Dyah Ratnaningrum Hadapi PR Serapan 3.000 Ton Panen Kaubun Kutim September Mendatang

Ahla Najwa • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 16:14 WIB

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur Dyah Ratnaningrum usai dilantik dalam rotasi pejabat Pemkab Kutim. (DOK. JUFRIADI/KP)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur Dyah Ratnaningrum usai dilantik dalam rotasi pejabat Pemkab Kutim. (DOK. JUFRIADI/KP)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Perpindahan Dyah Ratnaningrum ke Dinas Ketahanan Pangan Kutim menghadirkan tantangan baru: memastikan panen Kaubun terserap, tertangani, dan bernilai bagi petani.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Dyah Ratnaningrum resmi memimpin Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur setelah rotasi pejabat, dengan agenda awal memastikan panen Kaubun sekitar 3.000 ton terserap pasar September mendatang.

Persoalannya bukan sekadar produksi, tetapi bagaimana gabah ditangani sampai menjadi beras bermutu dan memiliki jalur penyerapan yang jelas. Simak tantangannya.

Dari Hulu Produksi, Kini Masuk ke Persoalan Hilir

Perubahan jabatan membawa Dyah dari urusan produksi pertanian menuju pengelolaan pangan setelah panen.

Sebelumnya, ia memimpin Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kutai Timur. Kini fokusnya bergeser pada ketahanan pangan dan penanganan hasil produksi.

Pelantikan lima pejabat pimpinan tinggi pratama berlangsung di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutai Timur, Jumat, 28 Agustus 2026.

Perpindahan tersebut membuat pengalaman Dyah di sektor pertanian menjadi bekal langsung menghadapi persoalan hilir yang sedang menunggu.

Mengapa Panen Kaubun Menjadi Ujian Awal?

Sekitar 3.000 ton hasil panen di Kaubun diproyeksikan memasuki masa panen pada September mendatang.

Volume sebesar itu membutuhkan kesiapan penanganan agar gabah petani memiliki saluran penyerapan dan pengolahan yang jelas.

Kaubun sendiri merupakan salah satu kawasan agrikultur penting Kutai Timur, dengan sentra padi dan potensi komoditas pangan lainnya.

Tantangan berikutnya berada pada kualitas gabah kering panen, proses pascapanen, hingga mutu beras yang akan masuk pasar.

Baca Juga: Motor Kurir Hilang Saat Istirahat di Masjid Sangatta, Polisi Amankan Satu Tersangka

Serapan Gabah Jadi Titik Krusial

Pemerintah pusat pada 2026 menugaskan Perum BULOG menyerap gabah dan beras produksi dalam negeri sepanjang tahun.

BULOG menyebut target pengadaan nasional mencapai empat juta ton setara beras, dengan HPP GKP sebesar Rp6.500 per kilogram.

Kebijakan tersebut membuat kesiapan daerah menjadi penting ketika produksi lokal memasuki masa panen dan membutuhkan pembeli.

Dyah menegaskan arah kerjanya setelah dilantik cukup jelas. “Saya akan berjuang maksimal membantu di hilir agar hulunya tetap bergerak dengan baik,” katanya.

Kenapa Pascapanen Menentukan Nilai Produksi?

Produksi tinggi belum otomatis memberi manfaat maksimal apabila gabah menghadapi kendala penyimpanan, pengeringan, penggilingan, atau pemasaran.

BULOG juga menekankan pentingnya keterlibatan mitra penggilingan, pemerintah daerah, petani, dan kelompok tani dalam proses penyerapan.

Bagi Kutai Timur, persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena produksi lokal masih berhadapan dengan kebutuhan beras masyarakat yang besar.

Pada April 2026, kebutuhan beras Kutim diperkirakan sekitar 43 ribu ton per tahun, sementara produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Tantangan Dyah Bukan Hanya Soal Menyerap Panen

Penanganan panen Kaubun akan menguji koordinasi antara petani, perangkat daerah, penggilingan, hingga calon pembeli hasil produksi.

Persoalan kualitas juga harus berjalan bersama serapan, sebab gabah yang terserap perlu ditangani agar menghasilkan beras sesuai kebutuhan pasar.

Di tingkat nasional, penyerapan BULOG sepanjang 2026 diarahkan memperkuat Cadangan Beras Pemerintah sekaligus menjaga harga yang diterima petani.

Karena itu, keberhasilan agenda baru Dyah dapat dilihat dari kemampuan menghubungkan produksi petani dengan sistem pangan yang bekerja sampai hilir.

Baca Juga: Perempuan Ditemukan Meninggal di Kos Sangatta, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Poin Penting

Insight Redaksi

Perpindahan Dyah memperlihatkan satu hal penting: produksi pertanian belum selesai ketika panen tiba. Di Kutim, tantangan berikutnya justru memastikan hasil petani menemukan pembeli, pengolahan, dan pasar. Kada cukup hanya mengejar tonase. Pemerintah mesti memastikan rantai hilir ikut bergerak, supaya kerja petani punya nilai ekonomi yang terasa.

Langkah awal yang paling realistis ialah mempertemukan petani, penggilingan, Bulog, dan pemerintah sebelum panen berlangsung.

Bagikan info ini ke bubuhan ikam, supaya makin banyak yang paham pentingnya urusan pangan dari sawah sampai pasar.

Pantau terus kabar pertanian, pangan, dan kebijakan daerah yang punya dampak langsung bagi kehidupan warga hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Siapa Dyah Ratnaningrum?

Dyah Ratnaningrum merupakan pejabat yang sebelumnya memimpin Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kutai Timur.

2. Apa jabatan baru Dyah?

Dyah kini menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur setelah rotasi pejabat pada 28 Agustus 2026.

3. Apa persoalan awal yang dihadapi Dyah?

Salah satu fokus awalnya ialah memastikan hasil panen sekitar 3.000 ton di Kaubun terserap dan tertangani.

4. Mengapa pascapanen menjadi perhatian?

Pascapanen menentukan bagaimana gabah dikeringkan, diolah, disimpan, kemudian menghasilkan beras dengan mutu yang sesuai kebutuhan pasar.

5. Apa kaitan persoalan Kaubun dengan ketahanan pangan?

Penyerapan produksi lokal membantu menjaga pendapatan petani sekaligus memperkuat ketersediaan pangan daerah.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Baru Duduki Kursi Kadis Ketahanan Pangan Kutim, Dyah Langsung Dihadapkan PR Besar”, oleh Jufriadi. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Dyah Ratnaningrum Kaubun Ketahanan Pangan Kutim Serapan Gabah