Bawang Dayak Khas Kalimantan Timur Diolah Jadi Teh Herbal, Begini Cerita di Baliknya

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:21 WIB
Seduhan teh bawang berlian hangat berwarna kemerahan yang kaya akan manfaat kesehatan tubuh. (BTV/Ai)
Seduhan teh bawang berlian hangat berwarna kemerahan yang kaya akan manfaat kesehatan tubuh. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 7 Menit

Ikhtisar: Bawang dayak dari Kalimantan Timur diolah menjadi teh herbal, mempertemukan bahan lokal, pengetahuan tumbuhan, dan inovasi.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pernah melihat bawang dengan umbi berwarna merah keunguan yang kemudian diseduh seperti teh?

Di Kalimantan Timur, bahan tersebut dikenal antara lain sebagai bawang tiwai dan dalam literatur juga banyak disebut bawang dayak. Nama ilmiahnya dalam sejumlah penelitian ditulis Eleutherine americana, sementara penelitian lain menggunakan Eleutherine palmifolia. Tanaman ini memiliki umbi yang menjadi bagian penting dalam berbagai kajian pemanfaatan tumbuhan lokal di Kalimantan.

Yang menarik bukan hanya bentuk umbinya. Bawang dayak juga memperlihatkan bagaimana bahan yang dekat dengan lingkungan masyarakat dapat mengalami perubahan bentuk: dari tanaman yang dimanfaatkan dalam pengetahuan pengobatan tradisional, menjadi bahan kering, lalu dikembangkan sebagai teh herbal yang lebih praktis diseduh.

Di Samarinda, pengolahan bawang dayak menjadi teh bahkan telah menjadi bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat. Salah satunya dilakukan bersama kader Puskesmas Harapan Baru Samarinda Seberang pada 2019. Dalam kegiatan tersebut, bawang dayak dicuci, diiris, dikeringkan, kemudian disimpan dalam wadah kedap udara sebelum dimanfaatkan sebagai teh.

Dari sini, cerita bawang dayak menjadi lebih menarik daripada sekadar soal minuman herbal. Ada bahan lokal, pengetahuan masyarakat, teknik pengolahan, hingga cara sebuah tanaman diperkenalkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan rumah tangga masa kini.

Bawang dayak, bawang tiwai, lalu apa hubungannya dengan Kalimantan Timur?

Nama lokal tanaman sering kali berubah mengikuti wilayah dan komunitas yang menggunakannya.

Salah satu sumber yang membahas tanaman ini secara khusus menyebut bawang tiwai sebagai Eleutherine americana dan mencatat bahwa di Kalimantan Timur tanaman tersebut dikenal sebagai bawang tiwai. Sumber yang sama juga mencatat nama berbeda di wilayah lain di Indonesia.

Karena itu, penyebutan nama tidak sebaiknya disamaratakan sebagai satu istilah budaya untuk seluruh masyarakat Dayak.

Dalam konteks Kalimantan Timur, istilah bawang tiwai cukup kuat ditemukan dalam literatur lokal. Penelitian dari Universitas Mulawarman, misalnya, menggunakan nama bawang tiwai untuk tanaman Eleutherine americana dalam penelitian yang dilakukan di wilayah Muara Badak.

Sementara itu, istilah bawang dayak lebih luas digunakan dalam literatur mengenai pemanfaatan tanaman tersebut di Kalimantan.

Perbedaan penyebutan ini penting karena nama lokal bukan sekadar persoalan SEO atau variasi kata. Nama dapat menunjukkan hubungan masyarakat dengan tanaman, wilayah pemakaian, serta cara bahan tersebut dikenali dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Tudai, Sate Kerang Khas Bulungan dengan Ragam Olahan yang Menggugah Selera

Sungai Bawang memperlihatkan kuatnya pengetahuan tentang tumbuhan lokal

Konteks etnobotani bawang dayak di Kalimantan Timur tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan masyarakat tentang tumbuhan di lingkungan mereka.

Penelitian etnofarmasi di Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kalimantan Timur, melibatkan 12 warga yang mengetahui dan memanfaatkan tumbuhan obat. Penelitian tersebut mendokumentasikan 20 jenis tumbuhan obat yang digunakan masyarakat Suku Dayak di lokasi penelitian. Bagian tanaman yang dimanfaatkan antara lain batang, daun, rimpang, dan umbi, dengan cara pengolahan yang berbeda-beda.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pengetahuan mengenai tumbuhan tidak berdiri sendiri. Masyarakat mengenali tanaman, bagian yang digunakan, cara mengolah, serta cara pemanfaatannya.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Temuan tentang pengetahuan tumbuhan obat di Sungai Bawang tidak otomatis berarti teh bawang dayak merupakan tradisi minum yang dilakukan semua masyarakat Dayak sejak dahulu. Penelitian tersebut berbicara mengenai pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat yang menjadi responden penelitian, bukan seluruh komunitas Dayak.

Karena itu, lebih tepat melihat teh bawang dayak sebagai titik temu antara pengetahuan terhadap tanaman lokal dan perkembangan bentuk pengolahan modern.

Apalagi bukti mengenai pembuatan teh bawang dayak di Samarinda menunjukkan bahwa bahan tersebut memang telah dikembangkan menjadi bentuk teh melalui proses pengolahan tertentu.

Mengapa bawang yang satu ini bisa berubah menjadi teh?

Jawabannya ada pada teknik pengolahan.

Umbi bawang dayak dapat dibersihkan, kemudian diiris dan dikeringkan. Setelah kadar airnya berkurang, bahan menjadi lebih praktis untuk disimpan dibandingkan umbi segar.

Proses semacam ini juga ditemukan dalam kegiatan pembuatan teh bawang dayak di Samarinda. Bahan dicuci dengan air mengalir, diiris, dikeringkan, lalu disimpan dalam wadah kedap udara.

Bentuk kering membuka kemungkinan baru. Bawang tidak harus selalu digunakan ketika masih segar. Irisan yang telah diproses dapat disiapkan sebagai bahan seduhan atau dikembangkan lebih lanjut menjadi produk teh celup.

Dalam beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kalimantan Timur, pengolahan umbi bawang dayak menjadi teh juga diarahkan pada bentuk yang lebih praktis dan memiliki nilai ekonomi. Universitas Mulawarman, misalnya, pernah terlibat dalam pelatihan pemanfaatan teh umbi bawang dayak di Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja.

Artinya, perubahan bentuk dari umbi menjadi teh bukan sekadar membuat minuman baru. Ada proses adaptasi bahan lokal agar lebih mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Es Limau Kuit Banjar: Dari Pelengkap Soto hingga Minuman Segar Khas Kalimantan Selatan

Warna, aroma, dan rasa ikut berubah ketika bahan diproses

Bawang dayak memiliki ciri visual yang cukup mudah dikenali dari warna umbinya yang merah. Karakter warna tersebut kemudian menjadi salah satu unsur yang menarik ketika bahan diolah menjadi minuman.

Tetapi membuat teh dari bahan ini tidak hanya soal menghasilkan warna.

Rasa dan aroma juga ikut menentukan apakah seduhan mudah diterima.

Penelitian mengenai tingkat kesukaan teh bawang dayak menunjukkan bahwa suhu dan waktu pengovenan dapat memengaruhi parameter sensoris seperti warna, aroma, dan rasa. Salah satu perlakuan dalam penelitian tersebut menghasilkan tingkat kesukaan yang tinggi pada suhu pengovenan 140 derajat Celsius selama 30 menit, terutama pada parameter rasa dan aroma.

Penelitian lain mengenai minuman serbuk bawang dayak menggambarkan karakter bahan sebagai memiliki warna merah yang menarik, tetapi rasa bawang dayak dapat terasa pahit dan aromanya cukup khas.

Itulah sebabnya pengolahan menjadi bagian penting dari cerita kulinernya.

Bahan yang sama dapat memberikan pengalaman minum berbeda tergantung bagaimana bahan dipotong, dikeringkan, diseduh, atau dikombinasikan dengan bahan lain.

Bagaimana cara membuat teh bawang dayak di rumah?

Untuk kebutuhan rumah tangga, teh bawang dayak dapat dibuat dengan cara sederhana. Formula berikut merupakan formula praktis untuk seduhan rumahan, bukan resep tradisional baku.

Bahan

Cara membuat

  1. Cuci bawang dayak sampai bersih.

  2. Iris tipis umbi agar permukaannya lebih banyak terkena panas saat proses pengeringan atau penyeduhan.

  3. Jika menggunakan bahan kering, pastikan irisan telah benar-benar kering sebelum disimpan.

  4. Masukkan irisan bawang dayak ke dalam cangkir.

  5. Tuangkan sekitar 250 ml air panas.

  6. Diamkan sekitar 5–10 menit hingga warna seduhan keluar.

  7. Saring jika menggunakan irisan langsung.

  8. Tambahkan madu atau gula merah sesuai selera.

Untuk membuat bahan kering dalam jumlah lebih banyak, prinsip dasarnya adalah membersihkan, merajang, mengeringkan, kemudian menyimpan bahan dalam wadah tertutup. Proses tersebut sejalan dengan metode pengolahan yang digunakan dalam kegiatan pembuatan teh bawang dayak di Samarinda.

Jika ingin menghasilkan karakter seduhan yang berbeda, teknik pengeringan dapat menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Penelitian sensoris menunjukkan bahwa suhu dan durasi pengeringan memang dapat memengaruhi warna, aroma, serta rasa teh bawang dayak.

Baca Juga: Tergrila Grilla Samarinda, Pesta Bakaran Nusantara Sepuasnya Rp149.999 NET Tiap Akhir Bulan

Mengapa pengeringan bukan sekadar membuat bawang tahan lama?

Ketika bahan segar diubah menjadi bahan kering, yang berubah bukan hanya kadar airnya.

Teknik pengeringan ikut menentukan karakter bahan yang nantinya masuk ke dalam cangkir. Karena itu, pengolahan teh bawang dayak memiliki sisi teknis sekaligus kuliner.

Dalam penelitian mengenai teh bawang dayak, parameter seperti warna, aroma, dan rasa digunakan untuk melihat penerimaan terhadap produk. Artinya, kualitas teh tidak cukup dinilai dari apakah bawang sudah kering atau belum. Karakter akhir seduhan juga menjadi bagian penting.

Di sinilah bahan lokal mulai bertemu dengan teknologi pengolahan pangan.

Umbi yang awalnya mudah dikenali sebagai tanaman dapat berubah menjadi bahan seduhan yang bisa dikemas, disimpan, dan disajikan dengan cara yang lebih praktis.

Dari pengetahuan tanaman ke produk yang lebih modern

Perjalanan bawang dayak menjadi teh juga menunjukkan perubahan cara masyarakat memanfaatkan bahan lokal.

Dalam bentuk segar, bawang merupakan umbi. Setelah dikeringkan, ia menjadi bahan yang lebih awet untuk disimpan. Ketika dimasukkan ke dalam kantong teh, bentuknya berubah lagi menjadi produk yang lebih mudah digunakan.

Pengembangan semacam ini telah dilakukan dalam berbagai kegiatan masyarakat dan pendidikan pengolahan herbal. Di Samarinda, pembuatan teh bawang dayak pernah diperkenalkan kepada kader Puskesmas Harapan Baru. Di Samboja, pelatihan juga diarahkan pada pemanfaatan teh umbi bawang dayak sebagai produk yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha.

Perubahan tersebut memperlihatkan satu hal penting: inovasi pangan lokal tidak selalu harus menciptakan bahan baru.

Kadang, yang dibutuhkan adalah menemukan bentuk baru untuk bahan yang sudah dikenal.

Baca Juga: Taste of Singapore di Samarinda, 4 Menu dengan Cita Rasa Singapura yang Berbeda

Jadi, apakah teh bawang dayak merupakan tradisi atau inovasi?

Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.

Pengetahuan tentang pemanfaatan bawang tiwai atau bawang dayak sebagai tanaman yang digunakan masyarakat Dayak telah lama dicatat dalam literatur. Kajian tentang bawang tiwai juga menyebut pemanfaatannya secara turun-temurun dalam masyarakat Dayak Kalimantan.

Namun, teh bawang dayak sebagai produk seduhan siap konsumsi memiliki jejak pengembangan yang juga berkaitan dengan kegiatan pengolahan, pelatihan, penelitian pangan, dan pemberdayaan masyarakat modern. Contoh di Samarinda menunjukkan proses pengolahan umbi menjadi bahan teh secara jelas.

Karena itu, menyebut seluruh bentuk teh bawang dayak sebagai “warisan tradisi minum” akan terlalu luas jika tidak disertai konteks komunitas dan bukti sejarah yang spesifik.

Istilah yang lebih aman adalah melihatnya sebagai minuman herbal berbahan tanaman lokal yang berakar pada pengetahuan pemanfaatan tumbuhan dan kemudian berkembang melalui inovasi pengolahan.

Apa yang bisa dibawa dari cerita bawang dayak?

Bagi pembaca yang ingin menikmati seduhannya, pilih bentuk yang paling sesuai kebutuhan.

Jika ingin mengenali karakter bahan, irisan kering tanpa pemanis bisa menjadi pilihan paling sederhana.

Kalau rasa bawangnya terasa terlalu kuat, madu atau gula merah dapat digunakan secukupnya untuk menyesuaikan rasa.

Sementara bagi pelaku usaha, bentuk bahan kering atau teh celup menawarkan cara penyajian yang lebih praktis. Tetapi ketika produk tersebut dikembangkan, cerita asal bahan tetap penting. Nama daerah, pelaku pengolah, bahan baku, serta konteks budaya sebaiknya tidak hilang hanya karena produk sudah masuk ke kemasan modern.

Satu hal lagi: sebutan “herbal” tidak otomatis berarti sebuah minuman dapat menggantikan pengobatan medis. Cerita tentang bawang dayak dalam artikel ini ditempatkan sebagai pengetahuan tanaman dan pengolahan pangan, bukan sebagai klaim bahwa seduhannya dapat mengobati penyakit tertentu.

Poin Penting

Baca Juga: Mengenal Kue Lapis Hula-Hula, Wadai Lembut dan Jajanan Tradisional Khas Kalimantan Selatan

Insight Redaksi

Bawang dayak menarik bukan hanya karena namanya yang lekat dengan Kalimantan. Nilai ceritanya justru muncul dari perjalanan bahan tersebut: tanaman lokal dikenali dalam pengetahuan masyarakat, kemudian diolah menjadi bentuk yang lebih praktis untuk kehidupan modern.

Di titik itu, kuliner tidak lagi sekadar soal rasa. Secangkir teh dapat menjadi cara sederhana untuk melihat bagaimana pengetahuan tentang tanaman, teknik pengolahan, identitas daerah, dan inovasi rumah tangga saling bertemu.

Bagi Kalimantan Timur, cerita seperti ini penting karena menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama persis. Ia juga dapat berkembang, selama asal-usul, konteks masyarakat, dan makna bahan tidak dilepaskan begitu saja dari produk akhirnya.

Kalau suatu hari menemukan teh bawang dayak dalam bentuk kemasan, mungkin yang menarik bukan hanya apa yang ada di dalam cangkir. Ada perjalanan panjang dari umbi, pengetahuan masyarakat, proses pengeringan, sampai inovasi yang membuatnya lebih mudah dinikmati.

Kalau Ces tertarik mengenal bahan pangan lokal Kalimantan lainnya, jangan berhenti di nama dan rasanya. Coba telusuri juga cerita masyarakat yang membuat bahan tersebut tetap hidup di dapur hari ini. Bagikan artikel ini kepada teman yang suka kuliner lokal dan cerita di balik bahan pangan Nusantara.

Dan dari satu umbi lokal, kita kembali diingatkan bahwa banyak cerita Kalimantan masih menunggu untuk diseduh menjadi pengetahuan baru. Tetap bersama Balikpapan TV, teman update setia bukan sekadar berita biasa.

FAQ

1. Apa itu teh bawang dayak?

Teh bawang dayak adalah minuman seduhan yang dibuat dari bawang dayak atau bawang tiwai yang telah diolah, umumnya melalui proses pencucian, pengirisan, pengeringan, lalu diseduh dengan air panas.

2. Apa nama lain bawang dayak?

Di Kalimantan Timur, tanaman ini dikenal sebagai bawang tiwai. Literatur juga menggunakan istilah bawang dayak dan sejumlah nama lain sesuai wilayah. Nama ilmiahnya dalam berbagai literatur ditulis antara lain Eleutherine americana dan Eleutherine palmifolia.

3. Dari daerah mana bawang tiwai berasal?

Bawang tiwai dikenal sebagai tanaman yang banyak ditemukan dan dimanfaatkan di Kalimantan. Literatur mengenai tanaman ini mencatat penggunaannya dalam masyarakat Dayak Kalimantan, sementara penelitian dan pengembangan pengolahannya juga berlangsung di Kalimantan Timur.

4. Bagaimana cara membuat teh bawang dayak?

Umbi dapat dicuci, diiris tipis, dikeringkan, kemudian diseduh menggunakan air panas. Untuk formula rumahan, irisan kering dapat diseduh sekitar 5–10 menit dan ditambahkan madu atau gula merah sesuai selera.

5. Apakah bawang dayak harus dikeringkan sebelum dibuat teh?

Tidak selalu. Bahan dapat digunakan dalam bentuk segar untuk seduhan, tetapi pengeringan membuat bawang lebih praktis disimpan dan digunakan sebagai bahan teh. Pengolahan menjadi bahan kering juga telah digunakan dalam kegiatan pembuatan teh bawang dayak di Samarinda.

6. Apakah semua praktik pengolahan bawang dayak merupakan tradisi masyarakat Dayak?

Tidak bisa digeneralisasi demikian. Pengetahuan mengenai pemanfaatan bawang dayak sebagai tanaman telah lama dikaitkan dengan masyarakat Dayak dalam literatur, tetapi bentuk teh sebagai produk seduhan juga berkembang melalui pengolahan dan inovasi modern. Konteks komunitas dan wilayah perlu disebutkan secara spesifik.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Bawang Tiwai Kuliner Kalimantan Timur kearifan lokal bawang dayak