Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Pakasam, Warisan Kuliner Banjar yang Lahir dari Kecerdasan Mengelola Hasil Sungai

kholiefatul Jannah • Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38 WIB
Pakasam mencerminkan kearifan masyarakat Banjar mengawetkan ikan sekaligus menjaga tradisi kuliner hingga kini bersama. (BTV/AI)
Pakasam mencerminkan kearifan masyarakat Banjar mengawetkan ikan sekaligus menjaga tradisi kuliner hingga kini bersama. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 Menit

Topik: Pakasam sebagai warisan kuliner Banjar yang mencerminkan kearifan mengelola hasil perikanan

Ikhtisar: Pakasam lahir dari tradisi mengawetkan ikan sebagai strategi memenuhi kebutuhan pangan, lalu berkembang menjadi identitas kuliner dan penggerak ekonomi masyarakat Banjar.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pakasam bukan sekadar makanan fermentasi khas Kalimantan Selatan. Olahan ikan tradisional yang berkembang di wilayah Hulu Sungai ini menjadi bukti bagaimana masyarakat Banjar sejak ratusan tahun lalu mampu mengelola hasil tangkapan ikan agar tetap dapat dikonsumsi dalam waktu lama ketika bahan pangan sulit diperoleh.

Tradisi lama ini masih hidup sampai sekarang. Menarik pang untuk disimak, Ces!

Rasa asam gurihnya memang khas. Namun cerita di balik lahirnya pakasam jauh lebih menarik dibanding sekadar cita rasanya, Ces!

Mengapa pakasam menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Banjar?

Di banyak daerah di Kalimantan Selatan, pakasam dikenal sebagai lauk sederhana. Namun bagi masyarakat Banjar, makanan ini memiliki nilai sejarah yang jauh melampaui fungsi sebagai pelengkap santapan sehari-hari.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur, menjelaskan tradisi tersebut lahir dari kebiasaan masyarakat memanfaatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah agar tidak terbuang sia-sia. Melalui teknik fermentasi, ikan dapat disimpan dalam waktu panjang tanpa kehilangan nilai sebagai bahan pangan.

Baca Juga: Menelisik Sejarah Lawa, Kuliner Segar Favorit Raja Bulungan

Menurut Mansyur, kebiasaan tersebut berkembang di kawasan Hulu Sungai, terutama wilayah Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Daerah ini sejak lama memiliki hubungan erat dengan sungai yang menjadi sumber utama kehidupan masyarakat.

Ia mengatakan, "Ini bukan sekadar makanan, tapi strategi bertahan hidup urang Banjar sejak lama."

Pernyataan itu menggambarkan bahwa pakasam lahir bukan karena tren kuliner, melainkan sebagai jawaban atas tantangan kehidupan masyarakat yang bergantung pada musim, sungai, dan hasil alam.

Pakasam menjadi bukti kearifan lokal Banjar dalam mengelola hasil perikanan untuk kebutuhan pangan bersama masyarakat. (BTV/AI)
Pakasam menjadi bukti kearifan lokal Banjar dalam mengelola hasil perikanan untuk kebutuhan pangan bersama masyarakat. (BTV/AI)

Bagaimana pakasam membantu masyarakat bertahan sejak berabad-abad lalu?

Mansyur memperkirakan tradisi membuat pakasam telah dikenal sejak masa urang pahuluan, bahkan berlangsung sejak sekitar abad ke-14. Pada masa itu, masyarakat banyak menggantungkan kehidupan dari pertanian ladang dan hasil sungai.

Namun kondisi geografis membuat warga tidak selalu mudah memperoleh ikan segar setiap waktu. Sistem peladangan berpindah menyebabkan sebagian masyarakat tinggal cukup jauh dari aliran sungai dalam periode tertentu.

Situasi tersebut mendorong munculnya cara mengawetkan ikan agar tetap tersedia ketika hasil tangkapan sedang sedikit atau masyarakat tidak sempat mencari ikan.

Pakasam kemudian menjadi stok lauk yang dapat disimpan berbulan-bulan. Saat persediaan ikan segar menurun, masyarakat cukup mengambil hasil fermentasi yang telah disiapkan sebelumnya.

Praktik ini menunjukkan kemampuan masyarakat Banjar membaca kondisi lingkungan sekaligus memanfaatkan sumber daya secara efisien. Kearifan seperti ini menjadi bagian penting dari budaya pangan tradisional Nusantara.

Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, cara tersebut juga mengurangi potensi terbuangnya hasil tangkapan yang sedang melimpah. Hampir seluruh ikan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Menelisik Sejarah Lawa, Kuliner Segar Favorit Raja Bulungan

Apa yang membuat proses pembuatan pakasam tetap dipertahankan hingga sekarang?

Keunikan pakasam juga terlihat dari proses pembuatannya yang relatif sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian. Berbagai jenis ikan air tawar berukuran kecil seperti sepat, papuyu, hingga haruan dibersihkan terlebih dahulu sebelum diberi garam.

Setelah itu, ikan dicampurkan dengan padi sangrai yang telah ditumbuk halus. Campuran tersebut kemudian disimpan rapat dalam wadah tertutup agar proses fermentasi berlangsung secara alami.

Fermentasi inilah yang menghasilkan cita rasa asam khas sekaligus membuat ikan memiliki daya simpan jauh lebih lama dibanding ikan segar.

Dalam kondisi penyimpanan yang baik, pakasam bahkan dapat bertahan selama berbulan-bulan hingga sekitar satu tahun. Hal tersebut menjadi alasan mengapa makanan ini sangat membantu masyarakat pada masa lalu ketika fasilitas pendingin belum tersedia.

Selain garam, penggunaan padi sangrai juga menjadi ciri khas yang membedakan pakasam Banjar dengan beberapa olahan ikan fermentasi dari daerah lain di Indonesia. Teknik tersebut diwariskan turun-temurun dan masih dipraktikkan oleh banyak keluarga hingga kini.

Pakasam tidak hanya mempertahankan cita rasa ikan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Banjar mengembangkan teknik pengawetan yang sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh. Tradisi ini bertahan karena diwariskan secara langsung dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Kuliner Pakasam memperlihatkan perpaduan tradisi, ketahanan pangan, dan budaya Banjar yang tetap lestari bersama masyarakat. (BTV/AI)
Kuliner Pakasam memperlihatkan perpaduan tradisi, ketahanan pangan, dan budaya Banjar yang tetap lestari bersama masyarakat. (BTV/AI)

Apa makna pakasam bagi budaya dan lingkungan masyarakat Banjar?

Di balik proses fermentasinya, pakasam menyimpan filosofi yang kuat. Masyarakat Banjar memandang hasil alam sebagai anugerah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga tidak ada yang terbuang percuma.

Ikan-ikan berukuran kecil yang dahulu kurang memiliki nilai jual justru diolah menjadi hidangan yang memiliki cita rasa khas. Cara berpikir seperti ini menunjukkan budaya hidup hemat sekaligus menghargai setiap hasil tangkapan dari sungai.

Kebiasaan tersebut juga memberi manfaat terhadap keseimbangan lingkungan. Ketika masyarakat memiliki persediaan lauk yang dapat disimpan lama, kebutuhan menangkap ikan setiap hari menjadi berkurang sehingga memberi kesempatan populasi ikan berkembang secara alami.

Nilai semacam inilah yang membuat pakasam bukan sekadar kuliner tradisional, melainkan bagian dari hubungan harmonis antara manusia dengan alam yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Saat ini, konsep pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan menjadi perhatian di berbagai negara. Menariknya, masyarakat Banjar telah menerapkan prinsip tersebut jauh sebelum istilah keberlanjutan dikenal luas.

Baca Juga: Kue Rangai, Camilan Tradisional Kalimantan yang Masih Dicari hingga Kini karena Cita Rasanya Berbeda

Bagi banyak keluarga di Kalimantan Selatan, membuat pakasam juga menjadi kegiatan yang mempererat hubungan antargenerasi. Pengetahuan mengenai pemilihan ikan, proses fermentasi, hingga waktu penyimpanan diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.

3 Hal yang membuat pakasam tetap diminati hingga sekarang:

1. Memiliki cita rasa khas. Perpaduan rasa asam, gurih, dan aroma fermentasi menghasilkan karakter yang sulit ditemukan pada olahan ikan lainnya.

2. Daya simpan panjang. Proses fermentasi membuat pakasam dapat bertahan berbulan-bulan sehingga tetap praktis sebagai stok lauk rumah tangga.

3. Sarat nilai budaya. Pakasam menjadi bagian dari identitas masyarakat Banjar yang terus dipertahankan sebagai warisan kuliner daerah.

Mengapa pakasam kini juga bernilai ekonomi?

Perjalanan pakasam tidak berhenti sebagai makanan rumahan. Seiring berkembangnya minat terhadap kuliner tradisional, olahan ini mulai memiliki nilai ekonomi yang cukup besar.

Di berbagai pasar tradisional Kalimantan Selatan, pakasam menjadi salah satu produk yang banyak dicari. Masyarakat memproduksinya dalam skala rumah tangga untuk dijual kepada pelanggan tetap maupun wisatawan yang ingin membawa pulang oleh-oleh khas Banjar.

Usaha tersebut ikut membuka peluang ekonomi bagi keluarga yang memiliki keahlian membuat pakasam. Dengan bahan baku yang berasal dari ikan air tawar lokal, nilai tambah produk meningkat setelah melalui proses fermentasi.

Popularitas pakasam juga berkembang melalui promosi kuliner daerah. Banyak rumah makan tradisional mulai memasukkan menu ini sebagai salah satu sajian khas Banjar yang dikenalkan kepada pengunjung dari luar daerah.

Tak sedikit wisatawan yang sengaja mencari pakasam asli karena ingin merasakan cita rasa autentik yang berbeda dari olahan ikan fermentasi daerah lain di Indonesia.

Mengapa tradisi pakasam masih mampu bertahan di tengah modernisasi?

Masuknya berbagai produk pangan instan tidak membuat pakasam kehilangan tempat di hati masyarakat Banjar. Justru makanan tradisional ini tetap dicari karena menawarkan cita rasa autentik yang sulit digantikan oleh produk olahan modern.

Di banyak keluarga, pakasam masih disajikan saat makan bersama. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa resep turun-temurun memiliki nilai yang tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada sejarah panjang yang menyertainya.

Selain menjadi lauk harian, pakasam juga kerap hadir dalam berbagai acara adat, kenduri, hingga jamuan keluarga. Hidangan ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner Banjar yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagi masyarakat perantauan asal Kalimantan Selatan, menikmati pakasam sering kali menghadirkan nostalgia terhadap kampung halaman. Rasa asam gurih yang khas menjadi penghubung antara tradisi dan kenangan keluarga.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur, mengingatkan bahwa keberadaan pakasam perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Ia menegaskan, "Pakasam ini warisan. Bukan hanya soal rasa, tapi cara urang Banjar menghargai alam dan menyiasati kehidupan."

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa nilai terbesar pakasam bukan semata-mata terletak pada resepnya, melainkan pada pengetahuan lokal yang telah membantu masyarakat bertahan menghadapi berbagai tantangan sejak berabad-abad lalu.

Pelestarian kuliner tradisional seperti pakasam juga menjadi bagian penting dalam menjaga kekayaan budaya Indonesia. Ketika generasi muda mengenal dan terus mengolah makanan warisan daerahnya, identitas budaya ikut terjaga di tengah perubahan gaya hidup.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Pakasam memperlihatkan bahwa inovasi pangan lokal sering lahir dari kebutuhan hidup, bukan kemewahan. Nilai seperti memanfaatkan hasil alam secara bijak masih sangat relevan bagi daerah yang kaya sumber daya, termasuk Kalimantan Timur. Kada semua warisan budaya hadir dalam bentuk bangunan atau benda bersejarah. Resep tradisional juga menyimpan pengetahuan yang layak dijaga. Semakin banyak generasi muda mengenalnya, semakin besar peluang kuliner lokal tetap hidup. Jadi, jangan hanya menikmati rasanya, pahami jua cerita panjang di balik setiap sajian, Ces.

Kalau menemukan pakasam saat berkunjung ke Kalimantan Selatan, cobalah mencicipinya langsung dari pembuat lokal agar dapat merasakan cita rasa autentik sekaligus ikut mendukung usaha masyarakat setempat.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang mengenal warisan kuliner Banjar yang penuh makna, Ces.

Masih banyak kisah menarik dari kuliner Nusantara yang menyimpan sejarah panjang di balik kelezatannya. Ikuti terus informasi terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu pakasam?
Pakasam adalah olahan ikan fermentasi khas masyarakat Banjar yang dibuat menggunakan garam dan padi sangrai agar dapat disimpan dalam waktu lama.

2. Dari daerah mana pakasam berasal?
Pakasam berkembang dari tradisi masyarakat Banjar di wilayah Hulu Sungai, khususnya sekitar Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

3. Ikan apa yang biasa digunakan untuk membuat pakasam?
Beberapa jenis ikan air tawar seperti sepat, papuyu, dan haruan menjadi bahan utama pembuatan pakasam.

4. Mengapa pakasam dianggap penting bagi masyarakat Banjar?
Karena menjadi strategi menyimpan bahan pangan sejak dahulu sekaligus mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan hasil alam tanpa pemborosan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Mansyur Hulu Sungai Pakasam kalimantan selatan