Durasi Baca: 8 Menit
Wisata Kuliner dan Budaya Singkawang, Menjelajahi Kota Paling Toleran di Indonesia
Ikhtisar: Artikel ini membahas perjalanan wisata ke Singkawang, kekayaan kuliner khas, sejarah, budaya Tionghoa Hakka, serta destinasi religi yang menjadi daya tarik kota ini.
Balikpapan TV – Hai Ces! Singkawang menjadi salah satu destinasi wisata yang menawarkan perpaduan budaya, sejarah, dan kuliner dalam satu perjalanan. Melalui penjelajahan selama dua hari, kreator konten Rudy Chen memperlihatkan beragam sisi Kota Singkawang, mulai dari kuliner legendaris, kehidupan masyarakat multietnis, hingga bangunan-bangunan bersejarah yang memperkuat identitas kota tersebut sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Penasaran mengapa Singkawang selalu masuk daftar destinasi favorit di Kalimantan Barat? Ikuti perjalanan lengkapnya sampai akhir, siapa tahu bisa menjadi referensi liburan berikutnya, Ces!
Apa yang Menarik dari Perjalanan Menuju Singkawang?
Perjalanan dimulai dari Terminal Damri Pontianak menuju Singkawang menggunakan bus antarkota dengan harga tiket Rp90 ribu yang dibeli secara daring. Bus berangkat pukul 08.00 WIB dengan fasilitas AC, CCTV, dan makanan ringan berupa air mineral, roti, serta permen.
Jarak sekitar 150 kilometer ditempuh selama kurang lebih lima jam karena sempat berhenti cukup lama di kawasan Sungai Duri. Sesampainya di Singkawang sekitar pukul 14.00 WIB, suasana kota langsung terasa berbeda dengan dominasi ornamen merah dan keberadaan kelenteng di berbagai sudut kota.
Rudy Chen kemudian melakukan check-in di Swiss-Belinn Singkawang sebelum memulai perjalanan mengenal kota yang dijuluki Hongkong Van Borneo tersebut.
Mengapa Singkawang Dijuluki Kota Paling Toleran?
Singkawang merupakan kota pesisir di Kalimantan Barat yang memiliki keberagaman budaya sangat kuat. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San Khew Cok, yang menggambarkan wilayah di antara bukit, laut, dan muara.
Mayoritas penduduknya merupakan etnis Tionghoa Hakka yang hidup berdampingan bersama masyarakat Melayu, Dayak, dan berbagai suku lainnya. Harmoni tersebut membuat Singkawang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia sekaligus mendapat julukan Kota Seribu Kelenteng.
Dalam perbincangan dengan warga lokal, Rudy Chen juga memperoleh cerita mengenai penggunaan bahasa Hakka yang kini mulai berkurang di kalangan generasi muda.
"Mama orang Tionghoa Hakka juga, cuman enggak bisa bahasa Hakka karena putus adatnya. Dulu Mama diangkat oleh orang Melayu karena adanya kerusuhan tahun 1970-an (peristiwa Mangkok Merah), diselamatkan supaya aman daripada dibunuh. Kemudian Mama menikah dengan Bapak saya yang orang Kalimantan Tengah."
— Warga Lokal Singkawang
Cerita tersebut menjadi gambaran bagaimana sejarah panjang masyarakat Singkawang membentuk kehidupan yang harmonis hingga sekarang.
Baca Juga: Rahasia Abon Ikan Haruan Khas Mahakam Tetap Renyah Tanpa Pengawet
Kuliner Apa Saja yang Wajib Dicoba di Singkawang?
Perjalanan kuliner diawali dengan mencicipi Nasi Campur Along yang berisi siobak, chao, lapsiong, ayam goreng, telur, serta babi kecap dengan siraman kuah gurih khas Singkawang.
Berbeda dengan nasi campur dari daerah lain, kuah di Singkawang lebih dominan gurih dan asin sehingga memberikan karakter rasa tersendiri.
Destinasi berikutnya adalah mencicipi Choi Pan dengan pilihan isi bengkuang, kucai, dan rebung. Kuliner khas ini disajikan bersama minyak bawang putih goreng dan sambal pedas.
Saat berbincang dengan penjual, Rudy Chen mengetahui usaha tersebut telah berlangsung puluhan tahun.
"Di lokasi ini sudah sekitar 5 tahun. Tapi kalau total jualan dari lokasi tradisional dulu, kami sudah jualan sejak tahun 1979."
— Penjual Choi Pan Singkawang
Malam harinya, perjalanan berlanjut ke kawasan Jalan Yos Sudarso untuk menikmati Kwetiau Goreng Tacok Tayu. Salah satu ciri khas kwetiau Singkawang ialah penggunaan daun katuk yang memberikan aroma dan rasa berbeda dibandingkan kwetiau dari daerah lain.
Bagaimana Sejarah Kelenteng dan Vihara di Singkawang?
Selain terkenal sebagai kota kuliner, Singkawang juga memiliki banyak bangunan religi bersejarah.
Salah satunya adalah Kelenteng Tridarma Bumi Raya yang didirikan pada tahun 1878 oleh para perantau Tionghoa sebelum mereka menuju kawasan pertambangan emas Monterado.
Kelenteng tersebut sempat terbakar pada tahun 1930 sebelum dibangun kembali pada 1933 dan kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Pengurus kelenteng menjelaskan bahwa patung utama masih merupakan benda asli dari Tiongkok.
"Patung Dewa yang berada di posisi tengah ini masih asli dibawa langsung dari Tiongkok sejak pertama kali didirikan."
— Pengurus Kelenteng Tridarma Bumi Raya
Hari kedua perjalanan dilanjutkan menuju Vihara Budidarma yang memiliki sejarah hampir dua abad.
"Vihara ini awalnya sudah berdiri hampir 200 tahun lalu. Bangunan terbarunya diselesaikan pada tahun 2015 dan dirancang serta dibangun oleh arsitek dan pekerja lokal Singkawang, dengan beberapa sentuhan lukisan dari seniman Tiongkok."
— Pengurus Vihara Budidarma
Perjalanan kemudian ditutup di Vihara Sui Kheu Thai Pak Kung, vihara terbesar di Singkawang yang diresmikan pada tahun 2022 dan menjadi lokasi penutupan tradisi Cap Go Meh melalui prosesi pembakaran replika naga.
Baca Juga: Gangan Humbut, Gulai Batang Kelapa Muda Khas Banjar yang Kini Semakin Sulit Ditemukan
Apa Rekomendasi Kuliner dari Warga Lokal?
Selama berada di Pasar Turi, Rudy Chen ditemani dua warga lokal, Agus dan Apriadi, untuk menikmati Bubur Aloy sebelum melanjutkan eksplorasi kota.
Menurut keduanya, wisatawan sebaiknya tidak melewatkan beberapa makanan khas Singkawang.
"Untuk wisatawan, tiga kuliner wajib Singkawang adalah Choi Pan, Kwetiau, dan Nasi Campur/Kiapfon. Sedangkan bagi warga Singkawang yang pulang dari perantauan, makanan yang paling dirindukan adalah Nasi Kuning malam hari, Bakmi Ayam, dan Bakso Sapi."
— Agus & Apriadi, Warga Lokal Singkawang
Selain itu, mereka juga memperkenalkan Bubur Gunting sebagai kuliner tradisional berbahan kuah kacang hijau kupas yang dipadukan dengan potongan cakwe.
Perjalanan kuliner kemudian ditutup dengan menikmati Bakso Sapi 91, Limun Cap Elang varian Sarsi dan Kiamboy, serta bersantai di sebuah kopitiam yang dahulu merupakan Penginapan Rusen sejak 1955 sebelum dialihfungsikan menjadi kedai kopi.
Poin Penting
-
Singkawang berjarak sekitar 150 kilometer dari Pontianak.
-
Kota ini dikenal sebagai Hongkong Van Borneo dan Kota Seribu Kelenteng.
-
Mayoritas masyarakat merupakan etnis Tionghoa Hakka yang hidup berdampingan dengan berbagai suku lainnya.
-
Choi Pan, Kwetiau, dan Nasi Campur menjadi rekomendasi utama wisata kuliner.
-
Kelenteng Tridarma Bumi Raya dan Vihara Budidarma menyimpan sejarah panjang perkembangan masyarakat Tionghoa di Singkawang.
-
Vihara Sui Kheu Thai Pak Kung menjadi ikon baru wisata religi di kota tersebut.
Insight Redaksi
Singkawang menunjukkan bahwa wisata bukan hanya soal menikmati makanan atau mengunjungi tempat menarik, tetapi juga memahami sejarah dan keberagaman masyarakat yang membentuk identitas kota. Harmoni budaya menjadi nilai yang membuat pengalaman berkunjung terasa berbeda. Kada banyak kota yang mampu menghadirkan pengalaman selengkap ini. Bila berkunjung, sempatkan menjelajahi kuliner sekaligus berbincang dengan warga lokal agar pengalaman terasa lebih utuh dan berkesan.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang mengenal kekayaan budaya dan kuliner Nusantara.
Masih banyak cerita menarik dari berbagai daerah yang sayang dilewatkan. Tetap update hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa Singkawang dijuluki Hongkong Van Borneo?
Karena memiliki dominasi budaya Tionghoa Hakka, banyak kelenteng, serta karakter kota yang khas.
2. Apa kuliner paling terkenal di Singkawang?
Choi Pan, Nasi Campur, Kwetiau Singkawang, Bubur Aloy, Bakso Sapi, dan Bubur Gunting.
3. Berapa lama perjalanan dari Pontianak ke Singkawang?
Sekitar empat hingga lima jam melalui jalur darat.
4. Apa vihara terbesar di Singkawang?
Vihara Sui Kheu Thai Pak Kung yang berada di kawasan Sanggau Kulor.
5. Kapan usaha Choi Pan yang dikunjungi Rudy Chen mulai berjualan?
Menurut penjual, usaha tersebut telah dimulai sejak tahun 1979.
Sumber Informasi
Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media YouTube @Rudy Chen, dengan judul "2 HARI DI SINGKAWANG! Surga KULINER & Kota Paling TOLERAN Se-Indonesia". Dipublikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma