Kabut Asap Menyelimuti Mahulu, BPBD Masih Tunggu Data Kualitas Udara

Riafandi • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 17:29 WIB
BPBD Mahulu menunggu data ISPU untuk memastikan kualitas udara saat kabut asap meningkat. (JODY KRISTIANTO/KP)
BPBD Mahulu menunggu data ISPU untuk memastikan kualitas udara saat kabut asap meningkat. (JODY KRISTIANTO/KP)

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: BPBD Mahulu menunggu data ISPU untuk memastikan kondisi udara saat kabut asap meningkat dan kasus ISPA terus bertambah.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mahulu belum dapat memastikan secara langsung seberapa buruk kualitas udara karena data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat belum tersedia.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus menggunakan informasi pendukung sambil menunggu hasil pengukuran yang dapat menggambarkan kualitas udara secara lebih spesifik di wilayah Mahulu.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena kabut asap berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Mahulu mencatat 653 kasus ISPA dari enam fasilitas kesehatan dalam kurun waktu sekitar 13 hari.

BPBD Belum Bisa Memastikan Kondisi Udara

Kabut asap yang menyelimuti Mahulu belum otomatis dapat diterjemahkan menjadi angka kualitas udara tanpa adanya pengukuran ISPU di wilayah tersebut.

BPBD Mahulu masih menunggu data dari DLH untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif mengenai tingkat pencemaran udara.

Kondisi ini penting karena ISPU digunakan sebagai salah satu indikator untuk memahami tingkat pencemaran dan potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Tanpa data pengukuran lokal, pemerintah perlu berhati-hati dalam menyimpulkan apakah kualitas udara berada pada tingkat tertentu.

| “BPBD Mahulu belum bisa memastikan kualitas udara akibat kabut asap karena data ISPU dari DLH belum tersedia.”

Artinya, kabut asap secara visual memang dapat terlihat oleh masyarakat, tetapi tingkat bahayanya tetap perlu dikonfirmasi melalui pengukuran kualitas udara.

Data Udara Menjadi Penting untuk Menentukan Kebijakan

Kebutuhan terhadap data ISPU bukan sekadar persoalan administrasi.

Angka kualitas udara dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah ketika menentukan langkah perlindungan masyarakat, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara.

Mahulu sebelumnya telah mengambil langkah di sektor pendidikan. Disdikbud Mahulu mengalihkan pembelajaran PAUD, SD, hingga SMP ke rumah mulai 29 Agustus sampai 5 September 2026 karena kondisi pencemaran udara dan peningkatan ISPU.

Dengan demikian, data kualitas udara memiliki hubungan langsung dengan keputusan pemerintah di lapangan.

Semakin jelas kondisi udara yang terukur, semakin mudah pula pemerintah mengevaluasi apakah kebijakan perlindungan masyarakat perlu dipertahankan, diperlonggar, atau diperkuat.

Kabut Asap Bukan Sekadar Persoalan Pandangan

Kabut asap sering kali pertama kali dirasakan masyarakat melalui jarak pandang yang berkurang atau udara yang terlihat keruh.

Namun, indikator visual tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi pencemaran.

Ada berbagai parameter pencemar yang perlu diukur untuk mengetahui kondisi udara secara lebih lengkap. Karena itu, keberadaan alat pemantau kualitas udara menjadi penting ketika suatu daerah menghadapi paparan asap.

Dalam kasus Mahulu, keterbatasan data lokal membuat pemerintah perlu menggabungkan laporan lapangan dengan data dari wilayah sekitar sembari menunggu pengukuran yang lebih spesifik.

Sebelumnya, kondisi udara di wilayah Kutai Barat yang berdekatan dengan Mahulu sempat menjadi perhatian karena ISPU di kawasan Barat Sendawar mencapai kategori berbahaya. Data tersebut juga pernah digunakan sebagai salah satu acuan ketika kabut asap menyelimuti Mahulu.

Namun, data wilayah tetangga tetap perlu dibedakan dari hasil pengukuran langsung di Mahulu.

Baca Juga: Angela Idang Belawan Minta Program Pembangunan Mahulu Tak Sekadar Rutinitas

Kasus ISPA Justru Terus Bertambah

Kebutuhan untuk memastikan kondisi udara semakin terasa ketika angka gangguan pernapasan di Mahulu menunjukkan peningkatan.

Dinkes P2KB Mahulu mencatat 653 kasus ISPA dalam waktu sekitar 13 hari berdasarkan kunjungan masyarakat ke enam fasilitas kesehatan. Kecamatan Long Bagun menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 239 kasus, disusul Long Hubung sebanyak 161 kasus.

Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan kasus pada periode ketika kabut asap masih terjadi.

Meski demikian, peningkatan kasus ISPA tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa seluruh kasus disebabkan oleh kabut asap. ISPA merupakan diagnosis umum dengan berbagai kemungkinan penyebab.

Karena itu, data kesehatan dan data kualitas udara perlu dibaca secara bersamaan, bukan dipertukarkan sebagai satu-satunya bukti sebab-akibat.

Kelompok Rentan Perlu Mendapat Perhatian

Dinkes P2KB Mahulu juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.

Anak-anak, balita dan lanjut usia termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara terganggu.

Masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan juga perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara yang tidak sehat.

Dalam kondisi seperti ini, pencegahan menjadi penting. Dinkes Mahulu telah mendorong penggunaan masker dan meminta masyarakat menjaga kondisi tubuh selama kabut asap masih berlangsung.

Langkah perlindungan tersebut berjalan beriringan dengan kebijakan belajar dari rumah yang sebelumnya telah diterapkan pemerintah daerah.

Hotspot Bertambah, BPBD Tetap Waspada

Kondisi kabut asap juga tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kebakaran hutan dan lahan.

BPBD Mahulu sebelumnya melaporkan sembilan titik panas terpantau hingga tengah malam 1 September 2026. Seluruh titik tersebut dinyatakan padam pada pagi 2 September, meskipun satu titik panas kembali terdeteksi di wilayah Long Bagun dan masih dalam pengecekan petugas.

Keberadaan hotspot menjadi salah satu alasan mengapa BPBD masih harus melakukan pemantauan meskipun sebagian titik telah padam.

Api yang berhasil dipadamkan tidak otomatis berarti risiko asap langsung hilang. Kondisi lahan, sisa pembakaran, arah angin dan kemungkinan munculnya titik api baru tetap perlu diperhatikan.

Mahulu Masih Menghadapi Keterbatasan Data

Persoalan utama dalam situasi ini bukan hanya kabut asap, tetapi juga bagaimana pemerintah mendapatkan informasi yang cukup untuk mengambil keputusan.

Data kualitas udara yang akurat diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran mengenai kondisi sebenarnya.

Ketika data lokal belum tersedia, pemerintah memang masih dapat menggunakan informasi dari wilayah sekitar sebagai pembanding. Akan tetapi, kondisi geografis dan sumber asap dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Karena itu, pengukuran langsung di Mahulu akan memberikan informasi yang lebih relevan untuk menentukan kondisi udara masyarakat setempat.

Inilah alasan BPBD masih menunggu data ISPU dari DLH.

Baca Juga: Sah KUA-PPAS APBD 2027 Mahulu Rp 1,4 Triliun Prioritaskan Layanan Publik dan Infrastruktur

Kebijakan Sekolah Sudah Menjadi Bentuk Antisipasi

Sebelum persoalan data ISPU terbaru ini muncul, pemerintah Mahulu telah mengambil langkah perlindungan di sektor pendidikan.

Surat edaran Disdikbud Mahulu menetapkan pembelajaran peserta didik PAUD, SD, hingga SMP dilakukan dari rumah pada 29 Agustus sampai 5 September 2026. Kebijakan tersebut berkaitan dengan pencemaran udara akibat kekeringan dan karhutla serta peningkatan ISPU.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap telah masuk ke aktivitas masyarakat sehari-hari.

Sekolah menjadi salah satu sektor yang paling mudah terdampak karena kegiatan belajar melibatkan anak-anak dalam jumlah besar dan berlangsung secara rutin.

Jika kondisi udara belum membaik, evaluasi kebijakan pendidikan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi lapangan dan data yang tersedia.

WFH ASN Juga Sempat Dikaji

Dampak kabut asap bahkan telah memunculkan pembahasan mengenai aktivitas aparatur sipil negara (ASN).

Pemkab Mahulu sebelumnya mengkaji kemungkinan penerapan work from home (WFH) bagi ASN. Namun, keputusan tersebut belum langsung diterapkan karena pemerintah masih menunggu hasil kajian BPBD dan Dinkes mengenai kualitas udara.

Hal ini memperlihatkan bahwa data kualitas udara bukan hanya dibutuhkan untuk menentukan kondisi kesehatan masyarakat.

Data tersebut juga dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan bagaimana aktivitas pemerintahan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan pegawai dan masyarakat.

Mahulu Membutuhkan Data yang Bisa Menjadi Dasar Keputusan

Dalam situasi kabut asap, pemerintah menghadapi dua kebutuhan sekaligus.

Di satu sisi, pemerintah harus bergerak cepat melindungi masyarakat. Di sisi lain, setiap kebijakan perlu memiliki dasar informasi yang cukup agar tidak berlebihan maupun terlambat.

Kasus Mahulu menunjukkan bagaimana dua kebutuhan tersebut bertemu.

Pemerintah sudah mengambil langkah di sektor pendidikan, Dinkes meningkatkan perhatian terhadap kasus ISPA, dan BPBD terus memantau titik panas. Namun, pengukuran kualitas udara lokal tetap dibutuhkan untuk memperkuat dasar pengambilan keputusan.

Kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan kabut asap tidak hanya membutuhkan personel pemadam atau pemantauan hotspot.

Sistem pemantauan kualitas udara memiliki peran penting karena masyarakat membutuhkan informasi yang dapat dipercaya mengenai kondisi udara yang mereka hirup.

Kabut Asap dan Kesehatan Harus Dibaca Bersamaan

Meningkatnya kasus ISPA, keberadaan hotspot dan kabut asap menjadi tiga indikator yang menunjukkan bahwa situasi lingkungan Mahulu sedang membutuhkan perhatian.

Namun, masing-masing data memiliki fungsi berbeda.

Hotspot memberikan gambaran mengenai keberadaan titik panas. Data ISPU menggambarkan kondisi pencemar udara. Sementara data kesehatan menunjukkan dampak yang terlihat pada masyarakat.

Jika ketiganya dikumpulkan secara konsisten, pemerintah akan memiliki gambaran yang lebih lengkap untuk menentukan langkah penanganan.

Untuk saat ini, BPBD Mahulu masih menunggu data ISPU sebagai salah satu bagian penting dalam memastikan kondisi udara.

Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: selama kabut asap masih menyelimuti wilayah, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi anak-anak, lansia dan warga yang memiliki risiko gangguan pernapasan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Mahulu membutuhkan data kualitas udara lokal untuk menyatukan informasi hotspot, kesehatan, dan kebijakan publik. Tanpa pengukuran yang memadai, pemerintah harus mengandalkan data sekitar dalam mengambil keputusan.

Bagikan info ini ke bubuhan ikam supaya makin paham pentingnya data kualitas udara di tengah kabut asap Mahulu.

Kabut asap bukan cuma soal apa yang terlihat mata. Ikuti info lingkungan dan kondisi Kaltim hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa BPBD Mahulu menunggu data ISPU?

BPBD membutuhkan data ISPU untuk memastikan kondisi kualitas udara secara lebih objektif di tengah kabut asap yang masih berlangsung.

2. Apakah Mahulu sudah memiliki data kualitas udara lokal?

Berdasarkan laporan terbaru, BPBD masih menunggu data ISPU dari DLH sehingga kondisi kualitas udara lokal belum dapat dipastikan secara langsung.

3. Berapa kasus ISPA yang tercatat di Mahulu?

Dinkes P2KB Mahulu mencatat 653 kasus ISPA dari enam fasilitas kesehatan dalam kurun waktu sekitar 13 hari.

4. Kecamatan mana yang mencatat kasus ISPA tertinggi?

Long Bagun menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 239 kasus, kemudian Long Hubung dengan 161 kasus.

5. Apakah seluruh kasus ISPA disebabkan kabut asap?

Belum dapat disimpulkan demikian. ISPA memiliki berbagai kemungkinan penyebab sehingga data kesehatan perlu dibaca bersama dengan data kualitas udara dan faktor lainnya.

6. Apakah sekolah di Mahulu masih belajar dari rumah?

Ya. Disdikbud Mahulu sebelumnya menetapkan pembelajaran PAUD, SD, dan SMP dari rumah mulai 29 Agustus hingga 5 September 2026.

Sumber Informasi: Media Kaltim Post, artikel "BPBD Mahulu Tunggu Data ISPU untuk Pastikan Kualitas Udara" karya Jody Kristianto, kemudian disusun ulang secara orisinal dengan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Kaltim Post
Kabut Asap Mahakam Ulu bpbd mahulu ISPU