Durasi Baca: 6 Menit
Tehe-tehe merupakan kuliner tradisional masyarakat Bajau di wilayah Maratua, Berau, Kalimantan Timur, yang menarik perhatian karena ketan disajikan menggunakan cangkang bulu babi sebagai wadah.
Ikhtisar: Tehe-tehe menjadi salah satu kuliner Berau yang sulit dilupakan karena cara penyajiannya tidak biasa. Ketan ditempatkan dalam cangkang bulu babi yang telah diproses, menjadikan makanan tradisional masyarakat Bajau ini berbeda dari hidangan ketan pada umumnya.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau biasanya ketan identik dengan daun pisang atau janur, masyarakat Bajau di Berau punya cara penyajian yang jauh berbeda. Namanya tehe-tehe, kuliner tradisional yang menggunakan cangkang bulu babi sebagai wadah ketan.
Kuliner ini dapat ditemukan di kawasan Kepulauan Derawan, khususnya Pulau Maratua. Keunikannya bukan hanya pada bentuk, tetapi juga pada hubungan makanan tersebut dengan kehidupan masyarakat yang sejak lama dekat dengan laut.
Kalau mendengar namanya saja sudah bikin penasaran, tunggu sampai melihat wadahnya, Ces!
Apa sebenarnya tehe-tehe dari Berau?
Tehe-tehe merupakan makanan tradisional masyarakat Bajau yang berbahan dasar beras ketan putih. Yang membuatnya berbeda adalah ketan tersebut ditempatkan dalam cangkang bulu babi laut.
Konsep tersebut membuat tehe-tehe sekilas terlihat seperti ketupat dengan bentuk yang tidak lazim. Jika ketupat umumnya menggunakan anyaman daun kelapa, tehe-tehe memanfaatkan cangkang hewan laut sebagai wadah alami.
Kehadiran makanan ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi kuliner masyarakat pesisir dapat berkembang dari lingkungan tempat mereka hidup.
Bagi masyarakat yang tumbuh dekat laut, bahan makanan dan berbagai sumber daya di sekitarnya menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, tehe-tehe tidak hanya menarik dari sisi rasa, tetapi juga dari cerita budaya yang mengiringinya.
Baca Juga: Rahasia Sambal Gammi Nikmat, Ternyata Cobek Tanah Liat Jadi Kunci Aroma Khas Kuliner Kalimantan
Mengapa cangkang bulu babi digunakan sebagai wadah?
Inilah bagian yang membuat tehe-tehe berbeda dari kebanyakan makanan berbahan ketan.
Cangkang bulu babi memiliki bentuk bulat dan struktur yang keras setelah bagian durinya dibersihkan. Wadah tersebut kemudian digunakan untuk menempatkan ketan sebelum dimasak.
Menurut sumber yang membahas kuliner Maratua, bentuk cangkang yang telah dibersihkan membuat tehe-tehe memiliki penampilan khas. Ketika matang, bagian ketannya memiliki tekstur lembut dengan cita rasa gurih.
Penggunaan cangkang tersebut juga memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Namun, pengolahan bulu babi membutuhkan kehati-hatian. Karena itu, tehe-tehe sebaiknya dipandang sebagai makanan tradisional yang pengolahannya dilakukan oleh masyarakat yang telah memahami bahan tersebut, bukan hidangan untuk dicoba dengan proses sendiri tanpa pengetahuan yang memadai.
Seperti apa rasa tehe-tehe?
Meski tampilannya tidak biasa, cita rasa tehe-tehe justru relatif sederhana.
Sumber mengenai kuliner Maratua menyebut ketan pada tehe-tehe memiliki rasa gurih. Pada beberapa versi, ketan dipadukan dengan santan dan sedikit garam sehingga menghasilkan rasa yang lembut serta gurih.
Ada pula sumber yang menyebut karakter rasa gurih dapat muncul dari lemak alami yang tersisa pada bagian dalam cangkang.
Jadi, daya tarik tehe-tehe tidak semata-mata berasal dari bumbu yang kompleks.
Justru bentuk, bahan, cara penyajian, serta hubungan kuliner tersebut dengan kehidupan masyarakat Bajau yang membuatnya menarik.
Apakah tehe-tehe mudah ditemukan di Berau?
Tehe-tehe bukan jenis makanan yang selalu tersedia seperti jajanan harian di pusat kota.
Salah satu sumber lokal menyebut makanan ini tidak dijual setiap hari dan umumnya dibuat berdasarkan pesanan, termasuk ketika ada tamu atau wisatawan yang ingin mencicipinya.
Kondisi tersebut membuat tehe-tehe memiliki posisi berbeda dibandingkan makanan populer yang dapat ditemukan dengan mudah di banyak tempat.
Hidangan ini lebih dekat dengan tradisi dan kesempatan tertentu. Sumber lain juga mencatat tehe-tehe dapat hadir dalam acara khusus atau perayaan masyarakat setempat.
Karena itulah, wisatawan yang ingin mengenal kuliner tradisional Berau perlu memahami bahwa tidak semua makanan khas daerah tersedia setiap saat.
Apa hubungan tehe-tehe dengan masyarakat Bajau?
Tehe-tehe berkaitan erat dengan masyarakat Bajau yang kehidupan tradisionalnya memiliki hubungan kuat dengan laut.
Biodiversity Warriors mencatat masyarakat Bajau di kawasan Kepulauan Derawan telah lama dikenal sebagai pelaut dan tersebar di berbagai wilayah pesisir. Lingkungan laut kemudian turut membentuk kebiasaan serta tradisi kuliner mereka.
Tehe-tehe menjadi salah satu contoh bagaimana identitas sebuah masyarakat dapat tercermin melalui makanan.
Bahan utamanya sederhana, tetapi wadah yang digunakan membawa cerita tentang lingkungan pesisir tempat makanan tersebut berkembang.
Pada 2023, tehe-tehe juga ditampilkan dalam festival kuliner Berau bersama sejumlah sajian khas masyarakat Bajau lainnya. Kehadirannya dalam acara tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional ini masih memiliki tempat dalam upaya memperkenalkan kekayaan makanan lokal kepada wisatawan.
Mengapa tehe-tehe layak dikenal lebih luas?
Di tengah banyaknya kuliner modern yang berlomba menawarkan tampilan unik, tehe-tehe sebenarnya sudah memiliki keunikan dari tradisi yang diwariskan masyarakat.
Makanan ini memperlihatkan bahwa kreativitas kuliner tidak selalu lahir dari dapur modern.
Bentuk cangkang, bahan ketan, lingkungan laut, serta tradisi masyarakat Bajau berpadu menjadi sebuah hidangan yang sulit ditemukan di daerah lain.
Bagi Kalimantan Timur, keberadaan tehe-tehe juga menambah daftar kekayaan kuliner yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari cerita wisata Berau.
Jadi, saat membicarakan Berau, jangan hanya mengingat laut biru dan Kepulauan Derawan.
Ada pula cerita dari dapur masyarakat pesisir yang bentuknya mungkin membuat orang bertanya dua kali sebelum menyadari bahwa yang berada di hadapan mereka adalah makanan.
Kalau kuliner Kaltim bisa seunik ini, berarti masih banyak cerita dapur lokal yang belum diketahui bubuhan, Ces!
Baca Juga: Patin Bakar Jumbo Banjarmasin Bikin Nex Carlos Terpukau, Rahasia Bumbu Daun Pisangnya Jadi Sorotan
Poin Penting
-
Tehe-tehe merupakan kuliner tradisional masyarakat Bajau di kawasan Berau, Kalimantan Timur.
-
Makanan ini menggunakan beras ketan sebagai bahan utama.
-
Keunikannya terletak pada cangkang bulu babi yang digunakan sebagai wadah.
-
Tehe-tehe berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir yang dekat dengan sumber daya laut.
-
Hidangan ini tidak selalu tersedia setiap hari dan pada sejumlah tempat dibuat berdasarkan pesanan atau kesempatan khusus.
-
Tehe-tehe pernah diperkenalkan dalam festival kuliner yang menampilkan makanan khas masyarakat Bajau di Berau.
Insight Redaksi
Tehe-tehe menunjukkan bahwa kekayaan kuliner Kalimantan Timur tidak berhenti pada makanan yang sudah populer. Ada makanan tradisional yang bentuknya tidak biasa, tetapi menyimpan cerita tentang lingkungan, masyarakat, dan cara hidup pesisir. Bagi BTV, kuliner seperti ini menarik karena bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan Berau dari sisi yang berbeda. Bukan cuma destinasi bahari, tetapi juga tradisi yang tumbuh bersama kehidupan masyarakatnya.
Kalau artikel ini membuat bubuhan baru tahu tentang tehe-tehe, bagikan ke teman yang suka berburu kuliner unik dari Kalimantan, Ces!
FAQ
1. Apa itu tehe-tehe?
Tehe-tehe adalah makanan tradisional masyarakat Bajau yang berbahan dasar ketan dan menggunakan cangkang bulu babi sebagai wadah.
2. Dari mana tehe-tehe berasal?
Tehe-tehe dikenal sebagai kuliner tradisional dari kawasan Kepulauan Derawan, khususnya Pulau Maratua di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
3. Apa yang membuat tehe-tehe unik?
Keunikannya terletak pada penggunaan cangkang bulu babi sebagai wadah ketan, berbeda dari ketupat yang umumnya menggunakan anyaman daun.
4. Apakah tehe-tehe tersedia setiap hari?
Tidak selalu. Sejumlah sumber menyebut makanan ini biasanya dibuat untuk pesanan, tamu, wisatawan, atau acara tertentu.
5. Siapa yang secara tradisional mengenal makanan ini?
Tehe-tehe dikenal sebagai salah satu makanan tradisional masyarakat Bajau di kawasan Berau dan Kepulauan Derawan.