Durasi Baca: 6 Menit
Ikhtisar: Cengkarok berbahan beras ketan, gula merah, dan santan, masih dibuat di Mempawah meski jarang terlihat di Pontianak.
Balikpapan TV - Hai Ces! Cengkarok merupakan jajanan tradisional berbahan beras ketan yang dikenal di Kalimantan Barat, dengan jejak kuliner yang juga pernah dicatat di Pontianak dan masih diproduksi di Mempawah.
Nama Cengkarok mungkin tidak sepopuler bingke atau sotong pangkong. Justru karena itu, jajanan ini menarik untuk dikenali lebih jauh, terutama ketika keberadaannya di Pontianak disebut mulai sulit ditemui dalam keseharian.
Baca Juga: Cencalok Khas Kalimantan Barat, Fermentasi Udang Rebon yang Bikin Rasa Gurih dan Asam Makin Kuat
Cengkarok Itu Sebenarnya Seperti Apa?
Cengkarok memiliki karakter legit dengan bahan utama beras ketan, gula merah, dan santan. Penelitian Universitas Tanjungpura yang terbit pada 2025 mencatat Cengkarok sebagai salah satu jajanan tradisional Kabupaten Mempawah dan meneliti pembuatannya melalui wawancara dengan UMKM setempat.
Bahan-bahannya sederhana, tetapi prosesnya tidak sesederhana mencampurkan ketan dan gula.
Dalam penelitian tersebut, beras ketan direndam semalaman, kemudian ditiriskan dan dikeringkan. Setelah itu, ketan dihaluskan tetapi tidak sampai terlalu lembut sehingga teksturnya masih terasa agak kasar.
Gula merah dan santan dimasak hingga larut. Campuran tersebut kemudian dimasak bersama beras ketan menggunakan api sedang sampai adonan mengental. Setelah matang, adonan segera dibentuk ketika masih panas, lalu dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan.
Di sinilah Cengkarok terlihat mirip dengan jajanan berbasis ketan lain yang memiliki tekstur legit. Namun, kemiripan tekstur tidak otomatis membuatnya sama dengan dodol.
Bukan Sekadar Dodol Ketan
Penyebutan Cengkarok sebagai makanan yang mirip dodol cukup sering muncul dalam pembahasan kuliner Kalimantan Barat. Sumber lokal Pontianak menyebut bahan dan prosesnya memiliki kemiripan dengan dodol.
Tetapi penelitian terhadap Cengkarok Mempawah memberikan gambaran yang lebih spesifik.
Teksturnya tetap mempertahankan sedikit karakter kasar dari beras ketan yang tidak digiling terlalu halus. Proses pemasakan kemudian membuat campuran tersebut berubah menjadi adonan yang kental dan legit.
Jadi, kalau Cengkarok disebut “mirip dodol”, kemiripan itu lebih tepat dipahami dari karakter adonan dan cara pengolahannya, bukan berarti Cengkarok identik dengan dodol.
Jejak Cengkarok Ternyata Lebih Kuat di Mempawah
Bagian ini penting karena nama Pontianak cukup sering muncul ketika Cengkarok dibicarakan.
Sebuah artikel lokal Pontianak pada 2024 memasukkan Cengkarok dalam daftar kuliner tradisional Pontianak yang sulit ditemukan sehari-hari. Artikel tersebut juga menyebut Cengkarok sebagai jajanan berbahan ketan hitam dan mencatat keberadaannya di sejumlah platform online.
Namun, ketika melihat penelitian yang lebih khusus mengenai jajanan tradisional Kalimantan Barat, jejak Cengkarok justru terdokumentasi jelas di Kabupaten Mempawah.
Penelitian Universitas Tanjungpura menemukan Cengkarok bersama deram dan kacamate sebagai tiga jajanan tradisional yang dipilih untuk diteliti. Para peneliti bahkan menyurvei UMKM yang masih memproduksi dan menjual ketiga jajanan tersebut secara periodik.
Artinya, cerita Cengkarok tidak berhenti pada istilah “jajanan langka”.
Di satu sisi, Cengkarok memang disebut sulit ditemukan dalam keseharian di Pontianak. Di sisi lain, pembuatannya masih berlangsung di Mempawah.
Dari Dapur Tradisional hingga UMKM
Riset tersebut menemukan tiga UMKM di Kabupaten Mempawah yang memenuhi kriteria sebagai pembuat dan penjual Cengkarok secara periodik. Penelitian itu juga mencatat adanya perbedaan komposisi bahan di antara pembuat.
Satu UMKM menggunakan beras ketan, gula merah, santan, dan air. UMKM lain menggunakan beras ketan, gula merah, dan santan. Ada pula yang menggunakan tambahan gula pasir bersama gula merah dan santan. Berat Cengkarok per buah yang dicatat dalam penelitian berkisar dari 13,89 gram hingga 42,67 gram pada tiga UMKM tersebut.
Perbedaan ini menunjukkan sesuatu yang menarik.
Jajanan tradisional tidak selalu memiliki satu resep baku yang sama persis di setiap pembuat. Resep dapat berkembang mengikuti kebiasaan keluarga, bahan yang tersedia, maupun cara produksi masing-masing.
Karakter seperti inilah yang membuat makanan tradisional tidak sekadar menjadi daftar bahan. Ada pengetahuan memasak yang ikut diwariskan bersama makanannya.
Kenapa Cengkarok Terasa Jarang di Pontianak?
Ada perbedaan antara jarang terlihat di suatu kota dan sudah tidak diproduksi lagi.
Untuk Cengkarok, keduanya tidak bisa disamakan.
Sumber lokal Pontianak menyebut makanan ini sulit ditemukan dalam keseharian dan lebih mudah muncul pada momentum tertentu. Namun penelitian di Mempawah yang dilakukan melalui survei UMKM justru menyimpulkan Cengkarok masih populer dan masih diproduksi hingga kini.
Dengan kata lain, keberadaan Cengkarok belum bisa disebut menghilang.
Yang lebih terlihat adalah perubahan ruang kemunculannya.
Makanan yang dahulu dapat hadir sebagai jajanan sehari-hari bisa saja semakin jarang terlihat di pasar atau etalase kota, tetapi tetap bertahan melalui pembuat tertentu, pesanan, acara keluarga, atau pasar yang lebih spesifik.
Karena itu, istilah “sulit ditemukan” lebih aman digunakan untuk menggambarkan pengalaman menemukan Cengkarok di Pontianak, bukan untuk menyatakan bahwa makanan tersebut sudah hampir punah.
Tahun 2025 Membawa Pengakuan Baru
Cengkarok Mempawah juga memperoleh posisi baru dalam pencatatan kebudayaan.
Kabupaten Mempawah termasuk daerah di Kalimantan Barat yang memperoleh penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025. Salah satu karya budaya yang ditetapkan adalah Cengkaruk Mempawah, bersama Aek Serbat Mempawah dan Dokok-Dokok Telanjang Mempawah.
Penetapan tersebut membuat pembahasan Cengkarok menjadi lebih luas daripada sekadar soal jajanan.
Ada identitas budaya yang ikut melekat di dalamnya.
Apalagi penelitian Universitas Tanjungpura juga menempatkan makanan tradisional Mempawah dalam lingkungan budaya masyarakat Dayak, Melayu, Jawa, Tionghoa, dan Madura. Keragaman budaya tersebut ikut membentuk karakter kuliner daerah.
Baca Juga: Resep Menikmati Sensasi Cacapan Banjar yang Mengandalkan Potongan Bahan dan Kuah Segar
Cengkarok Masih Punya Ruang di Kuliner Kalbar
Menariknya, pengakuan sebagai warisan budaya datang ketika makanan tradisional justru menghadapi perubahan kebiasaan makan.
Bagi pembuat Cengkarok, keberadaan UMKM menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga makanan ini tetap diproduksi. Penelitian yang dilakukan Universitas Tanjungpura menunjukkan bahwa produksi Cengkarok masih berlangsung secara periodik di Mempawah.
Di sisi lain, keberadaan di ruang digital juga membuka kemungkinan berbeda.
Cengkarok yang sulit ditemukan secara langsung di Pontianak masih tercatat dapat diperoleh melalui kanal daring.
Ini membuat masa depan jajanan tradisional tidak selalu harus bergantung pada seberapa banyak lapak yang menjualnya setiap hari.
Selama masih ada pembuat, resep yang diteruskan, konsumen yang mengenal rasanya, dan ruang untuk memperkenalkannya kembali, makanan tradisional masih memiliki kesempatan untuk tetap hidup.
Poin Penting
- Cengkarok merupakan jajanan tradisional yang terdokumentasi kuat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
- Bahan utamanya adalah beras ketan, gula merah, dan santan, dengan variasi komposisi antar-pembuat.
- Teksturnya kental dan legit, tetapi beras ketannya tetap mempertahankan sedikit karakter kasar.
- Cengkarok pernah disebut sebagai jajanan yang sulit ditemukan dalam keseharian di Pontianak.
- Penelitian Universitas Tanjungpura menemukan UMKM yang masih memproduksi dan menjual Cengkarok secara periodik di Mempawah.
- Cengkaruk Mempawah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025.
Insight Redaksi
Cengkarok memberikan gambaran menarik tentang bagaimana sebuah makanan tradisional bisa terasa “menghilang” dari satu ruang, tetapi sebenarnya masih hidup di ruang lain.
Pontianak mungkin bukan tempat termudah untuk menemukan Cengkarok dalam keseharian. Namun jejak produksinya di Mempawah menunjukkan bahwa makanan ini belum berhenti dibuat.
Justru di situlah cerita Cengkarok menjadi menarik: bukan hanya tentang jajanan lama yang mulai jarang terlihat, tetapi tentang bagaimana sebuah resep bertahan ketika kebiasaan makan masyarakat terus berubah.
Kalau suatu saat menemukan Cengkarok di Pontianak atau Mempawah, makanan ini layak dilihat bukan hanya sebagai camilan manis. Di balik potongan kecilnya ada bahan lokal, teknik memasak, pengetahuan keluarga, dan identitas kuliner yang terus diwariskan.
Dan kalau informasi seperti ini terasa menarik, bagikan artikel ini ke teman atau keluarga yang mungkin pernah mencicipi Cengkarok tetapi sudah lama tidak menemukannya.
Masih banyak cerita kuliner Kalimantan yang namanya mungkin terdengar asing, padahal jejaknya dekat dengan kehidupan masyarakat. Balikpapan TV akan terus menemani Ces mengenali makanan-makanan seperti ini, bukan sekadar dari rasanya, tetapi juga dari cerita yang membuatnya tetap ada.
FAQ
1. Apa itu Cengkarok?
Cengkarok adalah jajanan tradisional berbahan beras ketan, gula merah, dan santan yang terdokumentasi sebagai kuliner tradisional Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
2. Apa bahan utama Cengkarok?
Bahan utamanya adalah beras ketan, gula merah, dan santan. Beberapa pembuat juga menggunakan gula pasir atau air dalam komposisinya.
3. Apakah Cengkarok sama dengan dodol?
Tidak persis. Cengkarok memiliki karakter adonan yang legit dan kental, tetapi beras ketannya tidak dihaluskan terlalu lembut sehingga teksturnya masih agak kasar.
4. Mengapa Cengkarok sulit ditemukan di Pontianak?
Sumber lokal Pontianak pada 2024 mencatat Cengkarok sebagai salah satu jajanan tradisional yang sulit ditemukan dalam keseharian. Namun kondisi tersebut tidak berarti Cengkarok sudah tidak diproduksi karena penelitian di Mempawah menemukan pembuat yang masih aktif.
5. Di mana Cengkarok masih dibuat?
Penelitian Universitas Tanjungpura mendokumentasikan produksi Cengkarok oleh UMKM di Kabupaten Mempawah.
6. Apakah Cengkarok masih dibuat sampai sekarang?
Ya. Penelitian yang dipublikasikan pada 2025 menyebut Cengkarok masih diproduksi dan dijual secara periodik oleh UMKM yang diteliti di Kabupaten Mempawah.