Baru Dilantik, Kadis Ketahanan Pangan Kutim Langsung Siapkan Penanganan Panen

Riafandi • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 05:21 WIB
Dyah Ratnaningrum resmi menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur setelah sebelumnya memimpin DTPHP. Tugas barunya langsung dihadapkan pada tantangan penyerapan hasil panen sekitar 3.000 ton di Kecamatan Kaubun yang diperkirakan berlangsung September mendatang. (BTV/AI)  (Jufriadi/KP)
Dyah Ratnaningrum resmi menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur setelah sebelumnya memimpin DTPHP. Tugas barunya langsung dihadapkan pada tantangan penyerapan hasil panen sekitar 3.000 ton di Kecamatan Kaubun yang diperkirakan berlangsung September mendatang. (Jufriadi/KP)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Dyah Ratnaningrum resmi menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur setelah sebelumnya memimpin Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan. Tugas barunya langsung dihadapkan pada persoalan penyerapan hasil panen sekitar 3.000 ton di Kaubun yang diperkirakan berlangsung September mendatang.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Perpindahan Dyah Ratnaningrum dari Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan atau DTPHP menjadi Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur atau Diskepang langsung membawa tantangan besar.

Dyah resmi dilantik bersama empat pejabat pimpinan tinggi pratama lainnya dalam rotasi jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Pelantikan berlangsung di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutai Timur. Setelah resmi menduduki jabatan barunya, Dyah langsung dihadapkan pada pekerjaan rumah yang berkaitan dengan sektor hilir pertanian.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah memastikan hasil panen sekitar 3.000 ton di Kecamatan Kaubun pada September mendatang dapat terserap pasar.

Persoalan tersebut menjadi penting karena peningkatan produksi pertanian di tingkat hulu perlu diimbangi dengan kesiapan di sektor hilir. Tanpa penanganan yang baik setelah panen, hasil produksi petani berisiko tidak terserap secara optimal.

Dari Produksi ke Penyerapan Hasil Panen

Dyah menilai pekerjaan di DTPHP dan Diskepang sebenarnya masih memiliki hubungan yang erat.

Jika DTPHP lebih banyak berkaitan dengan produksi pertanian di sektor hulu, maka Dinas Ketahanan Pangan memiliki peran dalam memastikan hasil produksi tersebut dapat ditangani dan terserap di sektor hilir.

Dyah mengatakan perpindahan jabatan tersebut tidak membuat dirinya benar-benar meninggalkan persoalan pertanian yang selama ini ditangani.

“Kalau DTPHP itu di hulunya, harus ada yang menangani di hilirnya. Di ketahanan pangan juga banyak pekerjaan rumah. Mulai Senin saya harus sudah bekerja,” katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan di posisi barunya langsung membutuhkan perhatian. Dyah tidak hanya harus beradaptasi dengan tugas sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan, tetapi juga menghadapi persoalan konkret terkait hasil produksi petani.

Salah satu yang paling dekat adalah panen raya di Kaubun yang diperkirakan menghasilkan sekitar 3.000 ton pada September mendatang.

Baca Juga: 57 ASN Kutai Barat Kuliah S1 dan S2 Lewat RPL Unmer Malang

Panen 3.000 Ton di Kaubun Jadi Perhatian

Panen raya di Kaubun menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera dipersiapkan. Produksi sekitar 3.000 ton dinilai membutuhkan kesiapan dari sisi penyerapan pasar.

Bagi petani, produksi yang tinggi tentu menjadi sesuatu yang diharapkan. Namun, produksi yang besar juga membutuhkan sistem penanganan yang memadai agar hasil panen tidak berhenti di tingkat petani.

Dyah menyoroti sejumlah hal yang perlu disiapkan menjelang panen tersebut, mulai dari penyerapan pasar hingga penanganan gabah dan kualitas beras.

“Ini juga harus diatasi. Bagaimana caranya agar terserap pasar, bagaimana menangani gabah kering panennya, kemudian kita juga harus menangani dari sisi kualitas berasnya,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya mencari pembeli hasil panen. Penanganan setelah panen juga menjadi bagian penting untuk memastikan hasil produksi tetap memiliki kualitas yang baik.

Dengan produksi mencapai sekitar 3.000 ton, kesiapan sektor hilir menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan produksi di tingkat petani.

Hilir Pertanian Harus Ikut Bergerak

Produksi pertanian di tingkat hulu tidak akan berjalan maksimal apabila tidak didukung dengan sistem hilir yang siap.

Hal inilah yang menjadi perhatian Dyah setelah berpindah dari DTPHP ke Diskepang. Menurutnya, produksi yang meningkat perlu diikuti kemampuan untuk menangani hasil panen.

Penanganan hilir dapat berkaitan dengan bagaimana gabah hasil panen ditangani, bagaimana kualitas beras dijaga, hingga bagaimana hasil produksi dapat terserap pasar.

Jika persoalan tersebut tidak dipersiapkan sejak awal, hasil produksi yang besar justru dapat menimbulkan persoalan baru bagi petani.

Karena itu, Dyah menegaskan dirinya akan berupaya membantu sektor hilir agar kegiatan produksi di hulu tetap berjalan.

“Saya akan berjuang maksimal membantu di hilir agar hulunya tetap bergerak dengan baik,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran mengenai arah pekerjaan yang akan dihadapi Dyah di posisi barunya.

Pascapanen Jadi Bagian Penting

Menurut Dyah, penanganan pascapanen merupakan bagian penting untuk menjaga kesinambungan produksi pertanian.

Peningkatan produksi tidak cukup hanya dengan mendorong petani menanam dan menghasilkan panen. Hasil produksi tersebut juga perlu mendapatkan penanganan setelah dipanen.

Dalam kasus panen raya di Kaubun, pemerintah perlu memastikan hasil produksi dapat ditangani dengan baik sehingga tidak menumpuk di tingkat petani.

Selain penyerapan pasar, kualitas hasil produksi juga menjadi perhatian. Gabah kering panen dan kualitas beras disebut sebagai bagian yang perlu ditangani dalam menghadapi panen mendatang.

Hal ini membuat sektor hilir menjadi bagian yang sama pentingnya dengan sektor hulu.

Pengalaman di DTPHP Jadi Bekal

Dyah mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan jabatan barunya.

Pengalaman ketika memimpin DTPHP menjadi bekal karena dirinya sebelumnya sudah berhadapan dengan persoalan produksi pertanian. Dengan pengalaman tersebut, Dyah kini dapat melihat persoalan dari sisi berbeda, khususnya bagaimana hasil produksi yang dihasilkan petani dapat ditangani di sektor hilir.

Menurutnya, persoalan hulu dan hilir tidak dapat dipisahkan.

“Kalau hilirnya tidak dikerjakan, hulunya akan berhenti. Itu yang menjadi kekhawatiran saya ketika menjadi kepala DTPHP,” tuturnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan kekhawatiran terhadap kesinambungan produksi petani.

Ketika petani terus didorong untuk meningkatkan produksi, tetapi hasil panennya tidak memiliki kepastian penyerapan, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan bagi keberlanjutan produksi pertanian.

Baca Juga: Karhutla di Kutai Timur Kian Parah Polisi Usut Keterlibatan Perusahaan dan Warga Pemilik Lahan

Tanggung Jawab kepada Petani

Persoalan penyerapan hasil panen juga dipandang Dyah sebagai bagian dari tanggung jawab pemerintah kepada petani.

Petani sebelumnya telah didorong untuk menanam dan meningkatkan produksi. Karena itu, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk membantu memastikan hasil dari usaha tersebut dapat ditangani dengan baik.

Dyah menyebut penyerapan hasil panen sebagai tanggung jawab moralnya kepada para petani yang sebelumnya telah diarahkan untuk melakukan penanaman.

“Saya akan berusaha maksimal. Mudah-mudahan saya bisa mengatasi ini karena ini juga menjadi tanggung jawab moral, tanggung jawab saya kepada petani yang kemarin disuruh tanam,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa persoalan panen Kaubun bukan sekadar agenda rutin pertanian. Ada tanggung jawab pemerintah untuk memastikan produksi yang telah diupayakan petani mendapatkan penanganan di sektor hilir.

Tantangan Pertama di Jabatan Baru

Dengan pelantikan pada Jumat, 28 Agustus 2026, Dyah langsung memiliki agenda yang cukup dekat. Panen sekitar 3.000 ton di Kaubun diperkirakan berlangsung pada September.

Waktu persiapan yang relatif dekat membuat persoalan penyerapan pasar menjadi salah satu pekerjaan awal yang harus diperhatikan.

Selain memastikan hasil produksi dapat terserap, pemerintah juga perlu memperhatikan penanganan gabah kering panen dan kualitas beras sebagaimana disampaikan Dyah.

Dengan demikian, keberhasilan penanganan panen tidak hanya diukur dari besarnya produksi, tetapi juga dari kemampuan sektor hilir menangani hasil tersebut.

Poin Penting

Insight Redaksi

Pergantian posisi Dyah Ratnaningrum dari DTPHP ke Dinas Ketahanan Pangan membuat persoalan hulu dan hilir pertanian kini berada dalam satu rangkaian pekerjaan yang saling berkaitan.

Produksi yang tinggi tentu menjadi kabar baik bagi sektor pertanian. Namun, keberhasilan petani tidak berhenti ketika hasil panen berhasil diproduksi. Ada pekerjaan lanjutan untuk memastikan hasil tersebut dapat ditangani, dijaga kualitasnya, dan terserap pasar.

Panen sekitar 3.000 ton di Kaubun pada September menjadi ujian awal bagi Dyah di jabatan barunya. Waktu persiapannya tidak panjang sehingga koordinasi dan kesiapan sektor hilir menjadi penting.

Bagi petani, harapannya tentu sederhana: hasil tanam yang sudah diperjuangkan dapat dipanen dan memiliki jalur penyerapan yang jelas.

FAQ

1. Siapa Dyah Ratnaningrum?

Dyah Ratnaningrum merupakan pejabat yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kutai Timur dan kini dipercaya menjadi Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur.

2. Kapan Dyah dilantik sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutim?

Dyah resmi dilantik pada Jumat, 28 Agustus 2026 bersama empat pejabat pimpinan tinggi pratama lainnya.

3. Apa pekerjaan rumah utama Dyah di jabatan barunya?

Salah satu pekerjaan rumah yang langsung dihadapi adalah memastikan hasil panen sekitar 3.000 ton di Kaubun pada September mendatang dapat terserap pasar.

4. Mengapa penyerapan hasil panen menjadi perhatian?

Produksi yang besar perlu diikuti kesiapan sektor hilir agar hasil panen tidak menumpuk di tingkat petani dan tetap dapat ditangani dengan baik.

5. Apa saja yang perlu disiapkan untuk panen di Kaubun?

Selain penyerapan pasar, perhatian juga diberikan pada penanganan gabah kering panen serta kualitas beras.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post", dengan judul "Baru Duduki Kursi Kadis Ketahanan Pangan Kutim, Dyah Langsung Dihadapkan PR Besar",oleh penulis Jufriadi. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Kaltim Post
Dyah Ratnaningrum Kaubun kutai timur kutim panen raya