Kekeringan Mengintai Lahan Pertanian Kutim, Risiko Gagal Panen Meningkat

Riafandi • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:08 WIB
Musim kemarau mulai mengancam petani di Kutai Timur, terutama yang baru memasuki masa tanam. Kekeringan selama sekitar sebulan membuat ketersediaan air menjadi persoalan dan meningkatkan risiko gagal panen. Pemerintah daerah pun menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu petani menghadapi kondisi tersebut. (JUFRIADI/KP)
Kekeringan selama sekitar sebulan membuat ketersediaan air menjadi persoalan dan meningkatkan risiko gagal panen. (JUFRIADI/KP)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Musim kemarau yang berlangsung sekitar sebulan mulai mengancam sektor pertanian Kutai Timur. Petani yang baru memasuki masa tanam menjadi kelompok paling rentan karena tanaman membutuhkan pasokan air pada fase awal pertumbuhan. 

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Musim kemarau mulai menjadi ancaman bagi petani di Kutai Timur (Kutim), terutama mereka yang baru memasuki masa tanam.

Kondisi kering selama sekitar sebulan membuat ketersediaan air menjadi persoalan. Tanaman yang baru ditanam membutuhkan pasokan air untuk mendukung pertumbuhan awal.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Purno Edi, mengatakan kekeringan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gagal panen.

“Kalau setelah tanam itu memang butuhnya untuk pertumbuhan terlebih dahulu, tapi kalau dari awal ini di satu bulan pertama ini kering, ini kita juga berisiko gagal panen,” kata Purno.

Masa Tanam Jadi Periode Rawan

Petani yang baru melakukan penanaman menghadapi risiko lebih besar ketika hujan tidak kunjung turun.

Pada fase awal pertumbuhan, tanaman membutuhkan air yang cukup. Jika kondisi kering berlangsung sejak awal masa tanam, pertumbuhan tanaman dapat terganggu.

DTPHP Kutim kini masih melakukan pendataan untuk mengetahui luasan lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Pendataan tersebut diperlukan untuk melihat sejauh mana kemarau memengaruhi tanaman yang baru memasuki masa pertumbuhan.

Baca Juga: Pantai Sekerat Kutai Timur, Pesona Pesisir yang Harus Ditempuh Lewat Jalan Hutan

Bukan Sekadar Masalah Pompa

Pemerintah sebelumnya telah menyalurkan bantuan pompa air dari pemerintah pusat maupun daerah kepada petani.

Pompa tersebut diharapkan membantu mengairi lahan ketika curah hujan menurun.

Namun, kondisi kemarau berkepanjangan membuat persoalan menjadi lebih kompleks. Pompa tidak akan banyak membantu apabila sumber air yang digunakan juga mulai terbatas.

Purno menjelaskan persoalan utama saat ini bukan hanya ketersediaan sarana pengairan, tetapi juga sumber airnya.

“Itu kan baru tanam, kemarin tanam bersama, habis itu sudah kekeringan, itu kasihan banget. Sekarang pertanyaannya bukan masalah pompa airnya atau sarananya, tapi sumber airnya,” terangnya.

Pemerintah Cari Sumber Air

Keterbatasan sumber air membuat pemerintah daerah harus mencari alternatif lain untuk membantu petani.

Salah satu langkah yang sedang dijajaki adalah membangun kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk perusahaan swasta.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu mencari solusi terhadap kebutuhan air bagi lahan pertanian yang terdampak kemarau.

Embung Jadi Salah Satu Solusi

Pembangunan embung di sejumlah kecamatan juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan air untuk pertanian.

Embung dapat menjadi tempat penyimpanan air yang nantinya dimanfaatkan ketika pasokan air mulai berkurang.

Namun, keberadaan embung belum sepenuhnya mampu mengatasi dampak kekeringan apabila kondisi tanpa hujan berlangsung lebih lama.

Artinya, diperlukan berbagai langkah secara bersamaan agar kebutuhan air pertanian tetap dapat dipenuhi.

Perubahan Iklim Mulai Dirasakan

DTPHP Kutim melihat ancaman kekeringan sebagai salah satu dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan langsung sektor pertanian.

Perubahan kondisi cuaca membuat petani perlu menghadapi ketidakpastian dalam menentukan waktu dan strategi tanam.

Kondisi tersebut juga membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi agar produksi pertanian tetap dapat dipertahankan.

Data Lahan Terdampak Masih Dikumpulkan

Hingga kini, DTPHP Kutim masih mengumpulkan data mengenai luasan lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Data tersebut menjadi dasar untuk mengetahui kondisi tanaman di lapangan dan menentukan kebutuhan penanganan.

Pendataan juga penting untuk melihat wilayah mana yang membutuhkan dukungan pengairan lebih cepat.

Kemampuan Pemerintah Tetap Terbatas

Pemerintah terus berupaya menyediakan sarana pendukung bagi petani.

Namun, kondisi alam tetap menjadi faktor yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.

Purno mengakui bahwa kemampuan manusia dalam menghadapi perubahan kondisi alam memiliki keterbatasan.

“Kemampuan manusia kembali ke kemampuan, dan faktor alam ini akan berbeda. Kalau tidak ada hujan, upaya kita untuk memenuhi sarana kita lakukan, tapi kita juga berbicara lagi dengan kondisi alam,” tutupnya.

Petani Hadapi Risiko Gagal Panen

Ancaman gagal panen menjadi salah satu kekhawatiran utama apabila kekeringan terus berlangsung.

Tanaman yang tidak memperoleh air cukup pada fase awal pertumbuhan berisiko mengalami gangguan perkembangan.

Karena itu, ketersediaan sumber air menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan masa tanam di Kutim.

Baca Juga: Karhutla di Kutai Timur Kian Parah Polisi Usut Keterlibatan Perusahaan dan Warga Pemilik Lahan

Pemerintah dan Petani Perlu Bersiap

Kondisi kemarau membuat kebutuhan koordinasi antara pemerintah dan petani semakin penting.

Bantuan sarana pengairan perlu dibarengi dengan pemetaan sumber air yang masih tersedia.

Dengan begitu, bantuan yang diberikan dapat diarahkan ke lahan yang benar-benar membutuhkan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Ancaman kekeringan pada awal masa tanam perlu mendapat perhatian karena fase awal pertumbuhan merupakan periode penting bagi tanaman.

Persoalannya bukan sekadar apakah petani memiliki pompa air, tetapi apakah masih tersedia sumber air yang bisa digunakan.

Karena itu, penanganan kekeringan membutuhkan kombinasi antara bantuan sarana, pemanfaatan sumber air yang tersedia, pembangunan infrastruktur penampungan air, serta koordinasi pemerintah dengan petani dan pihak lainnya.

Jika kemarau berlangsung lebih panjang, kesiapan menghadapi keterbatasan air akan menjadi semakin penting untuk menjaga produksi pertanian Kutai Timur.

FAQ

1. Mengapa petani Kutim terancam kekeringan?

Musim kemarau yang berlangsung sekitar sebulan mulai mengurangi ketersediaan air, sementara sebagian petani baru memasuki masa tanam.

2. Mengapa awal masa tanam dianggap rawan?

Tanaman membutuhkan pasokan air untuk mendukung pertumbuhan pada fase awal. Kekeringan sejak awal masa tanam dapat meningkatkan risiko gagal panen.

3. Apakah petani sudah mendapat bantuan pompa air?

DTPHP Kutim sebelumnya telah menyalurkan bantuan pompa air dari pemerintah pusat maupun daerah.

4. Apa persoalan utama selain ketersediaan pompa?

Keterbatasan sumber air menjadi persoalan utama karena pompa membutuhkan sumber air untuk dapat digunakan.

5. Apa langkah pemerintah menghadapi kekeringan?

Pemerintah daerah menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak dan mendorong pembangunan embung di sejumlah kecamatan.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post", dengan judul "Kekeringan Mengintai Petani Kutim di Awal Masa Tanam",oleh penulis Jufriadi. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Redaksi BTV
Sumber : Kaltim Post
DTPHP kekeringan kutai timur kutim pertanian