Ikhtisar: Karst Batu Putih Kaliorang menjadi tujuan wisata alam sekaligus membuka peluang pendapatan bagi pemandu lokal Kutai Timur.
Balikpapan TV - Hai Ces! Puncak Karst Batu Putih di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur, mulai memberi manfaat ekonomi bagi warga melalui jasa pemandu wisata dan aktivitas pendakian.
Bukan cuma soal menikmati pemandangan dari ketinggian. Bagi komunitas lokal, ramainya wisatawan di kawasan ini mulai menciptakan peluang pendapatan yang bisa dikembangkan menjadi industri wisata berbasis masyarakat.
Baca Juga: Bukan Cash Rp250 Juta, Pemkab Kutim Jelaskan Sebenarnya Dana RT untuk Apa
Pemandu Lokal Ikut Merasakan Manfaat Wisata
Salah satu yang merasakan peluang tersebut adalah komunitas Kaliorang Cinta Alam atau Karca Kutim.
Ketua Karca Kutim, Samsul Bahri, mengatakan anggota komunitas bisa memperoleh pendapatan dari jasa memandu wisatawan yang ingin berkemah atau menikmati kawasan puncak Karst Batu Putih.
"Tiap minggunya kami mendapat lebih Rp500 ribu sebagai pemandu wisatawan yang mau camping atau berlibur di puncak karst batu putih," ujar Samsul di Sangatta, Minggu (13/9).
Pendapatan tersebut memang belum bersifat tetap. Pemasukan bergantung pada ada atau tidaknya wisatawan yang menggunakan jasa pemandu.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas wisata di Karst Batu Putih sudah memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, meski pengelolaannya masih berjalan secara komunitas.
Puncak 720 Mdpl Jadi Daya Tarik
Puncak Karst Batu Putih memiliki ketinggian sekitar 720 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisatawan yang ingin menikmati panorama alam dan melihat bentang wilayah Kutai Timur dari ketinggian.
Bagi pengunjung yang belum mengenal medan pendakian, keberadaan pemandu lokal menjadi bagian penting dalam aktivitas wisata. Karca kemudian mengambil peran dengan menyediakan jasa pendampingan bagi wisatawan yang membutuhkan.
Potensi tersebut tidak berhenti pada jasa pemandu. Samsul melihat kawasan ini masih bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata yang lebih tertata, selama pengembangannya tetap mempertahankan karakter alami kawasan karst.
Tantangannya, Belum Ada Konsep Wisata Resmi
Di balik peluang ekonomi yang mulai muncul, Karst Batu Putih masih menghadapi persoalan pengelolaan.
Menurut Samsul, hingga kini belum ada konsep resmi yang mengatur kawasan pendakian tersebut sebagai destinasi wisata. Karca juga menjalankan aktivitasnya secara mandiri tanpa bantuan pemerintah maupun pihak lainnya.
Akibatnya, pemasukan anggota komunitas sangat bergantung pada wisatawan yang secara langsung menghubungi mereka.
"Jadi kalau tidak ada yang menghubungi kami, tidak ada pemasukan untuk teman-teman. Karena belum ada konsep resmi untuk pendakian itu," katanya.
Karena itu, ia berharap kawasan pendakian dapat ditata lebih baik seperti destinasi pendakian lainnya, tanpa mengubah fungsi dan karakter alami kawasan karst.
Baca Juga: Kejari Kutim Gandeng Wartawan Lewat Forwaka, Fungsi Kontrol Pers Tetap Dijaga
Peluang Wisata dan Ekonomi Bisa Berjalan Bersama
Pengembangan Karst Batu Putih memiliki dua kepentingan yang perlu berjalan beriringan: membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kawasan alamnya.
Samsul menilai potensi wisata dapat diarahkan menjadi kegiatan yang memberi kesempatan usaha bagi warga lokal. Dengan konsep yang jelas, manfaat ekonomi tidak hanya berasal dari jasa pemandu, tetapi berpeluang berkembang mengikuti kebutuhan wisatawan.
Gagasan itu juga sejalan dengan perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terhadap pengembangan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai aset konservasi, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan. Pemerintah daerah sebelumnya menyebut kawasan karst tersebut sebagai bentang alam penting yang memiliki nilai geologi, ekologi, dan budaya.
Artinya, pengembangan wisata di Karst Batu Putih membutuhkan penataan yang tidak sekadar mengejar jumlah pengunjung. Perlindungan terhadap karakter alam kawasan tetap menjadi bagian penting dari pengelolaannya.
Bagi masyarakat lokal, semakin banyak wisatawan datang berarti semakin terbuka pula peluang untuk menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Sementara bagi wisatawan, keberadaan pemandu dari masyarakat sekitar bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu perjalanan menuju puncak Karst Batu Putih.
Wisata alam akan terasa lebih bernilai ketika keindahan tempatnya bisa dinikmati, masyarakat sekitar ikut mendapatkan manfaat, dan kawasan tetap terjaga.
Kalau kamu berencana menikmati puncak Karst Batu Putih Kaliorang, jasa pemandu Karca Kutim dapat dihubungi melalui Instagram komunitas tersebut.
FAQ
1. Di mana lokasi Karst Batu Putih?
Karst Batu Putih berada di Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
2. Berapa ketinggian puncak Karst Batu Putih?
Puncak Karst Batu Putih memiliki ketinggian sekitar 720 meter di atas permukaan laut (mdpl).
3. Apakah tersedia jasa pemandu wisata?
Ya. Komunitas Kaliorang Cinta Alam atau Karca Kutim menyediakan jasa pemandu bagi wisatawan yang ingin camping atau berlibur di kawasan tersebut.
4. Berapa pendapatan pemandu dari jasa wisata tersebut?
Ketua Karca Kutim Samsul Bahri menyebut pendapatan pemandu bisa lebih dari Rp500 ribu per minggu ketika ada wisatawan yang menggunakan jasa mereka.
5. Apakah Karst Batu Putih sudah memiliki konsep resmi sebagai destinasi wisata?
Menurut Samsul Bahri, hingga saat ini belum ada konsep resmi untuk pengelolaan kawasan pendakian tersebut sebagai destinasi wisata.
Sumber Informasi: ANTARA News Kalimantan Timur, dengan judul “Karst Batu Putih hidupkan industri wisata di Kutai Timur”, 13 September 2026.