Durasi Baca: 8 Menit
Ikhtisar: Iwak Rabuk menjadi olahan ikan air tawar yang menghubungkan kehidupan nelayan, perairan, kuliner, dan wisata Desa Pela.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau berkunjung ke Desa Wisata Pela di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, ikan tidak hanya ditemui sebagai hasil tangkapan nelayan.
Ikan juga hadir dalam bentuk oleh-oleh.
Salah satunya Iwak Rabuk, olahan yang oleh JADesta Kementerian Pariwisata tercatat sebagai produk wisata Desa Wisata Pela. Bahan bakunya disebut berasal dari ikan air tawar seperti haruan, patin, nila, dan baung yang hidup di perairan Sungai Pela dan Danau Semayang. Produk tersebut tercatat dengan harga mulai Rp40.000.
Di titik inilah Iwak Rabuk menjadi menarik. Ia bukan sekadar makanan berbahan ikan, tetapi bagian kecil dari cerita yang lebih besar tentang Desa Pela: desa yang kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan sungai, danau, aktivitas nelayan, serta wisata berbasis perairan.
Apa Itu Iwak Rabuk yang Dijual sebagai Produk Wisata Desa Pela?
Secara sederhana, Iwak Rabuk dikenal sebagai olahan ikan yang bentuk akhirnya menyerupai abon. Di Desa Wisata Pela, produk ini secara resmi tercatat sebagai Iwak Rabuk (abon ikan) dan menjadi salah satu suvenir kuliner yang ditawarkan kepada wisatawan.
JADesta menyebut bahan yang digunakan berasal dari ikan air tawar haruan, patin, nila, dan baung yang hidup di Sungai Pela dan Danau Semayang. Ketersediaan ikan dari lingkungan perairan tersebut menjadi bagian penting dari keberadaan produk ini.
Menariknya, Iwak Rabuk bukan satu-satunya produk olahan ikan yang tercatat di Desa Wisata Pela. Ada pula Iwak Karing atau ikan asin, kerupuk ikan, serta Iwak Bapais atau ikan pepes.
Artinya, ikan di Pela tidak berhenti pada aktivitas menangkap. Hasil perairan juga dapat diolah menjadi produk dengan bentuk konsumsi yang berbeda.
Bagi wisatawan, perubahan dari ikan segar menjadi produk olahan membuat hasil perairan lokal dapat dibawa pulang sebagai bagian dari pengalaman berkunjung.
Mengapa Ikan Air Tawar Begitu Dekat dengan Kehidupan Masyarakat Pela?
Untuk memahami Iwak Rabuk, kita perlu melihat tempat makanan ini tumbuh.
Desa Pela berada di tepi anak Sungai Mahakam dan berada di dekat Danau Semayang. Profil resmi JADesta menyebut hampir 95 persen masyarakat Desa Pela berprofesi sebagai nelayan. Aktivitas penangkapan ikan masyarakat juga disebut sangat bergantung pada keberadaan Sungai Pela dan Danau Semayang.
Dengan kondisi tersebut, ikan bukan sekadar bahan pangan yang datang dari pasar.
Ikan berkaitan langsung dengan ruang hidup dan mata pencaharian masyarakat.
Hubungan itu juga tercermin dalam konsep Desa Wisata Pela. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menetapkan Pela sebagai desa wisata berbasis sungai dan danau, dengan ekosistem pesut Mahakam sebagai salah satu bagian penting kawasan tersebut.
Karena itu, ketika wisatawan menemukan Iwak Rabuk di Pela, produk tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari rantai yang lebih panjang: perairan menyediakan sumber daya, nelayan menangkap ikan, masyarakat mengolahnya, lalu produk tersebut diperkenalkan kembali kepada wisatawan.
Baca Juga: Dari Meja Makan ke Festival, Panggang Kaluk Menjadi Ruang Belajar Kuliner Banjar
Haruan, Patin, Nila hingga Baung: Apa yang Membentuk Karakter Iwak Rabuk?
JADesta mencatat empat jenis ikan air tawar yang dapat menjadi bahan Iwak Rabuk Desa Pela, yakni haruan, patin, nila, dan baung.
Pilihan tersebut membuat karakter bahan baku tidak harus selalu sama.
Haruan atau ikan gabus, misalnya, dikenal memiliki daging yang dapat disuwir dan diolah menjadi abon. Dalam berbagai resep iwak rabuk di Kalimantan, daging ikan umumnya dipisahkan dari tulang, kemudian dimasak bersama bumbu hingga menghasilkan tekstur yang lebih kering atau berserat. Namun, resep yang ditemukan di luar Pela tidak dapat otomatis disebut sebagai resep autentik Desa Pela.
Hal yang justru lebih penting dari daftar ikan tersebut adalah konteks ketersediaannya.
Ketika suatu produk kuliner menggunakan bahan yang berasal dari lingkungan tempat masyarakat tinggal dan bekerja, bahan tersebut ikut membawa cerita geografis ke meja makan. Dalam kasus Pela, sungai dan danau menjadi bagian dari cerita tersebut.
Karena itu, belum tepat pula menetapkan satu jenis ikan sebagai bahan yang paling autentik untuk Iwak Rabuk Pela tanpa keterangan langsung dari pembuat atau pengelola produk.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bubur! Menelusuri Jejak Bubur Pelo’ di Tengah Budaya Dayak Kenyah Pampang
Bagaimana Iwak Rabuk Diolah Menjadi Abon Ikan?
Secara umum, pengolahan abon ikan dimulai dengan memasak ikan, kemudian memisahkan daging dari tulangnya. Daging tersebut disuwir atau dihancurkan, lalu dimasak bersama bumbu hingga kadar airnya berkurang dan teksturnya menjadi lebih kering.
Teknik serupa ditemukan dalam berbagai pengolahan iwak rabuk di Kalimantan. Salah satu sumber resep menjelaskan tahapan mulai dari mengukus ikan, memisahkan daging dan tulang, menumis bumbu, memasukkan daging ikan, kemudian mengaduknya sampai campuran mengering.
Namun, tahapan tersebut sebaiknya dipahami sebagai gambaran umum pengolahan iwak rabuk, bukan sebagai resep resmi Iwak Rabuk Desa Pela.
Pasalnya, bahan, takaran, bumbu, tingkat kekeringan, maupun teknik pengolahan yang digunakan pelaku kuliner Pela belum terdokumentasi secara cukup untuk menyebut satu formula sebagai resep baku desa.
Justru di situlah ruang menarik untuk pengembangan cerita kuliner lokal.
Resep bukan hanya soal berapa gram bawang atau berapa sendok gula yang digunakan. Ada pengetahuan pengolahan yang bisa menjadi identitas sebuah produk: ikan apa yang dipilih, bagaimana dagingnya diperlakukan, seberapa kering hasil akhirnya, serta bagaimana produk tersebut dikemas untuk wisatawan.
Dari Ikan Segar Menjadi Oleh-Oleh, Apa yang Berubah?
Ikan segar memiliki bentuk konsumsi yang berbeda dengan produk olahan.
Ketika ikan diolah menjadi rabuk, hasilnya dapat dikemas sebagai produk pangan yang lebih praktis untuk dibawa wisatawan. Di Desa Wisata Pela, Iwak Rabuk memang ditempatkan dalam kategori suvenir, bersama sejumlah produk olahan lainnya. JADesta mencatat harga Iwak Rabuk mulai Rp40.000.
Pilihan produk pun bisa disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.
| Kebutuhan | Produk yang tercatat di Desa Wisata Pela |
|---|---|
| Ingin lauk atau olahan ikan praktis | Iwak Rabuk |
| Mencari ikan kering | Iwak Karing |
| Mencari camilan | Kerupuk Ikan |
| Ingin olahan ikan berbentuk pepes | Iwak Bapais |
Keberadaan beberapa produk tersebut menunjukkan bahwa hasil perairan dapat diolah menjadi lebih dari satu bentuk pangan.
Bagi desa wisata, variasi seperti ini juga membuat pengalaman kuliner tidak berhenti pada aktivitas makan di tempat. Wisatawan memiliki pilihan untuk membawa pulang produk yang mengingatkan mereka pada lokasi yang dikunjungi.
Baca Juga: Bikin Penasaran! Amparan Tatak Samarinda, Kue Banjar yang Kini Jadi Warisan Budaya Indonesia
Ketika Kuliner Menjadi Bagian dari Pengalaman Desa Wisata Pela
Iwak Rabuk semakin mudah dipahami jika ditempatkan dalam keseluruhan pengalaman wisata Desa Pela.
Desa Wisata Pela menawarkan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan sungai, danau, kehidupan nelayan, dan lingkungan. Dalam daftar atraksinya terdapat susur sungai dan danau, kegiatan melihat aktivitas nelayan, pengolahan ikan asin, hingga Museum Nelayan.
Museum Nelayan sendiri menyimpan berbagai alat tangkap tradisional yang digunakan masyarakat Pela secara turun-temurun. Di dalamnya juga terdapat informasi mengenai pesut Mahakam, jenis ikan di Sungai Pela dan Danau Semayang, serta pengetahuan mengenai praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan.
Dengan begitu, kuliner dapat menjadi salah satu potongan dari pengalaman yang lebih utuh.
Wisatawan bisa mengenal perairannya, melihat kehidupan nelayan, memahami ikan yang hidup di kawasan tersebut, lalu menemukan hasil olahannya dalam bentuk makanan.
Cerita Iwak Rabuk pun tidak lagi berdiri sendiri.
Ia terhubung dengan tempat asal bahan bakunya.
Dari Perairan ke Produk Wisata: Di Mana Letak Nilai Ekonominya?
JADesta mencatat Iwak Rabuk sebagai produk wisata dengan harga mulai Rp40.000. Produk UMKM Desa Pela juga mencantumkan Iwak Rabuk sebagai salah satu oleh-oleh yang tersedia bersama Iwak Karing, kerupuk ikan, gantungan kunci Pesut Mahakam, dan Batik Pela.
Jejak pengembangan produk ini juga pernah muncul dalam pemberitaan pada 2022. Saat berkunjung ke Desa Wisata Pela, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno, bertemu dengan kelompok PKK Harapan Kita yang memproduksi Rabuk Iwak. Pemberitaan tersebut menyebut bahan yang digunakan kelompok itu berasal dari ikan lais dan ikan gabus, serta mencatat adanya kendala pada alat peniris minyak.
Konteks tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan ikan bukan sekadar aktivitas dapur.
Ada persoalan produksi, peralatan, kualitas, pengemasan, hingga pemasaran yang ikut menentukan apakah sebuah makanan lokal bisa berkembang sebagai produk wisata.
Karena itu, peluang penguatan Iwak Rabuk tidak cukup hanya dengan menambah jumlah produksi.
Kemasan yang konsisten, identitas produk, cerita asal-usul yang jelas, kualitas yang terjaga, dan pemasaran yang sesuai dengan karakter wisatawan juga menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah kuliner lokal menjadi produk oleh-oleh.
Namun, tanpa data omzet atau pendapatan pelaku usaha, belum tepat menyimpulkan bahwa Iwak Rabuk telah meningkatkan pendapatan masyarakat dalam angka tertentu.
Yang dapat dikatakan adalah produk ini sudah memiliki tempat dalam ekosistem produk wisata Desa Pela.
Iwak Rabuk dan Cerita Besar Desa Pela
Ada alasan mengapa makanan sederhana seperti rabuk ikan bisa menjadi menarik ketika dibicarakan dalam konteks Desa Pela.
Satu produk dapat mempertemukan banyak unsur sekaligus.
Ada sungai dan danau sebagai ruang hidup. Ada ikan sebagai sumber daya perairan. Ada nelayan yang kehidupannya bergantung pada aktivitas perikanan. Ada masyarakat yang mengolah hasil tersebut. Ada wisatawan yang kemudian mengenalnya sebagai oleh-oleh.
Hubungan itu bahkan bersinggungan dengan agenda pelestarian lingkungan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mencatat Desa Pela sebagai kawasan yang mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan, ekonomi, budaya, dan kearifan lokal. Desa tersebut juga berada di kawasan konservasi Pesut Mahakam.
Alimin Azarbaijan, pengurus Pokdarwis Desa Pela yang aktif mengembangkan potensi wisata desa, pernah menyampaikan harapan agar generasi muda Kaltim melanjutkan apa yang telah dirintis di bidang pariwisata.
Kutipan tersebut memang bukan pernyataan khusus tentang Iwak Rabuk. Tetapi konteksnya memperlihatkan bagaimana kuliner dapat ditempatkan dalam cerita pengembangan desa yang lebih luas.
Pada akhirnya, kekuatan Iwak Rabuk bukan hanya berada pada rasa.
Nilainya juga terletak pada cerita tentang dari mana ikan itu berasal, siapa yang hidup dari perairan tersebut, bagaimana hasilnya diolah, dan bagaimana makanan itu kemudian dikenalkan kepada orang yang datang sebagai wisatawan.
Baca Juga: Ce Hun Tiau Pontianak Bukan Sekadar Es Campur, Ada Jejak Budaya Tionghoa di Baliknya
Poin Penting
-
Iwak Rabuk tercatat sebagai produk wisata Desa Wisata Pela.
-
JADesta menyebut bahan bakunya dapat berasal dari haruan, patin, nila, dan baung.
-
Sungai Pela dan Danau Semayang menjadi bagian penting dari konteks bahan baku dan kehidupan nelayan Pela.
-
Hampir 95 persen masyarakat Desa Pela disebut berprofesi sebagai nelayan dalam profil JADesta.
-
Iwak Rabuk tercatat dengan harga mulai Rp40.000.
-
Produk olahan ikan lain yang tersedia antara lain Iwak Karing, kerupuk ikan, dan Iwak Bapais.
-
Resep atau teknik pengolahan yang benar-benar khas Pela masih membutuhkan dokumentasi langsung dari pelaku kuliner setempat.
-
Kuliner merupakan salah satu bagian dari pengalaman Desa Wisata Pela yang berbasis sungai, danau, kehidupan nelayan, budaya, serta lingkungan.
Insight Redaksi
Iwak Rabuk menunjukkan bahwa identitas kuliner sebuah desa tidak selalu lahir dari resep yang rumit. Kadang, identitas justru tumbuh dari hubungan yang berlangsung setiap hari antara manusia dan tempat tinggalnya.
Di Pela, ikan tidak bisa dipisahkan begitu saja dari sungai, danau, dan pekerjaan nelayan. Ketika hasil perairan tersebut diolah menjadi rabuk dan dibawa pulang wisatawan, makanan itu ikut membawa cerita tentang desa asalnya.
Karena itu, pengembangan Iwak Rabuk akan semakin kuat jika bukan hanya mempertahankan produknya, tetapi juga menjaga cerita tentang bahan baku, masyarakat pembuatnya, lingkungan perairannya, dan identitas Desa Pela.
Berkunjung ke desa wisata akhirnya bukan hanya soal melihat tempat baru. Kadang, cerita sebuah wilayah justru paling mudah dibawa pulang lewat satu bungkus makanan.
Kalau suatu hari Ces berkunjung ke Desa Pela, Iwak Rabuk bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk mengenal desa ini dari sisi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: ikan, makanan, dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan perairan.
Bagikan artikel ini kepada teman yang suka kuliner khas Kalimantan Timur dan sedang mencari cerita di balik oleh-oleh desa wisata.
Sebab di balik satu olahan ikan, selalu ada cerita tentang tempat dari mana ia berasal.
Balikpapan TV, teman update setia bukan sekadar berita biasa.
FAQ
1. Apa itu Iwak Rabuk Desa Pela?
Iwak Rabuk adalah olahan ikan yang dikenal sebagai abon ikan dan tercatat sebagai salah satu produk wisata Desa Wisata Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara.
2. Ikan apa yang digunakan untuk membuat Iwak Rabuk?
JADesta mencatat haruan, patin, nila, dan baung sebagai jenis ikan air tawar yang menjadi bahan Iwak Rabuk Desa Pela. Dalam pemberitaan 2022, kelompok pembuat Rabuk Iwak di Pela juga disebut menggunakan ikan lais dan ikan gabus.
3. Berapa harga Iwak Rabuk di Desa Pela?
JADesta mencatat harga Iwak Rabuk sebagai produk wisata mulai dari Rp40.000. Harga tersebut merupakan informasi yang tercantum pada profil produk dan dapat berubah mengikuti penjual atau kondisi produk.
4. Mengapa ikan air tawar penting bagi masyarakat Pela?
Desa Pela berada di tepi anak Sungai Mahakam dan dekat Danau Semayang. Profil JADesta menyebut hampir 95 persen masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan dan aktivitas penangkapan ikan sangat bergantung pada Sungai Pela serta Danau Semayang.
5. Apakah Iwak Rabuk bisa menjadi oleh-oleh dari Desa Pela?
Bisa. Iwak Rabuk tercatat sebagai suvenir atau produk wisata Desa Wisata Pela bersama beberapa olahan lain seperti Iwak Karing dan kerupuk ikan.
6. Apa hubungan Iwak Rabuk dengan Desa Wisata Pela?
Iwak Rabuk merupakan salah satu produk kuliner yang berada dalam ekosistem wisata Desa Pela. Produk ini menghubungkan hasil perairan, aktivitas nelayan, pengolahan pangan, dan pengalaman wisatawan.