Lamang, Beras Ketan dalam Bambu yang Menjaga Tradisi Kuliner Kalimantan

Nasya Syafira • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:31 WIB
Lamang beras ketan dimasak dalam bambu menggunakan bara api, tradisi kuliner masyarakat Kalimantan. (BTV/AI)
Lamang beras ketan dimasak dalam bambu menggunakan bara api, tradisi kuliner masyarakat Kalimantan. (BTV/AI)

 Durasi Baca: 7 Menit

Ikhtisar: Lamang adalah panganan berbahan beras ketan yang dimasak dalam bambu bersama santan, dikenal dalam tradisi masyarakat Kalimantan dan berbagai perayaan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Lamang merupakan panganan tradisional berbahan beras ketan, santan, dan bambu yang dikenal dalam berbagai tradisi masyarakat Kalimantan.

Menariknya, proses memasaknya bukan sekadar memasukkan ketan ke bambu. Ada pemilihan bahan, teknik pembakaran, hingga kebiasaan sosial yang membuat lamang punya cerita panjang.

Enam Unsur yang Membuat Lamang Berbeda dari Olahan Ketan Biasa

Lamang terlihat sederhana, tetapi proses pembuatannya memadukan bahan alami dan teknik memasak tradisional yang cukup khas.

  1. Beras ketan sebagai bahan utama

Beras ketan memberikan tekstur pulen dan lengket setelah matang. Karakter tersebut menjadi bagian penting dari sensasi makan lamang.

Dalam sumber kebudayaan Kalimantan Tengah, ketan disebut memiliki kandungan amilopektin tinggi sehingga teksturnya menjadi kenyal setelah dimasak.

  1. Bambu menjadi media memasak

Bambu bukan sekadar wadah. Ruas bambu menjadi tempat beras ketan, santan, dan bahan pendukung dimasak secara perlahan.

Beberapa sumber kebudayaan menyebut bambu muda berdinding relatif tipis digunakan dalam proses pembuatan lamang karena memengaruhi proses pemasakan.

  1. Daun pisang sebagai pelapis

Bagian dalam bambu biasanya dilapisi daun pisang sebelum beras ketan dimasukkan. Teknik tersebut menjadi bagian dari metode tradisional pembuatan lamang.

Pelapisan ini juga membuat ketan lebih mudah dikeluarkan setelah matang. Dokumentasi kebudayaan Banjar mencatat tahapan tersebut sebagai bagian dari proses pembuatan lamang.

  1. Santan memberikan rasa gurih

Santan menjadi salah satu bahan yang membuat lamang terasa gurih dan lembut. Garam biasanya digunakan untuk menyeimbangkan cita rasanya.

Komposisi sederhana tersebut menunjukkan bagaimana kuliner tradisional memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan masyarakat sekitar.

  1. Bara api menentukan hasil akhir

Bambu berisi ketan dimasak dengan posisi tertentu di dekat bara api. Prosesnya membutuhkan perhatian supaya bagian bambu tidak terbakar sebelum ketan matang.

Dalam dokumentasi pembuatan lamang Banjar, bambu diputar selama proses pembakaran agar panas menyebar lebih merata.

  1. Cara penyajiannya bisa berbeda

Lamang dapat dinikmati bersama berbagai pendamping, tergantung kebiasaan daerah dan keluarga yang membuatnya.

Di Kalimantan Selatan, lamang antara lain dikenal disajikan bersama sambal kacang atau telur asin.

Baca Juga: Kandas Sarai Khas Dayak, Saat Serai Muda Jadi Bintang Sambal Kalimantan

Mengapa Bambu Begitu Penting dalam Proses Memasak Lamang?

Banyak orang mungkin melihat bambu hanya sebagai wadah tradisional. Padahal, pemilihannya menjadi salah satu bagian penting dalam proses memasak lamang.

Jenis dan kondisi bambu dapat memengaruhi proses pemanasan. Sumber pariwisata Kalimantan Tengah menyebut bambu humbang lawas digunakan dalam pembuatan lamang Dayak.

Bambu yang relatif tipis membantu panas mencapai bagian dalam dengan lebih efektif. Karena itu, penggunaan bambu bukan sekadar mengikuti kebiasaan lama.

Pada tahap memasak, bambu biasanya ditempatkan miring di dekat bara. Posisi tersebut membantu menjaga ketan tetap terkena panas selama proses pematangan.

Teknik tradisional ini membutuhkan perhatian karena panas yang terlalu tinggi dapat membuat bagian luar bambu cepat menghitam.

Setelah matang, lamang dapat dikeluarkan dari bambu lalu dipotong sesuai kebutuhan. Bentuk akhirnya biasanya padat dan mudah disajikan.

Lamang Tidak Hanya Soal Rasa, tetapi Juga Tradisi

Keberadaan lamang dalam masyarakat Kalimantan berkaitan dengan berbagai kegiatan sosial dan budaya. Karena itu, makanan ini tidak tepat dipandang hanya sebagai kudapan biasa.

Dalam masyarakat Dayak Meratus, lamang dilaporkan hadir dalam kegiatan aruh dan juga dapat disajikan pada perkawinan atau kegiatan keluarga.

Sementara itu, masyarakat Banjar mengenal kegiatan malamang sebagai kebiasaan membuat lamang, termasuk menjelang perayaan tertentu.

Antaranews Kalimantan Selatan mencatat bahwa di sejumlah wilayah Hulu Sungai Tengah, malamang menjadi kebiasaan masyarakat sehari sebelum Lebaran.

Di sinilah nilai kuliner tradisional terasa berbeda. Proses membuat makanan dapat menjadi kegiatan bersama yang mempertemukan keluarga dan lingkungan sekitar.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan hubungan antara pangan, kebiasaan masyarakat, dan momen perayaan.

Kehadiran lamang dalam kegiatan budaya membuat makanan ini memiliki nilai sosial yang tidak selalu terlihat dari bentuk sederhananya.

Dari Dapur Tradisional hingga Kuliner yang Dicari Pembeli

Perjalanan lamang tidak berhenti di dapur keluarga. Makanan ini juga berkembang menjadi panganan yang dijual di pasar tradisional dan menjadi bagian dari kuliner daerah.

Media Indonesia mencatat lamang dari Kandangan, Hulu Sungai Selatan, termasuk yang dikenal luas dan dijual sebagai panganan tradisional.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa makanan tradisional dapat beradaptasi tanpa harus kehilangan identitas utamanya.

Bagi masyarakat Kalimantan Timur, keberadaan lamang juga menarik untuk dilihat sebagai bagian dari kekayaan kuliner Borneo.

Namun, konteks daerah perlu diperhatikan. Lamang dikenal di berbagai wilayah Kalimantan dengan cara penyajian dan latar budaya yang dapat berbeda.

Karena itu, menyebut lamang sebagai makanan dari satu daerah saja dapat menghilangkan keragaman tradisi yang berkembang di wilayah lain.

Bagi pembaca yang ingin mengenal kuliner Kalimantan, lamang bisa menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara makanan dan kebudayaan.

Resep Lamang Beras Ketan dalam Bambu

Bahan-bahan

  • 500 gram beras ketan putih
  • 500 ml santan
  • 1 sendok teh garam
  • 2–3 lembar daun pandan, opsional
  • 2–3 batang bambu muda berukuran sedang
  • Daun pisang secukupnya

Cara Membuat

1. Cuci beras ketan
Cuci beras ketan hingga air bilasannya cukup jernih. Setelah itu, rendam selama kurang lebih 2–3 jam agar beras lebih mudah matang.

2. Siapkan bambu
Pilih bambu yang masih muda dan bersihkan bagian dalamnya. Lapisi bagian dalam bambu dengan daun pisang, tetapi jangan terlalu padat agar ruang untuk beras tetap tersedia.

3. Buat campuran santan
Campurkan santan dengan garam. Jika ingin aroma lebih harum, tambahkan daun pandan.

4. Masukkan ketan ke bambu
Tiriskan beras ketan, kemudian masukkan ke dalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang. Jangan mengisi bambu sampai penuh karena beras akan mengembang ketika dimasak.

5. Tuangkan santan
Tuangkan campuran santan secara perlahan ke dalam bambu hingga membasahi beras ketan.

6. Masak menggunakan bara api
Letakkan bambu secara miring di dekat bara api. Masak secara perlahan sambil sesekali diputar agar panas menyebar lebih merata.

7. Periksa kematangan
Masak hingga beras ketan berubah menjadi padat, pulen, dan matang sempurna. Hindari api yang terlalu besar karena bagian luar bambu dapat cepat terbakar sebelum ketan matang.

8. Dinginkan dan keluarkan
Setelah matang, angkat bambu dan biarkan agak dingin. Keluarkan lamang secara perlahan dari bambu bersama lapisan daun pisangnya.

9. Potong dan sajikan
Potong lamang menjadi beberapa bagian. Lamang dapat dinikmati sebagai kudapan maupun dipadukan dengan lauk atau pendamping sesuai tradisi daerah masing-masing.

Tips agar Lamang Berhasil

  • Gunakan beras ketan, bukan beras biasa, untuk mendapatkan tekstur yang pulen.
  • Bambu sebaiknya masih muda dan tidak terlalu tebal.
  • Jangan memenuhi bambu sampai bagian atas karena ketan akan mengembang.
  • Gunakan bara api dan panas yang stabil, bukan api besar secara langsung.
  • Putar bambu secara berkala supaya kematangan lebih merata.
  • Lapisan daun pisang membantu ketan tidak langsung menempel pada dinding bambu.

Catatan: Resep di atas merupakan versi praktis untuk rumahan. Takaran, jenis bambu, lama pemasakan, dan pendamping lamang dapat berbeda menurut daerah serta kebiasaan keluarga. Jadi, resep ini sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya versi autentik lamang.

Baca Juga: Wadai Ipau hingga Amparan Tatak, 5 Kue Khas Banjarmasin yang Bikin Penasaran

 
 

Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Mengenal Lamang

Lamang memang sederhana, tetapi ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan agar pemahaman terhadap makanan tradisional ini tidak terlalu menyederhanakan budayanya.

  1. Jangan menganggap semua lamang memiliki resep sama.

Bahan dasar dan teknik memasaknya memiliki kemiripan, tetapi penyajian serta konteks budayanya dapat berbeda antarwilayah.

  1. Jangan memisahkan makanan dari tradisinya.

Lamang berkembang dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk perayaan, selamatan, kegiatan adat, dan pertemuan keluarga.

  1. Kenali daerah asal sebelum menyebut versi tertentu sebagai satu-satunya.

Kalimantan memiliki keragaman masyarakat dan tradisi. Lamang yang ditemukan di Kalimantan Selatan belum tentu memiliki konteks sama dengan versi Kalimantan Tengah.

Pemahaman tersebut penting agar kuliner tradisional tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari cerita masyarakat yang mempertahankannya.

Poin Penting

Insight Redaksi

Lamang membuktikan makanan tradisional tidak harus rumit untuk punya cerita panjang. Dari bambu, ketan, dan bara lahir tradisi yang menghubungkan keluarga serta masyarakat. Di Kalimantan, pangan bukan sekadar isi perut; ada identitas yang ikut diwariskan. Jadi, jangan sampai kuliner lokal cuma dikenal namanya, tapi kada dipahami ceritanya.

Kalau menemukan lamang tradisional, coba kenali juga asal dan cerita pembuatnya, bukan cuma mengejar rasanya.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya kuliner tradisional Kalimantan makin dikenal generasi muda.

Penasaran dengan cerita kuliner tradisional lainnya yang masih hidup di tengah masyarakat? Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu lamang?

Lamang adalah makanan berbahan beras ketan yang dimasak bersama santan dalam bambu dan kemudian dipanggang menggunakan bara api.

2. Mengapa lamang dimasak dalam bambu?

Bambu menjadi media memasak tradisional yang memungkinkan beras ketan dimasak secara perlahan menggunakan panas dari bara.

3. Apakah lamang hanya ditemukan di Kalimantan?

Lamang atau lemang juga dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Bentuk, bahan pendamping, dan konteks budayanya dapat berbeda antar daerah.

4. Apa saja bahan utama lamang?

Bahan yang umum digunakan antara lain beras ketan, santan, garam, daun pisang, dan bambu sebagai media memasak.

5. Kapan lamang biasanya disajikan?

Lamang dapat hadir dalam kegiatan adat, perayaan, selamatan, Lebaran, perkawinan, maupun kegiatan berkumpul bersama keluarga.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
beras ketan Lamang Kuliner Tradisional kalimantan