Durasi Baca: 8 Menit
Ikhtisar: Ce Hun Tiau memperlihatkan bagaimana jejak kuliner Tionghoa tumbuh menjadi bagian dari identitas rasa Pontianak.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau semangkuk Ce Hun Tiau hanya dilihat sebagai minuman dingin, yang terlihat mungkin sederhana: sagu gunting berwarna putih, kacang merah, ketan hitam, cincau, bongko, santan, gula merah, lalu es batu.
Tetapi di Pontianak, semangkuk itu membawa cerita yang jauh lebih panjang.
Ce Hun Tiau tercatat sebagai salah satu kuliner khas Kota Pontianak. Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Pontianak menggambarkannya sebagai minuman pencuci mulut dengan cendol sagu tipis menyerupai mi, kacang merah, ketan hitam, cincau, bongko, santan, gula merah cair, dan es batu. Kuliner ini juga disebut dapat ditemukan di sepanjang Jalan Waru, termasuk di kawasan Jalan WR Supratman.
Kajian EDUTOURISM Journal of Tourism Research pada 2024 menyebut Ce Hun Tiau sebagai hidangan pencuci mulut asal Pontianak yang memiliki nuansa Tionghoa kuat. Kajian tersebut juga mengaitkan nama Ce Hun Tiau dengan bahasa Tio Ciu dan mencatat tujuh komponen utamanya.
Dari sini, Ce Hun Tiau menarik dibaca bukan hanya sebagai resep. Ia adalah contoh bagaimana sebuah makanan yang memiliki jejak budaya tertentu dapat tumbuh, diterima, dijual, dinikmati, dan akhirnya dikenali sebagai bagian dari kota tempatnya berkembang.
Ce Hun Tiau Bukan Sekadar Es Campur
Sekilas, Ce Hun Tiau memang mudah disamakan dengan es campur atau cendol.
Sama-sama dingin, manis, menggunakan es, dan menggabungkan beberapa bahan dalam satu sajian. Namun, karakter Ce Hun Tiau berada pada susunan komponennya.
Bagian yang paling mudah dikenali adalah ce hun tiau atau sagu gunting. Bentuknya memanjang dan berwarna putih, menyerupai mi pendek. Teksturnya kenyal sehingga memberikan sensasi yang berbeda dari cendol berbentuk butiran.
Kemudian ada bongko, yang memberikan tekstur lembut. Kacang merah membawa rasa manis sekaligus tekstur yang lebih padat. Ketan hitam membuat sajian terasa lebih berisi, sedangkan cincau memberikan sensasi lembut dan segar.
Semuanya bertemu dengan dua unsur yang sangat menentukan karakter kuahnya: santan dan gula merah cair.
Disporapar Kota Pontianak secara resmi memasukkan kombinasi tersebut dalam deskripsi Ce Hun Tiau sebagai kuliner khas kota.
Jadi, kalau cendol biasanya membuat orang langsung teringat pada bentuk butiran tepung dan kuah santan, Ce Hun Tiau menawarkan pengalaman tekstur yang lebih berlapis.
Ada kenyal, lembut, padat, gurih, manis, dan dingin dalam satu mangkuk.
Itulah salah satu alasan mengapa Ce Hun Tiau tidak cukup dijelaskan hanya dengan menyebutnya “cendol khas Pontianak”.
Baca Juga: Mengenal Kue Lapis Hula-Hula, Wadai Lembut dan Jajanan Tradisional Khas Kalimantan Selatan
Jejak Tionghoa Terlihat dari Nama hingga Cerita Kulturnya
Hubungan Ce Hun Tiau dengan budaya Tionghoa bukan sekadar asumsi dari nama makanannya.
Kajian Indra, Erelle, dan Valensky dalam EDUTOURISM Journal of Tourism Research menyebut Ce Hun Tiau memiliki nuansa Tionghoa yang kuat dan menjelaskan istilahnya melalui bahasa Tio Ciu. Dalam kajian tersebut, “Ce”, “Hun”, dan “Tiau” dikaitkan dengan makna ubi, tepung, serta bentuk memanjang seperti balok.
Kajian yang sama juga menyebut Ce Hun Tiau pertama kali diperkenalkan oleh warga Tionghoa ketika datang ke Pontianak dan kemudian berkembang hingga dikenal sebagai salah satu kuliner khas kota tersebut.
Artinya, ada satu lapisan sejarah yang jelas terlihat: identitas budaya Tionghoa masih dapat dibaca melalui nama dan karakter kulinernya, sementara identitas Pontianaknya terbentuk melalui perjalanan makanan tersebut di kota ini.
Di titik inilah istilah akulturasi menjadi menarik.
Akulturasi tidak harus berarti sebuah makanan kehilangan identitas asalnya. Justru dalam kasus Ce Hun Tiau, jejak Tionghoa tetap terlihat, tetapi makanan tersebut telah menjadi bagian dari lanskap kuliner Pontianak yang lebih luas.
Penelitian 2026 mengenai penggunaan bahasa dalam ruang kuliner Pontianak juga menempatkan Ce Hun Tiau sebagai salah satu makanan khas Pontianak yang membawa identitas budaya Tionghoa melalui penamaan kuliner.
Dengan kata lain, satu mangkuk Ce Hun Tiau dapat dibaca melalui dua lapisan sekaligus: akar budaya dan tempat ia kemudian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kenapa Gula Aren dan Santan Jadi Pasangan Penting dalam Kue Basah Tradisional Kaltim
Dari Sagu Gunting, Bongko hingga Kacang Merah, Apa yang Membuatnya Khas?
Komposisi Ce Hun Tiau sebenarnya memperlihatkan mengapa makanan ini punya karakter sendiri.
Sagu gunting menjadi elemen yang paling menonjol dari sisi tekstur. Bentuknya panjang dan kenyal, membuatnya berbeda dari cendol yang umumnya berbentuk butiran.
Bongko menambahkan bagian yang lebih lembut. Dalam kajian kuliner Pontianak, bongko juga disebut sebagai ati pari dan menjadi salah satu komponen utama Ce Hun Tiau.
Kacang merah memberi rasa manis dan tekstur lebih padat.
Ketan hitam membuat sajian terasa lebih kaya sekaligus memberikan kontras warna.
Cincau menambah tekstur lembut dan sensasi yang berbeda ketika bercampur dengan bahan lain.
Lalu datang santan dan gula merah cair.
Santan memberi rasa gurih, sementara gula merah membawa rasa manis sekaligus karakter aroma yang membuat kuah Ce Hun Tiau tidak terasa seperti sekadar air gula.
Karena semua komponen berada dalam satu mangkuk, pengalaman menikmati Ce Hun Tiau sebenarnya sangat ditentukan oleh pergantian tekstur. Satu suapan bisa terasa kenyal, kemudian lembut, lalu bertemu kacang merah atau ketan hitam.
Itulah sebabnya komposisi tidak sekadar berfungsi sebagai daftar bahan. Ia merupakan bagian dari identitas makanan.
Baca Juga: Amparan Tatak, Wadai Banjar yang Lembut dengan Paduan Pisang dan Santan
Mengapa Minuman Dingin Begitu Dekat dengan Pengalaman Kuliner Pontianak?
Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Dalam kajian tentang Ce Hun Tiau dan Es Bongko, karakter Pontianak sebagai kota khatulistiwa menjadi bagian dari konteks kuliner pencuci mulut yang diteliti.
Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan.
Cuaca dan kebiasaan menikmati minuman dingin dapat menjadi konteks yang membantu menjelaskan mengapa sajian seperti Ce Hun Tiau terasa dekat dengan keseharian di kota tropis. Tetapi kondisi tersebut bukan bukti bahwa iklim menjadi penyebab lahirnya resep Ce Hun Tiau.
Sejarah makanan jauh lebih kompleks daripada hubungan sederhana antara “cuaca panas” dan “lahirnya minuman dingin”.
Yang dapat dikatakan dengan lebih aman adalah: ketika sebuah kuliner dingin sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat, fungsi penyegar menjadi salah satu alasan mengapa makanan tersebut mudah ditempatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ce Hun Tiau juga memiliki kaitan dengan momen Ramadan. Berbagai sumber lokal mencatat makanan ini mudah ditemukan sebagai pilihan takjil, sementara keberadaannya tidak terbatas pada bulan tersebut.
Jadi, satu makanan dapat hidup dalam lebih dari satu ruang sosial: sebagai kuliner khas kota, sebagai jajanan harian, dan sebagai pilihan berbuka.
Jalan Waru dan WR Supratman, Ketika Kuliner Menjadi Bagian dari Ruang Kota
Cerita Ce Hun Tiau juga tidak bisa dilepaskan dari tempat orang mencarinya.
Disporapar Kota Pontianak mencatat Ce Hun Tiau dapat ditemukan di sepanjang Jalan Waru dan menyebut Ce Hun Tiau Ahui serta Ce Hun Tiau Ahua di kawasan Jalan WR Supratman, Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan.
Keberadaan beberapa penjual dalam satu kawasan membuat Ce Hun Tiau tidak hanya hadir sebagai produk makanan, tetapi juga sebagai bagian dari memori ruang kota.
Orang tidak sekadar mengingat rasanya. Mereka bisa mengingat jalan tempat mencarinya, gerobak atau kedai yang pernah didatangi, siapa yang mengajak pertama kali, atau kebiasaan membeli semangkuk ketika melewati kawasan tersebut.
Laporan lokal mengenai Jalan WR Supratman juga menggambarkan kawasan itu sebagai salah satu tempat masyarakat menemukan penjual Ce Hun Tiau.
Di sinilah kuliner mulai bekerja sebagai penanda tempat.
Sebuah makanan bisa menjadi identitas kota bukan hanya karena namanya dicantumkan dalam daftar kuliner khas, tetapi karena makanan tersebut benar-benar hadir dalam ruang yang dikunjungi dan diingat masyarakat.
Baca Juga: Dendeng Payau Khas Kalimantan: Olahan Daging Rusa dengan Cita Rasa Pedas, Manis, dan Gurih
Ketika Makanan Berakar dari Satu Budaya Dinikmati Banyak Kalangan
Salah satu hal menarik dari Ce Hun Tiau adalah pergeseran posisinya.
Jejak Tionghoa pada nama dan sejarahnya tetap terbaca. Namun, hari ini Ce Hun Tiau dikenali sebagai kuliner khas Pontianak, bukan semata-mata sebagai makanan yang hanya berkaitan dengan satu komunitas.
Perubahan seperti ini merupakan proses sosial yang lebih besar daripada sekadar perubahan resep.
Ketika makanan berpindah dari lingkungan keluarga atau komunitas ke ruang perdagangan yang lebih terbuka, cara orang mengenal makanan tersebut juga berubah. Nama tetap dipertahankan, sementara cara menjual, ukuran porsi, pilihan komponen, kemasan, hingga kebiasaan mengonsumsinya dapat berkembang mengikuti kebutuhan pasar.
Tetapi perubahan tersebut tidak otomatis berarti semua penjual menggunakan resep yang sama.
Justru variasi adalah hal yang perlu diperhatikan ketika membicarakan makanan tradisional. Tidak semua perubahan dapat langsung disebut sebagai bukti akulturasi. Untuk memastikan perubahan resep antargenerasi, misalnya, diperlukan cerita langsung dari penjual atau keluarga yang mewarisi resep tersebut.
Karena itu, Ce Hun Tiau lebih tepat dilihat sebagai makanan yang memiliki jejak budaya Tionghoa sekaligus telah memperoleh posisi sebagai kuliner khas Pontianak. Dua hal tersebut dapat berjalan bersamaan.
Baca Juga: Kandas Sarai, Sambal Serai Khas Dayak yang Pedas dan Segar
Mengapa Ce Hun Tiau Tetap Relevan?
Jawabannya mungkin justru ada pada kesederhanaannya.
Ce Hun Tiau tidak membutuhkan presentasi yang rumit untuk dikenali. Semangkuk berisi sagu gunting, bongko, kacang merah, ketan hitam, cincau, santan, gula merah, dan es sudah cukup untuk menghadirkan karakter yang khas.
Di sisi lain, makanan ini tetap memungkinkan terjadinya adaptasi.
Selera pembeli dapat berubah. Cara menjual makanan dapat berubah. Generasi yang menikmatinya juga berganti.
Namun selama unsur yang membuatnya dikenali tetap dipertahankan, sebuah makanan tradisional masih mempunyai ruang untuk hidup.
Inilah yang membuat identitas kuliner berbeda dari benda museum.
Warisan kuliner tidak bertahan hanya karena disimpan. Ia bertahan karena masih dibuat, dijual, dibeli, dibicarakan, dan dimakan.
Ce Hun Tiau menunjukkan proses tersebut dengan cukup jelas. Jejak Tionghoa tetap terbaca dari nama dan sejarahnya, sementara Pontianak memberikan ruang bagi makanan itu untuk tumbuh menjadi bagian dari identitas kuliner kota. Kajian akademik dan sumber resmi pemerintah daerah sama-sama menempatkannya sebagai kuliner khas Pontianak.
Poin Penting
-
Ce Hun Tiau merupakan minuman pencuci mulut khas Pontianak yang terdiri dari beberapa komponen dengan tekstur berbeda.
-
Disporapar Kota Pontianak mencatat keberadaannya di kawasan Jalan Waru dan Jalan WR Supratman.
-
Kajian akademik 2024 menyebut Ce Hun Tiau memiliki nuansa Tionghoa yang kuat dan mengaitkan namanya dengan bahasa Tio Ciu.
-
Sagu gunting, bongko, kacang merah, ketan hitam, cincau, santan, dan gula merah menjadi bagian penting dari karakter sajian.
-
Identitas Ce Hun Tiau hari ini tidak hanya dapat dibaca dari akar budayanya, tetapi juga dari posisinya sebagai kuliner khas Pontianak.
-
Hubungan dengan cuaca panas Pontianak sebaiknya dipahami sebagai konteks kenikmatan minuman dingin, bukan bukti penyebab sejarah lahirnya resep.
Baca Juga: Nasi Bekepor Khas Kutai, Kuliner Warisan Kesultanan yang Harum dan Gurih
Insight Redaksi
Yang membuat Ce Hun Tiau menarik bukan hanya daftar bahannya, tetapi perjalanan sosialnya.
Sebuah kuliner bisa membawa nama dan jejak budaya dari komunitas tertentu, lalu tumbuh di kota yang lebih beragam hingga akhirnya dikenali sebagai bagian dari identitas kota itu sendiri.
Ce Hun Tiau memperlihatkan bahwa warisan kuliner tidak selalu berhenti pada pertanyaan “makanan ini berasal dari mana?”. Pertanyaan berikutnya justru lebih menarik: bagaimana makanan itu hidup setelah berpindah ruang, generasi, dan selera?
Dalam kasus Pontianak, jawabannya terlihat dari satu mangkuk sederhana yang masih dicari orang sampai sekarang.
Kalau suatu hari mampir ke Pontianak dan menemukan semangkuk Ce Hun Tiau, mungkin yang sedang dinikmati bukan sekadar es pencuci mulut. Ada jejak perjalanan budaya, perdagangan, keluarga, dan kehidupan kota yang ikut bertemu di dalamnya.
Bagikan artikel ini kepada teman yang sedang mencari cerita di balik kuliner Pontianak. Sebab, makanan tradisional sering kali menyimpan cerita yang lebih panjang daripada yang terlihat dari semangkuk sajiannya.
Dan dari Ce Hun Tiau, masih banyak cerita kuliner Kalimantan yang menarik untuk dikenali—karena Balikpapan TV ingin menjadi teman update setia, bukan sekadar berita biasa.
FAQ
1. Apa itu Ce Hun Tiau Pontianak?
Ce Hun Tiau adalah minuman pencuci mulut khas Pontianak yang disajikan dingin dengan sagu berbentuk memanjang, kacang merah, ketan hitam, cincau, bongko, santan, gula merah cair, dan es.
2. Apa bahan utama Ce Hun Tiau?
Komponen yang umum disebut dalam sumber resmi dan kajian akademik meliputi sagu atau Ce Hun Tiau, kacang merah, ketan hitam, cincau, bongko, santan, gula merah cair, serta es.
3. Apa perbedaan Ce Hun Tiau dan cendol?
Perbedaan yang paling mudah dikenali adalah bentuk komponen tepungnya. Ce Hun Tiau memiliki bagian sagu yang memanjang seperti mi, sementara cendol umumnya berbentuk butiran atau potongan pendek. Komposisi pelengkap Ce Hun Tiau juga memiliki karakter tersendiri.
4. Apa hubungan Ce Hun Tiau dengan budaya Tionghoa?
Kajian akademik mengaitkan Ce Hun Tiau dengan nuansa Tionghoa dan bahasa Tio Ciu. Penelitian tersebut juga menyebut makanan ini diperkenalkan oleh warga Tionghoa yang datang ke Pontianak sebelum berkembang menjadi kuliner khas kota.
5. Di mana Ce Hun Tiau dapat ditemukan di Pontianak?
Disporapar Kota Pontianak mencatat Ce Hun Tiau dapat ditemukan di sepanjang Jalan Waru dan mencantumkan Ce Hun Tiau Ahui serta Ce Hun Tiau Ahua di kawasan Jalan WR Supratman, Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan.
6. Apakah Ce Hun Tiau hanya dikonsumsi saat Ramadan?
Tidak. Ce Hun Tiau juga dikenal sebagai minuman pencuci mulut dan kuliner khas Pontianak di luar Ramadan. Namun, sejumlah sumber lokal mencatat keberadaannya sebagai salah satu pilihan takjil saat bulan Ramadan.
7. Bagaimana cara membuat Ce Hun Tiau di rumah?
Komponen utamanya dapat dibuat atau disiapkan secara terpisah, mulai dari sagu berbentuk memanjang, bongko, kacang merah, ketan hitam, cincau, kuah santan, dan gula merah cair. Setelah seluruh komponen siap, bahan disusun dalam mangkuk lalu disajikan dengan es.