Tumis Paku Bajei Khas Kalimantan, Pucuk Sayur Tepian Sungai yang Renyah dan Gurih

Tania Putri Nuraini • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 16:27 WIB
Pucuk paku muda ditumis bersama bawang dan cabai, menghadirkan sayuran hijau renyah khas tepian sungai Kalimantan. (BTV/AI)
Pucuk paku muda ditumis bersama bawang dan cabai, menghadirkan sayuran hijau renyah khas tepian sungai Kalimantan. (BTV/AI)

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Tumis paku memakai pucuk muda paku sayur, bawang, cabai, dan bumbu sederhana untuk menghasilkan lauk hijau renyah khas tepian air.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Tumis paku memanfaatkan pucuk muda paku sayur yang tumbuh di tepian sungai Kalimantan, lalu dimasak menjadi sayuran renyah.

Di Kalimantan Tengah, tanaman ini dikenal masyarakat Dayak dengan nama bajei. Secara ilmiah, paku sayur tersebut adalah Diplazium esculentum (Retz.) Sw., jenis paku yang memang dimanfaatkan sebagai sayuran. Bagian yang dikonsumsi terutama batang muda dan daun mudanya.

Bentuk pucuknya mudah dikenali karena masih menggulung. Habitatnya pun dekat dengan kehidupan masyarakat: paku sayur dapat tumbuh alami di pinggiran sungai, lahan dengan kelembapan tinggi, hingga kawasan basah lainnya.

Bukan Sekadar Paku yang Tumbuh Liar

Paku sayur bukan tanaman asing dalam tradisi pangan Kalimantan. Penelitian etnobotani di Kalimantan Tengah mencatat Diplazium esculentum sebagai salah satu sayuran tradisional yang dikonsumsi masyarakat Dayak, baik dari tumbuhan liar maupun tanaman yang dibudidayakan secara tradisional.

Bajei juga tercatat sebagai sayuran lokal yang bagian muda batang dan daunnya biasa dimasak dengan teknik oseng. Artinya, tumis paku bukan sekadar kreasi dapur modern, tetapi memiliki kaitan dengan cara masyarakat memanfaatkan tumbuhan yang tersedia di lingkungan mereka.

Dalam kajian tentang pakis sayur, Dwi Koko Pratoko dari Fakultas Farmasi Universitas Jember menyebut masyarakat Indonesia memanfaatkannya sebagai lalapan maupun masakan seperti gulai dan cah pakis.

Dari Tepian Sungai Masuk ke Wajan

Ada alasan sederhana mengapa pucuk muda yang dipilih.

Pucuk memiliki tekstur lebih lembut dibanding bagian tanaman yang sudah tua. Dalam berbagai tradisi kuliner Asia, pucuk muda Diplazium esculentum memang digunakan sebagai sayuran, termasuk dengan cara direbus, dikukus, direbus singkat, atau ditumis.

Untuk tumis paku, karakter tersebut justru menjadi daya tarik utama. Masakan tidak perlu dibebani terlalu banyak bumbu. Bawang merah, bawang putih, cabai, garam, dan sedikit penyedap sudah cukup untuk membuat rasa hijau dan tekstur pucuk tetap terasa.

Yang dicari bukan sayuran yang terlalu lembek.

Paku yang dimasak dengan tepat justru memberikan sensasi lunak di bagian dalam tetapi masih memiliki gigitan.

Bahan yang Dibutuhkan

Bahan Takaran Fungsi dalam masakan Alternatif
Pucuk paku sayur 300 gram Bahan utama Pakis muda
Bawang merah 5 butir Aroma dan rasa gurih 1/2 bawang bombai
Bawang putih 3 siung Aroma dasar
Cabai merah 3 buah Rasa pedas dan warna Cabai rawit
Garam 1/2 sdt Penyeimbang rasa Secukupnya
Gula 1/4 sdt Menyeimbangkan rasa
Minyak goreng 2 sdm Menumis Minyak kelapa
Air 50–75 ml Membantu proses pemasakan

Takaran tersebut merupakan versi rumahan untuk sekitar 3 porsi. Bumbu bisa disesuaikan dengan tingkat pedas dan selera keluarga.

Cara Membersihkan Pucuk Paku

Pilih pucuk yang masih muda, segar, dan tidak menunjukkan tanda layu atau kerusakan.

Buang bagian pangkal yang terlalu keras, kemudian pisahkan daun atau bagian pucuk yang tidak diperlukan. Cuci beberapa kali menggunakan air mengalir untuk menghilangkan tanah atau kotoran yang menempel.

Karena identifikasi tanaman penting saat mengonsumsi tumbuhan liar, jangan mengambil paku dari alam hanya berdasarkan bentuknya. Gunakan bahan yang memang sudah dikenali sebagai paku sayur untuk konsumsi.

Resep Tumis Paku Sederhana

Waktu persiapan: sekitar 10 menit
Waktu memasak: sekitar 8 menit
Total waktu: sekitar 18 menit
Porsi: 3 orang

Langkah membuat

  1. Petik atau potong pucuk paku menjadi bagian yang mudah dimakan, kemudian cuci sampai bersih.
  2. Iris bawang merah, bawang putih, dan cabai. Untuk rasa lebih pedas, sebagian cabai bisa diulek kasar.
  3. Panaskan minyak dalam wajan. Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum dan mulai sedikit berubah warna.
  4. Masukkan cabai. Aduk sebentar sampai aroma cabai keluar.
  5. Masukkan pucuk paku. Aduk cepat agar seluruh bagian terkena bumbu.
  6. Tambahkan sedikit air, garam, dan gula. Masak sambil terus diaduk.
  7. Perhatikan teksturnya. Paku yang sudah matang seharusnya layu, tetapi tidak berubah menjadi lembek dan hancur.
  8. Cicipi. Jika rasa sudah seimbang dan teksturnya masih memiliki sedikit gigitan, matikan api.

Untuk jenis sayuran liar, pengolahan matang lebih tepat daripada menjadikannya konsumsi mentah. Literatur tentang Diplazium esculentum juga mencatat pucuk mudanya lazim dimasak sebelum disantap.

Rahasia Supaya Paku Tidak Lembek

Kesalahan paling umum ada pada durasi memasak.

Paku tidak perlu diperlakukan seperti sayuran yang membutuhkan waktu lama untuk empuk. Api sedang hingga agak besar dan waktu tumis yang relatif singkat membantu mempertahankan teksturnya.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan:

Kalau ingin teksturnya lebih ringan, pucuk dapat direbus singkat atau diblansir terlebih dahulu, lalu ditiriskan sebelum ditumis. Teknik pengolahan seperti blanching, perebusan, dan penumisan memang digunakan dalam berbagai tradisi kuliner untuk pucuk D. esculentum.

Kesalahan yang Sering Terjadi

1. Menggunakan bagian yang terlalu tua
Batang tua cenderung lebih keras. Gunakan pucuk dan bagian muda agar hasil tumisan lebih nyaman dimakan.

2. Memasak sampai terlalu lunak
Tumis paku kehilangan daya tariknya ketika teksturnya berubah menjadi lembek. Cukup masak sampai layu dan matang.

3. Bumbu terlalu kuat
Paku memiliki karakter rasa sayuran sendiri. Terlalu banyak terasi, saus, atau cabai dapat menutupi karakter tersebut.

Kandungan Gizinya Bagaimana?

Paku sayur termasuk tanaman yang telah diteliti dari sisi kandungan nutrisinya. Studi dari Gorontalo menemukan D. esculentum mengandung protein dan asam amino, meskipun angka kandungan dapat berbeda menurut lokasi, sampel, dan metode analisis.

Penelitian di Kalimantan Tengah juga mencatat bajei sebagai salah satu sayuran lokal dengan kandungan mineral dan senyawa gizi yang menarik untuk dikaji. Dalam penelitian tersebut, bajei dilaporkan memiliki kandungan zat besi sekitar 44,6 ppm dan vitamin C sekitar 22,05 mg/100 gram berat basah.

Angka tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai nilai gizi mutlak untuk setiap ikat paku karena komposisi tanaman dapat berubah berdasarkan lokasi tumbuh dan kondisi bahan.

Estimasi Biaya Membuat Tumis Paku

Sebagai gambaran, biaya memasak rumahan dapat dihitung dari kebutuhan bahan berikut.

Bahan Jumlah Estimasi Harga Total
Pucuk paku 300 gram Rp3.000–Rp5.000 Rp3.000–Rp5.000
Bawang merah 5 butir Rp2.000 Rp2.000
Bawang putih 3 siung Rp1.000 Rp1.000
Cabai 3 buah Rp1.500 Rp1.500
Minyak 2 sdm Rp1.000 Rp1.000
Garam, gula, penyedap Secukupnya Rp1.000 Rp1.000
Total     Rp9.500–Rp11.500

Dengan hasil sekitar tiga porsi, biaya bahan berada di kisaran Rp3.200–Rp3.900 per porsi.

Harga tersebut merupakan simulasi bahan rumahan dan dapat berubah menurut daerah, musim, serta tempat pembelian. Sebagai pembanding lokal, menu pakis di salah satu rumah makan Balikpapan pada September 2026 tercatat sekitar Rp12.980–Rp13.552 per porsi.

Cara Menyajikan Biar Makin Enak

Tumis paku paling pas disajikan hangat bersama nasi putih.

Untuk menu rumahan, letakkan tumisan di piring atau mangkuk dangkal agar uap panas tidak terlalu lama terperangkap. Tambahkan irisan cabai merah jika ingin tampilan lebih menarik.

Lauk pendampingnya bisa sederhana: ikan goreng, ikan bakar, telur dadar, tahu, atau tempe. Rasa gurih dari lauk akan melengkapi karakter sayuran tanpa membuat menu terasa terlalu berat.

Kalau ingin nuansa Kalimantan lebih kuat, tumis paku dapat ditempatkan sebagai salah satu lauk dalam satu meja makan bersama ikan sungai dan sambal.

Cara Menikmatinya

Cicipi tumis paku ketika masih hangat.

Bagian yang paling menarik justru teksturnya. Jangan menunggu sampai terlalu dingin karena tumisan sayur akan terus mengalami perubahan tekstur setelah diangkat dari wajan.

Untuk pengalaman makan yang sederhana, ambil nasi hangat, tambahkan tumis paku, lalu padukan dengan lauk berprotein seperti ikan atau telur. Pedas dari cabai bisa menjadi aksen, bukan rasa utama.

Baca Juga: Keluak dari Hutan Kalimantan, Bumbu Hitam dengan Rasa Dalam dan Cerita Panjang di Balik Pengolahan

Dari Pangan Liar Menjadi Identitas Pangan Lokal

Kisah paku sayur menarik karena menunjukkan bagaimana lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari meja makan.

Penelitian tentang sayuran tradisional Kalimantan Tengah mencatat masyarakat Dayak telah memanfaatkan berbagai sayuran lokal yang tumbuh liar maupun dibudidayakan secara tradisional. Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya dokumentasi dan konservasi karena sebagian sayuran tradisional mulai semakin jarang ditemukan di pasar lokal.

Bajei berada dalam konteks tersebut. Ia bukan hanya tanaman yang kebetulan tumbuh di tempat lembap, tetapi juga bagian dari pengetahuan pangan lokal.

Di sisi lain, pemanenan dari alam tetap perlu dilakukan secara bijak. Jika permintaan meningkat, budidaya dapat menjadi pilihan untuk menjaga ketersediaan sekaligus mengurangi tekanan terhadap populasi liar.

Variasi Tumis Paku

Variasi Perbedaan Karakter
Tumis bawang Dominan bawang merah dan putih Gurih dan ringan
Tumis cabai Cabai lebih banyak Pedas dan kuat
Tumis terasi Ditambah terasi Gurih dan aromatik
Tumis udang Ditambah udang Gurih dengan rasa laut
Tumis ikan teri Ditambah teri Asin-gurih dan renyah

Variasi tersebut masih mempertahankan prinsip utama: pucuk muda menjadi bahan utama, sementara bumbu berfungsi memperkuat karakter sayuran.

Poin Penting

Insight Redaksi

Tumis paku menunjukkan bahwa makanan lokal tidak selalu membutuhkan bahan mahal untuk terasa istimewa. Justru dari tumbuhan yang tumbuh dekat sungai, masyarakat menemukan bahan pangan yang bisa masuk ke menu sehari-hari.

Yang menarik bukan hanya rasa renyahnya, tetapi pengetahuan di baliknya: mengenali tumbuhan, memilih pucuk yang tepat, mengolahnya, lalu mempertahankan kebiasaan makan yang terhubung dengan lingkungan.

Di tengah semakin banyaknya pilihan sayuran modern, paku sayur mengingatkan bahwa kekayaan pangan Kalimantan juga tumbuh dari halaman, kebun, rawa, dan tepian air.

Kalau Ces punya kesempatan menemukan paku sayur yang memang dikenal aman untuk konsumsi, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanaman liar biasa. Bisa jadi, di balik pucuk kecil yang masih menggulung itu ada cerita panjang tentang pangan lokal Kalimantan.

Bagikan artikel ini ke teman yang suka kuliner lokal dan eksplorasi bahan pangan Nusantara.

Kalau besok ada sayur baru di meja makan, siapa tahu cerita menariknya juga tumbuh dari tempat yang sederhana.

FAQ

Apakah paku sayur sama dengan pakis hias?
Tidak semua tanaman paku dapat dimakan. Artikel ini membahas paku sayur Diplazium esculentum, bukan seluruh jenis pakis.

Bagian mana yang dimakan?
Umumnya pucuk atau bagian muda, termasuk batang muda dan daun mudanya.

Apakah paku sayur bisa ditumis?
Bisa. Penumisan merupakan salah satu cara pengolahan pucuk muda D. esculentum yang telah dilaporkan dalam berbagai tradisi kuliner.

Apakah paku sayur bisa dimakan mentah?
Untuk olahan tumis, gunakan pucuk yang telah dibersihkan dan dimasak. Literatur kuliner tentang D. esculentum umumnya mencatat pucuk muda diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

Apa nama paku sayur di Kalimantan Tengah?
Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah mengenalnya sebagai bajei.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Kuliner Kalimantan tumis paku bajei Kalimantan sayuran lokal