Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Tradisi Kaltim yang Hampir Terlupakan: Belian, Anyaman Purun, dan Musik Sampe

AdminBTV • Kamis, 17 Juli 2025 | 17:24 WIB

Memang Beda!
Memang Beda!

Balikpapantv.id - Hai Cess! Pernah dengar soal upacara Belian? Atau lihat langsung tikar dari daun purun buatan tangan nenek-nenek di kampung? Kalau belum, yuk siap-siap buka mata dan hati. Ada tiga tradisi lokal Kalimantan Timur yang makin hari makin sepi peminat.

Padahal, ini bukan sekadar budaya, tapi identitas yang bikin kita beda dari daerah lain. Apa aja? Kita bahas satu-satu, dan siap-siap kaget—karena bisa jadi kamu juga bagian dari alasan kenapa tradisi ini makin dilupakan.

1. Belian: Ritual Sakral Penyembuh yang Terpinggirkan

Upacara Belian adalah ritual penyembuhan tradisional suku Dayak Benuaq dan Tunjung. Prosesi ini bukan sekadar pertunjukan, tapi momen sakral penuh doa, tarian, tabuhan gong, dan mantra adat yang dilakukan semalam suntuk.

Dipimpin oleh balian (dukun adat), Belian dipercaya bisa menyembuhkan penyakit atau mengusir roh jahat yang mengganggu seseorang atau kampung.

Sayangnya, di tengah gempuran teknologi dan gaya hidup modern, Belian makin dipandang sebelah mata. Banyak yang menganggap ritual ini mistis dan kuno, bahkan tak sedikit yang merasa malu mengakuinya sebagai bagian dari budaya sendiri. Mirisnya lagi, generasi muda lebih memilih menjauh daripada belajar jadi balian. Padahal, prosesnya perlu waktu dan dedikasi bertahun-tahun.

Minim Regenerasi, Belian Terancam Punah

“Sekarang susah cari generasi yang mau belajar jadi balian. Anak-anak muda lebih suka kerja di kota,” ujar salah satu tokoh adat di pedalaman Kutai Barat. Bukan hanya balian yang langka, penari dan pemusik tradisional yang mengiringi upacara pun makin sulit ditemukan.

Tradisi ini sebenarnya kaya makna. Di balik tarian dan iringan musiknya, ada pesan tentang keharmonisan dengan alam, spiritualitas, dan solidaritas komunitas. Tapi ketika regenerasi tak terjadi, lambat laun Belian hanya jadi kenangan di dokumentasi museum atau rekaman video lama.

Baca Juga: Rumah Hijau Kekinian: Desain Minimalis Ramah Lingkungan di Tengah Kota

2. Anyaman Daun Purun & Rotan: Dari Fungsi ke Nostalgia

Masih ingat aroma daun purun yang dikeringkan lalu dianyam jadi tikar? Atau tas rotan buatan tangan mama-mama di kampung? Kerajinan ini dulunya sangat populer, bukan cuma buat dipakai sendiri, tapi juga untuk dijual di pasar tradisional.

Tapi sekarang? Produk anyaman tradisional kalah saing dengan barang pabrik. Tikar plastik lebih murah, lebih ringan, dan lebih tahan air. Anyaman rotan yang dulu jadi kebanggaan kini terpinggirkan, bahkan hanya dianggap hiasan dinding atau pajangan etnik di cafe-cafe kekinian.

Anak Muda Lebih Tertarik Resin & Akrilik

Zaman sekarang, tren kerajinan bergeser ke arah yang lebih modern. Banyak anak muda di Kalimantan Timur memilih membuat aksesoris dari resin, akrilik, bahkan beton. Kreatif? Tentu! Tapi sayangnya, tidak banyak yang mau belajar teknik menganyam yang diwariskan turun-temurun.

Padahal, anyaman bukan cuma soal bentuk atau fungsi. Di situ ada cerita, keahlian, dan identitas lokal yang tak ternilai. Dan yang lebih menyedihkan, dukungan terhadap UMKM anyaman lokal masih minim. Tanpa pasar, para pengrajin makin enggan meneruskan pekerjaan mereka.

3. Sampe dan Jatung Utang: Musik yang Sunyi di Tanah Sendiri

Kalau Belian dan anyaman adalah tradisi visual dan fungsional, maka musik adalah ekspresi jiwa budaya. Dua alat musik tradisional Kalimantan Timur yang mulai dilupakan adalah Sampe dan Jatung Utang.

Sampe adalah semacam gitar khas Dayak dengan suara khas yang lembut dan menenangkan. Sementara Jatung Utang adalah gong tradisional yang biasa digunakan dalam upacara sakral. Suara gong ini dipercaya bisa “memanggil” semangat leluhur atau menenangkan roh yang marah.

Musik Tradisional Tergusur Musik Digital

Coba tanya ke remaja sekarang, berapa banyak yang pernah memegang Sampe? Atau tahu bentuk Jatung Utang? Kemungkinan besar lebih familiar dengan gitar listrik, piano digital, atau DAW untuk bikin beat sendiri di laptop. Nggak salah, tapi sangat disayangkan kalau musik tradisi hanya dipelajari sebagai ‘pengetahuan sekolah’ tanpa makna emosional.

Kurangnya pelatihan dan sekolah musik tradisional jadi salah satu penyebab utama. Bahkan di kota-kota besar di Kaltim, fasilitas untuk belajar alat musik daerah masih sangat terbatas. Padahal, kalau dikelola dengan baik, Sampe dan Jatung Utang bisa jadi alat diplomasi budaya ke luar negeri.

Baca Juga: 3 Laptop Canggih Juli 2025: Desain Tipis, Performa Gahar, dan Teknologi AI Terkini!

Masih Ada Harapan: Bangkit Lewat Komunitas dan Inisiatif Lokal

Meskipun kondisi ketiganya cukup mengkhawatirkan, bukan berarti tak ada harapan. Beberapa komunitas budaya di Kutai Barat dan Samarinda mulai mencoba membangkitkan kembali tradisi ini lewat festival budaya, pelatihan seni, dan promosi UMKM lokal. Tapi perjuangannya tentu tidak ringan.

“Kalau bukan kita yang lestarikan, siapa lagi? Anak-anak sekarang perlu diajak mengenal akar budayanya sendiri, bukan cuma ikut tren global,” ujar salah satu pengrajin anyaman di Loa Kulu.

Menjaga Warisan, Menjaga Jati Diri

Tiga budaya ini—Belian, anyaman purun, dan musik Sampe—adalah bagian dari jati diri Kalimantan Timur. Mereka bukan sekadar aktivitas tradisional, tapi cermin dari cara hidup, cara berpikir, dan nilai-nilai yang diwariskan sejak lama. Jika dibiarkan hilang, kita tak hanya kehilangan budaya, tapi juga kehilangan arah sejarah.

Yuk Cess, jangan cuma jadi penonton! Kita bisa mulai dari hal kecil—ikut workshop anyaman, nonton pertunjukan musik tradisional, atau sekadar sharing info budaya di medsos. Warisan ini ada di tangan kita.

Bagikan artikel ini biar makin banyak yang sadar dan peduli!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapantv.id, 'Bukan Sekedar Berita Biasa!'(Rohman)

Potret budaya tradisional Kalimantan Timur: ritual Belian, anyaman daun purun, dan alat musik Sampe—warisan kaya yang mulai terlupakan.
Potret budaya tradisional Kalimantan Timur: ritual Belian, anyaman daun purun, dan alat musik Sampe—warisan kaya yang mulai terlupakan.

Editor : Arya Kusuma
#budaya Kaltim yang mulai dilupakan #generasi muda Kalimantan Timur #tradisi Belian Dayak