Durasi Baca: 8 Menit
Ikhtisar: Bubur Pelo’ pernah dicatat sebagai pangan khas Pampang. Kini, jejaknya menarik ditelusuri kembali di tengah geliat budaya dan pariwisata Pampang.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau datang ke Desa Budaya Pampang, yang mudah menarik perhatian biasanya bukan hanya tarian, lamin adat, pakaian, atau kerajinan Dayak Kenyah. Ada bagian lain dari kehidupan budaya yang sering luput dari pandangan wisatawan: makanan yang hadir di dapur, meja makan, dan acara bersama masyarakat. Salah satunya adalah Bubur Pelo’.
Nama tersebut pernah dicatat dalam dokumentasi perjalanan pada 2017 sebagai makanan khas Pampang. Dalam dokumentasi itu, seorang penjual di Pampang menyebut Bubur Pelo’ sebagai bubur putih yang dicampur beragam sayuran dan biasa hadir ketika ada acara di Pampang. Sumber tersebut juga menyebut makanan itu dikenal oleh orang tua hingga anak-anak pada masa itu.
Tetapi ada satu hal penting, Ces. Dokumentasi tersebut sudah hampir satu dekade berlalu. Belum cukup untuk menyatakan bahwa resep, cara penyajian, fungsi sosial, atau keberadaan Bubur Pelo’ pada 2026 masih sama. Justru di situlah cerita kulinernya menjadi menarik.
Bubur Pelo’ dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana pangan lokal Dayak Kenyah berada di antara kehidupan keluarga, kegiatan budaya, syukuran pascapanen, dan perkembangan Pampang sebagai salah satu ruang wisata budaya Samarinda.
Bubur Pelo’ sebagai pintu masuk ke dapur Pampang
Makanan tradisional tidak selalu lahir sebagai produk wisata. Sebagian justru tumbuh dari kebutuhan sehari-hari masyarakat, kebiasaan keluarga, bahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal, hingga tradisi ketika warga berkumpul. Bubur Pelo’ memiliki jejak cerita seperti itu. Dokumentasi 2017 menggambarkan makanan ini sebagai bubur putih dengan campuran beragam sayuran. Sumber tersebut menyebutnya sebagai makanan khas Pampang dan mengaitkannya dengan berbagai acara masyarakat. Namun, dokumentasi itu tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan bahwa seluruh masyarakat Dayak Kenyah memiliki resep yang sama atau bahwa Bubur Pelo’ merupakan makanan resmi seluruh komunitas Dayak Kenyah.
Perbedaan ini penting. Pampang merupakan ruang budaya Dayak Kenyah yang memiliki sejarah dan kehidupan komunitas sendiri. Karena itu, cerita mengenai makanan lokal sebaiknya tetap ditempatkan dalam konteks masyarakat yang membuat, mengonsumsi, dan mewariskannya. Pada 2026, pertanyaan yang lebih menarik bukan hanya “apa itu Bubur Pelo?”, melainkan “apakah makanan itu masih dimasak di Pampang?”
Jika jawabannya masih, siapa yang membuatnya?
Apakah resepnya masih sama?
Apakah anak muda masih mengenalnya?
Dan apakah makanan tersebut masih hadir dalam acara keluarga atau komunitas?
Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan jawaban langsung dari pelaku kuliner dan masyarakat Pampang, bukan sekadar mengulang dokumentasi lama. Apa yang sebenarnya ada di dalam Bubur Pelo’? Dokumentasi lama menyebut bubur putih yang dicampur berbagai sayuran. Tetapi untuk membicarakan resep secara lebih rinci, diperlukan verifikasi ulang. Jenis sayuran, bumbu, takaran, teknik memasak, hingga bahan pendamping tidak sebaiknya ditebak berdasarkan makanan Dayak lain atau kebiasaan kuliner Kalimantan.
Sebab satu makanan dapat memiliki variasi antarkeluarga.
Bahan yang digunakan juga bisa berubah mengikuti ketersediaan. Bahan tertentu mungkin berasal dari kebun, sementara bahan lain dibeli di pasar. Perubahan akses bahan pangan dapat membuat resep mengalami penyesuaian tanpa harus menghilangkan identitas makanan tersebut.
Karena itu, wawancara dengan pembuat Bubur Pelo’ pada 2026 menjadi penting untuk mendokumentasikan setidaknya lima hal: bahan utama, sayuran yang digunakan, teknik memasak, waktu penyajian, dan cara makanan tersebut diwariskan. Jika ditemukan lebih dari satu versi resep, perbedaan tersebut justru menjadi bagian menarik dari cerita. Kuliner tidak selalu memiliki satu formula yang beku.
Dalam banyak komunitas, resep dapat bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui praktik memasak, bukan melalui buku resep. Dapur, panen, dan ruang sosial Dayak Kenyah Membicarakan makanan Pampang juga berarti membicarakan ruang tempat makanan dibuat. Dapur bukan sekadar tempat memasak. Dalam kehidupan komunitas, dapur dapat menjadi ruang bertemu, bekerja bersama, menyiapkan makanan untuk keluarga, hingga mendukung kegiatan masyarakat.
Konteks ini menjadi semakin relevan karena Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang 2026 dirangkai dengan Syukuran Pascapanen serta peringatan Hari Ulang Tahun Desa Budaya Pampang ke-53. Festival tersebut berlangsung pada 25–28 Juni 2026 di Lamin Adat Desa Budaya Pampang. Hubungan antara pangan dan syukuran panen juga membuka cara pandang yang lebih luas. Makanan tidak hanya diposisikan sebagai sesuatu yang dimakan setelah pertunjukan selesai. Ia dapat menjadi bagian dari kegiatan sosial yang mempertemukan keluarga, kerabat, masyarakat adat, dan tamu.
Namun, hubungan spesifik antara Bubur Pelo’ dengan syukuran pascapanen tidak boleh langsung disimpulkan. Belum ada dasar yang cukup dari sumber 2026 yang ditemukan untuk menyatakan bahwa Bubur Pelo’ secara khusus merupakan hidangan wajib dalam syukuran tersebut. Di sinilah wawancara dengan pelaku kuliner, tetua adat, atau warga yang memahami tradisi Pampang menjadi penting.
Baca Juga: Es Limau Kuit Banjar: Dari Pelengkap Soto hingga Minuman Segar Khas Kalimantan Selatan
Dari pangan komunitas ke atraksi budaya
Pampang kini tidak hanya dikenal sebagai lingkungan tempat masyarakat Dayak Kenyah tinggal. Pemerintah melalui platform Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Desa Wisata Budaya Pampang sebagai desa wisata yang menawarkan pertunjukan seni Dayak Kenyah, kehidupan masyarakat, kerajinan, kuliner, hingga aktivitas wisata alam. Perkembangan itu membuat makanan lokal memiliki ruang baru.
Kuliner dapat dimakan oleh masyarakat sendiri, tetapi pada saat yang sama dapat diperkenalkan kepada pengunjung sebagai bagian dari pengalaman budaya. Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang 2026 secara resmi juga menghadirkan stan UMKM masyarakat, kerajinan lokal, serta berbagai kuliner khas Dayak Kenyah. Pemerintah Kota Samarinda menyebut festival tersebut mengusung tema “Melestarikan Budaya Dayak Kenyah sebagai Warisan dan Daya Tarik Pariwisata Samarinda.” Kehadiran kuliner dalam festival membuat pertanyaan tentang makanan lokal menjadi semakin relevan.
Apakah pengunjung hanya membeli makanan karena ingin mencoba sesuatu yang berbeda? Atau mereka juga mendapatkan cerita mengenai siapa yang membuatnya, dari mana bahan berasal, kapan makanan tersebut biasanya dimasak, dan mengapa makanan itu penting bagi masyarakat? Perbedaannya cukup besar. Makanan sebagai produk wisata dapat berhenti pada rasa dan kemasan. Makanan sebagai bagian dari pengalaman budaya membawa pengunjung lebih dekat pada cerita di baliknya.
Apa yang berubah ketika Pampang menjadi ruang budaya dan wisata?
Perubahan tidak selalu berarti tradisi menghilang. Dalam konteks kuliner, perubahan bisa terjadi pada cara makanan dibuat, jumlah produksinya, kemasan, harga, tempat penjualan, sampai cara makanan diperkenalkan kepada pengunjung. Data Jadesta mencatat Desa Wisata Budaya Pampang memiliki 60 UMKM pada 2026. Platform tersebut juga mencatat kunjungan wisatawan sebanyak 16.999 wisatawan nusantara dan 157 wisatawan mancanegara pada 2025. Data itu menunjukkan bahwa aktivitas wisata sudah menjadi bagian nyata dari ekosistem ekonomi Pampang.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Samarinda mencatat pelaksanaan Festival Budaya Pampang melibatkan UMKM masyarakat dan kuliner khas Dayak Kenyah. Ketua Pokdarwis Desa Budaya Pampang juga menyampaikan harapan agar kegiatan festival ikut menggerakkan ekonomi warga sekitar. Namun, angka kunjungan atau jumlah UMKM tidak otomatis membuktikan bahwa Bubur Pelo’ ikut mengalami perkembangan ekonomi tersebut. Itu harus dibuktikan melalui pelaku yang memang membuat atau menjual Bubur Pelo’. Jika masih ada pembuatnya, cerita tentang perubahan dapat ditelusuri dari dapur mereka sendiri.
Apakah porsinya berubah?
Apakah bahan disesuaikan dengan selera pengunjung?
Apakah makanan dibuat hanya ketika ada acara?
Atau mulai diproduksi untuk dijual secara rutin?
Pertanyaan semacam ini jauh lebih mampu menggambarkan perubahan kuliner daripada sekadar menyebut bahwa makanan tradisional “semakin populer”.
Baca Juga: Unik dan Gurih! Mengenal Abon Kepiting Balikpapan dari Hasil Laut hingga Produk Bernilai Tambah
Bisakah kuliner Pampang menjadi bagian dari ekonomi budaya?
Kuliner memiliki peluang untuk menjadi bagian dari ekonomi budaya ketika makanan tidak hanya dijual sebagai produk, tetapi juga memiliki cerita yang dapat dipahami konsumen. Di Pampang, ekosistem tersebut sudah terlihat melalui keberadaan UMKM, kerajinan, pertunjukan budaya, dan agenda festival. Tetapi untuk Bubur Pelo’, tahap pertama tetap lebih sederhana: memastikan makanan itu masih hidup.
Jika ditemukan pelaku yang masih membuatnya, informasi seperti harga jual, jumlah produksi, biaya bahan, waktu memasak, dan pola penjualan dapat menjadi data penting. Misalnya, jika satu keluarga hanya memasak Bubur Pelo’ ketika ada kegiatan adat, pola tersebut berbeda dengan pelaku yang telah menjadikannya produk kuliner untuk wisatawan.
Keduanya sama-sama bernilai, tetapi memiliki konteks ekonomi dan budaya yang berbeda. Hal yang juga penting adalah memastikan masyarakat Pampang menjadi sumber utama cerita. Jangan sampai makanan yang berasal dari komunitas justru lebih banyak dijelaskan oleh pihak luar daripada oleh orang yang masih memasaknya. Pangan lokal tidak cukup hanya diberi label “khas”. Ia perlu memiliki cerita yang dapat ditelusuri.
Apa yang perlu dicari jika ingin mengenal Bubur Pelo’?
Bagi pembaca yang tertarik dengan kuliner Pampang, ada beberapa pertanyaan sederhana yang bisa menjadi panduan ketika menemukan makanan tersebut. Pertama, tanyakan siapa yang membuatnya dan apakah resep tersebut merupakan resep keluarga atau dikenal lebih luas di masyarakat. Kedua, cari tahu bahan yang digunakan. Jangan hanya mencatat nama bahan, tetapi juga bagaimana bahan tersebut dipersiapkan dan dimasak.
Ketiga, tanyakan kapan makanan biasanya disajikan. Informasi ini dapat membantu membedakan makanan sehari-hari, makanan keluarga, dan makanan yang berkaitan dengan kegiatan tertentu. Keempat, perhatikan apakah makanan tersebut tersedia untuk wisatawan secara rutin atau hanya muncul pada acara tertentu. Kelima, dengarkan cerita pembuatnya. Bisa jadi bagian paling penting dari Bubur Pelo’ bukan hanya rasa buburnya, tetapi memori yang melekat pada proses memasaknya.
Baca Juga: Unik dan Gurih! Mengenal Abon Kepiting Balikpapan dari Hasil Laut hingga Produk Bernilai Tambah
Poin Penting
- Bubur Pelo’ pernah didokumentasikan pada 2017 sebagai makanan khas Pampang berupa bubur putih dengan campuran berbagai sayuran.
- Dokumentasi tersebut belum cukup untuk memastikan resep, fungsi adat, maupun keberadaan Bubur Pelo’ pada 2026.
- Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang 2026 dirangkai dengan syukuran pascapanen dan menghadirkan UMKM, kerajinan, serta kuliner khas Dayak Kenyah.
- Desa Wisata Budaya Pampang saat ini berada dalam ekosistem pariwisata budaya yang juga mencakup kuliner dan aktivitas ekonomi masyarakat.
- Jika Bubur Pelo’ masih dibuat, dokumentasi langsung dari pembuat dan komunitas menjadi dasar terpenting untuk menceritakan kembali makanan tersebut.
Insight Redaksi
Ada makanan yang mudah ditemukan karena dijual di banyak tempat. Ada pula makanan yang justru menarik karena keberadaannya harus dicari kembali. Bubur Pelo’ berada pada wilayah cerita yang kedua. Dokumentasi 2017 menunjukkan bahwa makanan ini pernah dikenal di Pampang. Namun, jarak waktu membuat kita tidak bisa begitu saja memindahkan cerita lama ke kondisi 2026. Justru celah itulah yang membuat liputan kuliner menjadi penting. Mencari Bubur Pelo’ bukan hanya mencari sebuah mangkuk makanan. Kita sedang mencari tahu apakah sebuah resep masih berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, apakah ia masih hadir dalam ruang keluarga, dan bagaimana masyarakat memandang makanan tersebut ketika Pampang semakin dikenal sebagai destinasi budaya. Festival Pampang 2026 menunjukkan bahwa budaya, masyarakat, UMKM, dan pariwisata kini bertemu dalam satu ruang kegiatan. Kalau Bubur Pelo’ masih dimasak, kisahnya layak diceritakan dari sumber paling dekat: orang yang memasaknya. Kalau ternyata sudah jarang dibuat, itu pun merupakan informasi penting.
Sebab pelestarian pangan lokal tidak selalu dimulai dari menjadikannya produk wisata. Kadang, langkah pertamanya adalah memastikan namanya tidak hilang dari ingatan orang-orang yang pernah membuat dan menikmatinya. Kalau Ces berkunjung ke Pampang dan menemukan Bubur Pelo’, jangan cuma cari tahu rasanya. Coba tanyakan siapa yang memasak, kapan biasanya disajikan, dan cerita apa yang dibawa makanan tersebut dari dapur ke meja makan. Bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang tertarik mengenal kuliner dan budaya Samarinda dari cerita masyarakatnya. Tetap jadi teman update setia Balikpapan TV, bukan sekadar berita biasa.
FAQ
1. Apa itu Bubur Pelo’?
Bubur Pelo’ pernah didokumentasikan pada 2017 sebagai makanan khas Pampang berupa bubur putih yang dicampur dengan berbagai sayuran. Karena sumber tersebut sudah lama, detail mengenai resep dan keberadaannya pada 2026 perlu dikonfirmasi kembali kepada masyarakat Pampang.
2. Apakah Bubur Pelo’ benar-benar makanan khas Pampang?
Dokumentasi 2017 menyebutnya sebagai makanan khas Pampang. Namun, informasi tersebut berasal dari dokumentasi nonresmi dan tidak cukup untuk menyatakan bahwa Bubur Pelo’ merupakan makanan resmi seluruh masyarakat Dayak Kenyah. Status dan keberadaannya saat ini sebaiknya dikonfirmasi melalui pelaku kuliner atau komunitas setempat.
3. Apa saja bahan Bubur Pelo’?
Sumber lama hanya menyebut bubur putih yang dicampur berbagai sayuran. Jenis sayuran, bumbu, takaran, teknik memasak, dan bahan pendamping belum memiliki verifikasi 2026 yang memadai sehingga tidak sebaiknya ditebak atau ditambahkan sebagai fakta.
4. Kapan Bubur Pelo’ biasanya disajikan?
Dokumentasi 2017 menyebut makanan tersebut hadir ketika ada acara di Pampang. Namun, jenis acara yang secara khusus berkaitan dengan Bubur Pelo’ perlu dikonfirmasi kembali kepada masyarakat atau pelaku kuliner Pampang.
5. Apa hubungan makanan dengan tradisi Dayak Kenyah di Pampang?
Makanan merupakan salah satu bagian dari kehidupan sosial masyarakat, sementara Pampang sendiri merupakan desa wisata budaya yang menampilkan kehidupan dan kesenian Dayak Kenyah. Festival 2026 juga mempertemukan kegiatan budaya, syukuran pascapanen, UMKM, kerajinan, dan kuliner. Hubungan khusus suatu makanan dengan tradisi tertentu tetap perlu dilihat berdasarkan keterangan komunitas.
6. Apakah wisatawan bisa menemukan Bubur Pelo’ di Pampang?
Belum dapat dipastikan dari sumber resmi 2026 yang tersedia bahwa Bubur Pelo’ dijual secara rutin untuk wisatawan. Jadesta memang mencatat kuliner sebagai salah satu fasilitas Desa Wisata Budaya Pampang, tetapi tidak secara spesifik mencantumkan Bubur Pelo’ sebagai produk yang tersedia.
Editor : Arya Kusuma