Es Lidah Buaya Selasih Khas Pontianak: Dari Lahan Pontianak Utara hingga Jadi Minuman Segar

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 21:21 WIB
Segarnya minuman es lidah buaya dengan biji selasih yang disajikan dingin dalam gelas. (BTV/Ai)
Segarnya minuman es lidah buaya dengan biji selasih yang disajikan dingin dalam gelas. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 Menit

Ikhtisar: Es lidah buaya selasih memperlihatkan perjalanan komoditas Pontianak Utara dari lahan gambut hingga meja makan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau mendengar kuliner Pontianak, lidah buaya mungkin bukan nama pertama yang langsung terlintas. Namun, tanaman dengan pelepah tebal dan daging bening ini punya cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar menjadi isi segelas minuman dingin.

Di Pontianak, lidah buaya telah berkembang sebagai komoditas pertanian sekaligus bahan baku berbagai produk pangan. Pemerintah Kota Pontianak menempatkan budidayanya terutama di Kecamatan Pontianak Utara, sementara pengolahannya berkembang menjadi minuman, dodol, jelly, kerupuk, teh, hingga produk pangan lainnya.

Di antara bentuk olahan itu, es lidah buaya dengan tambahan biji selasih menjadi salah satu cara paling sederhana untuk melihat perjalanan tersebut. Dari pelepah yang tumbuh di kawasan pertanian Pontianak Utara, bahan itu berakhir di gelas dengan es, rasa manis, aroma sirup, dan tekstur kenyal yang khas.

Jadi, cerita minuman ini sebenarnya bukan hanya soal bagaimana membuat es lidah buaya selasih. Ada cerita tentang lahan, petani, pengolahan, pasar, dan bagaimana satu komoditas bisa membentuk identitas kuliner sebuah kota.

Es lidah buaya selasih, apa yang membuatnya dekat dengan Pontianak?

Secara sederhana, es lidah buaya selasih merupakan minuman berbahan daging atau gel lidah buaya yang telah diolah, kemudian dipadukan dengan biji selasih, pemanis atau sirup, air, dan es.

Komposisinya bisa berubah. Salah satu resep yang beredar menggunakan lidah buaya, gula, garam, biji selasih, es, serta sirup stroberi atau cocopandan. Ada pula formulasi yang menggunakan pandan untuk memberikan aroma dan proses perebusan yang berbeda. Artinya, tidak ada dasar yang cukup untuk menyebut satu formulasi sebagai satu-satunya resep baku es lidah buaya selasih Pontianak.

Yang membuatnya menarik justru bukan sekadar resep tersebut.

Lidah buaya memang mempunyai hubungan yang kuat dengan identitas pertanian Pontianak. Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak menyebut pelepah lidah buaya pada awalnya diolah menjadi minuman segar yang dijual di sekitar Jalan Budi Utomo. Seiring waktu, produk berbahan lidah buaya berkembang menjadi berbagai jenis olahan dan kemudian ditempatkan sebagai salah satu ikon Kota Pontianak.

Dengan begitu, istilah “khas Pontianak” pada es lidah buaya lebih aman dipahami dalam konteks ekosistem kulinernya: bahan bakunya berkaitan dengan komoditas lokal, pengolahannya berkembang di kota ini, dan produk lidah buaya menjadi bagian dari identitas pangan Pontianak.

Cerita segelas es ternyata bermula dari Pontianak Utara

Kalau ingin memahami mengapa lidah buaya begitu melekat dengan Pontianak, perjalanan ceritanya perlu ditarik ke bagian utara kota.

Pemerintah Kota Pontianak mencatat Kecamatan Pontianak Utara sebagai lokasi sentra pengembangan lidah buaya di Kalimantan Barat. Kawasan tersebut menjadi bagian penting dari keberadaan komoditas ini di tengah kota yang terus berkembang.

Ada alasan lingkungan yang ikut mendukungnya.

Dinas terkait Kota Pontianak menjelaskan bahwa kondisi tanah dan iklim kota mendukung pertumbuhan lidah buaya. Karakter lahan gambut juga menjadi bagian dari konteks budidaya yang selama ini dikembangkan di Pontianak. Varietas yang dibudidayakan disebut Aloe vera chinensis, yang juga disebut Aloe chinensis dalam sejumlah materi pemerintah daerah.

Karakter yang sering ditonjolkan adalah pelepahnya yang besar dan berat. Pemerintah daerah mencatat pelepah lidah buaya Pontianak dapat mencapai sekitar 0,8 hingga 1,2 kilogram per pelepah.

Angka tersebut membantu menjelaskan mengapa tanaman ini menarik untuk diolah. Bahan baku yang berukuran besar menyediakan lebih banyak bagian yang bisa dimanfaatkan, sementara karakter gelnya memungkinkan lidah buaya masuk ke berbagai bentuk produk pangan.

Jadi, ketika gel lidah buaya terlihat memenuhi dasar gelas, sebenarnya ada bagian dari cerita pertanian kota yang ikut masuk ke sana.

Baca Juga: Unik dan Gurih! Mengenal Abon Kepiting Balikpapan dari Hasil Laut hingga Produk Bernilai Tambah

Dari pelepah ke gelas, kenapa lidah buaya tidak langsung dimakan?

Bagian yang digunakan untuk minuman bukan seluruh pelepah. Kulit perlu dibuang dan bagian gel di dalamnya harus dibersihkan sebelum diolah.

Salah satu resep es lidah buaya selasih yang terdokumentasi menggunakan tahapan mengupas pelepah, memotong daging lidah buaya, kemudian mencucinya dengan air mengalir sampai lendirnya berkurang. Setelah itu, daging lidah buaya direbus bersama air, gula dan sedikit garam sebelum ditiriskan.

Formulasi lain menggunakan perendaman dengan garam dan kapur sirih sebelum proses pencucian dan perebusan. Setelah itu lidah buaya direbus, didinginkan, kemudian dipadukan dengan selasih dan es.

Perbedaan tersebut menunjukkan satu hal penting: pengolahan lidah buaya untuk minuman bukan sekadar memotong lalu memasukkannya ke gelas.

Gel harus dipersiapkan agar teksturnya sesuai dengan produk yang diinginkan. Tahap pencucian dan perebusan juga menjadi bagian dari teknik yang menentukan hasil akhirnya.

Salah satu formulasi es lidah buaya selasih

Untuk versi sederhana, bahan yang dapat digunakan antara lain:

Cara pengolahannya dapat dimulai dengan mengupas lidah buaya dan mengambil bagian dagingnya. Potong sesuai ukuran yang diinginkan, kemudian cuci hingga lendir berkurang.

Setelah itu, rebus lidah buaya sesuai formulasi yang digunakan. Pada resep tertentu, gula dan sedikit garam dimasukkan saat perebusan. Setelah matang, tiriskan dan dinginkan.

Biji selasih direndam sampai mengembang. Saat penyajian, masukkan lidah buaya, selasih dan es ke dalam gelas, kemudian tambahkan sirup dan air sesuai tingkat kemanisan yang diinginkan.

Resep ini sebaiknya dipandang sebagai salah satu cara pengolahan, bukan standar tunggal yang mewakili seluruh penjual atau pengolah di Pontianak.

Baca Juga: Tudai, Sate Kerang Khas Bulungan dengan Ragam Olahan yang Menggugah Selera

Kenapa selasih cocok menemani lidah buaya?

Daya tarik minuman ini justru ada pada permainan tekstur.

Lidah buaya yang telah diolah memberikan sensasi kenyal dan licin. Biji selasih menawarkan tekstur kecil yang berbeda ketika dikunyah. Es memberikan sensasi dingin, sedangkan sirup membawa rasa manis sekaligus aroma.

Pada beberapa resep, sirup cocopandan atau stroberi digunakan sebagai pemberi rasa. Ada pula formulasi yang menggunakan pandan dalam proses pengolahan sehingga aroma tidak hanya berasal dari sirup.

Pilihan tersebut membuat satu bahan utama dapat menghasilkan karakter minuman yang berbeda.

Jika gula digunakan ketika merebus lidah buaya, rasa manis bisa lebih menyatu dengan bahan. Jika rasa manis terutama berasal dari sirup saat penyajian, profil minuman akan lebih ditentukan oleh jenis dan jumlah sirup yang digunakan.

Di sinilah es lidah buaya selasih menjadi menarik sebagai produk kuliner: bahan utamanya sederhana, tetapi teknik pengolahan dan komposisinya bisa mengubah pengalaman saat diminum.

Baca Juga: Es Limau Kuit Banjar: Dari Pelengkap Soto hingga Minuman Segar Khas Kalimantan Selatan

Lidah buaya Pontianak tidak berhenti sebagai minuman

Cerita komoditas ini menjadi lebih besar ketika lidah buaya tidak lagi dilihat hanya sebagai bahan minuman.

DPPP Kota Pontianak mencatat perkembangan produk olahan lidah buaya mulai dari minuman, dodol, jelly hingga kerupuk. Dinas Pariwisata Kota Pontianak juga menampilkan beragam olahan seperti dodol, kerupuk, jelly, minuman dan teh.

Materi pemerintah daerah lainnya mencatat ragam yang lebih luas, termasuk cokelat, jus, kopi dan penggunaan lidah buaya sebagai bahan isian kue.

Perubahan bentuk produk ini penting karena nilai sebuah komoditas tidak berhenti pada hasil panen.

Pelepah yang dijual sebagai bahan mentah memiliki satu bentuk nilai. Ketika masuk ke proses pengolahan, kemasan, pemasaran dan penjualan sebagai makanan atau minuman, rantai ekonominya menjadi lebih panjang.

Itulah alasan pengembangan lidah buaya di Pontianak tidak hanya berkaitan dengan pertanian. Ia juga bersentuhan dengan UMKM, industri pengolahan, kuliner, oleh-oleh, restoran dan pasar konsumen.

DPPP Kota Pontianak bahkan mencatat sejumlah pengolah lidah buaya dengan produk berupa minuman, jelly, teh, dodol dan kerupuk.

Mengapa budidayanya kembali mendapat perhatian?

Perjalanan lidah buaya Pontianak tidak selalu bergerak naik.

Pada 2024, Pemkot Pontianak menyebut produksi lidah buaya mengalami penurunan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Produksi sempat mencapai sekitar 19 ribu ton pada 2019, kemudian turun setelah pandemi karena daya beli ikut terdampak. Pemerintah saat itu mendorong penguatan dari sisi hulu hingga hilir.

Pada Oktober 2024, Pemkot Pontianak kembali mendorong penanaman lidah buaya. Dinas terkait memberikan bantuan sarana pertanian kepada 10 kelompok tani di Kecamatan Pontianak Utara, sementara sekitar 20 kelompok tani disebut menjadi fokus pengembangan. Pemkot juga mengimbau hotel, rumah makan dan restoran menyediakan olahan lidah buaya dalam menu.

Dua tahun kemudian, perhatian terhadap komoditas tersebut kembali terlihat.

Pada 28 Juni 2026, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono meninjau sekaligus melakukan panen lidah buaya di kawasan pertanian Pontianak Utara. Dalam kegiatan tersebut, penguatan produksi hingga hilirisasi serta perluasan pasar kembali didorong.

Pesannya cukup jelas: mempertahankan lidah buaya sebagai identitas kuliner membutuhkan lebih dari sekadar mempertahankan resep minumannya.

Bahan bakunya juga harus tetap tersedia.

Baca Juga: Tergrila Grilla Samarinda, Pesta Bakaran Nusantara Sepuasnya Rp149.999 NET Tiap Akhir Bulan

Ketika lahan kota semakin terbatas, kebun lidah buaya ikut punya cerita

Ada persoalan yang membuat cerita Pontianak Utara menjadi semakin penting.

Kota Pontianak terus berkembang, sementara lahan pertanian di wilayah perkotaan tidak bertambah. Dalam kunjungan panen Juni 2026, Pemkot Pontianak menegaskan bahwa lahan pertanian produktif di kawasan utara perlu dijaga karena sebagian wilayah kota telah berkembang menjadi kawasan terbangun.

Kondisi itu membuat keberadaan sentra lidah buaya bukan hanya soal tanaman.

Ia juga berkaitan dengan bagaimana sebuah kota mempertahankan ruang produksi pangan di tengah perubahan penggunaan lahan.

Bagi konsumen, persoalan tersebut mungkin tidak terlihat ketika sebuah gelas es lidah buaya datang ke meja. Yang tampak hanya potongan gel bening, selasih, sirup dan es.

Namun, dari sisi rantai pangan, gelas itu bergantung pada keberadaan bahan baku, petani, lahan, pengolah dan pasar.

Karena itu, keberlanjutan kuliner berbasis lidah buaya pada akhirnya juga bergantung pada keberlanjutan komoditasnya.

Baca Juga: Taste of Singapore di Samarinda, 4 Menu dengan Cita Rasa Singapura yang Berbeda

Apakah Es Lidah Buaya Selasih punya satu resep baku?

Tidak ada bukti yang cukup dari sumber yang ditelusuri untuk menyatakan adanya satu resep baku yang wajib digunakan seluruh pengolah di Pontianak.

Justru resep yang terdokumentasi menunjukkan variasi. Ada versi yang menggunakan pepaya, selasih dan sirup stroberi atau cocopandan. Ada pula versi yang menggunakan pandan, kapur sirih dan jeruk nipis dalam proses pengolahannya.

Variasi semacam ini wajar dalam makanan dan minuman yang berkembang di tingkat rumah tangga maupun usaha kuliner.

Yang lebih penting adalah membedakan antara resep tertentu dan identitas kuliner.

Resep bisa berubah. Takaran bisa berbeda. Sirup bisa berganti. Cara mengolah gel juga dapat memiliki variasi.

Sementara hubungan lidah buaya dengan Pontianak memiliki fondasi yang lebih luas: budidaya di Pontianak Utara, pengembangan produk olahan, keterlibatan petani dan UMKM, serta perhatian pemerintah terhadap keberlanjutan komoditas tersebut.

Poin Penting

Insight Redaksi

Es lidah buaya selasih menjadi menarik bukan semata karena rasanya, tetapi karena memperlihatkan bagaimana sebuah komoditas dapat membangun identitas kuliner. Dari lahan pertanian Pontianak Utara, lidah buaya masuk ke dapur, UMKM, restoran hingga segelas minuman. Ketika budidayanya kembali diperkuat, yang dipertahankan bukan hanya tanaman, melainkan juga rantai nilai pangan dan cerita lokal yang menyertainya.

Kalau suatu hari menikmati es lidah buaya selasih di Pontianak, menarik juga melihatnya bukan hanya sebagai pelepas dahaga. Minuman sederhana itu punya hubungan dengan petani, lahan pertanian, pengolah dan pasar yang membuat lidah buaya tetap hadir sebagai bagian dari kehidupan kota.

Membagikan cerita kuliner seperti ini juga membantu mengenalkan bahwa makanan dan minuman daerah tidak selalu berdiri sendiri. Di belakangnya bisa ada komoditas, pekerjaan, ruang hidup, sejarah pengolahan, hingga upaya mempertahankan identitas kota.

Dan mungkin, dari satu gelas es lidah buaya selasih, kita jadi tahu bahwa cerita kuliner Pontianak sebenarnya bermula jauh sebelum es dimasukkan ke gelas.

Tetap ikuti BalikpapanTV.id, teman update setia, bukan sekadar berita biasa.

FAQ

1. Mengapa lidah buaya menjadi khas Pontianak?

Lidah buaya memiliki hubungan kuat dengan pertanian dan pengolahan pangan di Kota Pontianak. Pemerintah daerah menyebutnya sebagai tanaman unggulan dan mengembangkan sentranya terutama di Kecamatan Pontianak Utara.

2. Di mana sentra lidah buaya Pontianak?

Sentra pengembangan lidah buaya berada di Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

3. Apa jenis lidah buaya yang dibudidayakan di Pontianak?

Pemerintah daerah menyebut varietas yang dibudidayakan adalah Aloe vera chinensis, yang juga disebut Aloe chinensis dalam sejumlah materi pemerintah. Pelepahnya dikenal berukuran besar dan berat.

4. Bagaimana cara mengolah lidah buaya agar tidak berlendir?

Lidah buaya perlu dikupas, bagian gelnya dipotong, kemudian dicuci sampai lendir berkurang. Beberapa formulasi juga menggunakan perendaman dengan garam atau kapur sirih sebelum direbus. Teknik tersebut dapat berbeda sesuai resep yang digunakan.

5. Apa saja produk olahan lidah buaya selain es?

Di Pontianak, lidah buaya telah dikembangkan menjadi antara lain minuman, dodol, jelly, kerupuk dan teh. Sumber pemerintah daerah juga mencatat produk lain seperti cokelat, jus, kopi dan isian kue.

6. Apakah Es Lidah Buaya Selasih punya resep baku?

Belum ada dasar yang cukup untuk menyebut satu resep sebagai resep baku tunggal. Resep yang terdokumentasi menunjukkan variasi bahan, teknik pengolahan, jenis sirup dan komposisi penyajian.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Kuliner Pontianak Es Lidah Buaya Lidah Buaya Pontianak Pontianak Utara