Durasi Baca: 8 Menit
Ikhtisar: Amparan Tatak membawa jejak kuliner Banjar, tradisi Ramadan, dan identitas Samarinda hingga mendapat pengakuan budaya nasional.
Balikpapan TV - Hai Ces! Amparan Tatak merupakan kue tradisional Banjar yang berkembang di Samarinda dan pada 2025 resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Bukan cuma soal rasa manis, gurih, atau lapisan pisang dan santan. Di balik satu potong Amparan Tatak ada cerita tentang komunitas Banjar, tradisi berbuka puasa, serta perjalanan sebuah pangan rumahan menjadi bagian dari identitas kuliner Samarinda. Yuk, kenali ceritanya lebih dekat.
Amparan Tatak dan posisi barunya sebagai warisan budaya
Amparan Tatak dikenal sebagai kue tradisional yang berkaitan dengan budaya Banjar dan telah lama berkembang di Samarinda. Kajian historis-kultural yang diterbitkan dalam Jurnal Riset Inossa mencatat kue ini sebagai salah satu kudapan yang diproduksi komunitas Banjar di Samarinda. Perjalanan tersebut kini memiliki penanda penting. Pemerintah Kota Samarinda melaporkan Amparan Tatak resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia atau WBTbI 2025 oleh Kementerian Kebudayaan, bersama Amplang Samarinda dan Bubur Peca’. Penetapan diumumkan dalam Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 15 Desember 2025.
Status tersebut penting karena Amparan Tatak tidak lagi hanya dilihat sebagai kudapan yang dijual atau disajikan ketika Ramadan. Ia menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang memiliki nilai untuk didokumentasikan dan diwariskan. Namun, pengakuan sebagai WBTbI bukan berarti semua pembuat harus menghasilkan kue dengan resep yang persis sama. Kajian tentang Amparan Tatak justru menunjukkan adanya variasi dalam penggunaan bahan dan takaran.
Samarinda punya cerita kuliner yang dibentuk banyak komunitas
Samarinda tumbuh sebagai kota dengan masyarakat yang beragam. Dalam konteks tersebut, kuliner dapat menjadi salah satu ruang pertemuan antarkomunitas. Kajian historis Amparan Tatak menghubungkan perkembangan kue ini dengan keberadaan masyarakat Banjar di Samarinda sejak masa kolonial. Penelitian tersebut juga melihat kuliner sebagai bagian dari dinamika kebudayaan kota yang masyarakatnya heterogen.
Di sinilah konteks Samarinda menjadi penting. Amparan Tatak memang berakar pada tradisi kuliner Banjar. Namun, perjalanan panjangnya di Samarinda membuat makanan ini dikonsumsi dan dikenal lebih luas oleh masyarakat kota. Artinya, identitas kuliner sebuah kota tidak selalu lahir dari satu kelompok saja. Sebuah makanan bisa membawa identitas komunitas asalnya sekaligus tumbuh menjadi bagian dari ruang sosial yang lebih luas.
Sungai Mahakam dan perkembangan Samarinda sebagai kota juga memberi konteks terhadap pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, membicarakan Amparan Tatak tidak cukup hanya dengan menyebut bahan dan rasa. Ada cerita perpindahan manusia, kebiasaan keluarga, pasar, dan perubahan kehidupan kota di belakangnya.
Baca Juga: Ce Hun Tiau Pontianak Bukan Sekadar Es Campur, Ada Jejak Budaya Tionghoa di Baliknya
Apa sebenarnya isi Amparan Tatak?
Bagi yang belum pernah mencicipinya, Amparan Tatak merupakan kue basah dengan bahan utama tepung beras, santan, gula, dan pisang. Kajian historis-kultural mencatat karakter Amparan Tatak yang dominan manis dan gurih. Proses pembuatannya dilakukan dengan pengukusan sehingga menghasilkan susunan berlapis. Dalam dokumentasi resep tradisional yang dikutip penelitian tersebut, bagian bawah terdiri dari adonan tepung beras dan pisang. Bagian atasnya berupa santan yang dikukus hingga padat. Hasil akhirnya terlihat sederhana. Namun, prosesnya membutuhkan beberapa tahapan. Adonan disiapkan, pisang dimasukkan, kemudian bahan dikukus. Setelah lapisan pertama matang, santan digunakan sebagai bagian lapisan berikutnya sebelum kembali dikukus hingga mengeras.
Penelitian tersebut juga mencatat variasi resep dari narasumber yang diwawancarai. Perbedaan dapat ditemukan pada volume santan, tepung beras, gula, pisang, hingga cara mengolah adonan. Ini menjadi hal menarik dalam melihat makanan tradisional. Resep warisan tidak selalu berarti satu formula kaku yang tidak boleh berubah. Pengetahuan memasak dapat diwariskan melalui praktik keluarga dan pengalaman pembuatnya, sehingga variasi antarpembuat tetap mungkin ditemukan.
Mengapa Amparan Tatak lekat dengan Ramadan?
Ada alasan mengapa nama Amparan Tatak begitu mudah muncul ketika membicarakan kuliner Ramadan di Samarinda. Kajian historis-kultural Amparan Tatak mencatat kue ini secara tradisional disajikan dalam konteks berbuka puasa pada bulan Ramadan. Penelitian tersebut juga menggambarkan bahwa pada masa lalu Amparan Tatak diperdagangkan secara berkeliling di Kota Samarinda. Tradisi makanan untuk berbuka membuat Amparan Tatak tidak hanya menjadi produk kuliner, tetapi juga bagian dari kebiasaan harian masyarakat.
Bayangkan suasana Ramadan ketika keluarga mulai menyiapkan makanan menjelang magrib. Kue basah, minuman, dan berbagai penganan ditempatkan di meja untuk dinikmati bersama. Dalam situasi seperti itu, makanan memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Ia menjadi bagian dari rutinitas keluarga, pertemuan, dan pengalaman Ramadan. Itulah sebabnya cerita Amparan Tatak tidak cukup jika hanya berhenti pada daftar bahan. Hubungannya dengan waktu, kebiasaan, dan orang-orang yang membuatnya justru memberi nilai budaya yang lebih kuat.
Baca Juga: Unik dan Gurih! Mengenal Abon Kepiting Balikpapan dari Hasil Laut hingga Produk Bernilai Tambah
Dari makanan keluarga menuju identitas kota
Salah satu hal menarik dari perjalanan Amparan Tatak adalah perubahan ruang hidupnya. Penelitian yang diterbitkan pada 2025 mencatat bahwa kue ini pernah dijual secara berkeliling di Samarinda dan menjadi sajian yang lazim dalam tradisi berbuka puasa. Penelitian yang sama juga mencatat bahwa lapak yang menyediakan Amparan Tatak dapat ditemukan sepanjang tahun, meski jumlah produsen dan pedagang meningkat ketika Ramadan.
Di sini terlihat bagaimana makanan rumahan dapat bergerak ke ruang ekonomi. Satu resep dapat dibuat untuk keluarga, kemudian diproduksi dalam jumlah lebih banyak untuk dijual. Ketika semakin dikenal, makanan tersebut dapat masuk ke pembicaraan tentang identitas daerah.
Penetapan WBTbI pada 2025 menjadi tahap baru dalam perjalanan itu. Pemerintah Kota Samarinda menyebut tiga kuliner lokal, termasuk Amparan Tatak, sebagai karya budaya yang memperoleh pengakuan nasional. Namun, status tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai akhir cerita. Warisan kuliner baru benar-benar hidup ketika pengetahuan membuatnya masih diteruskan, pembuatnya masih memiliki ruang untuk berkarya, dan masyarakat masih mengenali makanan tersebut.
WBTbI bukan sekadar label pada nama makanan
Pengakuan WBTbI membuat Amparan Tatak memiliki posisi baru dalam percakapan tentang kebudayaan Samarinda. Pemerintah Kota Samarinda menyebut penetapan tersebut sebagai bagian dari capaian kebudayaan daerah. Pada 2025, Samarinda menerima tiga penetapan WBTbI, yakni Amplang Samarinda, Amparan Tatak, dan Bubur Peca’. Yang menarik, pengakuan budaya tidak otomatis membuat sebuah makanan menjadi seragam.
Justru pengetahuan mengenai bahan, teknik pengolahan, cara penyajian, dan cerita yang menyertainya perlu terus dikenali. Karena itu, keberadaan pembuat yang memahami proses tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan kuliner. Bagi pembaca, status WBTbI juga memberi konteks baru ketika menikmati Amparan Tatak. Kue tersebut bukan sekadar jajanan basah yang kebetulan populer di Samarinda, tetapi memiliki perjalanan budaya yang telah didokumentasikan dan memperoleh pengakuan nasional.
Baca Juga: Tudai, Sate Kerang Khas Bulungan dengan Ragam Olahan yang Menggugah Selera
Bagaimana mengenali Amparan Tatak sebagai kuliner tradisional?
Tidak ada satu ciri visual yang bisa dijadikan satu-satunya ukuran keaslian. Bahan utama yang tercatat dalam kajian meliputi tepung beras, santan, gula, dan pisang. Teknik pembuatannya menggunakan pengukusan dan menghasilkan lapisan yang menjadi salah satu karakter penting kue tersebut.
Jika ingin mengenal Amparan Tatak lebih jauh, pembaca dapat memperhatikan beberapa hal:
1. Tanyakan bahan yang digunakan
Pembuat yang memahami resep tradisional umumnya dapat menjelaskan bahan dan cara pengolahannya.
2. Perhatikan lapisannya
Amparan Tatak tradisional yang didokumentasikan dalam penelitian memiliki lapisan adonan pisang dan lapisan santan.
3. Cari tahu proses pembuatannya
Teknik pengukusan merupakan bagian penting dari karakter kue ini.
4. Dengarkan cerita pembuatnya
Nilai kuliner tradisional tidak hanya berada pada rasa. Pengetahuan tentang siapa yang mengajarkan resep, bagaimana resep diwariskan, dan kapan makanan biasa disajikan juga penting.
5. Bedakan variasi resep dengan hilangnya tradisi
Perbedaan takaran atau cara pengolahan tidak otomatis berarti sebuah resep kehilangan identitas. Kajian Amparan Tatak sendiri menunjukkan adanya variasi dalam praktik pembuatan.
Apa yang berubah ketika kuliner tradisional masuk ruang publik?
Ketika makanan semakin dikenal, cara masyarakat berhubungan dengan makanan tersebut juga dapat berubah. Amparan Tatak yang dahulu erat dengan rumah dan Ramadan kini juga menjadi bagian dari pembicaraan mengenai promosi kuliner Samarinda.
Pada November 2025, RRI melaporkan adanya diskusi komunitas mengenai Amparan Tatak setelah penetapannya sebagai WBTb, dengan pembahasan mengenai peluang kuliner tersebut menjadi bagian dari branding Kota Samarinda. Perubahan seperti ini membuka peluang sekaligus pekerjaan baru. Peluangnya adalah semakin banyak orang mengenal makanan tersebut. Tantangannya, popularitas tidak boleh membuat cerita budaya di belakang makanan hilang.
Kalau orang hanya mengenal nama Amparan Tatak tanpa mengetahui siapa yang mewariskan pengetahuannya, bagaimana prosesnya, dan mengapa makanan itu penting bagi masyarakat, sebagian nilai budayanya bisa terlewat. Karena itu, promosi kuliner tradisional sebaiknya tidak hanya menjual bentuk dan rasa. Cerita di balik makanan juga layak dibawa bersama.
Poin Penting
-
Amparan Tatak merupakan kue tradisional yang berkaitan erat dengan budaya kuliner Banjar dan berkembang di Samarinda.
-
Bahan utama yang terdokumentasi meliputi tepung beras, santan, gula, dan pisang.
-
Proses pembuatannya menggunakan teknik pengukusan dan menghasilkan susunan berlapis.
-
Amparan Tatak memiliki hubungan historis dengan tradisi berbuka puasa pada Ramadan di Samarinda.
-
Pemerintah Kota Samarinda melaporkan Amparan Tatak resmi ditetapkan sebagai WBTbI 2025.
-
Status WBTbI memperkuat posisi Amparan Tatak sebagai warisan budaya yang perlu terus diwariskan.
-
Variasi resep dapat ditemukan dalam dokumentasi penelitian dan tidak otomatis menghapus identitas kuliner tersebut.
Insight Redaksi
Amparan Tatak menunjukkan bahwa identitas kuliner Samarinda tidak lahir dalam ruang yang kosong. Ada komunitas, perpindahan manusia, Ramadan, keluarga, pasar, lalu pengakuan budaya yang membuat satu kudapan memiliki cerita panjang. Tantangannya sederhana: jangan sampai WBTbI berhenti sebagai label. Yang paling penting justru pengetahuan membuatnya tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.
Kalau menemukan Amparan Tatak di Samarinda, jangan cuma cari rasanya; cari juga cerita siapa yang masih menjaga resepnya.
Bagikan artikel ini ke keluarga atau teman yang suka kuliner tradisional Samarinda, biar cerita makanan lokal tidak cuma lewat di meja makan.
Kalau mau terus kenal cerita kuliner dan budaya Samarinda, ikuti Balikpapan TV; Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu Amparan Tatak Samarinda?
Amparan Tatak adalah kue tradisional berbahan utama tepung beras, santan, gula, dan pisang yang berkembang dalam tradisi kuliner Banjar di Samarinda.
2. Apa hubungan Amparan Tatak dengan masyarakat Banjar?
Kajian historis-kultural mencatat Amparan Tatak sebagai kuliner yang diproduksi komunitas Banjar di Samarinda dan berkembang bersama kehidupan masyarakat kota.
3. Kapan Amparan Tatak biasa disajikan?
Kajian sejarah kuliner mencatat Amparan Tatak secara tradisional berkaitan dengan sajian berbuka puasa pada bulan Ramadan.
4. Apakah Amparan Tatak sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia?
Ya. Pemerintah Kota Samarinda melaporkan Amparan Tatak resmi ditetapkan sebagai WBTbI 2025 oleh Kementerian Kebudayaan.
5. Apa bahan utama Amparan Tatak?
Bahan yang terdokumentasi dalam kajian meliputi tepung beras, santan, gula, dan pisang. Resep dapat memiliki variasi takaran dan teknik antarpembuat.
6. Apakah Amparan Tatak masih bisa ditemukan di Samarinda?
Amparan Tatak masih menjadi bagian dari pembahasan dan aktivitas kuliner Samarinda setelah penetapan WBTbI 2025. Namun, ketersediaan penjual dan lokasi penjualan dapat berubah sehingga pembaca sebaiknya mengecek pelaku atau pasar kuliner setempat sebelum berkunjung.
Editor : Arya Kusuma