Durasi Baca: 7 Menit
Perjuangan pedagang sate ayam mengembangkan usaha sampingan untuk menambah pendapatan keluarga.
Ikhtisar: Artikel ini membahas perjalanan usaha sate ayam yang dirintis sebagai pekerjaan sampingan, modal awal, proses produksi, serta manfaat kehadirannya bagi masyarakat Balikpapan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Seorang pedagang sate ayam di Jalan MT Haryono, Balikpapan, terus mempertahankan usaha yang dirintis sejak 2018 sebagai sumber tambahan penghasilan di luar pekerjaan utamanya. Keberadaan usaha ini juga memudahkan masyarakat menemukan pilihan kuliner malam di kawasan tersebut.
Penasaran bagaimana usaha sederhana ini mampu bertahan hingga sekarang? Simak kisahnya sampai tuntas, siapa tahu bisa menjadi inspirasi membuka usaha sendiri Ces!
Bagaimana usaha sate ayam ini bermula?
Di tengah kesibukan bekerja sebagai karyawan, Pak Supriyadi memutuskan membuka usaha sate ayam pada 2018. Keputusan tersebut diambil untuk menambah pemasukan keluarga tanpa meninggalkan pekerjaan utama yang sudah dijalani.
Pilihan membuka usaha kuliner bukan tanpa alasan. Sate ayam menjadi makanan yang banyak diminati masyarakat dan dapat dijual pada sore hingga malam hari, sehingga waktu berjualannya tidak berbenturan dengan pekerjaan utama.
Hingga Juli 2026, usaha tersebut masih terus berjalan secara konsisten di kawasan Jalan MT Haryono, tepatnya di samping Telkom dan depan Indomaret. Lokasi yang mudah dijangkau membuat pelanggan relatif mudah menemukannya.
Baca Juga: 6 Fakta Menarik Es Tebu Samarinda, Minuman Tradisional yang Masih Dicari
Menurut Pak Supriyadi usaha ini sejak awal memang ditujukan sebagai sumber penghasilan tambahan sekaligus memberikan pilihan kuliner bagi masyarakat sekitar.
Berapa modal yang diperlukan untuk memulai usaha sate ayam?
Memulai usaha kuliner skala kecil ternyata tidak selalu membutuhkan modal besar. Pak Nur menjelaskan, biaya awal untuk membuat rombong sate mencapai sekitar Rp1,5 juta.
Selain rombong, diperlukan modal harian untuk membeli bahan baku. Ayam, kacang, bumbu, arang, dan kebutuhan pelengkap lainnya menghabiskan sekitar Rp400 ribu sebagai modal operasional awal.
Besarnya modal tersebut dinilai masih terjangkau bagi pelaku usaha mikro yang ingin mencoba berjualan makanan. Namun, pengelolaan keuangan tetap menjadi faktor penting agar usaha dapat terus berjalan.
Supriyadi memilih menjalankan usahanya secara bertahap. Keuntungan yang diperoleh sebagian digunakan kembali sebagai tambahan modal sehingga usaha dapat dipertahankan sampai sekarang.
Bagaimana proses produksi sate ayam setiap hari?
Setiap hari, Supriyadi mengolah sekitar tiga ekor ayam sebagai bahan utama.
Dari jumlah tersebut dihasilkan kurang lebih 220 tusuk sate, atau rata-rata sekitar 80 tusuk dari setiap ekor ayam. Jumlah produksi disesuaikan dengan kemampuan penjualan harian agar kualitas bahan tetap terjaga.
Harga ayam yang dibeli berkisar antara Rp65.000 hingga Rp70.000 per ekor, bergantung pada kondisi pasar dan ukuran ayam yang tersedia.
Setelah dipotong dan dibumbui, daging ayam ditusuk satu per satu sebelum dibakar ketika ada pesanan dari pelanggan. Cara ini membantu menjaga cita rasa dan tekstur sate tetap segar saat disajikan.
Mengapa keberadaan usaha ini bermanfaat bagi masyarakat?
Selain menjadi sumber penghasilan tambahan bagi pemilik usaha, keberadaan pedagang sate ayam ini juga memberikan pilihan kuliner bagi warga yang berada di kawasan MT Haryono.
Lokasinya yang berada di samping Telkom dan depan Indomaret memudahkan masyarakat menemukan penjual tanpa harus mencari jauh ke kawasan lain.
Usaha mikro seperti ini juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi lokal. Semakin banyak pelaku UMKM yang bertahan, semakin beragam pula pilihan kuliner yang dapat dinikmati masyarakat Balikpapan.
Bagi warga yang melintas pada sore hingga malam hari, keberadaan penjual sate ayam menjadi alternatif makanan yang mudah dijangkau sekaligus mendukung pertumbuhan usaha kecil di lingkungan sekitar.
Apa tantangan menjalankan usaha sate ayam sebagai pekerjaan sampingan?
Menjalankan dua aktivitas sekaligus tentu membutuhkan pengaturan waktu yang baik. Setelah menyelesaikan pekerjaan utama, Pak Supriyadi masih harus menyiapkan bahan baku, meracik bumbu, menusuk daging ayam, hingga melayani pembeli pada malam hari.
Konsistensi menjadi salah satu kunci agar usaha dapat bertahan. Selama delapan tahun terakhir, usaha sate ayam tersebut tetap dijalankan meski harga bahan baku, terutama ayam, mengalami perubahan mengikuti kondisi pasar.
Dalam wawancara saat liputan pada 27 Juli 2026, Pak Supriyadi menjelaskan bahwa tujuan utama membuka usaha ini sejak awal adalah untuk memperoleh tambahan penghasilan di luar gaji dari pekerjaan utama.
Meski pada saat proses peliputan belum ada pembeli yang dapat diwawancarai karena kondisi sedang sepi, aktivitas usaha tetap berlangsung seperti biasa dengan persiapan bahan yang sudah dilakukan sejak sore hari.
Bagaimana usaha kecil seperti ini ikut menggerakkan ekonomi lokal?
Keberadaan pedagang kuliner skala mikro memiliki peran dalam menghidupkan aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar. Selain melayani kebutuhan masyarakat, usaha seperti ini juga menciptakan perputaran transaksi harian yang melibatkan pemasok bahan baku hingga konsumen.
Di Balikpapan, pelaku UMKM kuliner menjadi salah satu sektor yang terus berkembang karena kebutuhan masyarakat terhadap makanan siap saji relatif stabil. Sate ayam menjadi salah satu menu yang sudah lama dikenal dan memiliki pelanggan dari berbagai kalangan.
Lokasi usaha Pak Supriyadi yang berada di Jalan MT Haryono, samping Telkom dan depan Indomaret, memberi kemudahan bagi warga maupun pengendara yang melintas untuk membeli makanan tanpa harus menuju pusat kuliner yang lebih jauh.
Dengan mempertahankan kualitas rasa dan menjalankan usaha secara konsisten sejak 2018, Pak Supriyadi berharap usaha tersebut dapat terus memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan setiap hari.
Poin Penting:
- Pak Supriyadi mulai berjualan sate ayam sejak tahun 2018.
- Usaha dijalankan sebagai tambahan penghasilan di luar pekerjaan utama.
- Modal membuat rombong sekitar Rp1,5 juta.
- Modal awal bahan baku sekitar Rp400 ribu.
- Setiap hari mengolah sekitar 3 ekor ayam menjadi sekitar 220 tusuk sate.
- Lokasi usaha berada di Jalan MT Haryono, samping Telkom dan depan Indomaret, Balikpapan.
Insight Redaksi: Usaha kecil sering dipandang sederhana, padahal konsistensi menjadi nilai yang paling menentukan keberlangsungannya. Kisah Pak Supriyadi menunjukkan bahwa pekerjaan utama dan usaha sampingan dapat berjalan berdampingan apabila dikelola dengan disiplin. Bagi Balikpapan yang terus berkembang, pelaku UMKM seperti ini ikut memperkuat ekonomi masyarakat dari lingkungan sekitar. Kada perlu menunggu modal besar untuk memulai. Yang penting, langkah pertama benar-benar dijalankan. Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang terinspirasi. Update terus kisah inspiratif pelaku usaha lokal hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Sejak kapan Pak Supriyadi mulai berjualan sate ayam?
Sejak tahun 2018 dan masih menjalankan usahanya hingga 2026.
2. Di mana lokasi usaha sate ayam Pak Nur?
Di Jalan MT Haryono, samping Telkom dan depan Indomaret, Balikpapan.
3. Berapa modal awal untuk memulai usaha?
Sekitar Rp1,5 juta untuk rombong dan sekitar Rp400 ribu untuk bahan baku.
4. Berapa banyak sate yang diproduksi setiap hari?
Sekitar 220 tusuk sate dari tiga ekor ayam.
5. Mengapa Pak Supriyadi membuka usaha sate ayam?
Untuk memperoleh tambahan penghasilan di luar gaji dari pekerjaan utamanya.
Sumber Informasi: Artikel ini mengacu pada informasi resmi yang disampaikan melalui Liputan Wartawan Balikpapan TV mengenai usaha sate ayam milik Pak Supriyadi di Jalan MT Haryono. Artikel disusun ulang secara orisinal dengan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma