Choipan, Kudapan Gurih Khas Singkawang yang Jadi Jejak Kuliner Tionghoa di Kalimantan Barat

Nasya Syafira • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 11:07 WIB
Choipan kukus khas Singkawang tersaji hangat dengan bawang putih goreng dan sambal pendamping di piring.
Choipan kukus khas Singkawang tersaji hangat dengan bawang putih goreng dan sambal pendamping di piring.

Durasi Baca: 8 menit

Ikhtisar: Choipan khas Singkawang memadukan kulit tipis, isian sayur gurih, bawang putih, dan sambal dalam satu kudapan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Choipan merupakan kudapan berbentuk pangsit kukus yang dikenal luas di Singkawang dan Pontianak, Kalimantan Barat, dengan kulit tipis serta isian sayuran berbumbu.

Kalau pernah melihat jajanan kecil berkulit bening di etalase kuliner Kalimantan Barat, besar kemungkinan itulah choipan. Isian bengkuang, kucai, rebung atau talas membuat rasanya sederhana tetapi punya karakter kuat. Yuk, kenali ceritanya sampai cara membuatnya di rumah, Ces!

Mengapa Choipan Begitu Dekat dengan Kuliner Singkawang?

Choipan merupakan salah satu kuliner yang memperlihatkan pertemuan budaya Tionghoa dengan lingkungan pangan lokal Kalimantan Barat.

Kudapan ini banyak dikenal di Singkawang dan Pontianak. Pemerintah melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Singkawang juga mencatat choi pan sebagai salah satu kuliner khas kota tersebut.

Dalam bahasa Hakka, istilah choi pan merujuk pada kue berisi sayuran. Choi berarti sayur, sedangkan pan berarti kue. Istilah lain yang juga sering digunakan adalah chai kue atau chai kway.

Bentuknya menyerupai pangsit dengan kulit berwarna putih hingga transparan setelah dikukus. Tekstur kulitnya lembut dan kenyal, sedangkan bagian dalamnya membawa rasa gurih dari sayuran serta ebi.

Di Pontianak, salah satu bentuk yang umum adalah choipan memanjang dengan isian bengkuang dan ebi. Di Singkawang, pilihan isian dapat berkembang menjadi bengkuang, kucai, rebung, hingga talas.

Baca Juga: Kue Lam Khas Banjar, Wadai Berlapis dari Barabai yang Dibuat dengan Telur Bebek

Dari Mana Sebenarnya Choipan Berasal?

Choipan memiliki akar dari tradisi kuliner Tionghoa dan berkembang melalui komunitas Tionghoa di Kalimantan Barat.

Sejumlah literatur yang dikutip Tirto mengaitkan kehadiran makanan tersebut dengan kedatangan masyarakat dari Tiongkok ke Kalimantan Barat serta aktivitas perdagangan maritim. Namun, angka tahun yang sangat spesifik mengenai awal kemunculannya perlu dibaca secara hati-hati karena catatan sejarah kuliner tidak selalu seragam.

Yang lebih jelas adalah jejak adaptasinya. Bahan seperti bengkuang, kucai, rebung dan talas digunakan sebagai isian, kemudian dipadukan dengan ebi dan kulit berbasis tepung.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah makanan dapat bertahan ketika resep dari komunitas pendatang bertemu bahan pangan yang tersedia di daerah baru.

Jejak panjang choipan juga terlihat dari keberadaan kuliner keluarga di Singkawang. Kompas mencatat Choipan Keluarga Tjhia telah dikenal sejak awal abad ke-20 dan menjadi bagian dari pengalaman kuliner kota tersebut.

Jadi, sejarah choipan lebih tepat dilihat sebagai perjalanan akulturasi kuliner daripada sekadar makanan yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Apa yang Membuat Kulit Choipan Berbeda?

Kunci choipan berada pada kulitnya yang tipis, lembut, tetapi tetap cukup kuat untuk menahan isian.

Komposisinya umumnya menggunakan tepung beras yang dipadukan dengan tepung tapioka atau tepung sagu. Campuran tersebut menghasilkan karakter kulit yang berbeda dari kulit pangsit berbasis tepung terigu.

Isian paling mudah dikenali adalah bengkuang yang ditumis bersama bawang putih dan ebi. Bengkuang memberikan rasa sedikit manis sekaligus tekstur renyah.

Kucai menghadirkan aroma khas, sementara rebung memberikan tekstur lebih berserat. Talas dapat memberikan sensasi lebih lembut dan mengenyangkan.

Berikut komposisi praktis untuk membuat sekitar 22–25 buah choipan.

Bahan Takaran Fungsi Alternatif
Tepung beras 200 gram Membentuk kulit -
Tepung tapioka 20 gram Memberikan elastisitas Tepung sagu
Air 450 ml Membentuk adonan -
Minyak goreng 3 sdm Membantu tekstur kulit Minyak sayur
Garam ½ sdt Memberikan rasa -
Bengkuang 500 gram Isian utama Talas atau rebung
Ebi 2 sdm Rasa gurih dan aroma Udang kering
Bawang putih 5 siung Bumbu isian -
Lada Secukupnya Memberikan rasa hangat -
Minyak goreng 100 ml Minyak bawang -

Komposisi di atas merupakan resep rumahan praktis yang disusun dari formula resep choipan yang dipublikasikan RRI pada 2026.

Bagaimana Cara Membuat Choipan di Rumah?

Waktu persiapan: sekitar 40 menit
Waktu memasak: sekitar 25 menit
Total waktu: sekitar 65 menit
Hasil: sekitar 22–25 buah

Peralatan: kukusan, wajan, baskom, parutan, spatula, talenan, pisau, sendok, dan alas untuk membentuk adonan.

1. Siapkan isian bengkuang

Kupas bengkuang, kemudian parut menggunakan ukuran sedang.

Peras sedikit airnya agar isian tidak terlalu basah ketika dibungkus.

Tumis bawang putih sampai harum. Masukkan ebi yang telah direndam dan dicincang.

Tambahkan bengkuang, lada, serta garam. Masak hingga cairan menyusut dan tekstur isian menjadi lebih kering.

Isian yang terlalu basah dapat membuat kulit mudah robek saat dibentuk.

2. Buat adonan kulit

Campurkan tepung beras, tepung tapioka, garam, air dan minyak sesuai takaran.

Masak dengan api sedang sambil terus diaduk sampai adonan berubah menjadi lebih padat.

Ketika adonan mulai menggumpal dan tidak lagi berbentuk cair, matikan api.

Diamkan sebentar hingga cukup hangat untuk diolah menggunakan tangan.

3. Bentuk kulit

Ambil sedikit adonan, kemudian pipihkan hingga membentuk lembaran tipis.

Jangan membuat kulit terlalu tebal karena karakter choipan justru berada pada lapisan luarnya yang tipis dan lembut.

Letakkan isian di bagian tengah, lalu lipat dan rapatkan bagian tepinya.

Pastikan tidak ada celah besar pada sambungan agar isian tidak keluar ketika dikukus.

4. Kukus choipan

Panaskan kukusan terlebih dahulu.

Susun choipan dengan jarak yang cukup supaya tidak saling menempel.

Kukus hingga kulit terlihat lebih bening, lembut dan matang.

Proses pengukusan menjadi teknik utama dalam sajian klasik choipan.

5. Siapkan minyak bawang

Cincang bawang putih kemudian goreng menggunakan minyak dengan api kecil.

Masak hingga bawang berubah kuning keemasan. Angkat sebelum warnanya terlalu gelap karena panas minyak masih akan meneruskan proses pematangan.

Minyak bawang ini kemudian dapat disiramkan di atas choipan.

6. Sajikan bersama sambal

Letakkan choipan yang masih hangat di piring.

Tambahkan bawang putih goreng beserta sedikit minyak bawang.

Sajikan dengan sambal atau saus bercita rasa asam-pedas.

Kombinasi tersebut membantu menyeimbangkan rasa gurih dari isian dan aroma bawang putih.

Baca Juga: Juhu Singkah Uwei: Saat Umbut Rotan dari Hutan Diolah Menjadi Kuliner Khas Dayak Kalimantan Tengah

Apa Kesalahan yang Sering Membuat Choipan Gagal?

Kulit terlalu tebal.
Kulit yang tebal membuat tekstur kurang lembut. Pipihkan adonan secara merata sebelum diberi isian.

Isian terlalu basah.
Air dari bengkuang yang belum menyusut dapat membuat kulit mudah pecah. Tumis sampai kadar air berkurang.

Adonan kulit terlalu dingin ketika dibentuk.
Adonan yang sudah terlalu dingin dapat lebih sulit diratakan. Bentuk ketika masih hangat dan nyaman disentuh.

Isian terlalu banyak.
Choipan berukuran kecil membutuhkan takaran isian yang seimbang. Isian berlebihan membuat sambungan sulit ditutup.

Bawang putih terlalu lama digoreng.
Bawang yang terlalu gelap dapat menghasilkan rasa pahit. Gunakan api kecil dan angkat ketika warnanya sudah keemasan.

Berapa Perkiraan Biaya Membuat Choipan?

Biaya sangat bergantung pada harga bahan di daerah masing-masing. Untuk simulasi rumahan, kebutuhan utama dapat dihitung sebagai berikut.

Kebutuhan Jumlah Estimasi Harga Total
Tepung beras 200 gram Rp5.000 Rp5.000
Tepung tapioka 20 gram Rp1.000 Rp1.000
Bengkuang 500 gram Rp7.000 Rp7.000
Ebi 2 sdm Rp7.000 Rp7.000
Bawang putih 100 gram Rp5.000 Rp5.000
Minyak 150 ml Rp4.000 Rp4.000
Bumbu dan garam Secukupnya Rp3.000 Rp3.000
Sambal Secukupnya Rp5.000 Rp5.000
Total simulasi     Rp37.000

Jika menghasilkan 22–25 buah, biaya bahan berada di kisaran Rp1.480–Rp1.680 per buah.

Angka tersebut merupakan simulasi bahan, bukan patokan harga jual. Harga ebi, bengkuang, minyak dan bahan lainnya dapat berubah berdasarkan lokasi serta waktu pembelian.

Sebagai pembanding, ANTARA pada Februari 2025 mencatat choipan di Kedai Sakkok, Singkawang, dijual Rp2.500 per buah dengan pilihan isian bengkuang, kucai dan rebung.

Bagaimana Choipan Biasanya Disajikan?

Choipan paling menarik ketika disantap dalam kondisi hangat.

Kulitnya terasa lembut, sementara isian memberikan kontras tekstur. Bengkuang cenderung memberikan sensasi renyah, sedangkan ebi memperkuat rasa gurih.

Taburan bawang putih goreng menjadi bagian penting dalam penyajian. Aroma bawang memberikan karakter kuat sebelum sambal memberikan sentuhan pedas dan asam.

Untuk sarapan ringan, choipan dapat dinikmati bersama teh hangat atau kopi.

Dalam konteks wisata kuliner, makanan ini juga sering dicari sebagai jajanan yang mudah disantap dan dibawa sebagai oleh-oleh dari Kalimantan Barat. Indonesia Travel memasukkan chai kwe atau choipan dalam daftar makanan khas Pontianak yang populer.

Apakah Choipan Hanya Berisi Bengkuang?

Tidak.

Bengkuang memang salah satu varian yang paling mudah ditemukan, tetapi choipan dapat menggunakan berbagai isian.

Variasi Karakter
Bengkuang + ebi Gurih, sedikit manis dan renyah
Kucai Aromatik dengan rasa sayuran lebih kuat
Rebung Berserat dan memiliki aroma khas
Talas Lebih lembut dan padat
Campuran sayuran Rasa lebih kompleks
Goreng Permukaan lebih kering dan renyah

Perbedaan isian membuat choipan dapat berkembang tanpa kehilangan identitas utamanya sebagai kudapan berkulit tipis dengan isian sayuran.

Dokumen Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa coipan dapat dibuat dengan isian keladi, bengkuang atau rebung dan dapat disajikan dalam bentuk kukus maupun goreng.

Baca Juga: Mengenal Bipang Ambawang, Kuliner Khas Ambawang yang Sempat Ramai Dibicarakan Nasional

Apa Hubungan Choipan dengan Kehidupan Kuliner Singkawang?

Choipan bukan hanya soal rasa. Makanan ini menjadi salah satu contoh bagaimana identitas kuliner terbentuk dari pertemuan budaya.

Singkawang memiliki keragaman masyarakat Tionghoa, Dayak dan Melayu yang ikut membentuk karakter kuliner setempat. Pemerintah melalui KPKNL Singkawang menempatkan choi pan dalam daftar makanan yang mencerminkan kekayaan kuliner kota tersebut.

Keberadaan choipan dalam kedai, pasar, sarapan keluarga dan kawasan kuliner membuat makanan ini tetap dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Di Pontianak, choipan juga menjadi salah satu jajanan yang mudah ditemui dan berkembang sebagai bagian dari wisata kuliner kota.

Itulah yang membuat choipan menarik untuk dikenali. Bentuknya kecil, tetapi ceritanya menyimpan hubungan antara migrasi, bahan pangan, tradisi keluarga dan perkembangan kuliner lokal.

Poin Penting:

Insight Redaksi

Choipan memperlihatkan bahwa kuliner daerah tidak selalu lahir dari satu budaya saja. Di Singkawang dan Pontianak, makanan ini berkembang dari tradisi Tionghoa yang bertemu bahan pangan lokal serta kebiasaan masyarakat setempat. Bagi pembaca BTV di Kalimantan Timur, choipan juga menarik sebagai contoh bagaimana kuliner berbasis komunitas dapat bertahan, berkembang, dan menjadi bagian dari identitas wisata kuliner Kalimantan.

Kalau artikel ini terasa bermanfaat, bagikan ke keluarga atau teman yang sedang mencari ide jajanan khas Kalimantan. Ikuti terus informasi kuliner dan cerita daerah lainnya hanya di Balikpapan TV, Ces!

FAQ

1. Apa itu choipan?

Choipan adalah kudapan berbentuk pangsit dengan kulit tipis berbahan tepung beras dan tepung tapioka atau sagu, berisi sayuran serta bahan gurih seperti ebi.

2. Choipan berasal dari mana?

Choipan dikenal sebagai salah satu kuliner khas Singkawang dan Pontianak, Kalimantan Barat, yang memiliki pengaruh kuat dari tradisi kuliner Tionghoa.

3. Apa saja isian choipan?

Isian yang umum antara lain bengkuang, kucai, rebung, talas dan ebi.

4. Mengapa kulit choipan terlihat transparan?

Kulitnya menggunakan tepung beras dengan tambahan tapioka atau sagu dan dimasak melalui proses pengukusan, sehingga menghasilkan tekstur tipis, lembut dan sedikit transparan.

5. Apa pelengkap yang biasa digunakan pada choipan?

Choipan umumnya disajikan dengan bawang putih goreng, minyak bawang dan sambal atau saus bercita rasa asam-pedas.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Chai Kue Choi Pan Choipan Chai Kway