Durasi Baca: 7 Menit
Ikhtisar: Perjalanan kuliner Leonardo Edwin menelusuri delapan sajian khas Pontianak yang sarat sejarah, cita rasa, dan tradisi keluarga.
Balikpapantv.id - Hai Ces! Leonardo Edwin menjelajahi beragam kuliner khas Pontianak dalam perjalanan sehari, mulai bubur ikan asin hingga jajanan malam.
Bukan sekadar berburu makanan, perjalanan ini memperlihatkan bagaimana kuliner Pontianak tumbuh dari perpaduan tradisi dan warisan keluarga. Penasaran apa saja yang dicoba Leonardo?
Dari Bubur Ikan Asin hingga Chai Kue, Kuliner Pontianak Punya Cerita
Perjalanan Leonardo dimulai dari warung Bubur Ikan Asin di Jalan WR Supratman Nomor 40. Tempat ini memiliki hubungan langsung dengan sejarah keluarganya.
Menurut Leonardo, usaha tersebut pertama kali dirintis kakek buyutnya yang bermigrasi dari Tiongkok dan mulai berjualan ketika berusia 17 tahun.
Usaha itu kemudian diteruskan generasi berikutnya. Kakeknya atau yang biasa dipanggil Akong kini berusia 79 tahun.
Bubur disajikan menggunakan nasi halus, irisan daging ikan kakap putih, telur, serta kuah kaldu gurih. Bawang putih goreng menjadi salah satu unsur yang memberikan aroma khas pada hidangan tersebut.
Leonardo menyebut warisan kuliner keluarga itu sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya di Pontianak.
"Salah satu yang migrasi ke sini adalah kakek buyutku... dialah orang pertama yang jualan bubur ikan seperti ini di Pontianak. Usaha ini turun-temurun dari leluhurku sendiri."
— Leonardo Edwin, kreator konten
Chai Kue Parwasal Jadi Tujuan Berikutnya
Setelah dari bubur ikan asin, Leonardo menyeberangi Sungai Kapuas menuju kawasan Siantan untuk mencicipi chai kue Parwasal.
Chai kue menggunakan adonan tepung beras dengan isian sayuran, seperti kucai, bengkuang, keladi, atau rebung. Hidangan tersebut kemudian dikukus dan diberi bawang putih goreng serta sambal.
Leonardo menjelaskan istilah chai kue berasal dari penyebutan yang berkaitan dengan sayuran dan adonan tepung. Di daerah lain, makanan serupa lebih dikenal dengan nama choipan.
"Chai kue itu 'chai' artinya sayur dan 'kue' itu adonan tepung. Di tempat lain mungkin lebih dikenal dengan sebutan choipan, beda bahasa saja."
— Leonardo Edwin, kreator konten
Baca Juga: Bukan Bubur Biasa, Ancur Paddas Berau Diracik dari 41 Rempah dan Warisan Dua Kesultanan
Kwetiau Kiaak Mengisi Perjalanan Kuliner Siang Hari
Menjelang makan siang, Leonardo menyambangi Kwetiau Kiaak di Jalan Merapi. Tempat tersebut disebut telah berdiri sejak 1990.
Hidangannya berupa kwetiau berkuah dengan potongan daging, telur yang direndam bumbu kecap, serta kedelai. Cita rasanya gurih dan pedas, kemudian semakin kuat ketika disantap bersama sambal khas.
Pilihan ini menunjukkan bahwa perjalanan Leonardo bukan hanya mencari makanan populer, tetapi juga menelusuri hidangan yang telah lama menjadi bagian dari kuliner Pontianak.
Setelah menikmati makanan berat, perjalanan berlanjut mencari sajian yang lebih menyegarkan.
Es Krim Angi dan Tio Desert Menjadi Pelepas Dahaga
Cuaca Pontianak yang terik membawa Leonardo menuju Es Krim Angi atau Es Krim Petrus. Kuliner tersebut disebut telah hadir sejak 1950 dan menjadi salah satu sajian legendaris yang ditemuinya.
Es krim disajikan menggunakan batok kelapa muda. Pilihan rasanya antara lain cokelat, durian, nangka, dan cempedak, dengan tambahan cincau serta ketan hitam.
"Es Krim Angi ini salah satu brand lokal Pontianak yang sangat sukses dan legendaris sejak 1950. Rasanya punya ciri khas tersendiri yang bikin kangen."
— Leonardo Edwin, kreator konten
Dari sana, Leonardo melanjutkan perjalanan ke kawasan Tanjung Pura untuk mencoba Tio Desert.
Minuman tersebut menggunakan kuah santan dan gula merah. Isinya terdiri dari cincau, kacang merah, jelly berbentuk seperti kwetiau, serta bongko.
Dua sajian ini memperlihatkan pilihan kuliner yang berbeda setelah makanan berat, sekaligus memberikan pengalaman terhadap jajanan tradisional Pontianak.
Yam Mie Membawa Leonardo Menjelajahi Bakmi Kepiting
Sore hari belum menjadi akhir perjalanan. Leonardo kembali mencicipi kuliner Pontianak melalui Yam Mie yang dikenal pula sebagai bakmi kepiting.
Hidangan ini menggunakan mi keriting dengan tekstur kenyal. Pelengkapnya terdiri dari bakso ikan, fish cake, pangsit, dan he phi atau olahan udang.
Kombinasi tersebut menjadi salah satu ciri sajian mi yang ditemuinya dalam perjalanan kuliner sehari.
Pilihan makanan kemudian bergeser menuju kawasan Jalan Gajah Mada ketika malam mulai tiba.
Malam Hari Dipenuhi Nasi Ayam, Kwe Cap, dan Ko Kwe
Jalan Gajah Mada menjadi lokasi berikutnya untuk melanjutkan eksplorasi kuliner.
Nasi Ayam Menawarkan Sajian dengan Kuah Kanji
Leonardo mencicipi nasi ayam atau Ku Tui Thng, berupa nasi campur dengan daging dan telur.
Ciri yang menonjol adalah siraman kuah kanji yang kental dan gurih di atas hidangan. Kuah tersebut menjadi bagian penting dari karakter sajian yang ditemuinya.
Kwe Cap Joni Hadir dengan Kuah Hangat
Kuliner berikutnya adalah Kwe Cap Joni. Sajian ini menggunakan lembaran tepung beras yang disiram kuah hangat.
Pelengkapnya mencakup tahu, kulit babi atau bak kue, serta taburan bawang putih goreng.
Tekstur dan kuah menjadi bagian yang membuat hidangan tersebut berbeda dari sajian sebelumnya.
Ko Kwe Goreng Menutup Eksplorasi Kuliner
Perjalanan malam kemudian ditutup dengan Ko Kwe Goreng.
Makanan ini dibuat dari adonan tepung beras dan keladi yang dipotong berbentuk dadu. Potongan tersebut kemudian ditumis bersama telur serta bumbu udang hingga menghasilkan aroma khas.
Dari pagi hingga malam, Leonardo mencicipi berbagai jenis makanan dengan karakter berbeda. Ada bubur, kue kukus, kwetiau, es tradisional, mi, nasi, hingga olahan tepung.
Baca Juga: Juhu Singkah, Sayur Rotan Muda Khas Dayak yang Dimasak dengan Rempah dan Punya Cita Rasa Unik
Apa yang Membuat Kuliner Pontianak Menarik?
Dari perjalanan tersebut, satu hal yang menonjol adalah hubungan antara makanan dan sejarah keluarga.
Bubur ikan asin yang menjadi sajian pertama bukan hanya makanan yang dinikmati Leonardo. Hidangan itu juga berkaitan dengan perjalanan leluhurnya dan usaha yang diwariskan lintas generasi.
Hal serupa terlihat dari beragam makanan lain yang ditemuinya. Chai kue, kwetiau, es tradisional, mi, nasi ayam, kwe cap, hingga ko kwe menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat Pontianak.
Leonardo juga menilai kuliner Pontianak memiliki kekayaan sejarah karena sejumlah tradisi makanan dibawa oleh para leluhur dan terus dilestarikan.
"Kuliner di Pontianak ini sangat kaya akan sejarah karena merupakan tradisi yang dibawa oleh para leluhur sejak zaman dulu. Sebagai warga asli, saya sangat senang bisa ikut melestarikan kuliner ini."
— Leonardo Edwin, kreator konten
Perjalanan tersebut akhirnya memperlihatkan bahwa wisata kuliner tidak selalu berhenti pada rasa. Di balik seporsi makanan, bisa terdapat sejarah keluarga, perjalanan migrasi, tradisi, hingga identitas sebuah kota.
Tips Menjelajahi Kuliner Pontianak dalam Sehari
-
Susun tujuan berdasarkan kawasan agar perjalanan lebih efisien.
-
Pisahkan makanan berat dan jajanan agar tidak cepat kenyang.
-
Sisakan waktu untuk mencicipi minuman atau dessert tradisional.
-
Perhatikan jam operasional masing-masing tempat sebelum berkunjung.
-
Coba makanan berdasarkan karakter berbeda, bukan hanya jenis yang serupa.
-
Jika menemukan kuliner keluarga, gali cerita sejarah di balik hidangannya.
Poin Penting
-
Perjalanan Leonardo Edwin berlangsung di sejumlah kawasan kuliner Pontianak.
-
Bubur ikan asin menjadi tujuan pertama sekaligus bagian dari sejarah keluarganya.
-
Chai kue Parwasal menjadi sajian berikutnya di kawasan Siantan.
-
Kwetiau Kiaak di Jalan Merapi disebut telah berdiri sejak 1990.
-
Es Krim Angi disebut telah hadir sejak 1950.
-
Eksplorasi malam berlanjut dengan nasi ayam, Kwe Cap Joni, dan Ko Kwe.
-
Kuliner menjadi bagian dari pelestarian tradisi dan identitas lokal.
Insight Redaksi
Kuliner Pontianak yang muncul dalam perjalanan ini menunjukkan bahwa makanan bisa menjadi arsip budaya yang hidup. Warisan keluarga, tradisi perantauan, dan kebiasaan makan bertemu dalam satu meja. Jadi, kalau ikam singgah, jangan cuma cari kenyang. Cari jua ceritanya.
Kalau handak mencoba, susun rute berdasarkan kawasan dan pilih beberapa menu berbeda supaya pengalaman makan kada monoton.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam yang suka kulineran supaya pilihan jelajah Pontianak makin banyak dan beragam.
Masih banyak cerita rasa di Kalimantan yang menarik dijelajahi. Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Siapa yang melakukan perjalanan kuliner di Pontianak?
Perjalanan kuliner tersebut dilakukan Leonardo Edwin melalui video vlog kuliner di Pontianak.
2. Apa makanan pertama yang dicoba Leonardo?
Makanan pertama yang dicoba adalah bubur ikan asin di Jalan WR Supratman Nomor 40.
3. Apa nama kuliner yang dicoba di kawasan Siantan?
Leonardo mencicipi chai kue Parwasal, makanan berbahan adonan tepung beras dengan isian sayuran.
4. Kuliner apa yang dicoba pada malam hari?
Pada malam hari, Leonardo mencicipi nasi ayam, Kwe Cap Joni, dan Ko Kwe Goreng di kawasan Jalan Gajah Mada.
5. Mengapa perjalanan kuliner tersebut menarik?
Selain mencicipi makanan, perjalanan tersebut memperlihatkan hubungan kuliner Pontianak dengan sejarah keluarga dan tradisi leluhur.
Sumber Informasi: Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media Youtube @LeonardoEdwin, dengan judul "LAHAP BANGETT!! SEHARI KULINERAN DI PONTIANAK!! SURGA MAKANAN CHINESE DI TANAH KALIMANTAN!!". Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma