhana: masyarakat lebih tertarik membayar pajak tepat waktu.
Meski begitu, Kepala Bapenda Kaltim, Ismiati, menegaskan denda pajak tidak dihapus. Wajib pajak tetap harus melunasi tunggakan bersama pokoknya.
“Kebijakan bebas opsen ini kami harapkan bisa meningkatkan kepatuhan masyarakat, khususnya dalam membayar pajak kendaraan. Namun kami tetap menekankan bahwa denda sebagai bagian dari kewajiban tetap harus dibayarkan,” ujar Ismiati.
Kolaborasi Daerah, Kunci Kemandirian Fiskal
Tak hanya mengandalkan kendaraan bermotor, Bapenda juga menggarap potensi PAD lain. Salah satunya lewat kolaborasi erat dengan pemerintah kabupaten/kota.
Dana transfer pusat dan antardaerah jadi indikator penting dalam menilai kekuatan fiskal. Hingga September, lebih dari 60 persen PAD sudah bersumber dari dana transfer ini.
Kolaborasi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Integrasi sistem pelaporan dan data perpajakan terus diperkuat.
Dengan sinergi ini, Kaltim ingin menunjukkan bahwa kemandirian fiskal bisa lahir dari kerja kolektif, bukan hanya bergantung pada satu sumber pendapatan.
Optimisme Bapenda Kaltim di Tengah Tantangan
Menutup sisa Rp3,5 triliun dalam tiga bulan memang bukan perkara mudah. Tapi Bapenda melihat peluang masih terbuka lebar.
Evaluasi kinerja rutin dilakukan agar strategi percepatan benar-benar on track. Setiap lini, dari sistem digitalisasi hingga sosialisasi publik, digarap serius.
“Kami terus melakukan evaluasi kinerja dan optimalisasi strategi di lapangan. Meskipun saat ini realisasi masih 65 persen, kami optimis target Rp10 triliun dapat tercapai hingga akhir tahun,” tegas Ismiati.
Menuju Kaltim Mandiri Lewat Inovasi Fiskal
Bapenda Kaltim tak ingin sekadar mengejar target angka. Lebih dari itu, strategi ini jadi bagian penting menuju kemandirian fiskal daerah.
Dengan memperkuat sistem pelaporan, meningkatkan integrasi data perpajakan, dan menjaga kerja sama lintas daerah, Kaltim sedang menyiapkan pondasi kuat untuk masa depan.
“Kami optimalkan seluruh lini, dari sistem pelaporan, integrasi data perpajakan, hingga kerja sama dengan pemda. Ini adalah upaya bersama menuju kemandirian fiskal Kaltim yang lebih kuat,” pungkas Ismiati.
Target Rp10 triliun bukan sekadar angka di papan laporan. Ia adalah cermin tekad Kaltim untuk berdiri mandiri lewat inovasi fiskal. Kalau strategi ini konsisten dijalankan, optimisme itu bukan mimpi kosong.
Yuk, share artikel ini biar makin banyak orang yang tau soal langkah Kaltim menjaga fiskalnya, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, ‘Bukan Sekadar Info Biasa!’