Kulit Cempedak Bisa Jadi Mandai? Ini Rahasia Fermentasi Garam yang Mengubah Tekstur dan Rasa

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:17 WIB
Sajian mandai asam khas Kalimantan yang gurih menggugah selera siap memanjakan para penikmat kuliner. (BTV/Ai)
Sajian mandai asam khas Kalimantan yang gurih menggugah selera siap memanjakan para penikmat kuliner. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 7 Menit

Ikhtisar: Mandai merupakan olahan tradisional berbahan kulit cempedak yang difermentasi menggunakan garam. Proses ini tidak sekadar mengawetkan bahan, tetapi juga mengubah karakteristik kulit cempedak menjadi lebih lunak, kenyal, dan memiliki cita rasa asam-gurih yang khas.

 

Balikpapan TV – Hai Ces! Siapa sangka bagian kulit cempedak yang biasanya dibuang justru bisa berubah menjadi makanan dengan tekstur unik setelah melalui proses fermentasi? Di Kalimantan, olahan ini dikenal sebagai mandai, salah satu pangan tradisional yang memanfaatkan kulit cempedak dengan cara yang sederhana tetapi menarik jika dilihat dari ilmu pangan modern.

Mandai biasanya dibuat dengan membersihkan bagian kulit cempedak, memotongnya, kemudian merendam atau menyimpannya bersama garam dalam wadah tertutup. Seiring waktu, terjadi proses fermentasi yang mengubah karakter bahan.

Hasil akhirnya bukan lagi kulit buah dengan tekstur keras dan berserat, melainkan bahan pangan yang lebih lunak, kenyal, dan dapat diolah menjadi berbagai masakan.

Lantas, bagaimana air garam bisa mengubah kulit cempedak sedemikian rupa? Simak penjelasannya, Ces!

Apa Itu Mandai Asam?

Mandai merupakan olahan tradisional dari kulit bagian dalam buah cempedak. Setelah bagian kulit dibersihkan, bahan biasanya diberi garam dan dibiarkan mengalami fermentasi.

Istilah mandai asam merujuk pada karakter rasa asam yang berkembang selama proses tersebut.

Rasa tersebut bukan semata-mata berasal dari garam, melainkan berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme selama fermentasi. Mikroorganisme tertentu dapat memanfaatkan komponen yang tersedia pada bahan dan menghasilkan berbagai senyawa metabolit, termasuk asam organik.

Inilah yang kemudian memberikan karakter rasa dan aroma khas pada mandai.

Mengapa Air Garam Bisa Mengawetkan Kulit Cempedak?

Garam memiliki peran penting dalam fermentasi pangan.

Ketika garam ditambahkan dalam konsentrasi tertentu, air dari jaringan bahan pangan dapat keluar melalui proses osmosis. Kondisi ini menyebabkan lingkungan menjadi kurang ideal bagi sebagian mikroorganisme pembusuk.

Pada saat yang sama, mikroorganisme yang lebih toleran terhadap garam dapat bertahan dan berperan dalam proses fermentasi.

Karena itu, fermentasi menggunakan garam bukan sekadar proses merendam bahan dalam air asin. Ada interaksi antara garam, air, jaringan bahan, dan mikroorganisme yang menentukan perubahan selama fermentasi.

Baca Juga: Cuma Sehari di Balikpapan, Kreator Ini Berburu Soto, Mantau hingga Seafood Khas Kota

Dari Kulit Cempedak Menjadi Tekstur Kenyal

Perubahan tekstur merupakan salah satu hal paling menarik dari mandai.

Kulit cempedak memiliki jaringan tumbuhan yang tersusun dari berbagai komponen struktural, termasuk selulosa, hemiselulosa, pektin, dan senyawa lainnya.

Selama proses fermentasi, kondisi lingkungan yang berubah dapat memengaruhi struktur jaringan tersebut. Aktivitas enzim dan mikroorganisme dapat berkontribusi terhadap perubahan komponen tertentu sehingga jaringan menjadi lebih lunak.

Akibatnya, tekstur kulit yang awalnya keras dapat berubah menjadi lebih lentur dan kenyal.

Namun, istilah "daging sintetis" sebaiknya dipahami sebagai perumpamaan tekstur, bukan berarti mandai benar-benar menghasilkan daging atau memiliki struktur yang sama dengan daging hewan.

Mengapa Rasanya Bisa Menjadi Asam?

Salah satu ciri khas fermentasi adalah terbentuknya senyawa baru sebagai hasil metabolisme mikroorganisme.

Dalam fermentasi pangan, kelompok mikroorganisme tertentu dapat menghasilkan asam organik. Akumulasi senyawa tersebut dapat menurunkan pH bahan sekaligus menciptakan rasa asam.

Pada mandai, proses ini berkontribusi terhadap karakter rasa yang membedakannya dari kulit cempedak segar.

Semakin lama fermentasi berlangsung, perubahan rasa dan aroma juga dapat semakin terasa. Namun, hasilnya sangat bergantung pada kondisi fermentasi, jumlah garam, kebersihan bahan, suhu, serta lama penyimpanan.

Baca Juga: Kuliner Pontianak: 8 Sajian Legendaris yang Dijejaki Leonardo Edwin Seharian

Fermentasi Bukan Sekadar Membuat Makanan Lebih Awet

Jika dilihat dari perspektif food science, fermentasi memiliki fungsi yang lebih kompleks daripada sekadar pengawetan.

Fermentasi dapat mengubah:

Dengan demikian, mandai merupakan contoh bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan proses biologis untuk mengubah bahan pangan yang semula kurang lazim dikonsumsi menjadi produk dengan karakter baru.

Mengapa Garam Harus Digunakan dengan Tepat?

Konsentrasi garam merupakan salah satu faktor penting dalam fermentasi.

Terlalu sedikit garam dapat membuat mikroorganisme yang tidak diinginkan lebih mudah berkembang. Sebaliknya, kondisi yang terlalu asin dapat menghambat mikroorganisme yang dibutuhkan untuk menghasilkan karakter fermentasi.

Karena itu, praktik tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi sebenarnya menyimpan pengetahuan mengenai keseimbangan bahan dan kondisi fermentasi.

Meski begitu, proses rumahan tetap perlu memperhatikan kebersihan wadah, bahan, tangan, dan lingkungan pengolahan.

Apakah Mandai Bisa Disebut Pangan Fermentasi Modern?

Secara prinsip, mandai dapat dipahami sebagai salah satu contoh fermentasi pangan tradisional.

Yang menarik, masyarakat telah menerapkan proses tersebut jauh sebelum istilah seperti mikrobiologi pangan, pH, aktivitas air, dan metabolisme mikroba menjadi bagian dari ilmu pengetahuan modern.

Food science kemudian membantu menjelaskan mengapa proses tersebut dapat menghasilkan perubahan yang dapat diamati pada makanan.

Dengan sudut pandang tersebut, mandai bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga contoh pengetahuan empiris mengenai bagaimana bahan pangan dapat diubah melalui proses biologis.

Baca Juga: Golden Palace Balikpapan: Chinese Food Halal yang Jadi Sorotan Koko Kuliner

Dari Limbah Buah Menjadi Pangan Bernilai

Salah satu nilai penting mandai adalah pemanfaatan bagian buah yang berpotensi menjadi limbah.

Ketika daging buah cempedak dikonsumsi, kulit bagian dalamnya masih dapat dimanfaatkan melalui pengolahan tertentu. Fermentasi kemudian memberikan nilai tambah dengan mengubah karakter bahan tersebut menjadi makanan yang dapat dimasak kembali.

Konsep ini sejalan dengan gagasan pemanfaatan pangan secara menyeluruh, meskipun pengolahan tradisional tentu tetap harus memperhatikan keamanan pangan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Bubuhan ikam mungkin melihat kulit cempedak sebagai bagian yang tidak berguna. Padahal, lewat fermentasi dan garam, bahan tersebut bisa berubah menjadi mandai dengan rasa asam-gurih serta tekstur kenyal yang khas.

Menariknya, proses ini menunjukkan bahwa pengetahuan kuliner tradisional sering kali memiliki dasar ilmiah yang baru bisa dijelaskan lebih mendalam oleh ilmu pangan modern. Jadi, mandai bukan sekadar cara mengolah sisa buah, tetapi juga bukti kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber pangan yang tersedia di sekitarnya.

Jika ingin mencoba mandai, pastikan produk dibuat dengan bahan dan wadah yang bersih serta melalui proses fermentasi yang terkontrol. Jangan mengonsumsi hasil fermentasi yang menunjukkan tanda pembusukan atau kontaminasi.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam yang belum tahu bahwa kulit cempedak bisa diolah menjadi pangan fermentasi khas Kalimantan!

Kuliner tradisional menyimpan pengetahuan yang menarik untuk dibedah dari sisi sains. Tetap update informasi lifestyle, kuliner, dan budaya Kalimantan hanya di Balikpapantv.id, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu mandai?

Mandai adalah olahan tradisional berbahan kulit bagian dalam cempedak yang diawetkan dan difermentasi menggunakan garam.

2. Mengapa mandai memiliki rasa asam?

Rasa asam berkaitan dengan terbentuknya senyawa asam organik selama proses fermentasi oleh mikroorganisme tertentu.

3. Mengapa tekstur mandai menjadi kenyal?

Fermentasi dapat menyebabkan perubahan pada struktur jaringan kulit cempedak sehingga teksturnya menjadi lebih lunak dan kenyal.

4. Apakah mandai sama dengan daging sintetis?

Tidak. Sebutan tersebut hanya menggambarkan kemiripan sensasi tekstur tertentu. Mandai tetap merupakan produk berbahan tumbuhan.

5. Apa fungsi garam dalam fermentasi mandai?

Garam membantu mengatur lingkungan fermentasi dengan menghambat sebagian mikroorganisme yang tidak diinginkan sekaligus mendukung kondisi yang sesuai bagi mikroorganisme tertentu.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
mandai asam mandai kulit cempedak fermentasi kulit cempedak mandai Kalimantan kuliner khas kalimantan