Tabaro Daro, Pangan Tradisional dari Pohon Nipah yang Menyimpan Sejarah Pesisir Kalimantan

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 10:40 WIB
Tabaro dange khas Kalimantan menyajikan cita rasa gurih otentik yang cocok dinikmati saat hangat. (BTV/Ai)
Tabaro dange khas Kalimantan menyajikan cita rasa gurih otentik yang cocok dinikmati saat hangat. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 Menit

Topik: Mengenal pati pohon nipah sebagai pangan tradisional pesisir Kalimantan yang berpotensi menjadi alternatif pengganti beras sekaligus mendukung pelestarian ekosistem mangrove.

Ikhtisar: Pohon nipah selama ini lebih dikenal melalui buah mudanya, padahal batang dan tangkai bunganya juga dapat menghasilkan pati yang diolah menjadi tabaro daro atau sagu nipah. 

 

Balikpapan TV – Hai Ces! Saat berbicara mengenai sagu, kebanyakan orang langsung membayangkan pohon sagu dari Papua atau Maluku. Padahal kawasan pesisir Kalimantan juga memiliki sumber pati alami dari pohon nipah yang sejak lama dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan.

Olahan ini dikenal di beberapa daerah dengan nama Tabaro Daro atau Sagu Nipah. Bentuknya berupa gumpalan pati berwarna putih krem yang kemudian diolah menjadi bubur, kue tradisional, hingga makanan pokok pengganti nasi.

Kini, keberadaannya semakin sulit dijumpai. Penasaran mengapa pangan tradisional ini hampir menghilang? Simak sampai tuntas, Ces!

Baca Juga: Coto Makassar Hj. Judding di Balikpapan, Kuliner Legendaris dengan Kuah Kaya Rempah yang Selalu Diburu

Mengapa Tabaro Daro Pernah Menjadi Makanan Pokok Masyarakat Pesisir?

Masyarakat pesisir Kalimantan sejak dahulu hidup berdampingan dengan hutan mangrove. Salah satu tumbuhan yang paling melimpah adalah pohon nipah (Nypa fruticans), palma unik yang tumbuh di muara sungai dan daerah pasang surut.

Berbeda dengan kelapa atau aren, batang nipah berkembang di bawah permukaan tanah. Pada fase tertentu menjelang berbunga, jaringan batang bawah tanah menyimpan cadangan pati yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat.

Beberapa bentuk pemanfaatan tabaro daro yang dikenal masyarakat pesisir antara lain:

1. Bubur sagu nipah

Pati dicampur air lalu dimasak hingga mengental. Teksturnya lembut dengan rasa netral sehingga mudah dipadukan bersama ikan, santan, maupun gula aren.

Proses memasaknya relatif sederhana sehingga dahulu menjadi menu harian keluarga nelayan ketika hasil tangkapan sedang sedikit.

2. Kue tradisional

Tabaro daro juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai jajanan tradisional karena mampu menghasilkan tekstur kenyal tanpa tepung terigu.

Karakter ini membuatnya cocok diolah menjadi makanan kukus maupun panggang.

3. Campuran pangan darurat

Saat musim paceklik, pati nipah menjadi sumber energi alternatif ketika persediaan beras terbatas.

Kemampuan tanaman ini tumbuh alami di kawasan pesisir menjadikannya cadangan pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat.

4. Pengganti tepung

Sebagian masyarakat mengeringkan pati hingga menjadi tepung agar masa simpannya lebih panjang.

Cara ini memudahkan penyimpanan sebelum diolah kembali.

5. Bahan pangan bernilai budaya

Di sejumlah wilayah pesisir Kalimantan, pengolahan tabaro daro juga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Sayangnya, pengetahuan tersebut kini mulai berkurang karena semakin sedikit keluarga yang masih mengolahnya secara tradisional.

Baca Juga: Lempok Durian Khas Kalimantan Timur Ternyata Dibuat Tanpa Tepung, Ini Rahasia Teksturnya

Bagaimana Proses Menghasilkan Pati dari Pohon Nipah?

Menghasilkan pati nipah memerlukan ketelitian karena tidak semua tanaman siap dipanen.

Masyarakat biasanya memilih tanaman yang memasuki fase menjelang berbunga. Bagian batang bawah tanah kemudian diambil dan diparut sebelum dicuci berulang kali untuk memisahkan serat dari pati.

Air hasil pencucian didiamkan hingga pati mengendap di dasar wadah.

Endapan inilah yang dikenal sebagai tabaro daro. Setelah kadar air berkurang, pati siap dimasak atau dijemur menjadi tepung.

Menurut penelitian berbagai lembaga kehutanan, kandungan pati nipah cukup tinggi sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif apabila dikelola secara lestari.

Mengapa Pohon Nipah Penting bagi Ekosistem Mangrove?

Selain menghasilkan pangan, nipah memiliki fungsi ekologis yang besar.

Akar dan rumpunnya membantu menahan abrasi, memperlambat arus pasang surut, serta menjadi habitat bagi ikan, kepiting, udang, dan berbagai jenis burung.

Hutan nipah juga berperan menyimpan karbon dalam jumlah besar sebagaimana ekosistem mangrove lainnya.

Karena itu, pemanfaatan nipah sebaiknya dilakukan tanpa merusak tegakan alami agar fungsi lingkungan tetap terjaga.

Menurut Center for International Forestry Research, pelestarian mangrove memberikan manfaat ganda berupa perlindungan pesisir sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Baca Juga: Depot Miki Balikpapan, Surganya Mantau Legendaris yang Selalu Diburu Pecinta Kuliner

Mengapa Tabaro Daro Kini Semakin Sulit Ditemukan?

Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu penyebab utama.

Masuknya beras sebagai pangan pokok membuat banyak keluarga tidak lagi memproduksi pati nipah secara rutin.

Di sisi lain, proses pengolahannya membutuhkan tenaga dan waktu lebih lama dibanding membeli beras atau tepung siap pakai.

Rahman (58), warga pesisir Penajam Paser Utara yang masih mengenal proses pengolahan nipah, mengatakan generasi muda kini lebih memilih pangan instan sehingga hanya sedikit yang mempelajari cara membuat tabaro daro.

Akibatnya, pengetahuan lokal perlahan ikut menghilang bersama berkurangnya praktik pengolahan tradisional.

Apakah Sagu Nipah Masih Berpeluang Dikembangkan?

Sejumlah peneliti menilai jawabannya masih terbuka.

Meningkatnya minat terhadap pangan lokal dan diversifikasi sumber karbohidrat membuat nipah kembali dilirik sebagai bahan pangan alternatif.

Selain bernilai budaya, pemanfaatan nipah secara berkelanjutan juga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat pesisir tanpa harus mengalihfungsikan kawasan mangrove.

Namun pengembangannya memerlukan dukungan riset, teknologi pengolahan yang lebih efisien, serta edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan pangan lokal.

Poin Penting

Insight Redaksi: Tabaro daro menunjukkan bahwa ketahanan pangan sebenarnya Kada selalu bergantung pada satu jenis tanaman. Alam Kalimantan sejak lama menyediakan sumber karbohidrat yang mampu menopang kehidupan masyarakat pesisir. Pahamlah ikam, melestarikan pangan lokal berarti ikut menjaga budaya sekaligus ekosistem mangrove yang menjadi benteng alami pesisir.

Jika menemukan produk olahan sagu nipah dari pelaku UMKM lokal, memilih produk tersebut dapat menjadi salah satu cara mendukung pelestarian kuliner tradisional sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat pesisir.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang mengenal tabaro daro, salah satu warisan pangan khas Kalimantan yang mulai jarang dijumpai.

Kuliner tradisional bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menyimpan sejarah, budaya, dan pengetahuan masyarakat pesisir. Tetap update informasi gaya hidup dan budaya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

Baca Juga: Pecinta Seafood Wajib Coba, Kepiting Saus Jadi Menu Andalan yang Sulit Ditolak

FAQ

1. Apa itu Tabaro Daro?

Tabaro Daro adalah pati yang diperoleh dari pohon nipah dan diolah menjadi berbagai makanan tradisional.

2. Apakah pohon nipah sama dengan pohon sagu?

Tidak. Keduanya berbeda spesies, tetapi sama-sama dapat menghasilkan pati sebagai sumber karbohidrat.

3. Di mana pohon nipah banyak ditemukan?

Di kawasan mangrove, muara sungai, dan pesisir tropis termasuk Kalimantan.

4. Mengapa Tabaro Daro mulai langka?

Karena masyarakat lebih banyak beralih ke beras dan tepung modern serta semakin sedikit orang yang menguasai teknik pengolahannya.

5. Apa manfaat pohon nipah selain sebagai bahan pangan?

Nipah membantu mencegah abrasi, menjadi habitat satwa pesisir, serta berperan penting dalam menjaga ekosistem mangrove.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Pohon Nipah tabaro daro sagu nipah tepung pohon nipah pangan tradisional Kalimantan