Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Kue Rangai, Camilan Tradisional Kalimantan yang Masih Dicari hingga Kini karena Cita Rasanya Berbeda

kholiefatul Jannah • Rabu, 15 Juli 2026 | 00:52 WIB
Perpaduan kelapa, tepung, dan gula menjadikan Kue Rangai camilan tradisional yang tetap digemari hingga kini bersama. (BTV/AI)
Perpaduan kelapa, tepung, dan gula menjadikan Kue Rangai camilan tradisional yang tetap digemari hingga kini bersama. (BTV/AI)

Durasi Baca: 7 Menit

Topik: Mengenal keunikan Kue Rangai sebagai warisan kuliner tradisional khas Kalimantan Selatan

Ikhtisar: Kue Rangai memadukan kelapa parut, tepung, dan gula menjadi kudapan tradisional bercita rasa gurih yang terus berkembang tanpa meninggalkan identitas aslinya.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kue Rangai merupakan salah satu kuliner tradisional yang dikenal di Kalimantan Selatan, terutama di Banjarmasin, dengan bahan utama kelapa parut, tepung, dan gula. Kudapan ini masih bertahan sebagai sajian keluarga, teman minum teh, hingga hidangan dalam berbagai acara adat karena memiliki karakter rasa yang khas.

Pernah melihat bentuknya mirip Wingko Babat? Jangan buru-buru menganggap rasanya sama. Ada cerita menarik di balik setiap gigitan, Ces!

Kuliner tradisional selalu punya cara menjaga tempatnya di hati masyarakat. Kue Rangai menjadi salah satu contohnya yang masih bertahan di tengah hadirnya berbagai camilan modern, Ces!

Apa yang Membuat Kue Rangai Berbeda dari Kue Tradisional Lain?

Sekilas, Kue Rangai memang menyerupai Wingko Babat karena sama-sama menggunakan kelapa sebagai bahan utama. Namun, keduanya memiliki karakter yang berbeda sejak gigitan pertama.

Kue Rangai menawarkan rasa gurih yang lebih dominan dengan tekstur cenderung kering. Sebaliknya, Wingko Babat dikenal memiliki tekstur lembut, legit, dan rasa manis yang lebih kuat.

Perbedaan tersebut berasal dari komposisi bahan serta proses pembuatannya. Kue Rangai mengutamakan keseimbangan rasa antara kelapa, tepung, dan gula sehingga menghasilkan camilan sederhana tetapi kaya cita rasa.

Di Banjarmasin, kue ini lazim disajikan bersama teh hangat ketika menerima tamu atau menjadi pelengkap berbagai kegiatan adat maupun acara resmi keluarga.

Bagaimana Bahan dan Cara Membuat Kue Rangai?

Kesederhanaan menjadi salah satu daya tarik utama Kue Rangai. Hampir seluruh bahan yang digunakan mudah ditemukan di dapur masyarakat Indonesia.

Bahan utamanya terdiri atas:

  1. Kelapa parut

  2. Tepung beras, tepung sagu, atau tepung ketan

  3. Gula merah atau gula pasir

  4. Garam

  5. Ampas kelapa sebagai pelengkap pada beberapa resep tradisional

Seluruh bahan dicampur hingga merata sebelum dituangkan sedikit demi sedikit ke atas wajan panas. Adonan kemudian diratakan agar menghasilkan bentuk tipis dan matang secara merata.

Setelah permukaannya matang, Kue Rangai biasanya dilipat menjadi dua sehingga membentuk setengah lingkaran. Bentuk sederhana tersebut justru menjadi ciri yang mudah dikenali hingga sekarang.

Pilihan tepung ternyata memengaruhi teksturnya. Tepung beras menghasilkan tekstur renyah, sedangkan penggunaan tepung sagu atau ketan memberi sensasi sedikit lebih padat ketika dinikmati.

Mengapa Kue Rangai Ditemukan di Berbagai Daerah dengan Nama Berbeda?

Walaupun identik dengan Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, Kue Rangai ternyata juga dikenal luas di sejumlah daerah lain.

Di Bangka Belitung, kudapan ini banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat Melayu. Resepnya memiliki sedikit perbedaan karena sebagian pembuat menggunakan tepung sagu atau gula pasir sesuai kebiasaan setempat.

Di Bangka dan Jakarta, masyarakat mengenalnya sebagai Kue Rangi. Sementara di Bangka Barat, makanan ini populer dengan nama Tampek Ambor.

Perbedaan nama tersebut menunjukkan bagaimana satu jenis kuliner mampu beradaptasi mengikuti budaya lokal tanpa kehilangan ciri utamanya sebagai kue berbahan dasar kelapa.

Fenomena seperti ini cukup umum pada kuliner Nusantara. Perjalanan masyarakat antardaerah selama puluhan bahkan ratusan tahun membuat resep berkembang mengikuti bahan yang tersedia di wilayah masing-masing.

Kudapan tradisional Kue Rangai tetap bertahan sebagai teman minum teh dan sajian berbagai acara adat bersama. (BTV/AI)
Kudapan tradisional Kue Rangai tetap bertahan sebagai teman minum teh dan sajian berbagai acara adat bersama. (BTV/AI)

Mengapa Kue Rangai Kini Hadir dengan Banyak Varian Rasa?

Selera masyarakat yang terus berubah membuat banyak pelaku usaha mulai melakukan inovasi tanpa menghilangkan identitas Kue Rangai.

Kini tersedia berbagai pilihan rasa seperti keju, jahe, wijen, hingga susu. Penambahan varian tersebut dilakukan untuk menjangkau pembeli dari kalangan yang lebih luas, terutama generasi muda.

Meski begitu, versi tradisional yang menggunakan isian gula merah masih menjadi favorit banyak pencinta kuliner khas daerah karena dianggap mempertahankan rasa asli yang diwariskan secara turun-temurun.

Kue Rangai juga mulai dipasarkan dalam kemasan praktis sehingga cocok dijadikan oleh-oleh. Pengemasan yang lebih modern membantu memperpanjang daya simpan sekaligus meningkatkan nilai jual produk UMKM lokal.

Bagi pelaku usaha kuliner, inovasi rasa menjadi salah satu cara menjaga eksistensi makanan tradisional tanpa menghilangkan akar budayanya.

Kudapan tradisional Kue Rangai tetap bertahan sebagai teman minum teh dan sajian berbagai acara adat bersama. (BTV/AI)
Kudapan tradisional Kue Rangai tetap bertahan sebagai teman minum teh dan sajian berbagai acara adat bersama. (BTV/AI)

Apa Bedanya Kue Rangai dengan Coconut Pancake dari Brasil?

Beberapa literatur kuliner menyebut Kue Rangai memiliki kemiripan dengan Coconut Pancake atau Manioc Pancake dari Brasil karena sama-sama memanfaatkan kelapa sebagai bahan utama.

Namun, keduanya memiliki isi yang berbeda. Coconut Pancake umumnya menggunakan mentega atau keju sebagai pelengkap, sedangkan Kue Rangai mempertahankan penggunaan gula merah sebagai isian tradisional.

Perbedaan tersebut membuat karakter rasanya juga tidak sama. Kue Rangai menawarkan perpaduan gurih kelapa dan manis gula merah yang sederhana tetapi khas.

Kemiripan bentuk antarkuliner dari berbagai negara menunjukkan bahwa bahan lokal sering melahirkan makanan dengan konsep serupa, meski berkembang sesuai budaya masing-masing.

Tips Menikmati Kue Rangai agar Rasanya Maksimal

Agar cita rasa Kue Rangai semakin terasa, beberapa cara sederhana berikut dapat dicoba:

  1. Nikmati saat masih hangat agar aroma kelapanya lebih kuat.

  2. Sajikan bersama teh tanpa terlalu banyak gula supaya rasa gurih tetap menonjol.

  3. Simpan dalam wadah kedap udara untuk menjaga kerenyahannya.

  4. Pilih produk dengan aroma kelapa segar sebagai tanda bahan bakunya masih berkualitas.

Kebiasaan sederhana tersebut membuat pengalaman menikmati Kue Rangai terasa lebih lengkap, baik sebagai camilan sore maupun sajian saat berkumpul bersama keluarga.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Kue Rangai menunjukkan bahwa kuliner tradisional kada harus berubah total untuk tetap diminati. Inovasi rasa memang membuka pasar baru, tetapi identitas berbahan kelapa dan gula merah tetap menjadi kekuatan utamanya. Bagi daerah seperti Balikpapan yang menjadi tempat bertemunya berbagai budaya Kalimantan, mengenalkan makanan tradisional lintas provinsi bisa menjadi peluang wisata kuliner yang menarik. Kaitu pang keadaannya, Ces.

Kalau berkesempatan menemukan Kue Rangai di pasar tradisional atau pusat oleh-oleh, sempatkan mencicipi versi aslinya terlebih dahulu. Dari sana, baru bandingkan dengan varian modern agar perbedaan cita rasanya benar-benar terasa.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang mengenal kekayaan kuliner Kalimantan, Ces!

Selalu ikuti informasi kuliner Nusantara yang menarik dan penuh cerita hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa bahan utama Kue Rangai?
Kelapa parut, tepung beras atau sagu maupun ketan, gula, garam, dan pada beberapa resep menggunakan ampas kelapa.

2. Apa perbedaan Kue Rangai dengan Wingko Babat?
Kue Rangai memiliki tekstur lebih kering dengan rasa gurih yang dominan, sedangkan Wingko Babat cenderung lembut, manis, dan legit.

3. Apakah Kue Rangai hanya ada di Kalimantan Selatan?
Tidak. Kue ini juga dikenal di Bangka Belitung, Jakarta, dan Bangka Barat dengan nama yang berbeda.

4. Mengapa sekarang ada banyak varian rasa Kue Rangai?
Pengembangan rasa dilakukan untuk menarik minat pembeli yang lebih luas tanpa menghilangkan resep tradisional.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Masyarakat Melayu Kue Rangai banjarmasin