Durasi Baca: 8 Menit
Wisata kuliner Singkawang menghadirkan cita rasa khas Tionghoa, sejarah, dan kekayaan budaya lokal
Ikhtisar: Perjalanan kuliner selama dua hari di Singkawang memperlihatkan beragam makanan khas, sejarah kuliner Tionghoa, serta pengalaman mencicipi hidangan legendaris dengan harga yang dinilai sepadan.
Balikpapan TV – Hai Ces! Kota Singkawang, Kalimantan Barat, kembali menarik perhatian pecinta kuliner melalui perjalanan kreator konten Leonardo Edwin bersama adiknya, Karin. Selama dua hari, keduanya menjelajahi berbagai kuliner legendaris sekaligus mengenalkan sejarah, budaya, dan keunikan makanan khas yang telah lama menjadi identitas kota tersebut.
Penasaran mengapa Singkawang sering disebut surga kuliner Kalimantan Barat? Simak perjalanan lengkapnya sampai selesai.
Banyak fakta menarik tersimpan di balik setiap hidangan. Ikuti terus, Ces!
Apa yang membuat kuliner Singkawang begitu istimewa?
Singkawang dikenal sebagai salah satu kota dengan budaya Tionghoa yang sangat kuat di Indonesia. Dalam perjalanan yang dibagikan melalui kanal YouTube Leonardo Edwin, kota ini disebut memiliki sekitar 70 persen penduduk beretnis Tionghoa serta dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Perjalanan dimulai setelah Leonardo Edwin dan Karin menempuh perjalanan darat sekitar tiga jam dari Pontianak menuju Singkawang. Kota pesisir di Kalimantan Barat tersebut menjadi tujuan utama untuk menikmati berbagai makanan khas yang sudah lama populer di kalangan wisatawan.
Selain makanan, perjalanan ini juga memperlihatkan bagaimana budaya dan sejarah melekat erat pada setiap hidangan yang dijual turun-temurun. Hal tersebut menjadi nilai tambah yang membuat wisata kuliner di Singkawang terasa berbeda dibandingkan daerah lain.
Menariknya, Leonardo juga menjelaskan asal-usul nama Singkawang yang berasal dari bahasa Hakka atau Khek.
"Penamaan kota zaman dulu tuh simpel sekali. Di sini banyak gunung dan pesisir pantainya tuh muara yang mengarah ke laut besar. Kata 'San' berarti gunung, 'Kheu' berarti mulut, dan 'Yong' berarti laut. Jadi 'gunung di mulut laut/muara', diamahkanlah ini Sankouyang atau Singkawang dalam bahasa Indonesia," ujar Leonardo Edwin, kreator konten, saat menjelaskan sejarah penamaan kota tersebut.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa perjalanan kuliner ini bukan sekadar berburu makanan, tetapi juga mengenal sejarah dan budaya yang membentuk identitas Singkawang.
Bakmi Aloy menjadi pembuka wisata kuliner khas Singkawang
Destinasi kuliner pertama yang dikunjungi adalah Bakmi Aloy (Yam Mie). Sajian ini menjadi salah satu bakmi legendaris yang cukup dikenal di Singkawang.
Semangkuk bakmi disajikan dengan berbagai pelengkap, mulai dari udang, potongan daging, tauge, kerupuk kulit babi, hingga kuah beraroma minyak babi yang memberikan cita rasa khas.
Menurut Leonardo, tekstur mi di Singkawang memiliki karakter berbeda dibandingkan bakmi Pontianak. Ukurannya lebih kecil dengan tekstur lebih lembut sehingga memberikan sensasi makan yang berbeda.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa meskipun sama-sama berada di Kalimantan Barat, setiap daerah tetap memiliki ciri khas kuliner masing-masing yang berkembang sesuai budaya masyarakat setempat.
Mengapa Choi Pan menjadi salah satu ikon kuliner Singkawang?
Setelah menikmati bakmi, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan cagar budaya Rumah Marga Cia, sebuah rumah bersejarah yang dibangun pada tahun 1901 dengan luas sekitar 5.000 meter persegi.
Di kawasan tersebut, Leonardo dan Karin mencicipi Choi Pan atau Chai Kue, makanan tradisional yang berisi bengkuang dan kucai dengan taburan bawang putih goreng.
Selain menikmati rasanya, Leonardo juga menjelaskan asal-usul nama makanan tersebut.
"Chai kue itu berasal dari bahasa Teochew. 'Chai' itu adalah sayur, 'kue' itu bahan tepung yang sama dalam pembuatan kue. Itulah asal-usul penamaannya," kata Leonardo Edwin, kreator konten.
Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa banyak kuliner khas Singkawang masih mempertahankan akar budaya masyarakat Teochew dan Hakka yang telah berkembang selama puluhan tahun di kota tersebut.
Tidak hanya menjadi makanan favorit masyarakat lokal, Choi Pan juga menjadi salah satu kuliner yang paling sering dicari wisatawan ketika berkunjung ke Singkawang.
Bagaimana perjalanan kuliner berlanjut pada hari pertama?
Usai menikmati Choi Pan, Leonardo Edwin dan Karin melanjutkan perjalanan menuju salah satu penjual pisang goreng yang cukup dikenal masyarakat Singkawang, yakni Pisang Goreng Kipas Yos Sudarso.
Salah satu daya tariknya terletak pada bentuk pisang yang dibelah menyerupai kipas sehingga menghasilkan tekstur renyah di bagian luar, namun tetap lembut di dalam. Dalam video tersebut, satu buah pisang goreng dijual seharga Rp4.000 sehingga menjadi camilan yang cukup terjangkau bagi wisatawan.
Menjelang malam, perjalanan kuliner berlanjut dengan mencicipi Mie Tiau Asu, sajian kwetiau khas Singkawang yang memiliki cita rasa gurih dengan aroma khas hasil proses memasak menggunakan api besar. Hidangan ini menjadi salah satu menu yang banyak direkomendasikan ketika berkunjung ke kota tersebut.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Balikpapan: Kapali Burger Bellagio Resto dan Festival e-Walk
Hari pertama kemudian ditutup dengan menikmati Bubur Babi Faji (Aji) di kawasan Pasar Turi. Bubur hangat tersebut disajikan bersama campuran minyak babi atau teu serta minyak bawang putih (asengula), menghasilkan aroma yang semakin kuat dan menjadi ciri khas kuliner masyarakat Tionghoa Singkawang.
Rangkaian kuliner pada hari pertama menunjukkan keberagaman menu yang dapat ditemukan di Singkawang, mulai dari hidangan berat, jajanan tradisional, hingga makanan malam yang telah bertahan selama bertahun-tahun.
Apa saja kuliner khas yang dicicipi pada hari kedua?
Memasuki hari kedua, Leonardo dan Karin kembali memulai wisata kuliner sejak pagi dengan sarapan di Bubur Aloy Pasar Turi.
Berbeda dengan bubur pada umumnya, bubur ini memiliki proses penyajian yang cukup unik. Bubur disusun dalam kondisi padat terlebih dahulu, kemudian disiram menggunakan kuah kaldu panas dan kuning telur sehingga menghasilkan tekstur yang lembut ketika diaduk.
Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju Bubur Gunting Asun, salah satu makanan penutup tradisional yang cukup populer di Singkawang. Hidangan ini terbuat dari kacang hijau kupas berkuah kental yang disajikan bersama potongan cakwe goreng sehingga menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih dalam satu mangkuk.
Perjalanan kuliner berikutnya membawa keduanya ke Bakso Sapi 21 untuk mencicipi Bakso Gepeng, salah satu bakso khas Kalimantan Barat yang dijual sekitar Rp32.000 per porsi. Bentuk bakso yang pipih menjadi pembeda dibandingkan bakso pada umumnya.
Menjelang siang, Leonardo dan Karin menikmati Nasi Campur Al-As (Koipeng) yang menjadi salah satu makanan favorit masyarakat lokal.
Saat menikmati hidangan tersebut, Leonardo menjelaskan salah satu karakteristik nasi campur di Kalimantan Barat.
"Di Kalimantan, koipeng atau nasi campur itu selalu dikasih kuah kental yang terbuat dari tepung kanji di atas nasinya supaya teksturnya lebih lembut dan mudah dimakan," ujar Leonardo Edwin, Kreator Konten.
Keunikan penyajian tersebut menjadi salah satu pembeda nasi campur Kalimantan Barat dibandingkan nasi campur di berbagai daerah lain di Indonesia.
Sebelum kembali ke Pontianak, perjalanan kuliner ditutup dengan mencicipi Rujak Mangga Pemuda atau yang juga dikenal sebagai Rujak Thia. Hidangan ini menggunakan irisan mangga muda yang dipadukan dengan bumbu petis, terasi, serta taburan kerupuk sehingga menghasilkan perpaduan rasa asam, manis, gurih, dan pedas yang khas.
Poin Penting
-
Singkawang menjadi tujuan wisata kuliner yang kaya akan budaya Tionghoa.
-
Perjalanan kuliner dilakukan selama dua hari oleh Leonardo Edwin bersama Karin.
-
Bakmi Aloy menjadi sajian pembuka dengan tekstur mi yang lebih kecil dan lembut dibandingkan bakmi Pontianak.
-
Choi Pan memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Teochew dalam kuliner Singkawang.
-
Hari pertama ditutup dengan Mie Tiau Asu dan Bubur Babi Faji di Pasar Turi.
-
Hari kedua menghadirkan Bubur Aloy, Bubur Gunting Asun, Bakso Gepeng, Nasi Campur Koipeng, hingga Rujak Thia.
-
Leonardo Edwin menjelaskan sejumlah fakta menarik mengenai asal-usul nama Singkawang, Chai Kue, dan ciri khas nasi campur Kalimantan Barat.
-
Karin menilai bubur dan mie tiau sebagai hidangan favorit karena cita rasa serta nilai yang sepadan dengan harganya.
Insight Redaksi
Perjalanan kuliner yang ditampilkan Leonardo Edwin memperlihatkan bahwa Singkawang menawarkan lebih dari sekadar ragam makanan. Setiap hidangan memiliki cerita yang berkaitan erat dengan sejarah migrasi masyarakat Tionghoa, terutama suku Hakka dan Teochew, yang telah membentuk identitas kuliner kota ini selama puluhan tahun. Perpaduan budaya tersebut masih terasa melalui resep, teknik memasak, hingga penamaan makanan yang tetap dipertahankan.
Daya tarik lain yang menonjol adalah konsistensi pelaku usaha kuliner dalam mempertahankan cita rasa tradisional di tengah berkembangnya tren kuliner modern. Hal ini menjadi modal penting bagi Singkawang sebagai destinasi wisata gastronomi di Kalimantan Barat. Kadada yang lebih menarik dibanding makanan enak yang masih menyimpan cerita budaya di balik setiap sajian, Ces. Jika pengelolaan wisata kuliner terus dipadukan dengan pelestarian kawasan bersejarah, Singkawang berpotensi semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya dan kuliner nasional.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang mengenal kekayaan kuliner Singkawang dan sejarah yang menyertainya.
Masih banyak cerita menarik dari berbagai destinasi kuliner Nusantara. Ikuti terus informasi terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa lama perjalanan dari Pontianak menuju Singkawang?
Dalam video, Leonardo Edwin menyebut perjalanan darat dari Pontianak menuju Singkawang memakan waktu sekitar tiga jam.
2. Mengapa Singkawang dikenal sebagai kota dengan budaya Tionghoa yang kuat?
Karena mayoritas penduduknya merupakan keturunan Tionghoa, khususnya Hakka dan Teochew, sehingga budaya serta kulinernya berkembang sangat kuat.
3. Apa makanan pertama yang dicicipi dalam perjalanan ini?
Kuliner pertama yang dicoba adalah Bakmi Aloy (Yam Mie), lengkap dengan udang, daging, tauge, kerupuk kulit babi, dan kuah beraroma minyak babi.
4. Apa keunikan nasi campur khas Kalimantan Barat?
Menurut Leonardo Edwin, nasi campur atau koipeng disajikan dengan kuah kental berbahan tepung kanji yang disiram di atas nasi agar teksturnya lebih lembut.
5. Makanan favorit selama perjalanan menurut Karin apa?
Karin memilih bubur dan mie tiau sebagai dua kuliner favorit karena rasanya yang lezat, porsinya memuaskan, serta dinilai memiliki nilai yang sepadan dengan harga.
Sumber Informasi
Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media YouTube @Leonardo Edwin, dengan judul "Surga KULINER di INDONESIA🤩⁉️ Dua Hari KULINERAN di SINGKAWANG, Kalimantan Barat🤤 山口洋印尼客家美食🇮🇩". Artikel ini dipublikasikan kembali dengan angle dan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma