Balikpapan TV - Hai Cess! Selasa (30 September 2025), suasana berbeda terasa di SMA Negeri 16 Samarinda. Sebanyak 46 siswa dari 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur resmi memulai MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 58.
Program ini hadir sebagai ruang belajar baru untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu dan mereka yang pernah putus sekolah namun ingin kembali menempuh pendidikan.
Meski begitu, para siswa belum mendapatkan fasilitas belajar seperti buku pelajaran, alat tulis, maupun modul pembelajaran. Bahkan, kebutuhan dasar seperti papan tulis dan spidol pun belum tersedia di ruang kelas.
Tak hanya itu, seragam utama dan perlengkapan olahraga yang seharusnya menunjang pendidikan jasmani pun belum tersedia, Cess!
Sekolah Rakyat 58: Harapan Baru untuk Anak Kaltim
Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 merupakan program pendidikan di bawah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Di sekolah ini, anak-anak yang sebelumnya terkendala biaya akhirnya punya akses melanjutkan pendidikan dengan sistem terintegrasi.
Dari 46 siswa yang mengikuti MPLS perdana ini, 21 merupakan jenjang SD, sedangkan 25 sisanya di tingkat SMA. Mereka datang dengan harapan sederhana: bisa belajar dengan layak, meski sarana dan prasarana sekolah masih jauh dari cukup.
Baca Juga: Stadion Gelora Kadrie Oening Samarinda Resmi Berbayar, Tarif Mulai Rp500 Ribu hingga Rp40 Juta
Fasilitas Belajar Masih Minim, Semangat Tak Surut
Hingga saat ini, para siswa belum menerima buku pelajaran, alat tulis, maupun modul pembelajaran. Bahkan kebutuhan dasar seperti papan tulis dan spidol pun belum tersedia di ruang kelas.
“Kami sangat membutuhkan sarana pendukung belajar. Dalam dua minggu masa MPLS ini, kami akan segera mengajukan permintaan pengadaan ke pemerintah,” ujar Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah.
Kehidupan Asrama dan Pembiasaan Karakter Siswa
Selain belajar di kelas, para siswa juga akan tinggal di asrama dengan aturan ketat. Selama MPLS, mereka diajak mengenal lingkungan sekolah sekaligus beradaptasi dengan rutinitas baru yang menekankan pada disiplin dan pembentukan karakter.
Di asrama, siswa hanya diperbolehkan pulang ke kampung halaman tiga kali dalam setahun, yakni saat libur semester dan hari raya.
“Kami diberi waktu pulang hanya tiga kali dalam setahun, yaitu saat libur semester dan hari raya keagamaan,” kata Celia, salah satu murid SMA.
Seragam Terbatas, Olahraga Belum Didukung Fasilitas
Saat ini, seragam utama belum tersedia. Siswa baru hanya menerima satu set pakaian olahraga untuk kegiatan sehari-hari. Tak hanya itu, perlengkapan olahraga yang seharusnya menunjang pendidikan jasmani juga masih kosong.
Meski begitu, para siswa tetap antusias. Mereka lebih fokus pada kesempatan belajar dan bisa merajut mimpi kembali.
Program ini diharapkan menjadi jembatan emas menuju masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda Kalimantan Timur.
Semangat belajar anak-anak Sekolah Rakyat 58 jadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'