6 Fakta Menarik Gandasturi, Kue Kacang Hijau Tradisional yang Tetap Bertahan

Wenny Anastasya • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 18:52 WIB
Gandasturi berbahan kacang hijau menghadirkan cita rasa tradisional, bergizi, dan tetap diminati masyarakat Kalimantan hingga kini (BTV/AI)
Gandasturi berbahan kacang hijau menghadirkan cita rasa tradisional, bergizi, dan tetap diminati masyarakat Kalimantan hingga kini (BTV/AI)

Durasi Baca: 8 menit

Topik: Gandasturi sebagai jajanan tradisional berbahan kacang hijau yang tetap diminati masyarakat Kalimantan

Ikhtisar: Gandasturi masih bertahan sebagai jajanan tradisional berkat cita rasa khas, bahan sederhana, nilai gizi, serta peluang pengembangan bagi pelaku UMKM lokal.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Gandasturi masih menjadi salah satu jajanan tradisional yang mudah ditemukan di pasar-pasar Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Kue berbahan utama kacang hijau ini tetap diminati karena rasanya yang khas, menjadi bagian dari tradisi kuliner, sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM.

Kuliner tradisional sering menyimpan cerita yang melampaui soal rasa. Gandasturi menjadi salah satunya. Yuk kenali keunikannya sampai tuntas. Menarik, Ces!

Apa yang membuat Gandasturi tetap bertahan di tengah gempuran camilan modern?

Banyak jajanan baru bermunculan dengan tampilan menarik, tetapi Gandasturi tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Rahasianya terletak pada kesederhanaan resep yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perpaduan lapisan luar yang renyah dengan isian kacang hijau yang lembut menghadirkan sensasi berbeda dibandingkan camilan modern. Rasanya manis, gurih, dan mudah diterima berbagai kalangan.

Di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat, Gandasturi bukan hanya dijual sebagai camilan harian. Kue ini juga sering hadir dalam pengajian, hajatan keluarga, syukuran, hingga menjadi pilihan berbuka puasa saat Ramadan. Keberadaannya menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan karena memiliki hubungan erat dengan kebiasaan masyarakat, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.

Baca Juga: Resep Gangan Manuk Rawa Kaltim: Kuliner Herbal Otentik yang Makin Langka

Benarkah Gandasturi berasal dari Kalimantan?

Hingga kini belum terdapat dokumentasi resmi yang memastikan daerah asal Gandasturi. Berbagai literatur kuliner menyebutkan bahwa jajanan ini telah lama dikenal di sejumlah wilayah Indonesia dengan nama maupun variasi yang berbeda. Karena penyebarannya cukup luas, Gandasturi lebih tepat disebut sebagai bagian dari warisan kuliner Nusantara yang kemudian beradaptasi dengan budaya makan masyarakat di berbagai daerah.

Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, resep Gandasturi relatif mempertahankan bentuk tradisionalnya. Fokus utamanya tetap pada cita rasa kacang hijau tanpa tambahan bahan yang terlalu banyak sehingga karakter asli kudapan ini tetap terjaga. Kondisi tersebut menjadikan Gandasturi sebagai salah satu contoh bagaimana resep sederhana mampu bertahan selama puluhan tahun melalui kebiasaan masyarakat dan pelaku usaha kecil.

Gandasturi kacang hijau menjadi jajanan tradisional Nusantara yang bertahan melalui cita rasa sederhana khas Kalimantan (BTV/AI)
Gandasturi kacang hijau menjadi jajanan tradisional Nusantara yang bertahan melalui cita rasa sederhana khas Kalimantan (BTV/AI)

Mengapa kacang hijau menjadi identitas utama Gandasturi?

Karakter paling kuat dari Gandasturi berasal dari isian kacang hijau kupas. Bahan ini terlebih dahulu direndam, kemudian direbus hingga benar-benar lunak sebelum dihaluskan bersama gula pasir atau gula merah sesuai resep masing-masing pembuat. Hasilnya berupa adonan lembut dengan rasa manis yang tidak berlebihan. Setelah dibentuk lonjong atau pipih, adonan dicelupkan ke dalam larutan tepung berbumbu sebelum digoreng hingga berwarna kuning keemasan.

Warna kuning tersebut umumnya berasal dari kunyit yang dicampurkan ke dalam adonan pelapis. Selain memberikan tampilan menarik, kunyit juga menghadirkan aroma khas yang ringan setelah proses penggorengan. Sebagian produsen memang menggunakan pewarna makanan, tetapi banyak pembuat Gandasturi tradisional tetap mempertahankan kunyit sebagai pewarna alami agar cita rasa dan tampilannya tetap autentik.

Komposisi Gandasturi umumnya terdiri atas:

Perpaduan bahan sederhana tersebut menghasilkan tekstur yang kontras. Bagian luar renyah tipis, sementara isiannya tetap lembut dan padat. Justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tarik Gandasturi.

Baca Juga: Bangamat atau Paing, Kuliner Tradisional Dayak Berbahan Kalong yang Masih Dilestarikan

Di mana Gandasturi mudah ditemukan dan kapan paling banyak dicari?

Pasar tradisional masih menjadi lokasi paling mudah menemukan Gandasturi. Biasanya kue ini dijual bersama jajanan pasar lain seperti onde-onde, lemper, pastel, nagasari, kue cucur, lapis, talam, hingga aneka gorengan. Waktu terbaik mencari Gandasturi umumnya pada pagi hari ketika aktivitas pasar sedang ramai. Beberapa sentra jajanan juga masih menjualnya menjelang sore.

Saat bulan Ramadan, permintaan Gandasturi meningkat cukup signifikan. Rasanya yang manis serta kandungan kacang hijau membuat banyak masyarakat memilihnya sebagai menu berbuka puasa. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa Gandasturi bukan hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi juga tetap relevan mengikuti kebutuhan masyarakat hingga sekarang.

Apakah Gandasturi memiliki kandungan gizi yang bermanfaat?

Nilai gizi Gandasturi terutama berasal dari kacang hijau sebagai bahan utamanya. Berdasarkan data komposisi pangan Indonesia, kacang hijau mengandung protein nabati, serat pangan, vitamin B kompleks, folat, zat besi, magnesium, fosfor, dan kalium. Protein serta serat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dibandingkan camilan yang hanya berbahan tepung. Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kacang hijau sering dimanfaatkan dalam berbagai olahan tradisional. Meski demikian, Gandasturi tetap termasuk makanan yang digoreng dan menggunakan gula sebagai pemanis. Konsumsi dalam jumlah yang seimbang tetap menjadi pilihan yang lebih baik bagi masyarakat yang memperhatikan asupan gula maupun lemak harian.

Tips menikmati Gandasturi agar tetap nikmat dan seimbang:

  1. Pilih Gandasturi yang baru matang agar tekstur renyahnya masih terasa.

  2. Padukan dengan teh hangat tanpa terlalu banyak gula.

  3. Konsumsi secukupnya sebagai camilan, bukan pengganti makanan utama.

  4. Simpan pada wadah tertutup bila belum langsung disantap agar kualitasnya tetap terjaga.

Baca Juga: Lawa Ikan, Warisan Kuliner Kalimantan yang Kaya Rempah dan Masih Jarang Diketahui Wisatawan

Bagaimana peluang Gandasturi berkembang sebagai produk UMKM?

Meningkatnya minat terhadap kuliner tradisional membuka kesempatan baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengembangkan Gandasturi menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Sejumlah produsen mulai menghadirkan kemasan yang lebih modern, ukuran yang praktis, hingga memperbaiki daya simpan produk tanpa menghilangkan resep tradisionalnya. Langkah tersebut memberi peluang Gandasturi menjadi pilihan oleh-oleh khas dari Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat. Wisatawan yang mencari makanan khas daerah juga semakin mudah mengenalnya melalui kemasan yang menarik.

Di sisi lain, inovasi tersebut membantu memperkenalkan jajanan tradisional kepada generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan camilan modern. Upaya menjaga resep asli sambil mengikuti kebutuhan pasar menjadi strategi penting agar kuliner warisan Nusantara tetap hidup. Pada akhirnya, Gandasturi membuktikan bahwa makanan tradisional tidak harus kehilangan identitas untuk tetap diminati. Justru kesederhanaan rasa, penggunaan bahan lokal, serta nilai budaya yang melekat menjadi kekuatan utama yang membuatnya terus bertahan di tengah perubahan tren kuliner.

Gandasturi kacang hijau khas Kalimantan berkembang melalui inovasi kemasan modern tanpa kehilangan cita rasa tradisional (BTV/AI)
Gandasturi kacang hijau khas Kalimantan berkembang melalui inovasi kemasan modern tanpa kehilangan cita rasa tradisional (BTV/AI)

Poin Penting:

Insight Redaksi: Gandasturi menunjukkan bahwa kekuatan kuliner lokal bukan semata pada inovasi, melainkan kemampuan mempertahankan cita rasa yang sudah dipercaya masyarakat selama bertahun-tahun. Kalimantan memiliki banyak warisan pangan seperti ini yang layak terus dipromosikan melalui pasar tradisional maupun UMKM. Kada harus selalu tampil mewah untuk menarik perhatian. Nilai budaya justru menjadi pembeda yang kuat, Ces.

Kalau singgah ke pasar tradisional, sempatkan mencicipi Gandasturi dari penjual lokal. Rasanya otentik sekaligus ikut mendukung UMKM daerah. Bagikan juga artikel ini ke bubuhan ikam agar makin banyak yang mengenal kuliner tradisional Nusantara. Masih banyak kisah menarik dari kuliner khas daerah yang layak dikenali. Ikuti terus informasi terbaru hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa bahan utama Gandasturi?
Bahan utamanya adalah kacang hijau kupas yang dihaluskan bersama gula, kemudian dilapisi adonan tepung dan digoreng.

2. Di mana Gandasturi mudah ditemukan?
Gandasturi banyak dijual di pasar tradisional, warung kue, dan sentra jajanan di Kalimantan Tengah serta Kalimantan Barat.

3. Mengapa Gandasturi masih diminati?
Karena memiliki rasa manis dan gurih yang seimbang, tekstur renyah serta lembut, sekaligus menjadi bagian dari tradisi masyarakat.

4. Apakah Gandasturi memiliki kandungan gizi?
Ya. Kacang hijau mengandung protein nabati, serat, vitamin B kompleks, folat, zat besi, magnesium, fosfor, dan kalium.

5. Apa peluang Gandasturi bagi UMKM?
Gandasturi berpotensi dikembangkan menjadi oleh-oleh khas melalui inovasi kemasan, ukuran, dan peningkatan daya simpan tanpa mengubah resep tradisional.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat Gandasturi pelaku umkm